
Apartemen Audrey, 20.15
"Loh udah mau balik aja ni, Mal? mentang mentang udah ada orang tercinta terus kita kita dinomorduain begitu aja? π₯΄" Tanya Shelly seolah tidak membiarkan Malia pulang
"ih ga gitu guys, besok juga aku main kesini lagi.. π₯°" Ucap Malia.
"Yaudah hati hati dijalan ya.. π₯°" Ucap Alison
"Iya, daaah.."
"Dadah.. π₯°"
Malia dan Hans pun pulang ke mansion
"ugh akhirnya Malia bisa meluluhkan hati Hans juga π aku turut bahagia" Ucap Alison sambil menyisir rambut pirangnya dengan jemari lentiknya
"iya.. satu persatu sudah punya kehidupan cinta masing masing π" ucap Shelly
Arki lalu masuk ke apartemen Audrey.
"Malia kemana?" Arki duduk disamping Alison dan langsung memakan snack pemberian Isaac.
"Mau apa kamu nyariin dia π?" tanya Alison
"Masih sama Hans?" tanya Arki
"Iya, barusan aja Hans mengakui perasaannya. Mereka pacaran" ucap Shelly
"Pffff uhuk uhuk π³" Arki terbatuk batuk mendengar perkataan Shelly.
"Baru saja kemarin Hans marah marah sama Malia, sekarang udah bilang cinta aja? ga ngerti aku sama perasaan orang tua itu" Ucap Arki tampak tak senang dengan hubungan Hans dan Malia.
"Yaudahlah Ark, kamu kan tahu sendiri gimana cintanya Malia sama si Hans. Harusnya kamu ikut seneng juga dong sama hubungan mereka"
Shelly duduk disamping Alison
"Aku merasa kasihan sama Isaac, entahlah aku ngerasa Isaac juga punya perasaan sama Malia"
Ucap Alison yang menangkap setiap gerak gerik Isaac pada Malia.
"Yeah, dibalik sikap tempramennya dia selalu ada buat Malia. Huft.." Shelly menghela nafas
"Aku ga suka dua duanya π« ga ada yang pantes sama Malia" Arki merebahkan dirinya disofa.
"Kamu naksir juga sama Malia? π" ucap Shelly
"Siapa yang ga naksir sama cewek secantik dan seseksi dia, Shel? kalau kamu cowok juga pasti tergila gila sama Malia"
"Bhahaha.. fisik terus yang kamu pandang, pantesan ga ada yang mau sama kamu" Alison meledek Arki
"Eh ke Bar&Billy yuk, sapa tau Audrey disana!" Ucap Arki
Merekapun memutuskan untuk menghabiskan malam di bar.
21.13
Malia dan Hans duduk di ruang tengah, menikmati malam didekat hangatnya perapian.
Malia menyenderkan kepalanya dipundak Hans, tidak ada kebahagiaan lain yang bisa menandingi perasaan Malia sekarang.
"Malia sayang, aku minta maaf karena mengacuhkanmu akhir akhir ini.. Aku tahu teman temanmu pasti tidak mengukaiku karena semua perbuatanku padamu πβΊοΈ" Hans membelai lembut rambut Malia.
"Gapapa kok kak, semua orang tahu aku mencintai kakak lebih dari apapun didunia ini.."
"Kita akan segera membicarakan ini dengan Ayah (Tate sean) aku harap ayah bisa mengerti dengan hubungan kita βΊοΈ" Ucap Hans
"Ayah?! π³π Apa tidak terlalu cepat?" Tanya Malia
"Ayah sudah tahu tentang Luison Hwa, sekarang hanya perlu memberitahu tentang hubungan kita βΊοΈ"
Tiba tiba Hp Malia berdering
"Hallo, Isaac.."
"Malia, kamu dimana? Ini aku didepan apartemen Audrey tapi sepi ga ada orang π₯°" Tanya Isaac
"Aku di mansion, mungkin Alison dan Shelly ke tempat Jace.. Ada apa? π"
Malia merebahkan kepalanya di dada Hans membuat Hans dapat mendengarkan percakapan mereka.
"Gapapa, ini aku bawain makan malam aku kira kamu masih disini.."
"Aku udah makan malam.."
"Yaudah makanannya aku tinggal didepan pintu apartemen Audrey aja ya.. βΊοΈ"
"Yaudah nanti buat Audrey aja, emang udah balik dari klinik?"
"Udah, ga ada jadwal tambahan hari ini. Ini juga mau langsung pulang. Kamu lagi apa sekarang? π₯°"
Isaac berjalan menyusuri kodiror meninggalkan apartemen Audrey. Langkahnya terasa ringan teringat Malia, sang pujaan hati yang sedang menunggunya dirumah.
"Aku lagi sama kak Hans ni π₯°"
"Hans? π³"
Sejenak Isaac merasa hatinya panas, pada akhirnya dia benar benar dikalahkan oleh seseorang yang bahkan tidak berjuang apapun untuk Malia. Cintanya hanya sekedar ampas.
"Iya, sini buruan balik nanti aku buatkan vanila cream pie buat kamu βΊοΈ"
"hhhh yeah, kedengarannya enak.." Isaac menghela nafas
"Iya untuk merayakan hari jadianku hari ini π₯°" Ucap Malia dengan memeluk Hans erat erat.
"Ok, daah.."
"Daah.."
