The Princess Of Lycan

The Princess Of Lycan
KEJELASAN



Hans memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, beberapa serigala berlari mengikutinya. Hans mengendarai mobilnya menuju bukit Floriq.


Semakin jauh dengan Hierarki, pengaruh sihir Hierarkipun menghilang lalu Malia membuka matanya pelan pelan


"Akhhhhh!!!"


Tubuh Malia tersentak saat seekor serigala menabrak mobilnya dari belakang.


"Malia.. Are you okay? 😰"


(Malia.. Apa kamu baik baik saja? 😰)


Ucap Hans sambil fokus menyetir dan sesekali melihat ke arah spion.


Malia mengangguk pelan, kepalanya terasa sangat sakit, pengelihatannya memudar.


Tiba tiba


BRAKKKKK!!!!


Seekor serigala besar menabrak mobil Hans, mobilnya berguling ke dalam jurang Hutan Floriq.


"aaaaaaakkkkkhhhh!!!!" Malia berteriak


Brukkk!


Mobil Hans terbalik, mereka terjebak di kursi karena menggunakan sabuk pengaman.


"ughh.. uhuk.. uhuk.. uhuk.." Malia tersadar dalam posisi mobil terbalik. Kepalanya berdarah.


"Kak Hans.."


Malia mencoba membangunkan Hans, tetapi Hans diam saja. Malia menyentuh pipi Hans, tapi wajah Hans sudah penuh dengan darah.


"Aku mohon, Jangan tinggalkan aku.. hiks hiks πŸ₯Ί"


Air matanya mengalir, Malia mencoba membuka sabuk pengamannya dan


Brukkk.


"ugghhhhh.."


Malia terjatuh, pelan pelan Malia merangkak keluar melalui jendela mobil dengan menyeret badannya.


Malia memegangi perutnya yang berdarah, disekelilingnya yang terlihat hanyalah pohon pohon yang tenggelam dalam kegelapan.


Dengan sisa sisa tenaganya Malia menarik Hans keluar dari mobil, menyeretnya ke bawah pohon.


"Kakak tidak boleh mati begitu saja.. πŸ₯Ί"


ucap Malia sambil menangis. Hati Malia hancur melihat laki laki yang paling dicintainya tengah sekarat didepan matanya.


Kemudian Malia mengiris pergelangan tangannya dengan pecahan kaca mobil.


"akhhh!" Malia meringis


Malia menempelkan pergelangan tangannya di bibir Hans.


"minum ini kak Hans.. minum ini.. darah akan membuatmu lebih baik" Tetapi Hans tidak bergeming.


Perut Malia terasa sangat sakit. Terdapat luka sayatan menganga di perut hingga pinggang Malia karena tertusuk kaca mobil, darah segar terus mengalir.


"Auuuuuuuuu.." suara lolongan Isaac, terdengar keputusasaan yang mendalam. Lolongan itu terdengar sangat memilukan, hingga seluruh lycan yang mendengarnya pasti akan bisa merasakan betapa pilunya perasaan Isaac saat ini. Malia terjatuh dan terbaring dibawah cahaya rembulan.


"uhuk.. uhukkk.." Malia terbatuk batuk, darah segar mengalir dari ujung bibir mungilnya.


Mata Malia berkaca kaca membayangkan apa yang sedang terjadi pada Isaac.


"Auuuu.." Beberapa serigala membalas lolongan isaac.


"Seperti inikah akhirnya? Isaac, kau berjanji padaku semuanya akan baik baik saja.. πŸ˜” hiks.. kau berjanji tidak akan meninggalkanku sendirian.."


Malia memejamkan matanya, membayangkan wajah gagah Isaac yang harus mati karena melindungi dirinya.


Air mata Malia menetes, Malia meringkuk dalam kegelapan.


Dari kejauhan terlihat seekor serigala besar mendekatinya. Malia melihatnya dalam sisa sisa kesadarannya.


Β ----------


Beberapa hari kemudian


Malia membuka matanya pelan pelan, yang terlihat adalah langit langit rumah sakit.


"Apa aku masih hidup?" ucap Malia dalam hati.


Malia melihat ke sekeliling. Hanya ada seorang lelaki tua yang tertidur di sofa.


"Kak Haaans.." ucap Malia lirih.


Lelaki itu terbangun dan mendatangi Malia.


"Malia, kamu sudah sadar? Apa kamu merasa sakit atau tidak nyaman?" Lelaki tua itu mengelus rambut Malia.


"Kak Haaaans.." ucap Malia sambil mencoba untuk duduk, Lelaki tua itu membantu Malia.


"Hans sedang membeli sarapan, dia akan datang sebentar lagi.. 😊" lelaki tua itu tersenyum hangat pada Malia, senyumnya terasa sangat familiar.


Malia mengangguk.


"Malia.." Hans langsung mencium pipi Malia.


"Kak Hans..πŸ₯Ί" Malia memeluk Hans, Malia menangis meluapkan segala perasaan gundahnya pada Hans.


"its okay Malia, everything its okay..😊"


(semuanya baik baik saja, Malia..😊)


"Hiks hiks.. Kak Isaac, Jason..πŸ₯Ί" Malia membenamkan kepalanya di dada Hans


"Mereka semua baik baik saja, Malia.. Malia yang tenang ya.. Malia ga akan kehilangan siapapun..😊" Hans menatap kedua mata Malia.


