The Princess Of Lycan

The Princess Of Lycan
Darah Vampir



Matahari mulai meninggi, Hans membuka gorden kamar Jason.


"Good morning.." Ucap Hans dengan senyum hangatnya, Malia mengerutkan alisnya merasa masih mengantuk.


"Kak Hans? Dimana Jason?" Tanya Malia karena tidak melihat Jason di sofa.


Hans duduk di samping Malia, mengelus pipi Malia dengan lembut.


"Dia pergi pagi pagi, katanya ada janji sama temen.. Ayok aku antar Malia ke kamar 😊" Hans membantu Malia berdiri.


"Gapapa kak, Malia bisa jalan sendiri.. 😊"


Malia menaiki tangga satu persatu dengan memegangi luka jahitan di pinggangnya, Hans menyelesaikan pekerjaannya di ruang tengah.


Saat membuka kamarnya, Malia kaget ada isaac yang sedang duduk di sofa kamarnya dengan bertelanjang dada. Tampak beberapa botol alkohol ada di meja, namun isaac tidak terlihat mabok


"Kak isaac.. 😳"


"Hello, sweety 😘" Isaac berdiri mendekati Malia, Malia mundur perlahan lahan karena merasa takut dengan isaac.


"Ada apa? kenapa takut begitu Malia? Apa kamu sudah selesai menghabiskan malam dengan Jason, Hah?" tanya isaac tampak cemburu.


"Aku ga melakukan hal itu, kak isaac! 😖 Hentikan!" Malia memukuli dada isaac saat isaac memepetnya di dinding. Mata Malia terpejam erat.


"Apa kamu sangat membenciku, Malia? 🥺 Tidakkah kamu ingin melihatku?" Ucap isaac dengan lembut, Malia kemudian membuka kedua matanya.


Malia bisa melihat dengan jelas beberapa bekas cakaran yang hampir menyembuh di dada dan lengan isaac. Isaac mencium pipi Malia. Saat Isaac akan mencium bibir Malia, Malia menutupi bibir isaac dengan tangannya.


"Setelah tahu kamu bukan lagi adikku, ayo kita selesaikan apa yang telah kamu mulai malam itu, Malia.. aku tahu kamu juga mencintaiku, aku melihatnya didalam matamu.. Malia.." Isaac menyingkirkan tangan Malia lalu mencium punggung tangan Malia


"Tinggalkan tubuhmu untukku, Aku berjanji ini tidak akan sesakit yang kamu bayangkan.. jika kamu sangat membenciku setidaknya berikan aku penghargaan karena menyelamatkanmu dari Hierarki.."


Isaac mencium pundak Malia dan kedua tangannya melingkar di pinggang kecil Malia.


Malia berusaha melepaskan tangan isaac di pinggangnya.


"Apa aku tidak cukup layak untukmu?" Tanya isaac memeluk Malia.


Malia menatap mata isaac, tatapannya masih sama seperti tatapan manis yang dulu menyambutnya di bandara. Tidak ada yang berubah, hanya keadaan sajalah yang membuat tatapan Isaac kini terasa berbeda.


Isaac membenamkan wajahnya di pundak Malia.


"Kalau kamu menginginkannya, lakukanlah dengan cepat! setidaknya dengan begitu aku bisa benar benar membencimu dengan alasan yang tepat.."


Ucapan Malia seolah memberikan pengharapan pada isaac bahwa sebenarnya Malia tidak benar benar membenci isaac.


Isaac terdiam beberapa saat.


"Kamu lah yang menggodaku malam itu, kamu yang merangkak kedalam pelukanku dan kamu memohon padaku untuk menyentuhmu tetapi aku membiarkan mereka semua membenciku dan menganggapku bajingan daripada aku harus melihatmu menanggung malu karena tindakanmu Malia.. Aku mencintaimu dan sekarang kamu bukan lagi adikku, apakah aku masih tidak punya harapan untuk memilikimu seutuhnya?"


Ucap Isaac merendahkan nada suaranya dengan memelas.


"Kakak.. 🥺"


"Jangan panggil aku kakak. Apa kamu mencintaiku, Malia? katakan kamu mencintaiku Malia.." Isaac memeluk pinggang Malia dengan erat.


Malia diam saja.


"Malia.." Isaac menatap Malia, air mata Malia mengalir membasahi pipinya


"Akhhhh!!! 😖" Malia menjerit lirih karena tangan Isaac tidak sengaja menekan bagian luka jahitannya.


Isaac melangkah mundur menjauh dari Malia, Malia memegangi lengan isaac.


"Sakit sekali, kak isaac! 😰🥺"


Malia hampir terjatuh, kakinya gemetar merasakan perih di pinggangnya.


"Hhhhh, Kakak!!"


Isaac membopong Malia lalu membaringkannya di kasur.


