
Mentari hampir terbit, Malia masih belum terlelap. Ia berdiri didepan jendela menanti kehangatan mentari menyapa kulitnya.
"Ah masih terlalu gelap!"
Malia membuka jendela kamar Audrey, semerbak angin fajar menyapa tubuh Malia yang hanya dibalut tanktop pink dengan aksen tali dipundaknya.
"Belum tidur, Mal?"
Tanya Arki yang juga sedang menanti fajar didepan jendelanya.
"Ga bisa tidur Ark, lagi banyak pikiran" Malia membungkuk memandang ke lantai bawah. Membiarkan rambut ikalnya terurai bersama desir angin yang berhembus.
(Note: Apartemen Audrey & Arki ada dilantai 2)
"Ada apa?" Arki duduk di jendela dan mulai menyalakan rokoknya.
Arki bertelanjang dada, hanya mengenakan celana trening berwarna hitam dengan aksen garis vertikal di sampingnya
"Menurutmu, harus aku apakan perasaan ini, Ark? rasanya aku hampir gila karenanya (Hans) π"
Malia menyibak rambutnya memamerkan leher dan pundaknya yang putih nan mulus.
Arki menghembuskan asap rokoknya.
"Aku rasa perasaanmu itu tidak nyata, Mal. Kamu mencintai dia semata mata karena dialah yang mengambil keperawananmu, kamu merasa kamu memiliki hak atas cintanya dan kamu terus menerus menuntutnya." Ucap Arki memandangi Malia yang terpaku oleh ufuk timur yang menguning.
"Ini sudah sangat lama Ark, jauh sebelum kejadian itu terjadi. Hanya saja sekarang terasa lebih menggebu, aku sendiri tidak mengerti harus bagaimana lagi. Kamu tau, dia sangat membenciku dan merasa jijik denganku π Aku bahkan kesulitan tidur tanpa obat tidur dari Isaac, semuanya terasa berbeda Ark. Aku merasa aku hanya akan mati tanpanya (Hans)"
Malia menyenderkan kepalanya pada tepian jendela.
"Aku pikir dia tidak benar benar membencimu"
"Maksudmu?" Malia menatap Arki
"Dia tidak menjauhimu setelah dia tahu perasaanmu, aku rasa dia tidak membencimu" Arki mengusak rokoknya.
"Ada danau air hangat dibalik rerimbunan pohon itu, kamu mau kesana?" Tanya Arki menaikkan satu kakinya di jendela
"ha.. hati hati!" Malia tersentak saat Arki duduk dijendela dengan kedua kakinya berjuntaian diluar dinding.
"Aku hybrid Malia, Aku punya sihir βΊοΈ"
Arki menapakkan kakinya seolah berjalan diudara, asap gelap menyelimuti kaki Arki bergerak berputar mengikuti pergerakan kakinya.
Malia tertegun melihat Arki yang terbang dengan tenangnya.
"Come on, I will take you there!"
(Ayo, Aku akan membawamu kesana!)
Malia tampak ragu
"Ayo, Mal. Aku berjanji tidak akan menjatuhkanmu βΊοΈ" rayu Arki.
Malia menaikkan kakinya satu persatu lalu duduk di jendela dengan kedua kaki yang berjuntaian diudara, Arki menggenggam kedua tangan Malia.
"Jangan takut, pijakkan kakimu diatas kakiku"
Pelan pelan Malia menginjakkan kakinya diatas kaki Arki, Arki memegangi pinggang Malia dengan erat.
"Aw!" Ucap Malia saat menjauh dari jendela
"Rilex, kamu aman bersamaku"
Malia berpegangan pada pundak Arki, rambut Arki yang lurus terurai melayang bebas diudara.
"Arki, Ini sangat Indah! βΊοΈ" Ucap Malia memandang ke arah danau yang disinari oleh cahaya fajar yang keemasan.
Arki melayang menuju danau hangat diseberang apartemennya.
"Turunkan aku disana, Ark!"
Malia menunjuk sebuah bebatuan besar yang ada ditengah danau.
Arki menurunkan Malia diatas bebatuan tersebut lalu duduk berdua menantikan matahari terbit.
"Terimakasih telah begitu baik padaku"
Beberapa saat kemudian Arki dan Malia kembali ke Apartemen GrandLula, namun karna matahari sudah terbit dan banyak orang lalu lalang maka mereka memutuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati suasana pagi.
"Ark, beli roti gandum dulu buat sarapan Alison dan Audrey. Kamu bawa uang ga?"
Arki sontak merogoh sakunya.
"Yeah, hanya segini dikantongku" Arki memberikan uang seratus ribu rupiah pada Malia.
Sesampainya di apartemen Audrey, Malia dan Arki memencet kode pintunya dan langsung masuk.
"Kalian darimana?" Tanya Audrey yang baru bangun.
"Habis beli roti gandum tadi" Malia meletakkan sekotak roti gandum di meja.
"Ark matiin rokoknya!" Ucap Malia yang tidak nyaman dengan asap rokok Arki.