Hans menyadari ada kekecewaan dibalik hela nafas Isaac, Hans tau dari awal bahwa Isaac menaruh hati pada Malia itulah mengapa Isaac membiarkan orang orang beranggapan Isaaclah yang memperkosa Malia padahal sesungguhnya Isaac tidak pernah melakukan hal keji seperti itu.
Sementara Malia bergegas kedapur untuk membuat vanila cream pie untuk Isaac.
23.11
Isaac memutar setir mobilnya dan memutuskan untuk pergi ke Bar&Billy sekedar untuk meringankan sakit dihatinya. Kehampaan yang ia rasakan dihati seolah sudah tidak ada apa apa lagi didunia ini yang bisa membuatnya bahagia.
Suasana bar yang remang remang, lampu yang berkelap kelip dan music yang menggema diruangan mengingatkan Isaac akan kehidupannya sebelum kedatangan Malia. Dia hanyalah seorang pecundang yang mendapatkan cinta hanya dari para wanita malam, Isaac selalu merasa dirinya tidak layak dicintai siapapun.
Isaac duduk dipojok ruangan, memesan beberapa botol alkohol untuknya sendiri. Isaac merasa jengah seolah ada lubang besar didalam hatinya yang terasa perih, ia berharap alkohol akan mampu mengisinya sekedar untuk mengurangi perihnya.
"Inikah akhirnya, Mal? Kamu hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai. Sementara aku hanya bisa memungut sisa sisa serpihan hati yang telah aku pecahkan sendiri π"
Isaac menenggak minumannya langsung dari botol.
"Setidaknya kamu bahagia.. π" Isaac meletakkan kepalanya dimeja mencoba meyakinkan diri bahwa Malia bahagia, itulah tujuan hidupnya.
"Kak Isaac???" Ucap Alison
Isaac mendongakkan kepalanya memandang Alison.
"Are you okay? π"
(Apa kamu baik baik saja? π)
Alison menatap Isaac yang tampak kacau. Rambutnya berantakan, wajahnya memerah karena alkohol, matanya sembab dan pakaian kerjanya yang terlihat sangat lusuh.
"Yeah, Im fine.. π"
(Yeah, aku baik baik saja..βΊοΈ)
Alison duduk didepan Isaac dan mengelus pundaknya.
"Its ok, aku tahu perasaanmu.. π" ucap Alison yang mengerti perasaan Isaac.
"Jangan mengasihani aku, gadis kecil.." Isaac menangkis tangan Alison.
"Apa yang kamu lakukan disini malam malam? π" Tanya Isaac mengalihkan pembicaraan
"Aku cuma duduk duduk aja sama temen temen, tuh.." Alison menunjuk ke arah meja Arki, Jace, Audrey dan Shelly
"Mau gabung?" Tanya Alison
"Absolutly Not!"
(Tentu saja tidak!)
Jawab Isaac sambil menenggak minumannya.
"Sudah hampir night party, lebih baik kamu pulang gadis kecil.." Isaac menyenderkan dirinya di kursi.
"Kenapa pulang, aku kan udah dewasa juga.. jangan panggil aku gadis kecil.." Ucap Alison.
Alison dan Isaac berbincang hingga tengah jam 2 dinihari.
Setelah mengantarkan Alison pulang, Isaac memutuskan untuk pulang ke Mansion.
"Pulang saat Malia sudah tertidur mungkin akan lebih baik" Pikir Isaac
Isaac mengendarai mobilnya melewati jalanan yang sepi dan beberapa kali hampir hilang kendali karena ia merasa sedikit mabok.
Isaac mengerutkan alisnya berkali kali untuk melawan kantuknya.
Saat melewati sebuah persimpangan kecil tiba tiba
Brakkk
Seekor serigala menabrakkan diri ke arah mobil Isaac hingga mobilnya terpental ke arah rerimbunan pepohonan.
Isaac bergegas keluar dari mobil
"Rrrrrhhhh.." Matanya menyala keemasan, taringnya muncul Isaac mengeram pada serigala tersebut.
Serigala tersebut berubah menjadi sesosok wanita muda nan cantik. Berambut ikal panjang dan beraroma sangat manis yang sangat menggugah birahi Isaac.
Wanita itu hanya memakai gaun tidur berwarna hitam lalu melangkah mendekati Isaac. Kakinya yang putih mulus terlihat sangat menggairahkan saat melangkah diatas rerumputan yang kotor.
Pelan pelan Isaac merasa tenang karena yang dihadapinya bukanlah musuh yang mengharuskannya berkelahi.
Wanita itu merangkul leher Isaac, sentuhannya membuat darah Isaac berdesir dan seolah mendidih dalam tubuhnya.
"Isaac yang malang.. Tidak ada beta, tidak ada teman, tidak ada kekasih.. Tinggalkan dia (Malia)"
bisik wanita tersebut ditelinga Isaac.
"Kamu bisa memiliki aku, My big wolf. Tinggalkan dia"
(My Big Wolf : Serigala besarku)
Isaac merangkul pinggang wanita tersebut, wanita tersebut mendorong tubuh Isaac hingga terlentang diatas kap mobil. Ia merangkak naik diatas tubuh Isaac.
Seketika asap gelap menyelimuti tubuh wanita itu, wanita itu berubah menjadi serigala kemudian berlari memasuki hutan.
Isaac be like "π"
Isaac berdiri dengan sempoyongan lalu memutuskan untuk pulang ke apartemennya saja karena jaraknya lebih dekat.