The Princess Of Lycan

The Princess Of Lycan
GrandLula no.118



Malia dan Arki mendatangi Bar & Billie tempat Jace bekerja. Ruangan remang remang dengan musik yang sangat keras.


"Hey, Jace.😊" Ucap Malia menyapa Jace. Malia duduk di sebuah kursi, Arki duduk di samping Malia.


"Tumben udah malem banget baru dateng, Ada apa Mal?" Tanya Jace sambil mengelap gelas gelas minuman kosong.


"Gapapa Jace, bete aja dirumah 😌 aku mau segelas wine dong"


Jace merasakan kejanggalan atas ketidakhadiran Jason ataupun Isaac yang biasanya mengawal Malia 24jam.


"Jason kemana?" Jace memberikan segelas wine pada Malia


"Jason lagi ada projek kecil diluar kota, mungkin balik besok pagi" Malia meneguk winenya dalam sekali teguk.


"give me more wine.."


(berikan aku lagi winenya) ucap Malia


Jace memberikan satu botol wine pada Malia.


Arki tidak meminum segelas winepun. Melihat Malia yang enggan pulang Arki beranggapan Malia sedang ada masalah.


"Kamu kenapa?" tanya Arki


"Kamu ngomong apa? Aku ga bisa denger.."


Suara musik menggema sangat keras membuat Malia tidak bisa mendengar Arki dengan jelas, Malia mulai menggoyangkan kepalanya mengikuti irama musik.


"Arki, Apa aku sangat jelek? Katakan padaku apa aku sangat jelek?"


Malia mulai mabok


Malia menarik Arki mendekat agar Arki bisa mendengarkan pertanyaannya. Malia menatap Arki, tatapannya nanar seolah tak mengerti apa yang baru saja dikatakan. Malia terlihat kacau, rambutnya berantakan karena Malia berkali kali mengusak rambutnya.


"E.. enggak.. Kamu cantik, Malia.. 🙄" Arki takut salah ngomong.


"Apa aku tidak layak untukmu... Hans.. 😰" Malia meletakkan kepalanya dimeja.


"Hans? Kamu suka sama Hans?" Tanya Arki dengan mendekatkan kepalanya.


"Of course, I do. Gadis mana yang tidak jatuh cinta dengannya. Bisakah kamu memberitahunya?"


Malia menepuk nepuk pundak Arki.


"Arki.. Arki.. Bisakah kamu memberitahunya?"


Malia terlihat sangat mabok.


"Malia, Are you okay?"


(Malia, apa kamu baik baik saja?) Tanya Jace.


Malia diam saja dan masih meletakkan kepalanya di pundak Arki.


"Arki, sebentar lagi Night party dimulai mending kamu anterin Malia pulang, takutnya malah terjadi yang enggak enggak" Ucap Jace pada Arki.


Night party adalah pesta malam Bar&Billie yang dimulai pukul 1 dini hari dan dihadiri oleh orang orang yang lebih dewasa untuk bersenang senang.


Sementara itu di mansion sean Isaac terlihat menelfon Hans untuk memastikan keberadaan Malia, Hans mengatakan Malia telah pulang bersama seorang laki laki sekitar pukul 10malam.


Isaac mulai cemas.


Isaac berkali kali menelfon Malia tapi Malia tidak mengangkatnya.


Mendengar pernyataan Jace akhirnya Arki membawa Malia keluar dari Bar&Billie. Arki memapah Malia menuju mobilnya.


"Malia, aku anterin kamu pulang ya.." Ucap Arki sambil memakaikan sabuk pengaman pada Malia.


"Nooo.. Jangan, Aku ga mau pulang.." Ucap Malia seperti ngelantur.


Tampaknya Malia masih merasa tidak nyaman di mansion. Arki merasa bingung harus membawa Malia kemana, akhirnya Arki membawa Malia ke apartemennya.


Arki berjalan memapah Malia.


"uhhhh.. hwekkk.." Malia merasa mual, Arki segera membopongnya ke toilet. Malia beberapa kali muntah, Arki menemaninya dengan sabar. Sesekali Arki memijat leher belakang Malia.


"hhhh perutku sakit sekali.. tidak ada lagi yang bisa keluar.. perutku sudah kosong."


Ucap Malia terus menerus muntah namun tidak mengeluarkan apapun, melihat Malia membuat Arki merasa kasihan.


"biar aku bantu.. buka mulutmu"


Arki memegang dagu Malia lalu pelan pelan memasukkan dua jarinya ke mulut Malia. Menyentuh titik terdalam tenggorokan Malia yang bisa dicapai dengan jarinya. Malia merasa mual


"Im sorry.." Ucap Arki


"Hwekkkk.." Malia langsung memuntahkan banyak alkohol yang barusan diminumnya.


