
Arliena menyandarkan kepalanya di tubuh kaku orang disampingnya. rasa lelah menghinggapi Arliena setelah drama yang terjadi sebelum mereka pergi ke rooftop di atas istana Rosella. drama antara dirinya dan Gerall yang berlangsung selama 30 menit akhirnya membuahkan hasil, Arliena sangat berterimakasih pada novel-novel romance koleksinya. awalnya Ariella hendak menyerah untuk membujuk Gerall pergi dengannya tapi untungnya otak cerdasnya langsung bekerja saat memikirkan sebuah cara untuk membuat Gerall menuruti kemauannya.
Ariella memanggil Lisa pelayan pribadinya untuk membawa Alio dan Arlino keluar sebentar. Arliena yang merasa ruangan Gerall sudah aman segera berjalan pelan ke arah Gerall yang berdiri diam dengan dahi berkerut. Ariella berjalan langkah demi langkah mendekati Gerall sekarang jarak keduanya hanya terpisah beberapa centimeter, tangan Ariella mengusap dada Gerall dan terus bergerak naik sampai menyentuh rahang tegas Gerall. diusapnya rahang keras itu, jari- jari Ariella menyentuh setiap inci wajah Gerall dan berhenti di bibir tipis Gerall disentuhnya bibir itu dengan pelan.
Ariella menatap mata Gerall intens sambil mendekatkan wajahnya mata Ariella berpusat pada bibir sexy Gerall, di kecupnya bibir itu kecupan kecil berlanjut dengan kedua bibir saling merenggut dan berbagi air Li**. di tepuknya dada Gerall keras untuk menghentikan ciuman mereka karena Ariella yang kesusahan bernapas.
Dengan posisi yang masih berpelukan Gerall membisikan sesuatu di telinga Ariella, membuat Ariella menatap Gerall genit.
" Apa syaratnya?" tanya Ariella menatap Gerall.
" Aku yang memimpin " ucap Gerall yang memunculkan raut senang di wajah Ariella tanda persetujuan.
Ariella yang senang karena keinginannya terpenuhi memeluk tangan kekar Gerall dan menariknya untuk keluar, Lisa yang tengah berdiri di depan ruang kerja raja sambil menimang Alio seketika terdiam dan menundukkan kepalanya saat pintu ruangan itu terbuka dan munculah sang ratu dan raja, ratu dengan raut wajah bahagia melepas rangkulannya dan menghampiri Lisa untuk mengambil Alio, Arlino yang sadar bahwa kedua orang tuanya sudah keluar segera menghampiri ayah dan ibunya.
"Ibunda, ibunda apa kita jadi pergi ke rooftop? tanya Arlino degan raut senang
" Coba kamu tanya ayahanda sayang" ucap Arliena sambil melirik Gerall
" Bagaimana ayahanda ? "tanya Arlino yang dijawab anggukan Gerall. Arlino yang bahagia memeluk paha ayah nya.
Arliena menyenderkan badannya ke tubuh Gerall duduk disampingnya dengan mata yang tidak pernah lepas dari kedua anaknya. hawa dingin menusuk tubuh Arliena membuat Arliena mengeratkan selimutnya dan lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Gerall. Arliena melihat kearah Gerall memastikan tidak ada raut jengkel karena mengganggunya, merasa tidak ada masalah dalam ekspresi Gerall Arliena pun tetap mengeratkan pelukannya pada Gerall sambil memandangi cahaya matahari yang kian meredup digantikan oleh sinar bulan.
Makan malam kali ini mereka lakukan di rooftop karena Ariella yang masih betah berada disana melihat kedua anaknya tidak masalah gerall pun menyetujui keinginan Ariella. setelah makan malam bukannya kembali Ariella malah ingin menonton film yang tentu saja dilarang oleh Gerall. segala macam cara sudah Ariella lakukan agar Gerall setuju tapi berakhir sia-sia.
Diperjalanan menuju kamar dengan kesal Ariella menghentikan kakinya keras tapi hal itu tidak di pedulikan oleh Gerall. Gerall tetap fokus berjalan sambil menanggapi celotehan Alio dengan anggukan seakan tau apa yang sedang di bicarakan anaknya itu. sedangkan Arlino sudah lebih dulu diantar ke kamar oleh pelayan.
Arliena membanting pintu kamarnya tepat di depan muka Gerall membuat anaknya terkejut dan menangis kencang. Ariella yang mendengar tangisan Alio membuka pintunya lagi dan mengambilnya dari gendongan Gerall.
Gerall membuka pintu kamar Ariella dengan rasa marah di tatapnya Ariella yang tengah berbaring sambil menyusui Alio. melihat Gerall yang tengah marah Ariella bersikap cuek.
jika tatapan bisa membunuh orang maka mungkin Ariella sudah terbunuh saat ini. Gerall berjalan pergi meninggalkan kamar tidur Ariella dengan marah, bantingan pintu mengagetkan Ariella dan Alio di tenangkannya lagi Alio dalan pelukannya.
terlintas rasa bersalah dalam benak Arliena karena telah membanting pintu tepat di muka Gerall, sebenarnya tadi dia tidak sengaja menutup pintu dengan kencan iya tadi masih terlalu kesal dengan Gerall, ego Ariella yang tinggi tidak menghendakinya untuk meminta maaf dan hanya mengambil Alio yang tadi tengah menangis suara tangis Alio yang kencang membuat Ariella tidak sadar jika ia menutup pintu kamar dengan keras sehingga seperti tengah membanting pintu.
~99