
Malia berlari keluar dari kantor Hans dengan menangis, Malia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Jika kakak menolakku, apakah aku akan kehilangan sosok Kak Hans untuk selamanya?"
Malia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, sesampainya di Mansion Malia berlari ke kamarnya. Jason yang sedari tadi menunggu Malia kemudian berlari mengejar Malia.
"Malia!"
Malia duduk di kasurnya sambil menangis. Jason mendekati Malia dan mengelus pundak Malia dengan lembut.
"Malia, Ada apa? Apa kamu baik baik saja?"
Jason terlihat khawatir.
"Aku udah ngomong ke Kak Hans soal perasaan aku, tiba tiba saja aku merasa ini tindakan yang bodoh. Dia bilang aku masih kekanak kanakkan dan belum mengerti apa apa tentang cinta, Apa itu artinya dia menolakku? ðĨš"
Jason duduk disamping Malia
"Jangan menangis seperti itu Malia, menjadi dewasa artinya kamu harus menerima semua kenyataan dengan lapang dada" Jason membelai kedua pipi Malia.
"Aku seorang wanita dewasa kan?"
Malia perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa omongan Hans itu salah.
Jason mengangguk kemudian memeluk Malia untuk menenangkannya.
"Aku hanya meninggalkanmu beberapa hari, kenapa kamu jadi seperti ini?"
Ucap Jason merasa bahwa Malia telah melewati banyak hal sulit selama beberapa hari terakhir.
"Sekarang, Malia jelaskan kenapa Malia berteman dengan Hierarki?" Jason menatap kedua Mata Malia
"Whats wrong?"
(Apa salahnya?) Ucap Malia
"ð" Jason diam saja, walau didalam hatinya menggerutu.
"Dia adiknya Isaac dan dia juga baik padaku ðĨš Kalau dia berniat membawaku pasti dia sudah melakukannya sejak kemarin, lagi pula kamu juga kenapa berkencan dengan Jenna? Dia kan beta-nya si Arki juga ð"
"Kamu nyalahin aku? ð tentu saja aku kencan sama dia karna dia sexy ðĪŠ" Ucap Jason
Malia memukul lengan Jason dengan bantal, Jason senang pada akhirnya bisa membuat Malia tersenyum kembali.
Hari mulia gelap, selesai mandi Malia menyiapkan makan malam untuknya dan Jason.
"Jason, bawakan gelas yang tadi!"
Malia berteriak dari ruang makan.
Dengan gaun tidur berwarna putih tanpa lengan, Malia membiarkan rambutnya terurai.
Malia menyiapkan nasi dipiring Jason, Jason duduk di ruang makan.
"Jason, boleh aku tinggal di apartemen Audrey?"
Tanya Malia memberikan piringnya pada Jason.
"Memangnya kenapa tinggal disini?" Tanya Jason.
"Kadang aku merasa kesepian ð lagian aku sama Audrey kan satu jurusan, aku bisa sering belajar bersama kalau aku tinggal disana"
Malia duduk didepan Jason dan mulai memakan makan malamnya.
"Dimana dia tinggal?"
"Apartemen GrandLula no.119 ð" Ucap Malia sambil mengunyah makanannya.
"Okay, Aku ijinkan. Asalkan kamu bisa jaga diri baik baik, kamu juga harus sering sering kesini ya.."
Malia mengangguk, bibir tipisnya tersenyum sangat manis.
Tiba tiba hp Malia berdering.
"Malia? ðĨ°"
"Iya Isaac, ada apa?"
"Kamu dimansion kan malam ini? Aku mungkin akan pulang sedikit terlambat tapi kita perlu bicara"
"Iya iya Malia tidur dimansion kok.."
"Okay, kamu lagi apa sekarang? ðĨ°"
"Ini lagi makan sama Jason ð"
"Yaudah, kalau Malia ngantuk Malia tidur duluan juga gapapa nanti kalau aku pulang aku bangunin"
"Okay, daaah ðĨ°"
"Daaah.."
Malia mematikan telfonnya
"He is so sweet right?"
(Dia sangat manis kan?)
Tanya Jason sambil bergurau.
"Isaac itu tempramental, Jason. Terkadang dia sangat manis, tetapi kadang kadang juga dia menjadi sangat kasar ð"
"Apa Arki juga seperti itu?" Tanya Jason yang penasaran dengan sosok Hierarki yang sempat membuatnya bergidik ketakutan.
"Enggak sih, Arki pendiam. Kemarin malam aku mabok dan tidur di apartemen Arki, tapi dia tidak menyentuhku sama sekali"
"Pppffff! Kamu tidur diapartemen dia?" Jason tampak kaget
"I.. iya.. tapi aku enggak ngapa ngapain kok ð"
"Tidakkah kamu tau Arki hampir membunuh kita semua? ð" Gerutu Jason dalam hati
Selesai makan malam Malia mencuci piringnya didapur. Jason masuk ke dapur dan mengambil sekantong darah segar dikulkas lalu meminumnya didepan Malia.
