The Princess Of Lycan

The Princess Of Lycan
Chocochips



09.11


Malia berangkat ke kampus dengan perasaan yang mendebarkan, ia seolah tidak siap bertemu dengan Audrey dan Alison.


Malia menyadari sepenuhnya dirinya hanyalah hewan buas, tidak sepantasnya hewan buas seperti Malia memiliki teman teman sesempurna Audrey dan Alison. Malia menyiapkan hatinya seandainya Audrey dan Alison merasa takut dengan Malia, Malia tidak boleh merasa kecewa ataupun marah.


"Hhhhh siapa juga yang mau berteman sama binatang buas kan? 😌"


Malia menghela nafasnya, memasrahkan semuanya pada takdir yang sudah digariskan untuknya.


Malia memarkirkan mobilnya. Tidak seperti biasanya, hari ini Hans tidak mengantar Malia karena sedang ada urusan pekerjaan.


Malia turun dari mobilnya, terlihat dari kejauhan Audrey dan yang lain memperhatikannya dari tempat biasa mereka nongkrong.


Malia menatap mereka dengan tatapan penuh harap, Audrey melambaikan tangan dan senyum sumringah di bibirnya.


"Hhhh syukurlah! πŸ₯Ί" Malia berlari dengan senyum dan air mata yang terbendung di sudut matanya.


"Malia!" Audrey memeluk Malia


"Aku ketakutan, aku sangat takut kamu akan membenciku Drey πŸ₯Ί" Malia mendekap Audrey erat erat.


"It's okay Mal, apa dan siapapun kamu kita akan selalu ada buat kamu!"


Ucap Alison yang memeluk Malia dengan penuh haru, begitu juga dengan Shelly dan Jace. Namun Arki tidak ada disana.


Hari hari berlalu, Malia menjalani kehidupan yang indah bersama Hans dan sahabat sahabatnya.


Arki mulai jarang berangkat ke kampus, dia hanya muncul sesekali untuk memastikan Malia aman. Namun Malia tidak pernah mempertanyakan ketidakhadirannya.


Arki berhak atas hidupnya sendiri.


Malia tahu dari awal Arki telah jatuh hati padanya. Malia takut kalau kepeduliannya akan membuat Arki semakin terjatuh lebih dalam lagi.


"Kamu laki laki yang baik, kamu akan mendapatkan Malia lain yang lebih baik dariku!"


Itulah kalimat yang selalu Malia ucapkan saat ia mulai mengingat Arki.


Saat Malia mendatangi apartemen Audrey pun Arki tidak pernah datang untuk bergabung seperti biasanya, Audrey bilang apartemen Arki sudah lama kosong.


Tak terasa semester pertama Malia sudah berlalu. Tidak ada hal lain yang perlu Malia khawatirkan.


Malia hidup sebagaimana gadis normal pada umumnya. Bercanda dengan sahabat sahabatnya, menjalani ujian dan tes semester, mengabiskan musim dingin dengan kekasihnya, semua itu adalah kehidupan normal yang sangat Malia impikan.


Isaac selalu memperhatikannya dari kejauhan. Tak ingin sang pujaan hati terluka karena apapun. Sesekali Malia datang ke Klinik sekedar untuk bertemu dengan Isaac.


08.45


Pagi itu dengan setelan Baggy sport Adidas berwarna hijau Army, Malia mendatangi klinik Isaac dengan membawa sekotak kukis dengan taburan Chocochips yang Malia buat sendiri esok tadi. Dengan senyum berseri seri yang tersungging dibibir mungilnya, Malia seolah membawa ribuan bunga yang bermekaran dihatinya.


Namun sesampainya disana Malia tidak menemukan Isaac. Malia bertanya kepada suster di resepsionis.


"Sus, dokter Isaac kemana ya? πŸ™„"


"Dokter mengambil cuti untuk satu minggu kedepan nona"


"Cuti? dalam rangka apa?" Tanya Malia


"Dokter Isaac selalu mengambil cuti rutin dimusim panas nona, apa ada yang bisa dibantu? 😊"


"Eh enggak sus, terimakasih"


Malia meninggalkan meja resepsionis dengan hati yang bertanya tanya, kemana Isaac pergi? Mengapa Isaac tidak mengatakan apapun pada Malia sebelumnya.


