
Malia pulang ke mansion sean, suasana mansion sangat sepi.
"hufttt.." Malia menghela nafasnya.
Malia melangkahkan kakinya menaiki tangga, saat melewati pintu kamar Isaac Malia mendapati pintunya sedikit terbuka namun ruangannya terlihat sangat gelap, Malia penasaran dengan apa yang sedang isaac lakukan.
"Ah, sudahlah.. lebih baik aku menghindari kak isaac untuk sementara"
Malia bergegas masuk ke kamarnya, Malia membuka kaosnya lalu pelan pelan membuka perban penutup lukanya. Malia berdiri didepan cermin hanya dengan bra dan celana jeansnya, Malia memandangi luka jahitannya yang kini sudah sembuh total, hanya meninggalkan bekas berupa garis memanjang yang melintang diantara perut dan pinggangnya.
"its still look so sexy.." ucap Isaac yang tiba tiba berada di jendela kamar Malia.
"Akhhhh!!!" Malia bergegas mengenakan kaosnya kembali.
"Tenang, Aku sudah melihatnya kok.. gausah panik begitu.." Ucap isaac sambil menghembuskan asap rokoknya ke arah luar jendela Malia.
"Kapan kamu masuk?"
"Aku bisa masuk kapan saja sesukaku.."
"🥴" Malia diam saja.
Malia kembali bercermin melihat kedua gigi taringnya yang tiba tiba terasa ngilu.
"is it still hurt?"
(Apa masih sakit?) Tanya isaac
"enggak, hanya saja terkadang taringku tiba tiba menjadi besar terasa tajam.. itu menyeramkan jika terjadi di tempat umum karena aku ga bisa bicara normal lagi"
"itu normal kok, karena kamu belum punya kontrol (kendali) atas kekuatanmu sendiri." Ucap Isaac.
"Dia masih peduli, sama seperti sebelumnya." Ucap Malia dalam hati.
Malia masuk ke kamar mandi, meninggalkan isaac yang duduk sendirian di jendela kamar Malia.
saat Malia selesai mandi lalu keluar hanya dengan memakai handuk, Isaac sudah tidak ada di kamar Malia.
Hari mulai gelap, Jason dan Hans belum juga pulang. Malia memasakkan nasi goreng untuk makan malamnya bersama Isaac. Isaac turun dan menyusul Malia di dapur
"Kamu masak apa?" Isaac memeluk Malia dari belakang, tangannya menggerayangi perut rata Malia. Isaac mengenakan singlet berwarna coklat susu dengan celana pendek berwarna hitam, isaac tampak mengikat rambutnya.
"Go away!"
(Menjauhlah!)
Malia menggerutu karena sedang fokus dengan masakannya, Isaac menggelitiki perut Malia hingga Malia tertawa terbahak bahak.
Isaac membantu Malia mengiris beberapa daun bawang, seketika Malia melupakan penghinaan yang pernah Isaac katakan.
"Apa kamu biasa memasakkannya untuk ayah?" Tanya Isaac
"Iya tapi ayah ga begitu suka daun bawang.." Malia menunjuk daun bawang yang sedang diiris Isaac.
Isaac mundur dan memandangi Malia dari kejauhan, dengan kaos oblong berwarna softpink dan hotpants pendek Malia terlihat sangat sexy.
Beberapa saat kemudian bel rumah berbunyi, Isaac bergegas membukakan pintu. Ternyata Caroline yang datang, Isaac merasa bingung karena biasanya Caroline datang hanya saat Isaac memanggilnya.
"Hey, whats up?"
(Hey, Ada apa?) Tanya Isaac pada Caroline.
"My heat just come so sudenly. Please, help me.."
(Heatku tiba tiba datang. Tolong aku..)
Suara Caroline terdengar gelisah.
Caroline melingkarkan tangannya di leher Isaac.
"You just need to call me, i will come there. ga perlu repot repot datang kesini."
(Kamu hanya perlu menelfonku, aku akan datang kesana. ga perlu repot repot datang kesini.)
Malia yang membawa sepiring nasi goreng terdiam melihat Isaac berjalan membopong Caroline dengan mesra menaiki tangga menuju kamarnya. Isaac sama sekali tidak melirik ke arah Malia.
Malia duduk di ruang tengah sambil memakan nasi gorengnya sendirian, menatap ke arah Isaac dengan kesal.
Malia kemudian berinisiatif untuk membungkus nasi gorengnya dan mengantarkannya ke kantor Hans. Setelah menyiapkan makanannya Malia mengganti pakaiannya dengan dress kuning selutut dan jaket coklat tebal dengan aksen bulu di lehernya.
"Huft, saat ada Caroline kamarku terasa lebih mencekam daripada rumah hantu.." Ucap Malia sambil menyisir rambutnya.
Malia lalu berjalan keluar, berjalan ditepi trotoar menuju Halte bus. Angin malam silih berganti menyapa lembut kulit Malia, Malia terus melangkahkan kakinya. Tiba tiba sebuah mobil berhenti disamping Malia, kaca mobilnya terbuka.