Arki langsung berbaring disofa dan tertidur π€£ rambutnya terjuntai hingga menyentuh lantai.
"Pergi pagi pagi kok ga pada pake jaket sih Mal, nanti sakit lho. Kamu juga malah telanjang dada" Ucap Audrey melemparkan bantal pada Arki lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Jangan rese Drey aku ngantuk banget" Gerutu Arki
Malia kemudian duduk disamping Arki. Merebahkan badannya disenderan sofa, lalu tertidur π€£
"Kalian kenapa guys udah siang malah pada molor?"
Alison mengunyah sepotong roti gandum varian blueberry kesukaannya.
"Alison kamu ada kelas ga hari ini?" tanya Audrey sambil menyeduh susu.
"Ga ada, kenapa emangnya?" Alison duduk disamping Malia.
"Aku ada janji sama Jace, kamu stay disini bisa ga? nemenin Malia, soalnya dia (Malia) bilang lagi ga pengen balik ke mansion"
Audrey terlihat khawatir dengan keadaan mental Malia yang tengah tergila gila pada Hans dan beberapa kali ketahuan menangis tanpa alasan yang jelas, Audrey takut Malia melakukan hal hal diluar nalarnya.
"Kamu mau kemana sama Jace, kok ga ngajak kita kita sih?"
"Emmm.. Ada deeeh π€ͺ"
"Cieee jangan jangan kalian punya hubungan spesial ya, Drey?" Alison menjilat sisa sisa blueberry yang menetes dijemari lentiknya.
"sssshhhh.. jangan bergosip π€«"
"Yaudah sih lagian kalian berdua juga cocok kok, sama sama gesrek π€£"
Tiba tiba ada chat masuk di hp Malia, Alison membuka pesan tersebut
Dari : Baj*ngan cabul
No : 08xxxxxx2029
Malia, kamu dimana? I miss you so much π₯Ί
"Siapa si baj*ngan cabul ini?" Tanya Alison pada Audrey
"Ga tau, liat foto profilnya aja.." Audrey tampak sibuk mengiris beberapa pisang untuk menu diet paginya.
"Fotonya hanya terlihat punggung laki laki berambut putih π" Alison memandangi foto profil tersebut
"Jason?" Tanya Audrey
"Bhahaha, Serius?" Alison menertawai nama kontak Jason di hp Malia.
Tiba tiba bel pintu apartemen Audrey berbunyi.
Alison bergegas membukakan pintu, ternyata Hans datang untuk menemui Malia.
"Maaf, nyari siapa?" Tanya Alison yang memang tidak familiar dengan wajah Hans.
Sejenak Alison terpaku memandang wajah tampan Hans
Alison hanya membuka sebagian pintu apartemen Audrey
"Apa Malia disini?" Ucap Hans.
"Iya tapi maaf Anda siapa ya?"
Alison tampak bingung menemui Hans yang datang dengan setelan jasnya karena berniat akan berangkat ke kantor setelahnya.
"Aku Hans βΊοΈ"
Alison langsung salah tingkah karena walaupun Alison tidak mengenali wajah Hans tetapi Alison tahu semua hal yang terjadi diantara Malia dan Hans.
"Beruntungnya Mal kamu dikelilingi pria pria tampan seperti Hans dan Isaac π₯Ί" Ucap Alison dalam hati
"A.. ayo masuk π " Alison tampak gugup
Alison membuka pintunya lebih lebar, seketika Audrey melihat Hans.
"Jangan masuk dulu!" Teriak Audrey karena menyadari Malia dan Arki sedang tertidur, bahkan Arki tidur dengan bertelanjang dada pasti Hans akan sangat ilfil jika tahu ada laki laki yang tidur di apartemen ini.
"A.. aku panggilkan Malia saja, Kakak Hans nunggu sebentar ya π "
"Okay" Hans masih tersenyum Manis.
Alison dan Hans berdiri canggung didepan pintu menunggu Malia.
"Mal, Mal bangun ada Hans!!!" Bisik Audrey dengan tergesa gesa
"What π³" Malia terbelalak
"Buruan temuin dia!" Ucap Audrey
"Ark, Ark bangun!"
Arki terduduk disofa, Audrey menarik Arki menuju jendela disamping ranjangnya.
"Ada Hans disini, kamu buruan balik ke kamarmu!"
"Maksudku aku balik ke kamarku lewat jendela π?"
(Note : Jendela kamar Arki dan Audrey berjejer dengan jarak tidak lebih dari 50cm)
"Iya buruan!" Audrey mendorong tubuh Arki agar segera memanjat ke jendela
"Drey kamu benci banget kah sama aku? π« Boleh minta waktu sebentar buat nulis wasiat ga?"
Arki pura pura takut saat Audrey memintanya segera menyebrang ke kamarnya.
"Aku pasti berduka kok, udah buruan!!!"
Arki memanjat jendela kamar Audrey lalu menyebrang ke jendela kamarnya dengan mudah.