
06.15
Malia membuka matanya. Isaac terlihat berdiri memandang ke arah luar jendela.
"Ini masih terlalu pagi, kamu bisa tidur lagi ð"
Ucap Isaac sambil meminum sekantong darah yang dituang ke dalam gelas.
"Kamu ga tidur?"
"Enggak, gapapa kok.. nanggung bentar lagi juga harus ke klinik. Ini pakaian bisa kamu pakai sementara"
Isaac memberikan sebuah kemeja berwarna hitam, Malia kemudian memakainya.
"Kamu gapapa? ada yg terasa sakit ga?" Tanya Isaac
"Enggak kok, ga ada yang sakit ð"
"Kamu mau berangkat kuliah hari ini?"
Tanya Isaac membuka jendela kamarnya. Malia mengangguk pelan sambil mengancingkan kemeja hitamnya.
"Yaudah nanti aku anterin ke Mansion jam 8 ya, aku mau keluar dulu beli sarapan. Kamu nunggu disini aja ya?"
Isaac keluar meninggalkan Malia yang terduduk di sofa depan jendela.
Mentari begitu hangat. Malia menatap sang mentari pagi, memejamkan matanya membiarkan sinarnya yang keemasan menyapa setiap sudut wajahnya yang ayu.
Malia melihat sekeliling, apartemen itu begitu kosong tampaknya Isaac jarang singgah disini. Terlihat banyak sekali puntung rokok di asbak, Malia segera membersihkannya.
Beberapa waktu kemudian Isaac datang membawakan sepotong sandwitch dan susu untuk Malia.
"Jangan terlalu banyak merokok, Isaac. Ga baik buat kesehatan jantungmu ð"
"Aku tau, Malia. ð"
Isaac mengikat separuh rambutnya dan membiarkan beberapa helai rambutnya berjuntaian didahinya. Terlepas dari sosoknya yang tempramental, Isaac adalah laki laki yang sempurna.
12.15
"Malia, nanti malem nongkrong di Bar&Billie yuk.." Ucap Shelly duduk di samping Malia.
"Ugh, aku lagi ga pengin bar. Nanti malem kita ke tempat Audrey aja yuk.." Ucap Malia sambil meminum sebotol air mineral dingin yang diberikan Shelly.
"Oh, Okay.. Nanti kirimin alamatnya ya ðĨ°"
Malia dan Shelly berbincang di kursi taman. Audrey datang menemui mereka
"Malia, kamu dicariin kakak ganteng ðĪŠ"
Audrey duduk dan bersandar pada Shelly.
"Kakak ganteng siapa?" Malia tengah sibuk membolak balik bukunya.
"Itu lho.." Audrey menunjuk Hans yang tengah menunggu Malia di sebuah kursi dibawah pohon yang rindang. Hans menyapa Malia dari kejauhan, Hans terlihat tampan lengkap dengan setelan Jasnya.
Malia lalu berjalan mendekati Hans dan duduk disampingnya.
"Kakak nungguin Malia semaleman, Malia ga pulang pulang. Hp Malia juga ga dibawa, kemana semaleman? Maaf soal tadi malem" Tanya Hans memberikan sebungkus burger untuk makan siang Malia.
"Aku ke klinik Isaac ð Its okay kak, lagian kita bukan saudara biologis juga dan kakak juga udah tahu perasaan aku yang sesungguhnya, Aku tidak menyesal telah memberikannya (keperawanan) pada Kak Hans"
Ucap Malia yang manis namun tanpa ekspresi, hanya wajah datar yang tersapu oleh helaian rambutnya sendiri. Malia membuka bungkusan burger yang diberikan Hans lalu menggigitnya dengan lahap.
"Iya, Malia. Kakak pikir itu bukan kamu, seharusnya kakak ga mabok kemarin. Kakak ga menyangka benar benar melakukan hal sekotor itu padamu"
Malia menghentikan makannya dan seketika melirik Hans
"do you think its someone else?"
(Apa kamu mengira itu orang lain?)
Malia mengerutkan alisnya seolah tidak percaya dengan yang barusaja dia katakan.
"Iya, aku mabok dan aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri. Kamu boleh marah, Malia. ð"
Hans mencoba membela diri.
"Aku bilang "its okay" tidak perlu mengucapkan banyak hal bullshit untuk membela diri, itu hanya membuat membuat hatiku sakit kak. Kakak menyebut namaku berkali kali, mana mungkin kakak mengira aku adalah orang lain. This is crazy (ini gila) jelas jelas kakak menyadari sepenuhnya itu adalah aku, M-A-L-I-A ðĪ"
Malia memalingkan mukanya dengan kesal.
