
Malia yang masih dalam bentuk serigala berjalan menyusuri puncak bukit Valgastone, meninggalkan ratusan serigala yang menunduk padanya.
Isaac mengikutinya dari belakang.
Isaac tidak pernah menyangka perubahan Malia akan terjadi secepat ini, Malia berlari sekencang kencangnya berlari. Isaac mengejarnya, tidak mengerti lagi apa yang Malia pikirkan.
Beberapa Lycan jantan menatapnya dari kejauhan, matanya menyala dibalik rerimbunan pohon yang gelap.
Malia bak menari tanpa henti, langkahnya menapak dengan pasti menyusuri setiap celah hutan yang gelap gulita.
Malia menengok ke arah Isaac, terlihat kebahagiaan mendalam pada tatapan matanya dan seketika
Brakkkk
Malia tergelincir dan punggungnya menabrak batang pohon besar.
Isaac segera berubah ke wujud manusianya lalu membelai pipi Malia.
"Malia, kamu gapapa?"
Malia menggerakan kepalanya seperti kucing kecil yang menggemaskan.
Walaupun tubuh serigala Malia terlihat kecil dibandingkan wujud serigala Isaac, namun tingginya hampir mencapai 1,5 meter.
Malia berjalan tertatih menuju tepi sebuah danau ditengah hutan Valgastone, ia meringkuk diatas sebuah batu datar. Membiarkan dirinya dibawah cahaya rembulan.
Matanya menatap pantulan rembulan di danau.
Isaac kembali ke wujud serigala lalu meringkuk dibelakang tubuh serigala Malia.
Malia mengendus leher Isaac, aromanya membuat Malia merasa nyaman. Isaac meletakkan lehernya diatas kepala Malia.
Beberapa serigala liar menatap ke arah mereka, sepasang serigala yang tengah menikmati damainya purnama.
Malia memejamkan matanya, sejenak Malia melupakan semua permasalahan hidupnya.
Malia terlelap dalam pelukan Isaac.
Waktu terus berlalu, matahari terbit sinar emasnya menerpa kulit lembut Malia.
Suara kicauan burung beradu merdu dengan suara air yang diterpa angin pagi.
Malia dan Isaac sudah kembali ke wujud manusia.
Malia membuka matanya, Isaac masih tertidur dengan memeluk Malia.
"Ugh, jam berapa ini?" Ucap Malia
Malia terkejut melihat dirinya telanjang bulat begitu juga dengan Isaac yang telanjang bulat.
"Arrrrgggghhh!" Malia langsung menjeburkan diri kedalam air danau.
Isaac bangun karena kaget dengan teriakan Malia.
"Ughhh, Malia! 😖"
Isaac bangun dan berdiri menghadap Malia sambil mengerutkan alisnya karena merasa pusing akibat terbangun secara tiba tiba.
Tubuhnya kekarnya terlihat gagah dengan tato mawar di lengannya.
Malia menutupi kedua matanya.
"A.. apa yang kamu lakukan?" tanya Malia
"apa? ini masih terlalu pagi untuk mandi, cepat keluar dari air!" ucap Isaac
"i.. itu kenapa berdiri??? 😫" Malia menunjuk alat kelamin Isaac yang berdiri kokoh bak pedang seorang kapiten yang siap membelah bumi.
"apa yang salah? ini normal terjadi setiap pagi! cepat keluar dari air!" Isaac tampak biasa biasa saja, sedangkan Malia tampak panik dan kaget setengah mati.
"Ayo Malia, kita harus segera ke bukit batu. Pakaianmu ada disana!" Ucap Isaac
"Bagaimana aku kesana tanpa pakaian 😫 Tidak!!!!!"
"Ayo Malia, matahari semakin meninggi!" teriak Isaac.
"Tidak!!! 😫"
"Malia, tidak perlu seperti itu aku bersumpah sudah melihat semua celah ditubuhmu! Tidak perlu malu seperti itu" Ucap Isaac membujuk Malia sambil mencuci wajahnya ditepi danau.
"🥺" Malia tampak ragu
"Ayo!" Isaac menyusul Malia ke dalam air lalu menggandeng tangan Malia. Malia berjalan satu langkah dibelakang Isaac.
Malia sesekali melirik ke arah pedang Isaac yang masih berdiri.
"Kenapa? menggemaskan bukan? 😆" Tanya Isaac.
Malia mengkibaskan tangan Isaac
"Jangan katakan hal cabul seperti itu!!!" ucap Malia sambil menutupi kedua dadanya.
Malia dan Isaac berjalan ke tepi danau.
Ucap Arki yang tiba tiba muncul dan bersender ke sebuah pohon.
"Aaaarrrrggghhhhh!" Malia berteriak sekali lagi sambil bersembunyi dibelakang Isaac.
"Nih!" Arki melemparkan baju Malia dan baju Isaac.
Mereka bergegas memakainya.
