
Sore harinya Shelly datang ke Mansion Sean untuk membantu Malia membersihkan diri
"Malia, kamu udah merasa baikan?" tanya Shelly sambil membantu Malia melepaskan kemejanya.
"Iya.. ak.."
Brakkk!
Belum sempat Malia menyelesaikan kalimatnya Jason menendang pintu kamar Malia hingga terbuka
"Jason! ๐คฆ๐ปโโ๏ธPakai tanganmu!" Malia membentak Jason, Malia langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Malia kamu gapapa? ๐ฅบ" Jason memeluk Malia dengan erat
"Hey hey hey, stop! Jangan memeluk Malia terlalu erat.. dasar drama queen!" ucap Shelly
"Sorry, sorry, sorry.. ๐ญ do you need some help? ๐คจ"
(maaf, maaf, maaf.. ๐ญ apa kamu butuh bantuan? ๐คจ)
Ucap Jason mendapati Malia akan mandi.
"Kamu ini!!!!" Shelly menampar lengan Jason.
"๐" Jason pun meninggalkan kamar Malia.
Shelly membantu mengelap badan Malia dengan air hangat serta membantu Malia mengganti perbannya.
"Apa Jason selalu seperti itu? apa kamu gak berpikir itu terlalu berlebihan sebagai seorang kakak laki laki?" Tanya Shelly
"Bukankah dia selalu berlebihan dalam segala hal? ๐ " Malia tertawa renyah.
"Oh iya, gimana keadaan Isaac? aku belum melihatnya dari tadi.." tanya Shelly sambil memeras handuk basah
"Hans bilang dia masih di klinik.."
"Is he okay?"
(apa dia baik baik saja?) Tanya Shelly
"Aku gak tau, tapi setidaknya aku tau dia masih hidup.. ๐" Ucap Malia sambil mengeringkan rambutnya.
"Kok ngomong gitu? Ada apa diantara kamu dan Isaac?"
"Emmm.. ๐ Dia itu bajingan, Shell.. ๐"
"Serius? Ada apa? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk ke kamu? Aku pikir dia kakak yang baik lho.."
"Enggak, hanya saja ada kalimat hina yang terlontar dari bibirnya.. sampai sekarang masih terngiang ngiang dalam benakku ๐"
seketika Malia teringat dengan ucapan Isaac, setiap kali teringat dengan kalimat itu hati Malia terasa sangat sakit.
"Iyaaa juga sih.. siapa juga yang mau dekat dekat dengan laki laki seperti itu ๐ Mulut aja gak dijaga apalagi perasaan orang.."
Shelly membantu Malia memakai setelan tidurnya.
Tok tok tok
"Malia, boleh kakak masuk?" Tanya Hans sambil mengetuk pintu kamar Malia
"Iya kak.."
"Jason udah nungguin, makan malam dulu yuk.. ๐ sama Shelly juga, makan malam disini aja ya" Ucap Hans membantu Malia berdiri.
"Enggak usah kak, Shelly ada janji makan malam sama temen ๐" Shelly menolak penawaran Hans karena ada janji dengan temannya
Melihat Malia yang kepayahan, akhirnya Hans menggendong Malia.
Hans menyiapkan nasi ke piring Malia. Tiba tiba Isaac pulang, Hans yang sedari awal memendam kemarahan terhadap Isaac kemudian menemui Isaac di depan pintu.
"Setelah semua yang kamu lakukan pada Malia, apa kamu masih punya wajah untuk pulang ke mansion ini??? ๐ค" Hans mencengkram kerah Isaac
"Apa masalahnya? Aku hanya pulang kerumahku sendiri, Siapa dia (Malia)?"
Ucapan Isaac menyinggung kenyataan bahwa Malia bukanlah adik kandung mereka.
"Hentikan omong kosongmu itu! Tega teganya kamu meniduri adikmu sendiri, Dasar sampah!!! ๐ค"
Hans terdengar sangat marah, Hans memukul perut Isaac berkali kali.
"Kak hans!!๐จ" Malia berteriak melihat Hans memukuli Isaac.
"Ughhhh.. Jangan terlalu keras kak, Aku tidak meniduri adikku sendiri.. Kamu tahu maksudku.. Atau, kamu cemburu karena akulah yang pertama (meniduri Malia)? Hahahaha๐"
Lagi lagi Isaac menyinggung bahwa Malia bukanlah adik mereka. Isaac seolah sengaja membuat Hans marah.
Hans memukul perut Isaac lagi dan lagi, namun Isaac tidak membalas Hans sekalipun.
"Hentikan, kak Hans!!"
"Aku tidak menyangka kamu memiliki darah yang sama denganku! Bagaimana mungkin Ayah mempunyai seorang anak bajing*n seperti kamu! ๐ค" Hans memukul pipi Isaac hingga bibirnya berdarah
Jason keluar dari kamar Mandi.
