The Princess Of Lycan

The Princess Of Lycan
Marsmello Wafle



Malia masuk ke mobil Hans. Wajahnya terlihat muram karena pembicaraannya dengan Jenna barusan. Malia merasa dibohongi oleh Isaac.


"Ada apa, sayang? ☺️" Tanya Hans yang memang tidak tahu apa apa.


"Gapapa kak, kakak ga kekantor?"


"Kakak berangkat ke kantor kok sayang, ini sengaja pulang buat jemput Malia. kita mampir di Chikichill dulu ya buat makan siang ☺️"


"Yaudah.."


Hans memarkirkan mobilnya didepan Chikichill.


"Malia mau makan apa?" Tanya Hans sambil membuka buku menu.


"Ada menu baru ni, Marsmello Wafle. Kamu mau? ☺️"


Malia mengangguk saja sambil melihat ke sekeliling, entah apa yang ia cari.


Hans segera memesan makanannya.


"Kamu gapapa? 🙄" Tanya Hans yang mulai khawatir.


"Kapan purnama ke 8 terjadi?" Tanya Malia seolah tidak sabar ingin bertemu dengan ibu kandungnya.


"Masih 4 bulan lagi Mal, kenapa nanya gitu?"


Hans menggenggam tangan Malia, Hans mengerti kekhawatiran yang tersirat pada tatapan gundah Malia.


"Gapapa kok ☺️" Ucap Malia.


Hans mencium tangan Malia dengan lembut, sekedar berharap Malia bisa menjadi lebih tenang.


Pelayan datang menyajikan makanannya.


"Thank you" Ucap Malia


Malia dan Hans mulai menyantap makan siangnya.


"Nanti anterin Malia ke klinik Isaac aja kak ☺️" Ucap Malia.


"Ga langsung pulang?" Tanya Hans yang tidak senang dengan kedekatan Malia dan Isaac.


"Enggak, Malia merasa sedikit ga enak badan"


Malia beralibi, padahal sebenarnya dia hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Isaac.


"Yaudah nanti kakak temenin ☺️"


"Gausah ditemenin, gapapa ☺️ Kakak langsung balik ke kantor aja. Nanti Malia langsung pulang kok"


Malia mengelus punggung tangan Hans agar Hans mengijinkannya ke Miracle Clinic.


"Yaudah ☺️" Hans mengiyakan permintaan Malia tanpa berpikir macam macam.


Hans menurunkan Malia didepan Miracle clinic dan Hans bergegas ke kantor meninggalkan Malia.


Malia melangkahkan kakinya di klinik, saat di resepsionis Malia melihat seorang laki laki keluar dari ruangan Isaac. Dengan postur yang familiar, rambut panjang lurus terurai, memakai topi hitam dan masker hitam.


Laki laki itu melewati Malia begitu saja, Malia menggapai lengannya.


"...Arki? 🤨" Ucap Malia


"Eh Malia 😄?" Arki menurunkan maskernya dan menyapa Malia dengan gugup


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Malia


"Em.. demam.. iya.. aku demam.. kamu tahu kan cuaca lagi buruk kayak gini bikin orang gampang sakit. ☺️"


"Emang kamu orang? Serously? 😫"


Malia menggengam lengan Arki dan tampak kesal karena Arki menyembunyikan sesuatu.


"em, Mal aku pergi dulu ya.. nanti aku temuin kamu lagi 😊 Aku pergi sekarang ya, daah.."


Arki melepaskan tangan Malia dan bergegas pergi dengan terburu buru.


Arki terlihat memasuki mobilnya, didalam mobil Arki ada Jenna yang menatap tajam ke arah Malia.


Malia langsung memalingkan mukanya.


"Huft! Semakin lama kalian (Arki n Isaac) semakin terlihat mirip!" batin Malia.


Malia berjalan menuju ruangan Isaac.


Cklakkk


Malia membuka pintu ruangan Isaac tanpa mengetuknya, namun Isaac tidak ada diruangan.


Amarahnya bergemuruh didada.


"Sus, Dokter Isaac kemana?" tanya Malia pada seorang suster yang kebetulan lewat di koridor.


"Dokter sedang diruang istirahat nona, sekarang jam istirahat 😊"


"Dimana ruangannya?"


"Ada diujung koridor sebelah kanan 😊"


Malia bergegas menuju ruangan yang dimaksud suster tersebut.


"Isaac?" Malia membuka pintu tanpa mengetuk


Isaac menengok ke arah Malia.


"😊" Isaac hanya tersenyum


"Katakan padaku apa yang kamu sembunyikan dariku! Seharusnya kamu mengatakan semuanya padaku!"


