The Princess Of Lycan

The Princess Of Lycan
Layu sebelum mekar



Sesampainya di kantor Hans menggandeng Malia menuju rooftop (atap gedung) dimana pesta akan berlangsung.


Malia berjalan satu langkah dibelakang Hans, beberapa direktur perusahaan lain menyapa mereka.


"Selamat malam, Mr. Hans ☺️"


"Malam" Ucap Hans dengan nada dingin.


"Hey Hans! πŸ₯³"


Teriak salah satu teman Hans, Hans menoleh. Seorang laki laki tampan yang bisa dipastikan dia adalah CEO salah satu perusahaan ternama karena dia berani memanggil Hans hanya dengan namanya.


"Wow wow wow siapa gadis muda ini 😍? tumben kamu ga datang sama sekertaris Liu?" tanya laki laki itu


Malia menatap Hans, menantikan jawaban yang akan dilontarkan Hans saat orang lain menanyakan hubungan Hans dengan Malia.


"Sekertaris Liu akan datang dengan kekasihnya" Hans mencoba mengalihkan pembicaraan


"Siapa namamu, anak manis? 😍" tanya laki laki itu menyodorkan tangannya


"Malia Hwa ☺️" Malia menjabat tangan laki laki tersebut.


Malia tidak mengenalkan diri sebagai Malia Hwa Sean karena Malia tidak berharap dirinya diundang ke pesta ini sebagai Keluarga Sean tapi Malia berharap kedatangannya adalah sebagai kekasih Hans.


"Aku Marcel" Marcel mencium tangan Malia


"Ah aku ga nyangka Hans mengencani gadis semuda kamu, Malia 🀩 Kamu bahkan terlihat masih belasan tahun. Kamu sangat cantik, elegan dan sexy πŸ˜—"


Laki laki itu terpana dengan senyum manis Malia


Hans tampak tidak senang dengan kalimat yang dilontarkan Marcel karena tidak ingin dianggap mengencani gadis dibawah umur.


"Dia adik sepupuku 😢"


Ucap Hans dengan tanpa ekspresi apapun, Malia menatapnya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Hans.


"Baiklah, Adik sepupu mari biar Kakak Marcel ajak kamu berkeliling 😍"


Marcel mengulurkan tangannya dan membungkuk seperti Pangeran Adam yang mengajak Princess Belle berdansa.


Sejenak Malia menatap Hans, berharap Hans memperlihatkan sedikit kecemburuannya pada Marcel namun Hans malah memalingkan mukanya.


Malia menjabat tangan Marcel lalu berjalan mengikuti Marcel dengan kekecewaan yang dia telan bulat bulat.


Marcel dan Malia duduk disebuah kursi ditepi bangunan.


"Aku tidak tahu Hans punya adik sepupu secantik kamu 😍" Ucap Marcel.


berkali kali Marcel memuji Malia membuat Malia merasa jenuh


"Iya, aku tinggal di New york dan baru beberapa bulan tinggal disini (London)" Malia tampak gelisah dan tidak nyaman duduk berdua dengan Marcel


"Ugh! I need something to drink! 😀"


(Ugh! Aku butuh minum! 😀)


Malia bangun lalu mengangkat roknya hingga ke lutut lalu berjalan menuju sebuah meja besar ditengah pesta yang dipenuhi makan dan minuman.


Beberapa tamu memandangi Malia yang berjalan sambil mengangkat roknya.


"so childish!"


(sangat kekanak-kanakan!)


Beberapa orang berbisik.


Malia berdiri disamping meja matanya mencari cari keberadaan Hans, Hans terlihat sedang mengobrol dengan beberapa direktur wanita yang berpenampilan sexy dan elegan.


"Ugh! Menyebalkan! 😫"


Malia mencari cari minuman beralkohol namun Malia tidak menemukannya.


"Pelayan, apa tidak ada minuman beralkohol disini?" Tanya Malia pada pelayan yang sedang mondar mandir menghidangkan minuman.


"Tidak ada, Nona.. Dimeja sebelah sana ada banyak jus dan susu, nona bisa memilih disana ☺️"


ucap pelayan tersebut yang mengira Malia adalah gadis remaja.


Tampak seorang wanita kutilang (kurus tinggi/langsing) bergaun merah datang ke pesta, semua mata tertuju padanya.


Wanita itu berjalan menuju Hans, Hans tersenyum dan memeluk wanita tersebut. Mereka bercanda gurau dan tampak sangat akrab, wanita itu berkali kali menyentuh pundak Hans.