"Euwwww.. itu menjijikan!" Malia menyipratkan air ke arah Jason.
"Ini lezat, mau coba?"
"Kamu menaruh kantong darah di kulkas memangnya mba wily ga curiga?"
"Curiga apa? dia juga vampir.."
"What? ðģ"
"Banyak vampir disekitarmu Malia, kamu saja yang ga menyadarinya"
"Nih.." Jason memberikan satu strowberry cupcake yang dibelinya tadi siang.
Jason menutup pintu kulkas lalu berjalan ke ruang tengah dan menyalakan perapian.
Malia kemudian duduk di sofa didepan perapian sambil memakan cupcake pemberian Jason.
"Aku mau ke Bar&Billie malam ini, kamu mau ikut?"
Tanya Jason pada Malia.
"Enggak, aku dirumah aja nungguin Kak Hans dan Isaac pulang"
"Yaudah baik baik ya dirumah.." Jason mengecup kening Malia lalu pergi dengan mobilnya.
Suasana mansion mendadak sepi, hanya terdengar suara letupan letupan kayu yang terbakar. Malia tampak gelisah menunggu kepulangan Hans. Malia cemas dengan jawaban yang mungin akan diberikan Hans malam ini. Malam semakin larut, Hans tak kunjung pulang. Akhirnya Malia tertidur didepan perapian.
01.10
Hujan sangat lebat.
Seseorang mengetuk pintu Mansion, Malia bergegas membukakan pintu.
Nampak Hans mabok dan dipapah orang seorang temannya.
"Kak Hans? silahkan masuk kak..ð"
Yudha meletakkan Hans di sofa didepan perapian.
"Aku yudha temen lama Hans, tadi aku ketemu Hans lagi mabok sendirian di bar jadi aku anterin pulang. Kamu ...?"
Yudha menanyakan siapa Malia.
"Aku Malia hwa sean, adik tiri Kak Hans ð"
"Oh, baiklah. Aku pulang dulu ya, ini udah larut soalnya ð"
"Iya terimakasih kak Yudha ð"
Malia menutup pintu Mansion, Hans berbaring di sofa mengenakan kemeja biru muda dengan aksen garis vertikal yang tampak sangat kusut.
"Kak Hans.." Malia berlutut dan menepuk nepuk pipi Hans.
Hans diam saja.
"Kakak?"
Tiba tiba Hans menarik tangan Malia hingga Malia terjatuh di atas badan Hans, seketika Hans membalik tubuhnya dan menindih Malia.
"Malia.."
Hans mencium bibir Malia dengan paksa, Malia memberontak dan menggigit bibir Hans hingga berdarah.
"Argh! ðĪ Kamu bilang kamu mencintaikukan, hah? Ini aku, Hans tersayangmu!"
Hans bangun dan membuka kemejanya.
"Tidak! Kak Hans!!!! Argh! ðŦ" Malia menangis, berteriak dan meronta
Malia memberontak mencoba kabur dengan menjatuhkan diri dari sofa namun Hans menariknya kembali dan menindihnya dengan kuat.
"ssssshhhh sssshhhh jangan menangis Malia, ini aku! Kamu mencintaiku kan?"
Malia tetap memberontak dan mendorong tubuh Hans agar menjauh
"ssssshhhh rilex Malia.. ini tidak sesakit saat pertama kali ð"
Cklakkk, Hans membuka sabuknya dan menurunkan ritsleting celananya didepan mata Malia.
Isak Malia hanya terdengar angin lalu bagi Hans.
.
.
.
.
.
.
01.56
"Aaaargggghhhh!!! ð"
Hans berhasil mengambil keprawanan Malia, Malia berteriak histeris, tubuhnya gemetar hebat. Malia menancapkan kukunya di punggung Hans.
Seketika Hans tertegun melihat darah yang mengalir, selama ini Hans berfikir Isaaclah yang mengambil keprawanan Malia.
Hans langsung tersadar dan berhenti sejenak, kepalanya terasa sangat pusing. Malia memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang tubuh Hans.
Malia menggapai kunci mobilnya lalu berlari dengan membawa kemeja Hans. Berkali kali Malia jatuh tersungkur karena kakinya terasa sangat lemas.
"Malia!ð°" Hans mencoba mengejar Malia namun Hans terjatuh karena kepalanya juga terasa pusing.
Malia bergegas masuk ke mobilnya lalu mengendarai mobilnya agar segera keluar dari gerbang Mansion Sean.
Setelah beberapa saat Malia menghentikan mobilnya dan menangis, terdengar petir menggelegar. Suara tangis Malia teredam oleh derasnya air hujan.
Malia memakai kemeja Hans dan memutuskan untuk pergi ke klinik Isaac karena merasa tidak punya orang lain lagi yang bisa menerimanya malam itu.
02.15
Malia mendatangi Klinik Isaac