
Malam mulai larut. Alison datang tergopoh gopoh ke ruangan Malia
20.11
"Malia, Maaf ya aku baru bisa dateng. Aku ada kelas tadi sore. Kamu udah baikan? 🥺" Tanya Alison
"Ssshhhh jangan lari lari. Aku udah baikan, Lis. Ni dimakan, tadi Audrey beliin banyak banget 😄"
Malia menyodorkan banyak snack pada Alison
"Anak anak kemana?" Tanya Alison
"Arki sama Jace lagi ngrokok diluar, Audrey lagi pulang bentar ke apartemen nanti kesini lagi agak maleman katanya. Shelly di toilet"
Alison duduk di sofa.
"Hans ga kesini?" tanya Alison yang sedari awal merasa Hans tidak begitu peduli dengan Malia.
"Hans ada meeting malem ini, yaudahlah gapapa lagian anak anak juga mau nginep disini"
"Oh yaudah aku nginep disini juga deh.."
"Kamu udah makan malam?" Tanya Malia
"Udah tadi beli seblak di persimpangan Whiterose" Ucap Alison
Arki dan Jace kembali ke ruangan Malia.
"Ark, tolong itu sofabednya dipasangin!" Ucap Shelly
Mereka menggelar sebuah sofabed besar untuk menginap di ruangan Malia.
"Guys kalian ga usah repot repot nginep disini, aku udah baikan kok 😅"
"Gapapa Mal, kita kan satu keluarga. Harus saling perhatian" Ucap Shelly sambil memeluk Malia
Kriiiiing
Hp Malia berdering, Jason menelfon Malia dan menanyakan keadaannya. Malia menceritakan semuanya termasuk tentang Celia Hwa yang saat ini tengah mengincarnya. Mereka berbincang dengan asik hingga tengah malam.
23.13
Alison, Audrey dan Shelly terlelap diatas sofabed. Jace memeluk Audrey dengan erat. Semuanya tertidur kecuali Arki yang duduk dijendela memandangi gemerlap jalan raya yang mulai tenggelam dalam gelapnya malam.
"Kenapa ga tidur, Ark? 🙄" Tanya Malia
"Aku punya siklus tidur yang buruk, Mal" Ucap Arki menjelaskan keadaannya.
"Lebih baik konsultasikan keadaanmu dengan Isaac, dia akan membantumu 😅" Ucap Malia
"Yeah, dia akan memberikanku obat tidur hingga membuatku tidak sanggup bangun lagi di dunia ini 😑" Ucap Arki yang jengkel pada Isaac
"Kamu tidur aja, aku matiin lampunya ya? 😊" Ucap Arki
"iya udah.."
Cklakkk
Arki mematikan lampu ruangan Malia.
Suasana ruangan menjadi remang remang, hanya pantulan cahaya rembulan yang menerobos masuk dari jendela yang dibuka Arki.
Desir angin menyapa kulit Arki, membuat rambut panjangnya berterbangan tanpa arah.
Isaac masuk ke ruangan Malia, hanya dengan kaos polos hitam dengan aksen kerah V dan celana jeans robek robek favoritnya, Isaac tampak menguncir separuh rambutnya.
"Isaac 😊" Malia menyambut Isaac dengan senyum manisnya
"Kenapa belum tidur?" Tanya Isaac agak berbisik karena takut membangunkan anak anak.
"Aku ga bisa tidur, telingaku berdengung, kepalaku juga sakit 🥺" Ucap Malia.
Isaac menyuntikkan sesuatu kedalam infus Malia.
"Itu hanya efek dari racun lycan, sayang. Efeknya akan hilang dalam beberapa hari 😊 kamu akan segera sembuh"
Isaac duduk disamping Malia.
Sejenak Malia melupakan bahwa Isaac adalah sosok laki laki yang seharusnya menjadi adik iparnya, tetapi perasaan Malia menganggapnya lebih dari sekedar adik ipar. Bukan cinta, Malia hanya belum mengerti perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Isaac membelai rambut Malia, membelai pipinya yang memerah.
"Aku bilang aku gapapa, Isaac. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas jasa jasamu 😥"
Malia mencium punggung tangan Isaac, dan menggenggam tangan Isaac dengan erat.
Isaac tersenyum manis.