"Kamu gapapa?" Ucap Arki membelai rambut Malia yang masih basah dan nampak sangat kusut.
Malia mengangguk.
Mereka berjalan menyusuri hutan menuju ke bukit batu.
"Sangat menyenangkan bukan menjadi serigala bebas?" Tanya Arki yang berjalan satu langkah dibelakang Malia.
"Iya, seolah tidak ada lagi yang aku khawatirkan didunia ini 😊"
"Kamu akan menikmati setiap purnama, dan kamu akan mulai terobsesi dengan indahnya rembulan! 😊" Ucap Arki
"Malia, kamu berdarah!" Ucap Isaac yang mencium aroma darah Malia.
Isaac menyadari kaki Malia berdarah akibat tergores rerumputan kering dan semak belukar.
Isaac segera berlutut dan mengecek kaki Malia.
Berbeda dengan Arki dan Isaac yang separuh vampir sehingga penyembuhannya cenderung lebih cepat, namun apabila Malia terluka penyembuhannya lebih lama.
Isaac dengan sigap membopong Malia.
Setelah beberapa saat berjalan menyusuri hutan, akhirnya mereka sampai di bukit batu.
"Dimana mobilnya?" Tanya Isaac pada Arki
"Disana!" ucap Arki menunjuk ke sebuah tanah lapang.
Mereka segera menaiki mobil dan pulang ke klinik Miracle clinic untuk mengobati beberapa luka di tubuh Malia.
Isaac memarkirkan mobil blue rosewildnya didepan klinik.
Malia turun dengan rambut yang setengah basah dan dihiasi beberapa dedaunan kering.
Isaac membopong Malia. Dengan kemeja biru yang tidak dikancing dan celana pendek hitam membuat beberapa suster terpesona oleh tubuh kekar Isaac.
"Pagi dokter 😊" Ucap beberapa suster menyapa Isaac dimeja resepsionis
Mereka melewati resepsionis begitu saja tanpa menjawab sapaan dari para suster.
"Tuh kan, sepertinya gadis itu benar benar sudah gila! Ini ketiga kalinya dia datang kesini dengan keadaan seperti itu" Ucap salah satu suster.
"Aku penasaran sebenarnya apa hubungan dia dengan dokter? kenapa dokter perhatian sekali dengan dia?"
Beberapa suster mulai bergosip tentang keadaan Malia.
Isaac memutuskan untuk membawa Malia ke ruang istirahatnya.
Selesai mandi Isaac mendudukkan Malia di ranjang tidurnya, ia langsung membersihkan kaki Malia dan mengobatinya.
Hans datang membawakan Choco Pancakes
"Malia!" Hans memeluk Malia erat erat mengabaikan Isaac yang sedang berlutut mengobati luka di kaki Malia.
"Malia! Sayang, apa kamu baik baik saja?" Hans mengelus punggung Malia.
"Kakak, Malia gapapa kok 😊 Ada Isaac sama Arki yang jagain" Malia melingkarkan tangannya dileher Hans.
"Oh syukurlah! kakak menyusulmu ke bukit batu tadi malam tapi kamu sudah ga ada disana"
Hans nampak sangat khawatir, berkali kali Hans mencium pipi Malia.
"kakak sangat mencintaimu, Malia. Kakak sangat takut hal hal buruk terjadi kepadamu, maafkan kakak yang tidak bisa menjaga kamu sepenuhnya!"
"awww!" Malia menjerit lirih saat Isaac tidak sengaja menyentuh luka di telapak kakinya
"Maaf 😔" Ucap Isaac
"Udah, Isaac.. aku udah baikan kok 😊" Malia mencoba menggapai pundak Isaac agar Isaac tidak terus menerus berlutut didepan Malia.
Lagi dan lagi, Isaac merasakan sakit hati yang sama. Tubuh yang tadi malam ia peluk erat, harus ia kembalikan pada orang lain (Hans). Semerbak wangi tubuh Malia bahkan masih terasa dihidungnya.
Dan sekali lagi, Isaac mengingatkan dirinya sendiri bahwa Malia bukan miliknya bahkan Isaac tidak punya hak untuk merasa cemburu. Segala yang Isaac lakukan karena cinta tulus Isaac pada Malia, Isaac tidak menuntus balasan apapun dari Malia. Yang Isaac inginkan adalah Malia tetap "ada" dalam hidupnya.
"Sebaiknya kamu pulang, lukamu akan membaik dalam beberapa hari 😊" Ucap Isaac pada Malia dan Hans.
"Baiklah, aku akan membawa Malia pulang.. Thanks!" Ucap Hans
Hans membopong Malia pergi meninggalkan ruangan Isaac. Meninggalkan Isaac dan Arki dalam nyala hati yang membakar didada.
Episode selanjutnya akan rilis setiap jam 00.00 😉 Jangan lupa like, komen dan votenya ya kakak 😊