Malia mengendarai mobilnya menuju apartemen Isaac, ia berkali kali menelfonnya namun Isaac tidak mengangkat telfon dari Malia. Sejak kemarin Isaac tidak memberikan kabar apapun pada Malia padahal biasanya Isaac selalu menelfonnya setiap malam.


(Perasaan Malia kayak cewek yang ditinggal pas lagi sayang sayangnya, padahal bukan pacarnya. 🀣)


tok tok tok


Malia mengetuk pintu apartemen Isaac, namun apartemen itu sepi. Tiba tiba perasaan Malia menjadi gelisah memikirkan keberadaan Isaac.


Didepan pintu apartemen Isaac, Malia memutuskan menelfon Arki untuk menanyakan keberadaan kakaknya.


Setelah beberapa kali berdering akhirnya Arki mengangkat telfon Malia.


"Arki?" Malia berjalan menuju mobilnya


"Eh, Iya Mal tumben nelfon. Ada apa?"


"Kamu dimana?" Malia mulai menyalakan mobilnya.


"Di rumah kayu Eve Garden ni, kesini aja"


"Penginapan Eve Garden?"


"Iya"


"Ok, im on the way!"


Malia langsung mematikan telfonnya dan mengendarai mobilnya menuju Eve Garden.


"Huft, untuk apa Arki berada di Eve Garden? Apa yang sedang dia lakukan?" Malia bertanya dalam hati.


Satu setengah jam kemudian Malia sampai di Eve Garden, tidak ada yang berubah. Malia menyusuri taman menuju penginapan tempat ia menginap dengan Hans.


Dari kejauhan Arki terlihat duduk didepan penginapan tersebut, dengan kaki terjuntai ke danau tepat seperti pertama kali Malia melihat Arki disini. Rambut lurusnya tergerai bersama angin.


Malia berjalan mendekati Arki.


"Arki, kamu ngapain disini? ☺️"


Malia duduk disebelah Arki tanpa menurunkan kakinya ke danau.


"Ga apapa Mal, pengin aja πŸ˜… Ada apa?"


Arki menggerakkan kakinya.


"Kamu nginep disini?" Malia tampak penasaran dengan Arki yang menginap di kamar yang ia tempati dulu bersama Hans.


"Iya ☺️" Arki tampak tidak sesumringah biasanya.


"Dengan tinggal disini, di kamar ini aku bisa meyakinkan diriku seyakin-yakinnya Mal bahwa kamu adalah milik orang lain. Dan sampai saat ini, aku belum bisa nerima kenyataan ini, Mal. Maaf kalau kamu merasa aku tiba tiba menghilang. ☺️"


Raut wajah Arki tampak muram. Ucapan Arki menyinggung Malia yang saat itu menginap di kamar ini berdua dengan Hans.


Malia mengerti pada akhirnya Arki memang harus mengalah karena Malia memilih Hans. Namun apakah itu artinya Malia juga akan kehilangan Isaac?


Mendengar ucapan Arki Malia enggan menanyakan keberadaan Isaac, ia takut perkataannya akan menyakiti hati Arki.


(Note : Malia tidak ingin dianggap "datang pas ada butuhnya" saja)


Malia tersenyum mendengar ucapan Arki.


"Aku bisa mencium baumu, Mal. Aromamu tercecer diseluruh sudut ruangan kamar ini. πŸ˜”"


(Note : Vampir & Hybrid bisa mencium aroma Lycan, tapi tidak sebaliknya)


Malia meletakkan kepalanya di pundak Arki.


"Hhhh, Ark. Kamu tidak harus menyiksa dirimu seperti itu, Ark. 😌 Kamu bisa tetap bersamaku, tidak peduli dengan siapa aku bersanding kamu tetap bisa menjadi sahabat terbaik untukku."


Arki diam saja mendengar ucapan Malia. Ucapan Malia terdengar seperti Oasis ditengah gurun, sangat melegakan dahaga hati yang haus akan kehadiran Malia. Namun disisi lain Arki menyadari kebersamaan itu hanya akan membuat Arki semakin terluka, seperti gambaran Oasis yang dianggap nyata namun ternyata hanyalah fatamorgana.


"Kamu akan hidup bahagia tanpa aku, Mal. ☺️"


Arki mengelus rambut Malia.


Berbeda dengan Isaac yang memilih bertahan walau sakit, Arki memilih mundur walau sakit juga. πŸ™‚


Episode selanjutnya akan tayang jam 00.00 jangan lupa like, komen dan votenya ya πŸ₯°