"Berjanjilah kak..πŸ₯Ί"


"Iya sayang, kakak janji.." Hans duduk di samping Malia dan menggenggam erat tangan Malia.


Malia menatap ke arah lelaki tua itu.


"siapa paman ini, kak?" tanya Malia.


"hhhhh.." Hans menarik nafas panjang


"Malia.." Hans mencium tangan Malia


"Dia Luison Hwa, Ayah kandung Malia.. dia yang menyelamatkan kita malam itu"


"a.. ayah?" Malia kaget


"Tapi ayahku Tate Sean, kak.. ma.. mana mungkin dia adalah ayahku πŸ₯Ί" Malia mencoba menjelaskan pada Hans.


"sssshhhh.. kakak mengerti perasaan Malia, kakak telah mendapatkan buktinya (tes DNA) dia disini untuk melindungi Malia.." Hans mengelus tangan Malia.


"i.. itu artinya aku bukan anak ayah (tate sean)? πŸ₯Ί a.. apa itu artinya aku bukan adik kak hans juga?"


"sssshhh.. ga boleh ngomong begitu.. kamu akan selalu menjadi adik manisku, Malia 😘"


Setelah mengetahui kebenaran tentang jatidirinya, Malia memutuskan untuk menerima Luison Hwa sebagai ayah kandungnya.


"Aku mencintai ibumu lebih dari apapun di dunia ini, tapi ibumu (Celia Hwa) lebih memilih mengkhianatiku dan menikah dengan seorang vampir (Tate sean) yang sudah mempunyai tiga orang putra. Aku tak ingin menceritakan semua ini, aku tidak ingin kamu membenci ibumu tapi kamu harus tau kebenarannya, Malia.. 18 tahun aku mencari keberadaanmu Malia, setelah semua kebohongan yang ibumu katakan tentang kematianmu akhirnya kini aku menemukanmu.. 😊" Ucap Luison Hwa sambil mengupaskan apel untuk Malia.


Luison Hwa menikah dengan Celia Hwa kemudian mempunyai anak Malia Hwa namun Celia berkhianat dan malah berselingkuh dengan Tate sean. Sejak saat itu Celia hwa hidup dengan Tate sean dengan mengajak Malia hidup bersamanya.


Malia diam saja mendengarkan cerita dari Luison Hwa, Malia tidak menyangka sosok ibu yang selama ini dia impikan adalah sosok yang telah menyakiti banyak orang.


"Ayah, Ayah tidak perlu bersedih lagi.. Malia disini akan selalu menemani Ayah.." Malia memeluk Ayahnya.


"Aku tidak akan ragu walau harus mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkanmu dari Hierarki.. Aku hanya ingin kamu menikah dengan orang yang kamu cintai, tanpa paksaan dari manapun.." Luison mengelus punggung Malia.


"Ayah tinggal di kota Blackhill Malia, berkunjunglah kesana sesekali. Ayah juga akan sering datang kesini untuk menemuimu, nak 😊" ucap Luison.


Malia tersenyum manis 😊


Hari mulai gelap


"Hans, kalau kamu lelah biar aku yang menjaga Malia malam ini.." ucap Luison Hwa.


"Ga apapa paman, aku akan berjaga di luar 😊"


Ucap Hans.


"Baiklah, selamat malam.." Luison Hwa menutup pintu ruangan kamar Malia


Β 


Beberapa hari kemudian Malia diijinkan pulang ke Mansion.


Saat Malia memasuki mansion, mansion terasa sangat sunyi. Tidak ada tawa Jason atau Isaac yang biasanya menggema diseluruh sudut mansion.


"Dimana Jason?" tanya Malia pada Hans


"Dia dirawat di klinik Isaac.. dengan luka cakaran sebesar itu mungkin rumah sakit pemerintah akan mempertanyakan kejadiannya, jadi kakak memutuskan membawanya ke klinik isaac agar tidak menimbulkan kecurigaan apapun" ucap Hans sambil membawa masuk koper Malia.


"is he okay?"


(apa dia baik baik saja?)


"Yeah, hanya beberapa luka mungkin akan meninggalkan bekas yang mengerikan.. Ayok kakak antar kamu ke kamar.. ☺️" ucap Hans


Malia mengangguk


Lalu Hans membopong Malia menaiki tangga menuju kamarnya.


"Dokter bilang luka Malia tidak boleh terkena air dulu, jadi nanti sore Shelly datang kesini buat bantu Malia bersih bersih diri.. 😊" Hans membaringkan Malia di kasurnya.


Hans menyalakan perapian.


Malia menatap mata Hans, Hans mendekat lalu duduk di samping Malia sambil membelai pipi Malia.


"Ada apa? 😊"


"Aku bukan keluarga Sean, tidak ada darah Sean mengalir dalam tubuhku. Kenapa kakak membawaku ke mansion ini?"


"Tidak peduli siapapun kamu, Keluarga sean akan selalu menerimamu.." Hans mencium tangan Malia.


"Malia istirahat dulu ya.. Mwah 😘" Hans mencium kening Malia lalu meninggalkan Malia dikamarnya.


Sikap lembut Hans, dan senyum hangatnya selalu membuat Malia merasa nyaman bersama Hans.