
"Ada apa kamu nyari aku?" Tanya Arki
"Ga apapa Ark" Malia mengangkat kepalanya dari pundak Arki lalu melepaskan sepatunya dan memasukkan kakinya kedalam danau.
Terlihat beberapa ikan emas kecil berenang bebas dibawah kaki Malia.
"Aku tahu ada sesuatu yang sedang berkecamuk dalam hatimu, katakan saja βΊοΈ"
Arki memandangi wajah ayu Malia, wajah ayu yang mengisi seluruh sudut hatinya.
Malia memandang jauh ke arah tepi danau di seberang. Haruskah dia mengatakan tujuannya menemui Arki?
"Aku tidak tahu keberadaan Isaac, dan aku tidak tahu harus mencarinya kemana π"
Ucap Malia dengan gugup karena takut melukai hati Arki, takut Arki merasa cemburu karena Malia lebih merasa kehilangan atas ketidakhadiran Isaac.
"Kamu udah telfon dia?" Tanya Arki sambil memalingkan pandangannya ke arah danau yang tenang.
"Udah, aku ke klinik dia juga. Suster disana bilang Isaac mengambil cuti untuk beberapa hari π Tapi aku tidak tahu mengapa dia mengambil cuti tanpa memberitahu apapun padaku?"
"Hhhh, kenapa dia harus memberitahumu? π"
Ucapan Arki seolah membela Isaac yang senasib dengannya, mereka hanya orang asing yang mencintai Malia walau mereka tahu Malia hanya mencintai Hans.
Malia diam saja mendengar perkataan Arki yang menyinggung status hubungan Malia dan Isaac yang tanpa kejelasan.
"kamu benar!"
Malia menundukkan kepalanya.
"Mungkin masa heatnya telah tiba makanya dia menjauh untuk menghabiskan waktu berdua dengan Lycan betina disuatu tempat, jangan khawatir! dia akan kembali setelah beberapa hari π"
Ucap Arki yang cemburu dengan perhatian Malia pada Isaac.
(Heat \= masa kawin)
"Heat? apa Lycan jantan juga mengalami siklus heat?" Tanya Malia
"Yeah, tentu saja. Hanya saja heatnya datang setahun sekali, Apa kamu benar benar tidak tahu apapun soal Lycan? π"
Arki merasa bingung dengan Malia yang sebentar lagi akan menjadi ratu lycan namun dia tidak mengetahui apapun soal Lycan.
Bak diremuk dan hancur berkeping. Entah mengapa hati Malia terasa sangat sakit dan cemburu, dengan siapa Isaac melampiaskan hasratnya? Mengapa Malia merasa sesakit ini mendengar perkataan Arki.
Isaac mengetahui semua hal tentang Malia, namun Malia tidak mengetahui apapun tentang Isaac.
"Berhenti mengkhawatirkan Isaac, Malia. Pulanglah!"
Arki mengangkat kakinya dari danau lalu berjalan memasuki penginapan. Meninggalkan Malia yang terduduk termenung sendirian, bersama dengan kegundahan yang melanda hatinya.
Arki tak ingin lagi mendengar kekhawatiran konyol Malia tentang Isaac.
Malia enggan mengakui perasaannya pada Isaac, yang Malia tahu hanyalah Malia mencintai Hans. Namun disisi lain mendengar Isaac bersama wanita lain membuat hati Malia bak teriris pisau yang tumpul, lara nan perih.
"Mengapa aku terjebak dalam perasaan seperti ini π Ini sangat menyakitkan! π£" Ucap Malia dalam hati.
Seolah hati Malia tak pernah membiarkan Isaac pergi dari cengkramannya.
Malia mengangkat kakinya dari danau lalu memakai kembali sepatunya. Dia berjalan menuju mobilnya dan pulang menuju Whiterose dengan membawa serta lara didalam hatinya.
Sepanjang perjalanan Malia tak mampu mengalihkan pikirannya dari Isaac. Wajah gagahnya, tubuh kekarnya serta aroma tubuhnya yang sangat Malia sukai. Namun semua itu tengah Isaac berikan pada wanita lain, wanita yang lebih layak untuk Isaac dibandingkan Malia.
Seharusnya Malia senang melihat Isaac akhirnya bisa move on dari Malia, namun disisi lain Malia seolah tidak rela Isaac meninggalkannya.
