
00.41
Isaac sudah memberikan obat tidur untuk Malia, tetapi Malia tidak kunjung terlelap.
Telinganya terus berdengung, kepalanya sakit dan seluruh tulang ditubuhnya terasa ngilu.
"Ugh kemana manusia jelmaan itu 😖"
Malia berkeringat dan gelisah. Malia mencari keberadaan Arki namun Arki tidak ada di ruangan Malia.
Malia terduduk lalu memandang ke arah luar jendela, yang terlihat adalah pantulan cahaya matanya yang menyala keemasan dalam gelap. Malia menyadari ada sesuatu yang salah dalam dirinya.
Malia mencoba untuk tenang agar tidak membangunkan yang lain, namun seluruh badannya terasa semakin sakit.
Malia memutuskan untuk menemui Isaac diruangannya. Malia mencabut paksa infus ditangannya, ia juga melepakan gips yang menggantung di pundaknya. Sakit di lengannya tidak sebanding dengan ngilu dan sakit yang ia rasakan diseluruh tubuhnya.
Kakinya gemetar, Darah segar mengalir dari bekas infus ditangan Malia, Malia berjalan dengan sempoyongan melewati lorong lorong koridor klinik yang gelap gulita.
Darahnya menetes disepanjang langkah gontai Malia.
"Aghhh!" Malia terus menarik nafas sekedar untuk meringankan ngilu ditubuhnya.
Sesekali sakit ditubuhnya membuatnya menjerit.
"Arghhh! Isaac!" Teriak Malia
Lorong koridor terasa lebih panjang. Malia meringis dan jatuh tersungkur dalam gelap.
Arki yang kebetulan melewati koridor tersebut kemudian melihat Malia yang tersungkur meringkuk dilantai klinik.
"Malia! 😨"
Arki segera berlari dan mendekap Malia.
"Argh! sakit sekali Ark! 😫"
Keadaan Malia sangat kacau, seluruh kuku dan taringnya tumbuh secara bersamaan, matanya menyala keemasan dan nafasnya terengah engah. Bahkan tato serigala dileher belakangnya menyala keemasan.
Malia terus meringis dan menangis tanpa bisa berkata apapun. Rasa sakitnya semakin menjadi jadi.
Sementara diruangan Malia, Shelly terbangun karena mencium aroma darah Malia.
"Malia?" Shelly panik melihat Malia yang tidak ada di ranjangnya.
Shelly bergegas mengikuti aroma darah Malia yang tercecer dilantai. Shelly menemukan Malia tengah dibopong oleh Arki.
"Malia! 😨" Shelly berteriak dan berlari menuju Malia karena merasa sangat khawatir
"Panggil Isaac! temui aku di Bukit Batu Floriq!" Teriak Arki pada Shelly.
Ucap Arki yang bergegas membawa Malia pergi ke Bukit batu Floriq.
Sepanjang perjalanan Malia berteriak dan menangis karena merasa tidak kuat dengan sakit ditubuhnya. Berkali kali Malia membenturkan kepalanya ke kaca mobil, sehingga memaksa Arki untuk memeluk Malia sepanjang perjalanan.
Sesampainya disana Arki meletakkan Malia disebuah tanah lapang yang tidak tertutupi rimbunnya pepohonan. Membiarkan cahaya rembulan menerpa seluruh tubuh Malia.
"Malia, ini mungkin adalah perubahan pertamamu. Kamu harus kuat sampai wujud sempurnamu! bertahanlah!"
Arki menggigit pergelangan tangannya lalu menempelkannya di bibir Malia untuk menyempurnakan perubahannya. Malia menghisap darah Arki.
Seluruh hutan terasa hening, yang terdengar adalah jeritan jeritan Malia yang menggema diseluruh sudut hutan.
Seluruh hewan seolah menantikan Kelahiran wujud baru sang Ratu Lycan.
Beberapa saat kemudian Isaac dan yang lain datang, Malia langsung mengulurkan kedua tangannya menyambut Isaac.
"Isaac 🥺 Arggghhhh 😖"
Isaac memeluk Malia dengan erat, Isaac dapat merasakan tulang tulang Malia saling menggeser dan bahkan patah disaat yang bersamaan.
Malia menjerit dalam pelukan Isaac.
Alison dan Audrey tidak mampu berkata apapun, mereka hanya diam melihat Malia yang menangis seperti itu. Suara retakan tulang Malia bahkan terdengar hingga ke telinga mereka yang berdiri dengan jarak 5 meter dari Malia.
Arki menepuk pundak Isaac, Isaac mengerti apa yang dimaksud Arki.