"Hey hey hey!" Jason memisahkan mereka berdua
"you should thanks to me because you are still alive now"
Ucap Isaac sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menoleh Malia sedikitpun. Malia menatapnya dari kejauhan.
"Berhenti menatapku, Malia!" Ucap Isaac.
Malia memundukkan kepalanya.
Hans pergi keluar untuk menenangkan diri, Jason mendekati Malia
"jangan diambil pusing, sebentar lagi juga mereka baikan.. ๐" Jason mengambil nasi ke piringnya.
Malia menghentikan makannya, Malia menangis menyaksikan kejadian barusan yang terasa sangat menyakiti hatinya. Mengapa Isaac dengan sengaja membuat Hans marah, seolah Isaac benar benar telah mengambil keperawanannya.
"sssshhh shhhh.. Malia kenapa nangis?" Jason mengelus rambut Malia.
"Apa kak Isaac baik baik saja dengan keberadaanku disini?" Tanya Malia dengan mata berkaca kaca menatap nanar pada Jason
Jason memeluk Malia.
"Dia masih mau pulang ke mansion ini walaupun dia tau kamu masih disini, itu artinya that is fine.."
Malia menyudahi makan malamnya lalu duduk di ruang tengah menunggu kepulangan Hans.
Jason menyalakan perapian.
"Malia ga mau istirahat di kamar aja?" tanya Jason
"Aku ga papa kok disini sendirian, kamu ke kamar aja barang kali mau istirahat duluan.. ๐" Ucap Malia pada Jason.
"Okay, aku ke kamar ya.. kalau butuh apa apa panggil aku aja biar kamu ga banyak gerak.." Jason mengelus kepala Malia lalu kembali ke kamarnya.
Malia merebahkan kepalanya di sofa. Malia masih terbayang pertengkaran Isaac dan Hans.
"Huftttt.. aku ga menyangka Hans akan semarah itu pada Isaac, aku pikir Hans sudah melupakan masalah itu.." Malia menghela nafasnya.
23.10
Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu mansion.
"iyaaa, tunggu sebentar.." Malia berjalan tertatih tatih membukakan pintu.
"Hey Malia.." Ucap caroline memeluk Malia.
Tampak Caroline datang bersama satu orang teman wanitanya.
"Kak Caroline.. ๐" Malia tersenyum
"Aku udah denger semuanya, aku bersyukur banget kalian masih hidup.." Caroline mengelus punggung Malia
"Come in!"
(Masuklah!)
Teriak Isaac dari atas, Caroline dan temannya naik ke tangga masuk ke kamar isaac.
Cklak.. Malia menutup pintunya.
"Apa yang kak Isaac lakukan ya dengan dua cewek itu ๐ฅด Hufttt kalo gini mana mungkin aku bisa tidur dikamarku malam ini" Ucap Malia dalam hati.
Beberapa saat kemudian mulai terdengar desahan desahan dari kamar Isaac, Malia merasa tidak nyaman, desahan itu berubah menjadi teriakan teriakan yang mengerikan bagi Malia.
"Jason.." Malia memanggil Jason dari ruang tengah.
Jason tak kunjung keluar, kemudian Malia mengetuk pintu kamar jason
"Jason, Are you awake?"
(Jason, apa kamu belum tidur?)
Jason membukakan pintunya
"Yes, Malia.. Come in.."
(Iya, Malia.. Masuklah..)
Malia duduk di ranjang Jason. Jason kembali duduk di meja belajarnya.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Malia sambil memegangi luka jahitan diperutnya yang tertutup perban.
"Hanya mengerjakan projek kecil Hans, tidurlah disini.. Aku akan tidur di sofa" Ucap Jason sambil fokus menggambar tanpa melirik ke arah Malia
Malia merebahkan dirinya di kasur Hans.
Setelah beberapa saat, Malia tak kunjung terlelap. Malam semakin larut, yang terdengar hanyalah suara air hujan yang berjatuhan.
Malia berbaring menghadap ke jendela.
Sesaat Malia membayangkan saat saat semuanya masih belum terjadi. Berbagi cerita setiap pagi saat sarapan, bercanda gurau tanpa harus melibatkan perasaan. Semuanya sempurna sebagai kakak beradik.
"Malia, kamu gapapa? Dingin ga?" Jason menyelimuti Malia dengan lembut. Malia menggeleng dengan pelan, matanya terlihat sembab, bantal Jason terlihat basah karena air mata Malia
"Apa kamu menangis? kamu mau coklat panas? aku mau bikin coklat panas.. ๐" tanya Jason mengelus pipi Malia dengan lembut, Malia menggeleng dengan lembut menolak penawaran Jason.
Jason meninggalkan Malia di kamarnya, sudah hampir jam 2 tapi Hans tak kunjung pulang.