"Malia.. Maaf Malia.. 😰" Isaac membuka sebagian kaos Malia, perban Malia berdarah tampaknya lukanya kembali terbuka.


Malia berbaring merasakan darahnya menetes hingga membasahi seprei pinknya.


"Tunggu sebentar.." Isaac kembali ke kamarnya untuk mengambil alat alat p3k, lalu bergegas kembali ke kamar Malia.


Malia menaikkan kaosnya hingga menampilkan perut tipisnya, pelan pelan isaac membuka perban Malia. Sebagai seorang dokter Isaac sangat terampil, jarinya bak menari dengan lihai membersihkan setiap sudut luka jahitan Malia.


"Tell me if thats hurt.."


(katakan padaku jika sakit..)


Malia meringis sesekali.


"Masih terasa sakit?" Tanya Isaac


Malia menggeleng pelan. Malia meraba lengan isaac dengan lembut, meraba bekas luka Isaac.


"Kamu sembuh dengan cepat.." Ucap Malia tanpa menyungging senyum sedikitpun di bibir tipisnya


Isaac kemudian terdiam sesaat lalu menggigit pergelangan tangannya (nadi) sendiri hingga berdarah


"Apa yang kamu lakukan? 😰" Tanya Malia dengan panik


Malia bingung melihat tingkah isaac kemudian terperanjak mengangkat kepalanya. Namun isaac menekan dada Malia agar malia tetap berbaring. Setelah itu isaac menempelkan pergelangan tangannya yang berdarah ke bibir Malia.


"Jilat sedikit saja, Malia.. Darah vampire akan mempercepat penyembuhanmu berkali kali lebih cepat.." Isaac tersenyum memamerkan lesung pipinya yang manis.


Malia meronta ronta berusaha menjauhkan tangan Isaac dari bibirnya, tetapi isaac lebih kuat.


"Emmmmppppp mmmmppphhhh!" Malia terus meronta


"Sedikit saja.." Ucap Isaac.


Merasa cukup, isaac kemudian menarik tangannya, seketika Malia menampar pipi Isaac dengan keras.


Plakkk


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi! Itu menjijikan!"


Ucap Malia sambil membersihkan sisa sisa darahnya di bibirnya.


Isaac kembali memalingkan wajahnya ke bagian perut Malia lalu mengganti perban Malia dengan perban baru.


Malia menatap wajah Isaac, pipinya memerah karena tamparan Malia tetapi isaac tidak tampak marah, Isaac diam saja.


"Selesai.." Ucap isaac sambil mencium tangan Malia. Malia menarik tangannya sambil mencoba untuk duduk.


"Just be normal with me.."


(bersikaplah normal denganku..)


Ucap Malia karena isaac selalu bersikap manis pada Malia.


Isaac tersenyum masam mendengar ucapan Malia.


"Bagaimana kamu mengalahkan hierarki?" Tanya Malia. Isaac bangun lalu berjalan menuju jendela.


"Tidak sulit mengalahkannya, Malia.. Hanya perlu sedikit perasaan tega membuatku dengan mudah menghajarnya.." Isaac menyalakan sebatang rokok, rambutnya tergerai tersapu angin.


"kenapa? kamu khawatir dengan hierarki? Harusnya kamu juga tanya seperti itu juga pada Hans setelah dia menghajarku tadi malam.."


Isaac seolah cemburu karena Malia bertanya tentang Hierarki, bukan tentang keadaannya setelah melawan Hierarki demi Malia.


Isaac menundukkan kepalanya, menghembuskan asap rokoknya yang hilang diterpa angin.


"Apa dia benar benar adik kandungmu? 🙄"


"Aku ga tahu.. tapi aku bisa merasakannya.. 😞" Ucap isaac


"Apa kakak membunuhnya? Ma.. maksudku apa kamu membunuhnya?"


"Enggak.. aku membiarkannya pergi.." Isaac duduk di jendela kamar Malia


Brakkkk!


Jason menendang pintu kamar Malia.


"Serius Jason? Kamu ingin membuatku mati karena serangan jantung? 😞" Malia menggerutu.


"Oops! Sorry aku ga tau kalian lagi ngobrol.." Jason hendak meninggalkan kamar Malia.


"Its okay Jason, Im done.."


(gapapa jason, aku udah selesai (ngobrolnya))


Ucap isaac sambil mengusak rokoknya lalu pergi meninggalkan kamar Malia. Jason duduk di dekat Malia.


"Besok kampus udah mulai masuk.. Kamu udah siapin keperluannya?" Tanya Jason.


"Udah kok 😊"


"Kamu udah ga berbau darah lagi, lukanya udah mengering?" Tanya Jason


(Note : Vampir mempunyai indra penciuman yang tajam, apalagi bau darah)


Malia tersenyum manis, tampaknya metode yang dilakukan Isaac berbuah manis.