THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
EKSTRA PART



Kiev menggunakan tuxedo putih. Ia menanti pengantinnya dengan senyum lebar.


Bella diiringi ayahnya. Juan diberi keringanan untuk mengiring pengantin dan merelakannya pada pria yang kini memandang putrinya penuh cinta.


Gerard dan Anamaria masih kesal dengan pria itu. Tetapi hukuman yang lama, membuat mereka puas. Setelah mengikuti acara pemberkatan, Juan dibawa oleh dua polisi yang mengawalnya.


"Nak ... bahagia lah ... maafkan Daddy!" ujarnya dengan nada menyesal.


"Daddy ... i love you!" ujar Bella dengan derai air mata.


Juan dibawa, Bella menangis. Kiev memeluk istrinya itu dan memenangkannya. Acara berlanjut di pesta resepsi. Banyak kalangan hadir, bahkan Lockhart juga datang menyalami pengantin.


"Selamat Nak," ujar Stefanus dengan senyum mengembang.


Rebecca juga mengucap selamat pada dua pengantin itu.


"Terima kasih Tuan, Nyonya Lockhart!' ujar Kiev dengan senyum bahagia.


Kiev juga akan membaptis kembar sepasangnya. Pria itu ingin Sam yang menjadi ayah baptisnya.


"Tentu, kau telepon saja aku ketika ingin membaptis dua Riches itu," kekeh Sam gemas.


Kiev senang mendengar jawaban Sam. Kini semua membaur. Banyak wartawan hadir akibat adanya seorang produser dan sutradara film yang telah menyabet beberapa penghargaan perfilman. Bahkan produksi terbarunya juga mulai banyak dilirik dan diberi komentar dari berbagai kritikus film.


Sam pun memilih segera pergi dari riuh pesta. Pemuda itu memang tak begitu suka dengan keramaian.


"Tuan Muda Lockhart, boleh minta waktu sebentar?" pinta para wartawan.


Sam berhenti mengikuti keinginan para awak pemburu berita itu.


"Tuan Lockhart, bagaimana dengan produksi terbaru anda?" tanya salah satu wartawan.


"Masih dalam proses mixing dan editing," jawab Sam.


"Tuan, bisa ceritakan dari mana ide-ide itu?" tanya wartawan lagi.


"Saya melihat keresahan alam yang banyak kita rusak," jawab Sam datar.


"Tuan, anda seperti menentang dunia dengan memfilmkan hal-hal tersebut!"


"Tidak ... justru aku melindungi dunia dengan usahaku di film-film tersebut!" jawab Sam gusar.


"Kalianlah yang menentang dunia dengan tingkah pongah kalian!" lanjutnya emosi.


"Kalian adalah wartawan, sudah sepantasnya mengedukasi para masyarakat luas tentang pentingnya lingkungan hidup bagi kelangsungan kehidupan manusia!" lanjutnya.


Para wartawan hanya tersenyum kecut mendengar saran dari Sam.


"Bagaimana dengan lawan jenis, usia anda cukup untuk memiliki sebuah hubungan spesial?" tanya wartawan mengalihkan pembicaraan.


Sam sangat kesal dengan pertanyaan itu. Ia memilih pergi dan tak menjawab. Para bodyguard sudah menjaga pemuda itu dari keributan wartawan yang belum puas mengorek pribadinya.


Sam naik mobilnya dan bergerak ke arah yang diinginkan olehnya. Butuh waktu sepuluh menit Sam menaiki helikopter dan terbang ke suatu tempat yang ia rindukan. Gua hangat penuh kenangan dan air mata juga perjuangan Sam mengusir para pemburu.


Butuh waktu dua belas menit untuk Sam sampai di dataran paling tinggi. Pemuda itu turun dan helikopter menunggu di sana dengan mematikan semua mesin.


Sam masuk di gua yang ia tempati, hasil jarahannya masih tersimpan rapi. Sudah tak ada lagi hewan yang berkeliaran di tempat itu, begitu juga kumpulan serigala.


"Zeus ... aku rindu," ujarnya lalu merebahkan tubuhnya di alas tidur yang empuk.


Sementara itu di sebuah rumah sederhana. Tampak sosok pria tampan bermain dengan dua anaknya yang berusia enam dan tiga tahun.


Pria itu tertawa melihat tingkah lucu putra pertamanya itu.


"Sayang, ayo masuk!" teriak sang istri.