Malia mendekati Hans dan memegangi ujung jasnya


"Kakak, anterin aku pulang!" Malia merengek seperti anak kecil yang meminta permen.


"Nanti ya, Mal ☺️"


Untuk pertama kalinya Malia mendengar Hans memanggil Malia dengan panggilan "Mal", Malia benar benar merasa asing.


"Okay aku pulang sendiri!!!"


Brakkk


Hans menutup pintu mobil Malia dengan keras lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Malia terdiam dengan memendam amarah yang hampir meledak didadanya, hatinya terasa panas terbakar melihat Hans yang memperlakukannya dengan sangat kasar.


Beberapa saat kemudian mereka sampai dihalaman mansion, Malia segera berlari kedalam mansion dengan tangis yang hampir pecah.


Hans menarik tangan Malia saat Malia akan naik ke tangga hingga membuat Malia hampir jatuh tersungkur.


"Kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan? 😠" Tanya Hans dengan suara keras.


"Itu yang ingin kamu tanyakan, Hah? Kamu takut reputasimu hancur karena mengencani gadis belia sepertiku? Lalu untuk apa kamu mengajakku ke pesta itu? untuk menjadikanku bahan olokkan oleh teman temanmu?" Malia mengibaskan tangan Hans dengan keras.


"Berhenti bersikap kekanakan, Malia! Kalau kamu mau menjadi dewasa maka berhenti bersikap menjijikan!" Hans sangat marah.


"Kamu tahu aku mencintaimu, tapi kamu sengaja mengajakku ke pesta itu untuk membuatku merasa tidak layak untukmu, hah? itu kan tujuanmu? Asal kamu tahu, aku tidak pernah merasa sesakit ini!" Ucap Malia dengan nada tinggi, namun matanya berkaca kaca. Malia mendorong tubuh Hans lalu berlari menaiki tangga.


Seolah Malia dapat merasakan darahnya berdesir ngalir menuju hatinya yang terasa perih bak tercabik cabik pisau yang tumpul.


"Berhenti mencintai aku, Ma.."


"Aku tidak bisa!!!!"


Belum sempat Hans menyelesaikan kalimatnya Malia langsung menjawab dengan keras.


Malia menangis berlari menuju kamarnya.


Saat melewati kamar Isaac ternyata Isaac sedang berdiri bersandar pada pintu kamarnya sendiri, mendengarkan pertengkaran Malia dan Hans barusan. Malia mengabaikan Isaac dan masuk ke dalam kamarnya.


Malia duduk didepan meja rias dan menangis sejadi jadinya, Isaac masuk ke kamar Malia dan melihat mata Malia mulai berwarna keemasan. Beberapa kali Malia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Ini sangat menyakitkan! 😫😭"


(Note : Mata Lycan akan berwarna keemasan saat merasa marah/sedih/birahi)


"Malia.. ssssshhhh.. Rilex.." Isaac memegang kedua lengan Malia, mencoba menenangkan Malia.


Malia mencoba berhenti menangis, namun air matanya terus mengalir membasahi pipi hingga dadanya.


"Sssshhhhh its okay.. rilex.." Isaac mendekap Malia, memeluk Malia dengat erat.


Isaac dapat memahami perasaan Malia sepenuhnya, perasaan mencintai seseorang namun keadaan yang memaksanya harus terus menerus menahan sakit. Ibarat bunga yang layu sebelum mekar.


Perlahan lahan amarah Malia teredam oleh pelukan hangat Isaac.


Malia menarik hiasan anggrek purple dirambutnya dengan paksa sehingga membuat beberapa helai rambutnya ikut tertarik.


"Let me do it.."


(Biar aku yang melakukannya)


Isaac melepaskan hiasan anggrek di rambut Malia satu persatu dengan lembut.


Malia duduk terpaku didepan cermin.


Tiba tiba hp Malia berdering.


Arki menelfon Malia.


"Hallo, Malia?"


"iya Ark.." Suara Malia terdengar sengar.


"Kamu lagi dimana? ini udah kumpul dirumah Jace" Ucap Arki


"Iya bentar lagi aku otw.." Ucap Malia dengan sesekali mengusap air matanya.


"Kamu kenapa?" Arki menyadari suara Malia yang berbeda.


"Gapapa, udah dulu ya ni mau siap siap" Ucap Malia.


"Ok, daah.."


"daah.."


Malia menutup telfon dari Arki.


"Kamu mau kemana lagi jam segini?" Tanya Isaac


"Ke rumah Jace" Malia mulai memilih baju di lemarinya.


"Yaudah aku anterin ya.. ☺️"


"Okay.."


Malia pun bersiap siap ke rumah Jace.