"Im so sorry, aku ga mau kamu berfikir aku menidurimu hanya karena perasaanmu padaku, Malia. Aku bukan lelaki seperti itu Malia"
Hans menyangga dahinya dengan kedua tangannya.
"Lalu untuk apa? Aku sudah mengatakannya kak, Aku mencintaimu.. Aku sudah membuktikannya, kamu hanya perlu menerimaku saja apa susahnya?"
Malia menatap Hans yang menundukan kepalanya.
"Jangan katakan hal itu lagi, Malia."
Ucap Hans yang tidak ingin mendengarkan pernyataan cinta dari Malia.
"Apa kamu sedang menolakku? ðĻ" Tanya Malia.
Hans memegang tangan Malia
"Malia dengar, Aku mencintaimu dan akan selalu mencintamu Malia. Tapi perasaan cinta yang Malia harapkan tidak bisa tumbuh begitu saja Malia, kakak harap Malia bisa mengerti"
Malia terdiam sesaat, untaian kata kata Hans mengalir dalam pikirannya. Seolah mengerti yang Hans katakan bahwa cinta yang bisa diberikan Hans adalah cinta seorang kakak pada adiknya, bukan cinta yang Malia harapkan.
(Tinggalkan aku!)
"Malia!"
"Argh!" Malia tampak marah, matanya berubah menjadi keemasan.
tiba tiba Arki datang dan menyentuh pundak Malia, seketika mata Malia kembali normal.
"Malia, Are you okay?"
(Malia, Apa kamu baik baik saja?)
Arki menunduk untuk melihat wajah Malia, rambutnya berhelaian lembut terbawa angin.
"Im sorry, Men. I think you should go now!"
(Maaf, bung. Aku pikir kamu sebaiknya pergi sekarang!)
Ucap Arki sambil membuat matanya menyala kemerahan.
Melihat Arki yang hampir marah, Hans meninggalkan Malia tanpa sepatah katapun.
Arki duduk disamping Malia dan memakan burger yang tadi dibawa Hans.
"Kamu suka chiken burger? Menurutku sih beef burger lebih enak. Kamu tau ga ChikiChill (salah satu restoran di jalan whiterose) ada menu baru lho, percy burger. Nanti kapan kapan kamu traktir aku makan disana ya ð"
Arki mencoba menghibur Malia dengan mengalihkan pembicaraan.
"Go away!"
(Pergilah!)
Malia bangun dan berjalan menjauhi Arki, Arki mengejarnya.
"Come on, dont be so silly!"
(Ayolah, jangan bodoh!)
"Itu hanya cinta biasa Malia, kamu akan mendapatkan banyak sekali cinta lain dalam hidupmu! Jangan terfokuskan dengan dia ðĨī"
Arki berjalan mengikuti Malia, seketika Malia berhenti melangkah
"Bagaimana kamu tau? Apa Audrey cerita sama kamu?"
Malia menatap mata Arki.
Seingat Malia yang tau tentang persoalan cinta Malia dan Hans hanyalah Isaac, Jason, Shelly dan Audrey.
"Jangan marah Malia, Aku kan juga sahabatmu! ðĨš"
"Sahabat apa? kamu mencoba membunuh keluargaku tiga minggu yang lalu!"
Malia berjalan menjauhi Arki.
"Im so sorry for that.. Malia.."
(Aku minta maaf soal itu.. Malia..)
"Malia.."
"Malia.."
"Malia.."
"Malia.."
"Malia.."
Arki terus mengikuti Malia hingga ke kantin.
Jace dan Alison sedang duduk dikantin, Malia bergabung dengan mereka. Jace tertawa melihat Arki yang mengikuti Malia sedari taman.
"Arki hentikan ð°! kamu sangat menyebalkan!"
Malia mendorong tubuh Arki agar tidak duduk didekatnya.
Audrey berlari menuju kantin.
"Hey cantik darimana aja?" Tanya Jace pada Audrey
"Dari mana-mana hatiku senang ðĨī Malia tadi kakak ganteng nitip ini buat kamu, katanya ga sempet ngasih ke kamu. Dia bilang kamu harus buru buru minum ini."
Audrey memberikan kresek putih farmasi kepada Malia.
"Apa ini? ð" Malia membukanya, ternyata Hans membelikan pil KB untuk Malia agar kejadian tadi malam tidak membuatnya hamil.
"Bhuahahaha" Seketika Jace dan Arki tertawa terbahak bahak.
Alison menarik kerah belakang Jace agar Jace berhenti tertawa. Jace mencoba berhenti tertawa, muka Malia memerah.
"Itu buruk untuk hormonmu, lebih baik pakai kontrasepsi lain ðĪ" Ucap Arki sambil menahan tawa.
"Diem!"
Plakkk
Audrey memukul lengan Arki.