Malia membanting tasnya disebuah meja lalu berdiri disamping Isaac.


"Apa dia mengancammu, hah?"


Tanya Malia yang terlihat sangat emosi karena tidak mengetahui apapun tentang perbuatan Celia Hwa pada orang orang disekitarnya.


"sssshhhh.. relax, Malia.. ☺️" Isaac membelai kedua pipi Malia


"Katakan padaku, mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?!"


"Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk, dia bilang akan menunggu hingga purnama ke 8 😊 Relax.. Malia.."


Isaac tetap kekeuh tidak mengatakan pembunuhan yang dilakukan Celia Hwa kepada anggota gerombolan Arki ataupun Celia yang menyuruh anggotanya untuk menggoda Isaac.


Brakkk


Malia menggebrak meja dengan kedua tangannya


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku! kamu menyembunyikan sesuatu dariku!! 😡" Ucap Malia dengan suara keras.


Malia terbawa emosi, matanya menyala keemasan. Nafas Malia mulai terengah engah, cakarnya muncul secara tiba tiba.


"Arrrggghhhh! 😫"


Malia memegangi kepalanya yang seketika terasa sangat sakit.


"Malia.. Shhhh.. its ok, relax.. kamu harus relax!"


Isaac memeluk Malia, mendekap wajah Malia didadanya.


"Argggghhhh! sakit sekali!" Malia berteriak histeris.


Beberapa suster tergopoh gopoh mendatangi ruangan Isaac mendengar teriakan Malia.


"Dokter.." Suster Anie membuka pintu.


Yang terlihat hanyalah Dokter Isaac yang tengah berlutut dan memeluk seorang gadis yang menangis histeris, punggung Isaac terlihat berdarah oleh cakaran Malia.


"Get out! (Keluar!)" Ucap Isaac dengan tegas.


Malia terus menjerit dan mencakar lengan dan punggung Isaac dengan kuku kuku tajamnya.


Isaac membopong Malia ke sofa, Malia memberontak namun Isaac mendekapnya dengan kuat.


Gigi Malia menancap dipundak Isaac. Lalu Isaac menyuntikkannya obat tidur, seketika Malia tak sadarkan diri.


Isaac melepaskan dekapannya, bekas gigitan Malia langsung mengalir darah segar.


Isaac bergegas ke kamar mandi, melepaskan semua pakaiannya dan berdiri dibawah shower membiarkan air dingin itu menghanyutkan setiap darah yang menetes karna Malia. Isaac meringis sejenak merasakna perih dipunggungnya.


Lukanya menutup dengan cepat walaupun tidak bisa langsung sembuh 100%.


"Sepertinya perubahan pertama Malia akan terjadi dalam waktu dekat.." Ucap Isaac.


Setelah mandi Isaac memeriksa keadaan Malia. Mengecek gigi taringnya yang sudah kembali normal, begitu juga dengan cakarnya.


Hari mulai gelap.


Karena sudah tidak ada jadwal konsultasi akhirnya Isaac memutuskan untuk mengantarkan Malia pulang.


Isaac membopong Malia. Beberapa suster mulai berpikir Malia adalah gadis gila karena dua kali mendatangi Miracle Clinic dalam keadaan tidak wajar.


Isaac mendudukkan Malia dikursi depan.


Sesampainya dimansion Isaac membopong Malia menuju kamar Malia dan meletakkannya diranjang. Hans mendatangi kamar Malia.


"Isaac.."


"Ya, Hans?"


"Malia kenapa?" Hans duduk disamping Malia dan membelai pipi Malia dengan lembut.


"Perubahan pertamanya hampir terjadi, aku hanya memberinya obat tidur" Ucap Isaac


"Terimakasih, aku bisa menanganinya.." Ucap Hans


"Good (Bagus)"


Isaac melangkah meninggalkan kamar Malia, seketika Hans memanggil Isaac.


"Isaac.."


"Aku harap kamu mengerti situasinya. Malia sekarang adalah kekasihku, dia seharusnya menjadi kakak iparmu. Jaga batasanmu! 🤨"


Ucap Hans memperingatkan Isaac tentang hubungan mereka. Isaac menangkap kecemburuan diperkataan Hans terkait kedekatannya dengan Malia.


"Okay okay.. aku ngerti! ga usah dikasih tahu berulang ulang!"


Isaac meninggalkan kamar Malia.


Sejenak Hans bertanya tanya mengapa Malia kini seolah lebih dekat dengan Isaac dibandingkan dengan dirinya yang berstatus sebagai pacar Malia.