
Malia membuka pintu mansion dan berjalan dengan tertatih karena agak mabok. Hans menunggu Malia di ruang tengah.
"Malia.."
Malia menengok saat akan menaiki tangga.
"ya, kakak?"
"ini hampir jam satu, Malia darimana saja? 🥺"
Hans memegang lengan Malia.
"Dari tempat Audrey 🙄" Malia memalingkan wajahnya.
"Kamu bau alkohol, Malia. Kamu mabok? Ada apa denganmu? kenapa kamu jadi seperti ini 🥺" Hans memegang pipi Malia, menatap kedua matanya yang nanar.
"Mengapa kakak menanyakannya padaku? sedangkan kakak sendirilah yang membuatku seperti ini" Malia mencium tangan Hans.
"Malia, jangan seperti ini. Kamu itu gadis baik, Malia"
"Apa kamu khawatir denganku? Untuk apa khawatir? kamu bahkan tidak mencintaiku kan, hah?" Malia menangkis tangan Hans.
"Malia, jangan kekanak-kanakkan seperti ini. Kamu tahu persis perasaanku" Hans tampak tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskannya pada Malia
Kaki Malia gemetar, Malia bersandar pada dinding. Hans menatap Malia, gadis kecil yang polos nan ceria kini berubah menjadi seorang gadis labil yang tak tentu arah, yang haus akan cinta.
"Perasaanmu? Bullshit! kenapa tidak bercinta saja denganku malam ini? Aku berjanji akan menjadi gadis baik"
Malia melingkarkan kedua tangannya dileher Hans, Malia mencoba mencium bibir Hans namun Hans mencoba menghindar.
"APA SUSAHNYA MENCINTAI AKU, HAH?"
Malia berteriak sangat keras hingga membuat Jason keluar dari kamarnya. Jason kaget dan terpaku melihat Malia yang mabok.
"Bhahaha!" Malia menertawakan dirinya sendiri, kemudian berjalan menaiki tangga dengan sempoyongan.
"Malia.." Hans memanggil Malia, Malia hanya mengacungkan jari tengah pada Hans.
"Apa yang salah denganmu? Berikan dia kepastian!" Jason berbicara dengan nada tinggi pada Hans.
Jason berlari mengejar Malia lalu membopong Malia yang berjalan sempoyongan
Jason membaringkan Malia diranjangnya.
"Malia, apa kamu baik baik saja? hey!"
Jason menepuk nepuk pipi Malia.
"Aku tidak suka perasaan ini, ini sangat menyebalkan! 😫 Apa susahnya mencintaiku, apa aku sangat jelek hah? Katakan padaku apa aku sangat jelek?" Malia berteriak pada Jason
"Sssshhhh.. Malia hentikan. Ini sudah malam"
Jason menenangkan Malia, menutupi tubuh Malia dengan selimut. Malia meracau hingga tertidur.
Jason duduk disofa dekat perapian, Bagaimana bisa Hans diam saja melihat Malia tergila gila dengannya. Kalau Hans berniat menolak Malia seharusnya Hans berhenti peduli, sekedar memberikan ruang pada Malia untuk melupakannya. Bukan malah membuatnya lebih tergila gila.
(Jika kakak kakak mengharapkan tokoh utama yang baik hati, lembut, penyayang, rajin menabung, suka menolong orangtua menyebrang, mematuhi tata tertib lalu lintas dll maaf ya karna di novel ini tokoh utama akan hadir dengan ambisi, egois dan amarah yang besar 🤩)
Pagi mulai menyingsing, Malia terbangun dengan Isaac yang sudah duduk dijendela kamarnya.
"Good morning.." Ucap Isaac
"Morning 🥱" Malia duduk diranjangnya.
"Udah marah marahnya? xixixi" Isaac menggoda Malia
"Ugh, siapa yang marah marah? Duh, kepalaku sakit sekali 😖" Malia memijat mijat keningnya. tampaknya Malia tidak begitu ingat kata katanya tadi malam.
Isaac mendekati Malia dan memijat pundaknya.
"Kamu mau minum obat?" Tanya Isaac
"Ga apapa, ga usah.." Malia bangun dan berjalan ke kamar mandi.
Isaac menyalakan rokoknya dan kembali duduk dijendela.
Selesai mandi Malia keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.
"Mau ke Blackhill jam berapa?" Tanya Isaac memandangi tubuh Malia yang tengah sibuk memilah pakaian.