Arki memijat leher belakang Malia, berharap Malia merasa lebih baik.


(apa kamu merasa lebih baik?)


Malia mengangguk kemudian terjatuh di lengan Arki, Arki membersihkan bibir Malia dengan tissue.


Arki terpaksa mengganti baju Malia dengan kemejanya karena Arki tidak memiliki baju wanita diapartemennya.


Arki membaringkan Malia di kasurnya lalu menyelimuti Malia dengan lembut. Malia memejamkan matanya. Arki membiarkan Malia tertidur tanpa menyentuhnya sedikitpun, padahal Malia adalah gadis yang telah diberikan oleh Celia Hwa untuknya.


Arki memutuskan untuk mandi dan tidur di sofa.


(Good job, Arki 😉)


Matahari mulai meninggi, sinarnya menerobos masuk dari celah celah gorden apartemen Arki. Arki terbangun karena mendengar hp Malia berdering, Arki mencari hp Malia di tasnya, Malia masih terlelap.


Isaac menelfon Malia


"Hallo, Malia.. kamu dimana sekarang?"


Isaac terdengar khawatir karna Malia tidak pulang semalaman.


"She is in my apartemen right now"


(Dia di apartemenku sekarang)


Ucap Arki dengan nada sedikit mengantuk


"Siapa kamu? Katakan alamatnya, aku akan menjemput Malia sekarang"


"Apartement GrandLula no.118" Ucap Arki kemudian mematikan telfonnya.


Arki membangunkan Malia, Malia terlihat sangat mengantuk namun Arki mengingatkan Malia agar segera pulang karena 2jam lagi harus segera berangkat kuliah.


Malia duduk di ranjang Arki dan terlihat bingung


"Dimana aku? Uhhh, kepalaku sakit sekali" Malia melihat sekeliling sambil memegangi kepalanya.


"Kamu peminum yang buruk, Malia. kamu di apartemenku.. 😌" Jawab Arki sambil mengikat rambutnya.


"Kamu yang mengganti bajuku? 🙄" Tanya Malia


"Iya, kamu muntah beberapa kali jadi terpaksa aku mengganti bajumu but i swear (tapi aku bersumpah) tidak melakukan apapun 😌 kamu bisa mandi sekarang, sebentar lagi Isaac jemput kesini" Arki duduk di sebelah Malia.


"Kamu nelfon Isaac suruh jemput? kan udah aku bilang aku ga mau pulang, kamu gimana sih!"


Malia bangun dan terlihat jengkel dengan tindakan Arki.


"Aduhhh.." Malia tersandung karena bangun dengan terburu buru


"Tenang, Malia.. Apapun masalahmu dengan Isaac kamu harus membicarakannya baik baik"


Arki membantu Malia untuk berdiri, Malia hanya mengenakan kemeja putih milik Arki yang terlihat kedodoran.


"Masalah apa? Aku ga ada masalah sama dia.. Aku hanya.."


Kalimat Malia terhenti, sejenak Malia berfikir untuk apa dia tidak pulang kerumah apakah hanya karena alasan sepele karena tidak nyaman dengan kehadiran Caroline.


Beberapa menit kemudian bel rumah berbunyi, Arki segera membukakan pintu.


Brakkk


Isaac langsung mencengkeram kerah baju Arki dan memepetnya di dinding.


"Berani beraninya kamu!!!"


Mata isaac berubah keemasan menandakan kemarahannya meningkat.


Tiba tiba Malia keluar dari kamar Arki dengan membawa tasnya. Isaac tertegun melihat Malia yang hanya mengenakan kemeja putih dan terlihat sangat sexy.


"Ayok pulang! Gausah marah marah sama Arki!"


Malia berjalan keluar apartemen.


"Ada apa denganmu, Malia? jelaskan padaku"


Isaac menggapai tangan Malia.


"Berhenti peduli denganku! Aku bukan anak kecil lagi! 😤"


Isaac memegangi kedua pipi Malia dan memepetnya didinding koridor


"Katakan padaku Malia, apa yang salah? Apa karena tadi malam? maaf Malia maaf aku tidak menemanimu makan malam, aku minta maaf. Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkanmu"


Malia menangkis tangan Isaac lalu berjalan menuju mobil Isaac.


Sepanjang perjalanan pulang Malia diam saja, Isaac berkali kali mengajaknya berbicara tapi Malia tidak tertarik dengan pembahasan apapun.