"Sayang sekali bibir yang mencium tanganku saat ini bukanlah milikku, raga dan hatimu tak akan pernah menjadi milikku. Tidak peduli sekuat apa aku bertarung dan berlari kamu bagaikan sebongkah batu Sapphire yang terpajang dimusium, cantik nan berkilau namun hanya bisa ku pandang, tangan kotor ini tidak layak menyentuhmu 😔" Ucap Isaac dalam batin.
Isaac menatap Malia. Malia membelai rambut Isaac dengan lembut, menyisirnya dengan jemarinya yang lentik.
Isaac merasakan darahnya berdesir membakar hatinya yang cemburu dengan alasan yang tidak jelas.
"Ada apa? kamu sangat manis padaku hari ini? 😊"
Ucap Isaac yang tampak senang dengan perlakukan manis Malia
"Kamu menyelamatkan hidupmu, semoga dikehidupan selanjutnya aku bisa menjadi milikmu seutuhnya 😊"
Isaac dapat menyadari arti dari kalimat Malia adalah bahwa Malia tidak bisa menjadi milik Isaac dikehidupan kali ini.
"Aku tahu 😊 Aku akan menunggumu dengan sabar.. tidak perlu khawatirkan aku"
Mereka terjebak diantara cinta yang terhalang dinding kokoh. Yaitu dinding hati Malia yang enggan memilih antara Hans dan Isaac.
"Aku tahu perasaanmu, aku minta maaf.. 😥"
Malia meletakkan kepalanya di pundak Isaac. Isaac membelai rambut Malia dan mencium keningnya.
"Aku tahu kamu merasa sakit atas pilihanku 😥 Maafkan aku karena belum juga bisa melepaskanmu. Aku sungguh membenci diriku sendiri"
Kalimat Malia menyiratkan makna bahwa Malia belum bisa merelakan Isaac, Malia ingin memiliki keduanya (Isaac dan Hans) walaupun Malia tahu itu tidak mungkin.
Malia melingkarkan tangan kanannya dileher Isaac. Memeluknya dengan erat seolah takut kalau besok Malia sudah tidak bisa memeluknya lagi.
"Sssshhhh.. berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Nikmati kehidupanmu, Malia. Kamu memiliki aku ....sebagai adik iparmu. Akan aku pastikan kamu tidak kekurangan cinta apapun."
(Bolehkah Author menikahi Isaac? 🥺)
"Sehangat inikah pelukan yang kamu berikan pada Hans? perlakukan semanis inikah yang selalu Hans terima setiap malam?"
Sejenak Isaac merasa iri pada Hans yang berhasil memenangkan hati Malia.
Malia menangis dipelukan Isaac, Isaac merasakan perih dihatinya. Mendengar ungkapan perasaan cinta dari orang yang bukan miliknya.
Air mata Malia menetes membasahi baju Isaac.
"Aku tahu cepat atau lambat kamu akan lelah dan berpaling dariku. Kamu akan memiliki kehidupanmu sendiri, memiliki istri yang cantik dan anak anak yang lucu. Aku tidak bisa melakukan apapun selain menunda perpisahan itu" Ucap Malia menangis sesenggukan.
"Bagaimana kau membuatku berpaling Malia, sedangkan aku saja tidak pernah benar benar punya tempat di hadapanmu" Ucap Isaac dalam hati
Namun Isaac diam saja, karena jawaban apapun yang ia katakan hanya akan membuat Malia semakin terluka. Terluka karena bertahan, atau terluka karena melepaskan, ketidakpastian itu hanya akan selalu berakhir dengan luka. Namun yang Isaac tahu hanyalah ia tidak ingin kehilangan Malia.
"Shhhh, kamu harus istirahat sayang 😊"
(Arki : Aku mau terjun saja mendengar percakapan ini! 😠(Arki sakit hati sampe pengin mati tapi ga dibolehin author 😈))
Isaac melepaskan pelukan Malia.
"Aku tidak bisa tidur 🥺" Ucap Malia
"do you wanna take a nytol?"
(apa kamu mau meminum nytol/obat tidur?)
Tanya Isaac.
Malia mengangguk pelan.
"Kamu tunggu disini sebentar ya 😊"
Isaac bergegas meninggalkan Malia dan berjalan menuju ruangannya untuk mengambilkan Nytol.
Arki menengok ke arah Malia, Malia juga sedang melirik Arki.
"Bisa ga kamu lanjutin pura pura jadi jendela aja disitu?" Tanya Malia
Arki be like "😑"