"Malia, apapun yang ada pada dirimu jangan tahan lagi! Biarkan semuanya mengalir seperti yang seharusnya!"
Ucap Isaac yang mengerti bahwa Malia terus menerus menahan perubahan itu, namun itu hanya membuat Malia merasakan sakit lebih lama.
Isaac menjauh dari Malia, Malia merangkak dan mencoba mengejar Isaac. Namun seketika Malia merasakan tulang punggungnya bagai dipatahkan ratusan kali.
"Aaaaarrrrrrggggghhhhh!!!!"
Matanya menyala keemasan.
Malia menjerit dengan keras dengan mendongakkan kepalanya ke arah purnama.
Audrey membenamkan kepalanya dipelukan Alison karena tidak tega melihat keadaan Malia.
Seketika asap putih tebal muncul dan mengelilingi tubuh Malia.
Beberapa saat kemudian asap itu mulai memudar, terlihatlah sesosok Serigala putih dengan mata keemasan yang keluar dari tumpukan baju purple Malia.
Malia telah berubah menjadi wujud Serigala putih yang cantik.
Beberapa serigala melolong menyambut ratu mereka. Audrey dan Alison terkejut. Malia menatap teman temannya.
Isaac mendekati Malia dengan perlahan.
"Malia.." Isaac berlutut dan mengulurkan tangannya, namun Malia melangkah mundur.
Pikirannya berkecamuk, identitas Lycan yang selama ini ia sembunyikan rapat rapat kini terbongkar sudah. Semuanya sudah tahu bahwa Malia hanyalah binatang buas.
Malia berbalik dan memasuki hutan.
Isaac berlari mengejarnya, dilangkah ketiganya wujud Isaac berubah menjadi Serigala Hitam besar yang menyeramkan.
Dengan cepat Isaac bisa menyusul Malia, mengimbangi langkah Malia.
"Pulanglah!" Ucap Arki pada teman temannya.
Alison langsung pingsan.
Isaac berlari mengejar Malia, begitu pula dengan Arki yang berubah menjadi Serigala hitam bermata merah.
Selama beberapa jam Malia terus berlari menembus gelapnya celah hutan yang hanya diterangi sang purnama. Langkahnya terasa ringan, tidak ada lagi sakit yang ia rasakan, Malia merasa ia telah terlahir kembali.
Isaac tidak mencoba menghentikan Malia, Isaac tahu Malia hanya mengikuti nalurinya sebagai serigala.
Malia sampai di tepi Sungai Masivi, Malia melihat pantulan dirinya di air.
"kamu masih terlihat sangat Manis! 😘"
Ucap Arki sambil bersender disebuah pohon. Begitu juga dengan Isaac yang masih dalam wujud serigalanya duduk terdiam memandang ke arah Malia.
Malia kembali berlari menuju puncak bukit Valgastone, Isaac terus mengikutinya memastikan Malia aman dari terkaman Lycan Jantan yang mungkin mengincarnya.
Rumput kering tak lagi melukai kakinya, semak belukar yang berduri bukan lagi masalah bagi Malia.
Malia berlari seperti burung yang terbang bebas dilangit, tidak ada hambatan apapun yang bisa menghentikan langkahnya.
Sesampainya dipuncak bukit Valgastone, Malia menatap ke arah purnama yang terlihat lebih dekat saat Malia dipuncak bukit.
"Aaaaauuuuuu" Malia melolong, lolongannya seolah mampu menggetarkan jiwa para Lycan yang mendengarnya.
Semua serigala dan Lycan berlomba lomba membalas lolongan Malia.
Lolongan pertama sang ratu yang terlahir kembali.
Malia melihat ke arah kaki bukit Valgastone, terlihat ratusan serigala dengan mata keemasan yang menundukkan kepalanya pada Malia.
Mereka adalah ribuan Lycan yang memilih membebaskan diri dari gerombolan Celia Hwa dan hidup sebagai omega (serigala liar/tanpa gerombolan). Dan kini mereka menemukan ratu yang sebenarnya, mereka siap mengabdikan hidupnya pada Malia.
Malia berdiri dengan Arki dan Isaac berada di samping Malia.
"Aaaaauuuuuu.." Malia melolong kedua kalinya.
Para Lycan itu membalas lolongan Malia secara bersamaan.
"Aku belum pernah mendengar lolongan Lycan seperti ini selama hampir 400tahun" Ucap Arki.
Karena selama kepemimpinan Luison dan Celia, kerajaan Lycan menjadi terpecah belah.
Malia membalik tubuhnya dan berjalan menyusuri bukit Valgastone.