(Thor, Malia kok egois sekali pengin dapet dua duanya? Iya kalau author yang jadi Malia malah pengin nikahin tiga tiganya sekalian π€£ Hans, Arki, Isaac)
Hari mulai sore, Malia pulang ke mansion. Hans tampak sibuk diruang tengah dengan pakaian kasual favoritnya.
Malia berjalan menuju kamarnya tanpa melirik atau berkata sepatah katapun pada Hans.
Hans memandang Malia dari kejauhan
"Hufttt" Hans menghela nafasnya
Hans berjalan menyusul Malia ke kamarnya.
Tok tok tok
Hans mengetuk pintu kamar Malia, Malia terlihat menangis diatas kasurnya.
Hans duduk disamping Malia dan mengelus pundak Malia.
"Ada apa, sayang? βΊοΈ" Ucap Hans dengan lembut.
Malia terus menangis dan tidak menjawab pertanyaan Hans.
"Bagaimana aku menjawabnya? Haruskah aku mengatakan bahwa aku tengah menangisi lelaki lain?" Ucap Malia dalam hati.
Malia mencoba menenangkan diri, namun hatinya tidak memberinya kesempatan untuk berhenti menangisi Isaac.
"Malia?" Hans membelai pipi Malia.
Malia menangkis tangan Hans, Hans yang sudah dilanda amarah akhirnya bangun dan membentak Malia.
"Dont be so childish! π "
(Jangan kekanak kanakkan! π )
Hans berjalan meninggalkan Malia sendirian dikamarnya.
Karena keegoisan hatinya, kini Arki dan Hans seolah tidak peduli lagi pada Malia.
23.11
Sesekali Malia terbangun dan membuka jendela kamarnya. Matanya melihat keseluruh penjuru hutan Floriq, berandai andai Isaac akan datang dari satu sudut hutan dan berlari memeluk Malia dengan erat.
Malia menghabiskan malam dengan bantal yang basah oleh air mata.
Malia memejamkan matanya.
Hans masuk ke kamar Malia dengan pelan karena Hans pikir Malia sudah tidur dan takut membangunkannya. Hans berbaring dibelakang Malia tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Mereka berbaring disatu ranjang yang sama sebagai sepasang kekasih, namun mereka saling diam seperti orang asing.
Ada ribuan tanya dibenak Hans, namun Hans enggan menanyakannya pada Malia.
"Sebagai sepasang kekasih seharusnya Malia terbuka dan menceritakan semuanya padaku, aku tidak harus memaksanya untuk bercerita." Ucap Hans dalam hati.
Malia memejamkan matanya, namun yang terlintas dalam benaknya adalah Isaac dan wanita lain yang tengah memadu kasih dimalam ini.
Malia tidak tahu Isaac juga merasakan kecemburuan seperti ini setiap malam, kecemburuan yang tak beralasan. Setiap malam adalah kutukan bagi Isaac karena Isaac hanya bisa duduk termenung membayangkan wajah ayu Malia yang tengah menikmati malam indah bersama Hans.
Malia mulai menangis sesenggukan, ia berusaha memendam tangisnya agar tidak membangunkan Hans. Malia memilih menggigit ujung selimut untuk sekedar meredam suara tangisnya.
Hans menyadarinya, Hans memeluk Malia dengan erat.
"Malia sayang, apa kamu baik baik saja?"
Hans khawatir dengan Malia yang menangis terus menerus, entah hal apa yang membuat Malia begini.
Namun Malia diam saja.
"Maafkan kakak ya, sayang.." Hans tidak ingin ucapannya sore tadi menambah beban pikiran bagi Malia.
Hans mencium pundak Malia yang terbalut gaun tidur floral berwarna purple.
Malia memejamkan matanya, menikmati hangatnya pelukan Hans. Laki-laki yang seharusnya ia cintai, satu-satunya lelaki yang berhak atas hatinya.
Walau Malia tahu hatinya tak pernah membiarkan Malia mencintai Hans seorang, selalu ada ruang untuk Isaac.
"Jika aku harus memilih antara mencintai Hans atau Isaac, aku memilih untuk tidak mencintai diriku sendiri π£ Aku sangat membenci diriku sendiri, aku merasa jijik!"
Malia sepenuhnya menyadari keegoisan hatinya.
Episode selanjutnya akan rilis jam 00.00 π₯° Jangan lupa like, komen dan votenya ya biar author makin cemumut nulisnya. π