The Princess Of Lycan

The Princess Of Lycan
Milk and Sereals



03.12


Malia terbangun dari tidurnya


"Ughhh.. jam berapa ini? 😖" Malia mengerutkan alisnya merasakan pening dikepalanya.


Hans, sosok laki yang paling ia cintai tengah tertidur pulas disampingnya. Malia mencium pipi Hans dengan lembut.


Malia bergegas bangun dan segera mandi. Sekilas Malia mengingat kejadian tadi siang, kuku kukunya terasa kebas. Seketika Malia khawatir dengan keadaan Isaac, Malia merasa tidak enak hati.


Setelah mandi Malia duduk dijendela dan menelfon Isaac untuk menanyakan keadaannya.


"Hallo, Malia.. udah bangun?"


"Udah ni, Isaac.. Kamu dimana?" tanya Malia


"Aku diapartemenku, Mal. Masih terasa pusingnya?"


"Iya masih pusing, tulang punggung aku juga rasanya ngilu.. hhhh aku minta maaf soal kejadian tadi siang ya.. Aku ga tau bakal separah itu"


Malia membuka jendela kamarnya, merasakan udara dingin yang menyapa kulitnya yang hanya tertutup gaun tidur tanpa lengan berwarna mustard.


"Sepertinya perubahan pertama kamu hampir terjadi, Mal. Untuk sementara jauhi kerumunan, soalnya aku ga tau emosi apa yang bisa mancing perubahan pertamamu.." Jawab Isaac


"Isaac, thanks ya udah selalu ada buat aku.. Aku ga tau badai apa yang sedang kamu hadapi, tapi aku percaya kamu akan selalu ada untukku.. 🥺😔😊"


"Hhhh.. jangan pernah bilang thanks ke aku Mal, aku hanya melakukannya sesuai naluriku 😊" Ucap Isaac


Malia bersender dijendela


"Kamu lagi apa sekarang?" Tanya Isaac


"Lagi nyari angin ini didepan jendela 😊"


"Masih terlalu malam, kamu tidur lagi aja gih.."


"Kamu juga kenapa belum tidur?"


"Aku sedang merawat pasienku hahaha"


"Hahaha pasien aneh diriku ini ya.."


Malia dan Isaac berbincang dengan asik, tanpa sadar Hans mendengarkan percakapan mereka.


Hans lalu bangun dan memeluk Malia.


"Kamu kenapa bangun, sayang? tidur lagi yuk 🥰" Ucap Hans sambil mencium pundak Malia


"Aku belum ngantuk, kakak tidur duluan aja 😊"


"Ayok temenin aku tidur 🥰" Hans menarik Malia dengan manja, Hans tampak sengaja membuat Isaac cemburu.


Isaac be like "😑"


"Isaac, udah dulu ya nanti aku telfon lagi.. Daah.. 😊"


"Daah.."


Malia mematikan telfonnya, membiarkan Isaac terbakar cemburu.


08.15


Matahari mulai menunjukan sinarnya, Malia bergegas membuat menyeduh Milk and sereal untuk sarapan.


Hans turun ke dapur lalu memeluk Malia dari belakang


"Kamu bikin apa, sayang?" Hans memeluk Malia dari belakang.


"Lagi bikin sereal ay, kamu mau?" Tanya Malia


"Enggak, buatkan aku teh hijau ya 😊" Ucap Hans


"Iya 🥰"


Hans duduk di ruang tengah sambil menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu ada kelas hari ini? 😊" Tanya Hans


"Ga ada kak 🥰" Malia meletakkan segelas teh hijau disamping laptop Hans.


"Kakak mau mengajakmu ke Eve Garden 😊"


"Jam berapa?" tanya Malia


"Sekarang juga gapapa, kamu siap siap dulu gih 🥰"


Malia bergegas menuju kamarnya untuk bersiap siap.


09.11


Malia mengenakan celana jeans berwarna biru muda dan sweater navy. Malia juga mengikat rambutnya.


"Ayok 🥰" Ucap Malia.


Mereka melakukan perjalanan menuju Lubba Garden.


"Kakak boleh nggak Malia nanya sesuatu 🙄"


"Nanya apa ay, ngomong aja.." Hans fokus menyetir.


"Sebenarnya apa hubungan kakak dengan Lidya?"


"Aku sama dia cuma berteman, yaaa teman sejak masih sekolah di SMA😊" Hans menggapai sebungkus kantong darah lalu meminumnya dengan santai.