Rheina tengah mengandung anak ke tiga. Wanita itu begitu setia dan sabar mengurus pria yang baru saja menikahinya tiga tahun lalu. Edward Snowden sangat ingat, ia yang begitu terpukul dengan mutasinya ke daerah terpencil. Lalu terbakarnya laboratorium dan menghanguskan semua bukti yang ia kumpulkan.


"Apa yang kau lamunkan sayang?" tanya Rheina.


Wanita itu duduk di pangkuan sang suami. Keduanya menatap dua putra yang tengah lahap memakan makanan mereka.


"Berikan itu padaku!" pekik Jonathan Snowden, putra pertamanya.


"No!" pekik Hayden Snowden putra keduanya.


"Sayang ... jangan berkelahi!' peringat Edward.


"Tapi dia mengambil bagianku Daddy!" rengek Jo mengadu.


"Kau bisa ambil lagi, itu masih banyak sayang!" sahut sang ibu.


"Mommy terlalu memanjakannya!" ketus Jo tak terima.


"No ... Mom tidak pernah memanjakan siapa pun!" tukas Rheina menolak sangkaan putranya.


"Tapi, Mommy selalu membelanya!" cebik Jo dengan mata menggenang.


"Baby," Rheina bangkit dari pangkuan sang suami.


Edward membiarkan istrinya menangani putranya itu. Ia menatap wanita yang sudah bersamanya lebih dari dua puluh tahun. Ia sangat bersyukur, Rheina tak meninggalkan dirinya pada saat terpuruk. Padahal dia sangat cantik dan memiliki uang saat itu.


Edward pernah bertanya tentang itu pada istrinya setelah ia sembuh selama dua tahun masa depresinya.


"Karena aku mencintaimu, dan hanya ingin kau yang menjadi ayah dari semua anak-anakku!" jawab Rheina tegas.


Edward terharu mendengarnya. Ia telah dipensiunkan dari kepolisian. Uang pensiun dan juga dana kompensasi dari kesatuannya ia buatkan asuransi pendidikan untuk putra-putrinya nanti. Ia juga menambah modal usaha istrinya yang hobi dengan fotografi. Sebuah studio foto terletak di tengah kota dan banyak diminati oleh orang-orang dan anak muda. Rheina benar-benar berbakat hingga usahanya maju dan kini malah membuka beberapa cabang.


"Daddy ... apa aku boleh jadi polisi?" tanya Jonathan tiba-tiba.


Edward terdiam. Ia masih trauma dengan kata-kata polisi itu. Walau tak separah awal-awal, lalu beberapa rekan datang dan memberinya treatment agar tak membenci kata "polisi".


"Kau bisa jadi apapun yang kau mau sayang," jawab Rheina.


Jo masih setia menatap ayahnya. Edward mengangguk, anak umur enam tahun itu pun senang dengan anggukan ayahnya itu.


"Thanks Daddy!" Jo mengecup pipi Edward.


"Ayo tidur siang!" titah sang ibu lalu menggendong Hayden.


Jo menurut, ia mengikuti ibunya. Langkah kecil sang putra membuat Edward tersenyum dengan bangga.


"Kau akan jadi polisi terbaik yang pernah ada, Nak!"


Kembali ke pesta Kiev. Para kolega mulai pulang satu persatu. Wartawan masih berkumpul menunggu sebuah berita dari sepasang pengantin baru itu. Banyak pebisnis yang menjadi sorotan di sana. Para wartawan sangat beruntung bisa mewawancarai mereka.


Pesta usai. Salah satu juru bicara dari pengantin tampak melayani pertanyaan dari awak media.


"Tuan, kemana Tuan muda Riches akan berbulan madu?" tanya para awak media.


"Keduanya memilih tidak berbulan madu, Nyonya Fox baru saja memiliki bayi berusia dua minggu, tentu tak bisa berpergian jauh!" jawab utusan dari Kiev Riches.


"Apa perusahaan Riches berkolaborasi dengan perusahaan Fox?' tanya wartawan lagi.


"Kemungkinan seperti itu, keduanya memiliki usaha yang sama, yakni mengolah limbah kayu. Kemungkinan akan merambah ke bisnis lain yang masih berhubungan dengan limbah," jawab sang utusan.


Akhirnya pesta usai. Semua wartawan membawa banyak berita dari satu lokasi. Sedang di tempat lain, Sam telah lepas kangen dengan tempat yang membesarkan dan juga mendekatkannya dengan alam.


"Selamat tinggal dan sampai jumpa lagi ... Zeus!"


Tamat.