
Isaac mengantarkan Malia ke rumah Jace mengendarai mobil Grey Porsche seri terbaru.
"Huft" Malia menghela nafasnya sebelum keluar dari mobil.
Dengan dress putih 5centi diatas lutut dan jaket jeans berwarna mustard, Malia terlihat sexy.
Malia menemui teman temannya yang sedang duduk duduk dihalaman rumah Jace.
Tampak Arki dan Alison sedang membakar barbaque.
"Hey, kamu kenapa?" Tanya Jace melihat mata Malia yang sembab.
Malia diam saja sambil mengalihkan pandangan.
"Ayok duduk sini.." Jace mengajak Malia duduk di sebuah ayunan kayu.
"Hey, men! π" Jace meninju pelan lengan Isaac yang kekar, Isaac tersenyum masam.
"Hey, Are you crying?"
(Hey, apa kamu menangis?) Audrey menunduk untuk menatap wajah Malia lalu memeluknya.
Mereka menghabiskan malam dengan memanggang barbeque dan bernyanyi ria didekat api unggun.
Malia dan Alison duduk di ayunan sementara Audrey dan Jace duduk disebuah batu besar disamping ayunan sambil memainkan gitarnya.
Arki dan Isaac tampak berbicara serius dan memisahkan diri dari mereka. Malia menatapnya dengan curiga.
Yang terlihat hanyalah punggung tegap Arki dengan rambutnya yang terurai.
"Sejak kapan kakak beradik itu saling akrab? π€" Batin Malia merasa heran.
Alison mengambilkan dua gelas soda lalu memberikannya ada Isaac dan Arki.
"Tuh lihat kakak iparmu (Alison) lagi beraksi π" Ucap Jace meledek Malia.
Arki lalu datang dan duduk disamping Malia, Arki melirik Malia dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Ada apa?" Ucap Malia.
"Gapapa π"
"Malia, emmmm kamu keliatan sexy banget pake dress itu π€€ sangat menggugah hasrat kejantananku" Arki melirik paha Malia.
"Ihhh!!! π€" Malia menepuk pipi Arki.
Arki merebahkan dirinya disenderan ayunan lalu menyambungi lirik lagu yang sedang dinyanyikan Audrey.
Sekilas Malia melihat ada bekas luka seperti luka sayatan dileher belakang Arki.
Malia menarik lengan Arki untuk mendekat lalu menyibak rambut panjang Arki, Isaac menatap tingkah Malia dari kejauhan.
"ja.. jangan cium aku, Mal π«" Arki melepaskan genggaman tangan Malia pada lengannya.
"kamu kenapa? aku ga lihat ada luka lho kemarin" Malia mencurigai Arki yang bersikap aneh seperti menyembunyikan sesuatu.
Arki tampak bingung menjelaskan pada Malia.
"Seseorang membunuh betaku kemarin" Bisik Arki sambil menutupi lukanya dengan tangannya.
"What???? π³" Malia tersentak kaget, Audrey menengok ke arah Malia
"Ada apa π?" Tanya Audrey
"Ga ada apapa.. π " Ucap Malia sambil meneguk segelas soda.
"Siapa yang melakukannya?" bisik Malia ditelinga Arki
"Celia Hwa, dia mengancam para Lycan agar menjauhimu" Arki berucap lirih.
"Siluman itu! π€ sini aku liat lukamu dulu, Jace punya antibiotik ga?"
Malia menyibak rambut panjang Arki.
"Ga usah, Mal π nanti juga sembuh sendiri" Ucap Arki.
"Ada Mal bentar aku ambilin" Jace masuk ke dalam rumah, Isaac dan Alison lalu mendekat dan duduk disamping Audrey.
Alison tampak sangat berantusias ngobrol dengan Isaac namun mata Isaac seolah terpaku pada Malia. Isaac menyalakan rokoknya.
"Nih!" Jace memberikan sekotak p3k pada Malia.
Arki lalu duduk membelakangi Malia, Malia mengobati luka Arki dengan lembut.
"Siapa yang terbunuh?" Bisik Malia
"Dia (Celia) sangat kejam π Kamu yakin dia ibuku?"
"Yeah, kadang kamu juga sama kejamnya dengan dia, π" Arki menggoda Malia.
"Ih kamu ini!" Malia mencubit pinggang Arki.
"Mal kita nginep di apartemen Audrey yuk, lagian mamaku juga lagi ga dirumah" Ucap Alison yang merasa kesepian saat harus tidur sendirian dirumah.