"Malia.. kamu mau kemana?" Ucap Hierarki menyapa Malia. Rambut panjang Arki dikuncir membuat Arki terlihat berbeda.
"Just go away!"
(Menjauhlah!)
Malia melangkah menjauhi mobil Arki, Arki keluar dari mobilnya dan mengejar Malia.
"Katakan, Malia. Aku akan mengantarmu, Ayok.. sebentar lagi hujan"
Hierarki menarik Malia ke dalam mobil, Arki mengunci pintunya.
"kalau kamu ga mau diculik yaudah katakan kamu mau kemana, biar aku anterin!"
Ucap Arki yang terdengar agak kesal juga. Malia diam saja, entah mengapa perasaan Malia mendadak badmood memikirkan apa yang sedang Isaac dan Caroline lakukan dimansion.
"Anterin aku ke kantor Hans.." Ucap Malia tanpa melirik ke Arki sedikitpun.
"Okay cantik.."
20.15
Arki mengantarkan Malia ke depan kantor Hans
"Kamu nunggu disini aja, aku gak lama kok.." Ucap Malia
"Okay.." Arki menunggu di seberang gedung kantor Hans
Malia berlari kecil menuju ke kantor Hans.
"Kak Hans.. 😊" Malia tersenyum manis
Hans masih rapi dengan setelan jasnya.
Hans menyambut Malia dengan pelukan hangat, tidak peduli badai apapun yang dilalui Malia pelukan Hans terasa seperti "Rumah" bagi Malia.
Hans terlihat sibuk dengan file file tebal di mejanya, Malia memberikan nasi gorengnya pada Hans. Hans memakan nasi goreng masakan Malia.
Malia duduk di kursi kerja Hans, menyenderkan badannya.
"Huft.. kursinya sangat nyaman kak 😌"
"Luka kamu udah baikan?" Tanya Hans karena tidak lagi mencium bau darah pada Malia.
"Udah kering kak lukanya 😌" Ucap Malia sambil melirik ke arah laptop Hans.
"Kenapa direktur utama seperti kakak masih harus menyalin file dokumen seperti ini? Apa tidak bisa dikerjakan orang lain?"
Malia terlihat tertarik dengan pekerjaan semudah itu.
"Rasanya lebih cepet aja kalau digarap sendiri 😊"
Hans mendekati Malia lalu membungkuk di samping Malia sambil menatap ke arah laptop.
"Kalau Malia suka, Malia bisa menyalin file ini ke sini.." Hans mengajari Malia dengan lembut, Malia dengan senang hati membantu Hans.
Hans membelai rambut Malia sesekali, Malia tersipu pipinya memerah. Hans bersikap sangat lembut pada Malia, sangat jauh berbeda dengan Isaac dan Jason.
"Kakak mau coklat panas? Malia buatkan ya?" Tanya Malia, Hans mengangguk kemudian Malia membuatkan secangkir coklat panas dan meletakkannya di meja kerja Hans.
Mereka tertawa bersenda gurau.
Tiba tiba hp Malia berdering, nomor asing menelfon Malia.
"Malia.." terdengar suara seorang laki laki memanggil namanya.
"Iya, siapa ini? 🙄"
"Aku Arki, kamu masih lama?"
"Oh my god 😱 Aku kelupaan, Kak hans aku balik dulu ya, Mwah."
Malia mencium pipi Hans lalu berlari keluar gedung, diluar gedung udara terasa sangat dingin Malia lupa jaketnya ketinggalan di ruang kerja Hans. Arki terlihat berbaring di atas kap mobilnya.
"Udah jam sepuluh lebih 😰 Maaf ya Ar, aku kelupaan" Malia menundukkan kepalanya.
Arki melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Malia.
"its okay, jangankan hanya dua jam.. dua puluh purnama pun aku akan tetap setia menanti.."
Arki tampak tidak marah, dari atas gedung Hans samar samar memperhatikan Malia dijemput oleh seorang laki laki namun Hans tidak menyadari laki laki tersebut adalah Hierarki.
"Hhh, anak muda jaman sekarang 😌" ucap Hans dalam hati.
Malia naik ke mobil Arki.
"Kamu mau langsung balik?" Tanya Arki.
Mengingat keberadaan Caroline di mansion membuat Malia gelisah.
"Can i sleep in your place tonight?"
(Bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?)
"My place?"
(Rumahku?)
Tanya Arki terlihat bingung dengan pertanyaan Malia.
"Dua minggu yang lalu aku berencana menculikmu dan membunuh ketiga kakak kakakmu, dan malam ini kamu ingin menginap dirumahku hanya karena aku ingin mengantarmu pulang? 😱 Seandainya aku tahu dari awal semudah ini menculikmu, aku tidak akan repot repot bertarung dengan Isaac 😒" Ucap Hierarki dalam hati
"No.. No.. maksud aku, ke tempat billiard jace aja deh.. 🤔" Malia terdengar bingung seperti tidak punya tempat tujuan.
Arki membelokan mobilnya menuju Bar & Billie.