"Sweater purple aku dimana ya?" Malia mencari cari pakaiannya
Isaac diam saja dan memalingkan wajahnya memandang ke arah sungai Masivi.
"Sekarang aja ya? Aku ada kelas sore ini" Ucap Malia sambil memakai kaos hitam.
"AASAJ (Ei-Ei-Es-Ai-Ji) 😌"
"Siapa?"
"Alison, Audrey, Shelly, Arki and Jace"
"Nama geng macam apa itu 🥴 Huft, masih hang out (bergaul) sama Arki?"
"Iya, dia baik kok 😌 lagian dia juga adik kandungmu lho"
"Hhh, Aku bahkan tidak mengenal namanya"
Malia bercermin dan mengikat rambutnya tinggi tinggi. Dengan kaos hitam dan celana jeans navy yang robek robek Malia terlihat sangat elegan.
"Apa kamu berpikir aku perlu meminum pil?"
Malia berdiri disamping Isaac.
"Pil apa?" Tanya Isaac
"Pil KB 🤔"
Isaac menghembuskan asap rokoknya ke luar jendela Malia, Isaac mendorong tubuh Malia agar menjauh karena dia sedang merokok.
"Enggak usah. Kamu ga perlu minum pil, masa suburmu sudah usai. Lagian jangan minum pill, pakai kontrasepsi lain" Ucap Isaac sambil mendorong Malia agar menjauh namun Malia tetap berusaha mendekat.
"Malia, aku sedang merokok!"
"Kamu tahu merokok ga sehat tapi kamu terus terusan merokok, sini biar asapnya aku hirupin jadi nanti kita sakit sama bersama!"
Ucapan Malia yang mengisyaratkan dirinya peduli dengan kesehatan Isaac.
"Aku hybrid Malia, aku akan menyembuh sangat cepat. Mustahil bagiku untuk jatuh sakit"
Isaac mengusak rokoknya.
"Ayo, kita sarapan dulu"
Isaac dan Malia berjalan menuruni tangga, Hans terlihat sudah berangkat ke kantornya.
"Pagi Non.. Pagi Tuan muda.." Ucap mba Wily sambil menyiapkan lauk ke meja.
"Pagi mba wily.." Ucap Malia, sementara Isaac tidak membalas ucapan mba Wily
"Siniin piringnya biar Malia ambilin nasi" Ucap Malia pada Isaac
Isaac lalu memberikan piringnya pada Malia.
Selesai sarapan mereka bergegas menuju Blackhill untuk menemui Luison Hwa (Ayah kandung Malia)
Isaac pergi hanya dengan singlet coklat favoritnya dan celana pendek berwarna hitam dengan separuh rambutnya yang dikuncir.
Malia dan Isaac masuk ke dalam mobil Jeep merah kesayangan Isaac namun jarang dipakai karena repurtasinya sebagai dokter. Jika sudah seperti ini, siapa yang mengira dia adalah dokter.
"Kamu ga ke klinik?" Tanya Malia sambil memasang sabuk pengaman.
"Enggak, aku sedang merawat pasien dengan penyakit langka yang bahkan obatnya belum ditemukan. Aku rasa aku harus bekerja lebih keras"
Ucap Isaac sambil memundurkan mobilnya
"Penyakit apa emangnya?"
"Itu penyakitmu yang sedang tergila gila karena cinta, sepertinya aku harus benar benar menemukan obatnya. xixixi" Ucap Isaac menggoda Malia.
"Ah Isaac! 😫 Apa aku separah itu?"
"Hahaha, No.. Its okay, itu normal untuk gadis seusia kamu kok 😁" Isaac mengendarai mobilnya menuju Blackhill
"Apa kamu juga berpikir aku masih anak anak? 🥴"
"Enggak sih, Malia. Bagiku wanita tetaplah wanita 😌 Kamu tahu? Wanita selalu egois, pemarah dan pengatur. Gadis kecil ataupun wanita dewasa, mereka tetap seperti itu"
Isaac fokus menyetir sambil berbicara dengan Malia, mobil mereka melewati tepian sungai Masivi. Malia melihat deraian arus air yang seolah mengalir beradu balap dengan mobil Isaac.
"Kamu sangat manis, Apa kamu mengatakan itu ke semua gadis? 😞"
Malia menengok Isaac
"Bhahaha, Enggak. Aku bukan penasehat yang baik, terutama untuk gadis gadis sepertimu" Isaac mengusak rambut Malia dengan lembut.
Episode selanjutnya akan rilis setiap jam 00.00 😉 Jangan lupa like, komen dan votenya ya kakak 😊