Malia meminta persetujuan Isaac dengan melirik Isaac dan mengedipkan matanya dua kali
"Iya iya, baiklah.. kamu boleh menginap sesukamu βΊοΈ" Ucap Isaac.
"Apa itu semacam bahasa telepati? hahaha" Tanya Alison sambil tertawa renyah.
00.31
Isaac mengantarkan The girls (Malia, Alison, Audrey) ke apartemen Audrey. Sementara Arki masih berada dirumah Jace.
Isaac sedikit tidak senang Malia menginap di apartemen Audrey karena apartemen Audrey berjejeran dengan apartemen Arki.
"Sini masuk dulu kak, nanti aku bikinin teh βΊοΈ" Ucap Audrey pada Isaac.
Isaac melangkahkan kakinya memasuki apartemen Audrey. Dengan cat tembok berwarna purple, boneka tedy berukuran besar diujung sofa dan berbagai pernak pernik wanita membuat apartemen itu terlihat sangat girly.
Malia langsung merebahkan dirinya di kasur Audrey, sementara Alison duduk terpaku menatap Isaac.
Isaac melepaskan ikatan rambutnya lalu merebahkan dirinya disofa, tubuhnya terasa lelah sejenak Isaac memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Arki juga masuk ke apartemen Audrey
"Girls, ada yang punya nomor telepon Shelly ga?" Tanya Arki tanpa menyadari keberadaan Isaac.
"Baj*ngan ini mau nginep disini juga?" Tanya Isaac.
"Ngapain kamu jam segini masih di kamar cewek?" Ucap Arki.
"Guys udah jangan berantem lagi, kalian kan berteman!" Ucap Audrey karena sekilas melihat mereka ngobrol serius saat dirumah Jace.
"Sejak kapan kita berteman!!!!" Ucap Arki dan Isaac bersamaan.
MANSION SEAN
Hans merasa frustasi dengan sikap Malia. Hans menginginkan Malia yang dulu, Malia yang ceria nan manis, bukan Malia yang nakal seperti sekarang.
Selesai dari pesta perayaan ulang tahun perusahaan, Hans membawa pulang si wanita kutilang (Lidya) ke mansion.
Hans dan Lidya bukanlah sepasang kekasih, mereka hanyalah teman kerja, sahabat sekaligus sex-partner karena Hans tidak suka jajan sembarangan (?). Mereka telah berteman sejak Hans masih duduk di bangku SMA.
Hans memeluk Lidya dipangkuannya, bibirnya bergerilnya disetiap sudut leher jenjang Lidya.
Setiap desahan yang keluar dari bibir Lidya mengingatkan Hans pada suara isak tangis Malia. Hans tidak bisa memalingkan pikirannya dari Malia.
"Bagaimana aku bisa bercinta seperti ini saat aku barusaja membuat Malia menangis karena cintanya padaku"
Hans mengingat setiap isak nafas Malia yang menangis meminta untuk dicintai oleh Hans, nafasnya yang mendaru menjelaskan semua alasan kekanakkan yang bahkan Hans sendiri tidak mengerti.
Hans menatap wajah Lidya yang merintih dibawah pelukannya namun yang terbayang adalah wajah Malia, wajah gadis polos yang telah Hans nodai. Gadis polos yang telah Hans rubah menjadi hewan liar yang hanya mengikuti hasrat semata.
"Mengapa aku selalu memikirkanmu, Malia? π₯"
Hans menggagahi tubuh Lidya dengan perkasa namun Hans menyadari dirinya hanyalah seorang pecundang.
Setelah semua yang Hans katakan pada Malia, kini dia menyesalinya.
Semerbak parfum Clive Crishtian yang digunakan Lidya hanya terasa ampas bila dibandingkan manisnya aroma pheromon Malia.
Janji yang Hans ikrarkan kepada Ayahnya untuk menjaga Malia kini hanya terasa seperti kalimat basi tanpa arti.
Setiap lekuk tubuh Lidya yang ia nikmati secara cuma cuma tidak sebanding dengan tubuh Malia yang ia nikmati dengan deru tangis yang menggema.
"Malia.."
"Malia.."
"Malia.."
Malam itu Hans meluapkan segala gemuruh yang ada di hatinya dengan bercinta dengan Lidya semalaman namun Hans baru menyadari, Malialah satu satunya gadis yang ia cintai didunia ini.
"Malia.."
Episode selanjutnya akan rilis setiap jam 00.00 π Jangan lupa like, komen dan votenya ya kakak π