THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
FLASHBACK 2



Gerard langsung membentuk sebuah tim untuk menutupi semua kejahatan putranya. Pria itu beruntung ketika perekrutan anak buah untuk Kiev. Putranya sendiri yang melakukannya. Bahkan sudah ada perjanjian tertulis tidak ada tuntutan jika sesuatu terjadi. Mereka telah dibayar mahal oleh Gerard.


Kiev diterbangkan ke luar negeri oleh Anamaria. Wanita itu memilih membawa putranya jalan-jalan walau Kiev tengah berobat jalan.


"Sayang, sekarang kau ada di mana?" tanya sang suami.


"Aku dan Kiev sedang ke kota Milan, sayang. Apa kau baik-baik saja di sana?" tanya wanita itu via sambungan telepon.


"Ya, aku baik-baik saja, pergilah ke penthouse kita di Roma, bersenang-senanglah!" ujar pria itu menutup ponselnya setelah mengucap I love you pada istrinya.


Pria itu masih mengawasi pergerakan dari perwira polisi bernama Edward Snowden. Semua tau sepak terjang pria itu. Edward adalah sosok polisi paling lurus dan vokal terhadap kecurangan dan ketidak adilan. Pria itu memimpin sebuah penyelidikan atas kasus hilang seorang menteri tak butuh waktu lama. Menteri itu ditemukan di sebuah villa kecil bersama selingkuhannya.


Pria itu juga menyelidiki kasus pembunuhan terhadap seorang diplomat asing yang ternyata hanya palsu. Diplomat itu merencanakan sendiri pembunuhannya agar mendapat asuransi dan bisa hidup tenang bersama wanita simpanannya.


Entah berapa banyak dua orang penting itu ingin menyuap pria tegap berusia di atas empat puluh tahun itu.


"Sial ... kenapa harus dia yang memimpin penyelidikan!" keluh Edward geram.


"Bagaimana penelusuran kalian?" tanya pria itu pada dua orang bayarannya.


"Kami sudah menelusuri jejak. Tuan Kiev sangat cerdas menutupi semuanya tuan!" jawab pria itu.


Gerard bernapas lega. Pria itu memang memuji kepintaran putranya. Pria tak sadar, jaman sudah makin canggih. Semua jejak kaki para pembantai terdeteksi oleh Edward Snowden.


Di tempat lain, Edward memimpin satuan untuk menyelidiki kejadian yang masih menggemparkan itu.


"Aku akan ke rumah sakit!" ujarnya.


Pria itu memberi penjagaan ketat pada kamar Stefanus Lockhart. Tak ada yang boleh masuk kecuali dokter dan dirinya. Para dokter yang memeriksa juga harus didampingi para petugas.


"Tuan Snowden!' sapa dokter yang ada di luar pintu.


"Dokter, bagaimana?"


"Keadaannya makin baik. Kami tinggal menunggu sadarnya," ujar dokter.


Mereka masuk, ternyata Stefanus sudah sadar. Pria itu mencari Istri dan anaknya.


"Di mana istriku!" tanyanya.


"Tenang tuan ... istri anda baik-baik saja," ujar dokter menenangkan pria itu.


"Saya ingin bertemu dengan anak dan istri saya!' teriak pria itu.


Para tim medis memberikan obat penenang pada pria itu. Akhirnya Stefanus tenang dan bisa dikendalikan.


"Tuan, tolong tenanglah. Kami tengah berusaha mencari tau apa yang terjadi," ujar Edward ikut menenangkan.


"Aku tak tahu. Mereka datang di tengah malam buta. Aku terbangun ketika mendengar teriakan salah satu maidku ...," jelas Stefanus dengan tatapan menerawang.


Edward telah menulis keterangan yang dikatakan oleh Stefanus, pria itu terhenyak ketika mengetahui jika putranya menghilang entah kemana.


"Aku mendengar lolongan serigala ketika pembantaian itu akan terjadi dekat kamar putraku," terang pria itu.


Edward menduga adanya konspirasi terselubung. Mencari tahu titik terang apa yang sebenarnya terjadi. Pembantaian ini bukan tentang masalah persaingan bisnis, ada hal lain diluar nalar manusia. Edward sangat yakin akan hal itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya mulai pusing akan kasus yang tengah bergulir.


Sedang di laboratorium. Para ahli menemukan jejak serigala sungguhan dan bulunya. Sedang yang lain tiga sidik jari berbeda.