Hans menyembunyikan fakta bahwa Hans dan Lidya juga merupakan partner-sex walaupun sudah berkomitmen untuk melakukannya tanpa menumbuhkan perasaan apapun.


"Emangnya kenapa?" tanya Hans


"Emmm.. Jason bilang malam itu (setelah pesta perusahaan) Lidya nginep dimansion 🙄"


Malia mengatakannya dengan ragu ragu karena takut dianggap kekanak kanakkan


"Emm.. dia.. dia baru balik ke london jadi ga sempet booking hotel, jadi terpaksa menginap di mansion.."


Hans terdengar gugup dengan pertanyaan Malia


"Emang dia tinggal dimana?"


"Lidya tinggal di New Orlans, dan hanya datang ke london saat ada acara acara penting saja 😊"


Ucap Hans.


"Apa masih jauh perjalanannya?" Tanya Malia karena perjalanan sudah lebih dari satu jam.


"Udah, Malia tidur aja kalau bete.. nanti kakak bangunin 😊"


Malia mengalihkan pandangannya ke tepian jalan, memandangi pepohonan rimbun yang dilewatinya.


Hans menggengam tangan Malia.


"Bagaimana denganmu? Aku lihat banyak cowok yang menaruh hati sama Malia 😊"


"Ugh, Itu bukan salahku! 🤪" Ucap Malia


"Hahaha, kamu ini kenapa punya wajah cantik begini bikin kakak jadi cemburu terus!" Hans mencubit pipi Malia dengan gemas.


Malia memeluk lengan Hans


"Kakak jangan cemburu, kakak kan tau Malia hanya mencintai kakak seorang 🥰"


"Iya iya sayang kakak percaya kok 🥰"


Hans mengelus poni Malia dengan lembut.


"Ini Eve garden ya kak? udah sampe? 😮"


Malia tercengang saat melewati jalan yang dikelilingi oleh bunga tulip.


"Iya sayang, kita parkir mobil dulu ya.." Hans memarkirkan mobilnya.


Malia turun dan terkagum kagum dengan sebuah taman yang dikelilingi banyak bunga berwarna warni, dengan sebuah danau kecil ditengahnya. Banyak angsa dan beberapa burung merpati yang terlihat sedang berterbangan kesana kemari.


Beberapa burung merpati hinggap didekat kaki Malia. Malia mengejarnya dengan tertawa renyah. Hans memandanginya dari kejauhan, memandangi wanita yang paling dicintainya tengah bahagia bersamanya.


Malia duduk di sebuah batu besar didekat danau. Tidak ada beban apapun yang terasa hanya kebahagiaan dan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Hans mendekatinya, menyelimutinya dengan jaket kulit yang sebelumnya ia pakai.


"Saat aku kecil aku memiliki seekor anak kucing namanya Mouchi. Dia tenggelam saat aku membawanya ke danau Westlake, sangat tragis kan? 😌 disaat itu aku menangis aku seperti telah kehilangan hal paling berharga dalam hidupku" Malia menceritakan masakecilnya.


Hans memeluk Malia.


"Mouchi yang malang.. 😊 Malia, Ini adalah kenangan yang kelak akan kamu ingat, sayangku. Setiap kali kamu mengingatnya ingatlah kekasihmu yang memelukmu dan berbisik ditelingamu I love you so much 😊 ini akan menjadi kenangan manis diantara kita"


Malia memejamkan matanya, merasakan kehangatan sinar mentari yang tak sepadan dengan hangatnya pelukan Hans yang membuat hatinya memeleh seperti tetesan lilin.


"I love you too, kakak.. aku mencintaimu lebih dari apapun 😊"


Hans menggandengnya menuju sebuah penginapan ditepi danau Eve, rumah kayu yang mengapung ditepian danau dengan suasana asri. Entah mengapa suasana itu mengingatkan Malia dengan Isaac saat dia dan Isaac datang ke Blackhill untuk menemui Luison Hwa.


Berjalan berdua menyusuri danau dengan suara kicauan burung yang riang, yang berbeda adalah sosok yang menemaninya hari ini bukanlah Isaac melainkan Hans.


Malia terlihat kagum dengan suasana rumah kayu tersebut.


"Terlalu kecil ya sayang rumahnya? 😊"


"Ah enggak kok kak, Malia suka 😊"


"Kita menginap disini ya malam ini? 😊"


"Menginap? 😳"


"Em, kakak janji kok ga bakal menyentuh kamu 😊 kakak hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu"


"emmm yaudah kak 😊"


Mereka menghabiskan hari dengan berjalan jalan ditaman Eve.