"Tuan, kami menemukan tiga sidik jari berbeda!" lapor petugas lab.


"Baik saya ke sana!" ujar Edward lalu menutup sambungan teleponnya.


Pria itu bergegas pergi ke laboratorium. Kasus ini sengaja ditutup dan rahasia. Banyak wartawan berkumpul di luar bertanya akan kelangsungan kasus yang berjalan.


"Tuan ... bagaimana kelanjutan kasusnya, kami berhak tau tuan!" seru para wartawan.


Edward berjalan cepat. Para petugas langsung mencegah para wartawan hingga tak bisa menerobos.


"Ini tuan, tiga sidik jari yang kami terima!' ujar petugas.


Data komputer tengah mencari dan mencocokkan sidik jari yang ditemukan. Tiga pria pekerja cleaning servis sebuah perusahaan.


"Mereka bernama Mark, Bocharri dan Wiston!" ujar petugas itu.


"Mereka telah berhenti bekerja semenjak dua tahun lalu!"


"Apa tidak ada keterangan lain?"


Semua menggeleng. Kasus ini belum 2x24 jam. Belum ada laporan apapun Edward benar-benar buntu. Hingga ....


"Tuan, kami dapat laporan jika petugas menemukan mayat di sebuah sungai dekat pinggir hutan!"


"Aku akan ke sana!" ujar pria itu.


Edward keluar dari pintu belakang. Bunyi deru mobil kencang mengagetkan para wartawan yang menunggu berita.


"Sial, dia lewat belakang!" gerutu salah satu dari mereka.


Edward melarikan laju mobilnya ke arah selatan di mana mayat ditemukan.


Lokasi yang gelap dan banyak pohon juga akar yang ke luar dari tanah membuat Edward harus menghentikan laju mobilnya. Beberapa polisi mendatanginya. Pria itu keluar dan digiring oleh petugas ke tempat di mana mayat itu ditemukan.


Edward memakai sarung tangannya. Pria itu menggeledah lokasi menggunakan senter. Hari kedua setelah pembantaian terjadi. Lokasi penemuan mayat sangat jauh dari lokasi mansion Keluarga Lockhart.


"Mayatnya sedikit membusuk dan dengan luka robek di perut!" lapor salah satu petugas ketika Edward membuka kantung mayat.


Bau busuk menyengat. Pria itu membuka luka yang ada di sekujur tubuh pria itu.


"Ini benar-benar luka cabik dari binatang buas!" ujar pria itu.


Snowden menyisir tempat lain. Hanya ada satu mayat saja yang ditemukan. Pria itu berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat gerombolan serigala. Salah satu hewan menatapnya dengan nyalang.


Gggrrrr! Semua binatang mengerang dan memperlihatkan gigi tajam mereka. Edward terdiam di tempatnya. Bulu kuduknya meremang. Pria itu sedikit bingung dengan keberadaan hewan itu di pinggir hutan.


"Kenapa mereka ada di sini?" tanyanya bingung.


"Mereka mestinya ada di dalam hutan sana!" gumamnya lagi.


Zoor yang ada di sana mulai menyalak. Ancang-ancang menyerang mulai dipasang. Binatang itu berlari mengejar Edward yang juga berlari. Ia meminta pada petugas untuk memberi tembakan peringatan ke udara menakuti binatang itu.


Sekitar lima puluh ekor serigala mengejar Edward.


"Tembakkan peluru kalian ke udara!" teriak Edward ketakutan.


Dor! Dor! Dor! Tiga letusan senjata api memecah malam sunyi. Auman serigala terdengar makin membuat bulu kuduk siapa saja berdiri.


"Ayo segera tinggalkan tempat ini!" teriak Edward pada satuan.


"Banyak serigala menyerang!" lanjutnya.


Gonggongan makin dekat. Semua orang menyingkir dari sana dengan menggeret mayat yang mereka temukan. Zoor menatap kepergian orang-orang yang mulai menjauh dari lokasi di mana mayat salah satu anak buah Kiev ditemukan.


"Mereka sudah pergi yang mulia!" sahut salah satu serigala.


Zoor melolong lalu disahuti para serigala-serigala itu. Edward menancap gas penuh. Pria itu benar-benar ketakutan setengah mati.


"Serigala ... ada apa ini ... kenapa ada serigala yang sepertinya ingin menutupi sesuatu?" tanyanya gusar.


"Kasus ini sangat rumit!" ujarnya lagi.


Bersambung


next?