THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
MEET



Sam berada di di hutan bagian barat. Ia tak sengaja masuk bagian ini. Remaja itu tengah merekam hutan yang lebih dalam dan ada jalan setapak di sini.


"Apa di sini juga dilalui orang?" tanyanya dalam hati.


Sam makin dalam memasuki hutan. Ia melewati aliran sungai dangkal. Remaja itu yakin jika menyusuri sungai akan bertemu dengan aliran deras di mana tempat guanya berada. Ia mengambil gambar di sana. Tiba-tiba ia menatap banyak mata merah mengintainya.


"Zoor?" panggilnya pelan.


Sam ingin mendekat hingga, sebuah teriakan memanggil nama sama yang barusan ia panggil.


Sam bergegas mengalungkan kameranya lalu naik ke atas pohon paling besar di sana. Sungguh ia menyesal karena tak memakai celana pendek dan sedikit tebal. Sam memakai celana jeans yang sedikit berat hingga membuatnya kesulitan bergerak.


"Sial!" runtuknya kesal.


Sam berdiri di dahan paling besar. Ia melihat pergerakan seorang manusia yang memanggil nama binatang yang ia panggil tadi. Remaja berusia mau sembilan belas tahun itu kini melihat pergerakan serigala yang sedikit menjauh.


"Zoor!" pekik pemuda yang kisarannya tiga tahun diatasnya.


Sam langsung ingat dengan anak laki-laki yang pernah Zeus ceritakan. Bocah laki-laki yang juga bisa bicara dengan serigala.


"Kiev?" bisiknya.


Kiev yang sedang memanggil binatang yang pernah melatihnya itu terus bergerak.


"Zoor ... keluarlah!" teriak Kiev.


Zoor memang ada di sana gelisah bukan main. Beberapa kawanannya juga ikut geram melihat betapa Kiev masih berani datang ke tempat mereka setelah nyaris dua tahun berlalu.


"Yang Mulia ... My Lord ada di sini ... bagaimana ini?" tanya salah satu kawanan serigala.


"Tenanglah Deeca ... My Lord adalah yang terpilih, ia tak akan kenapa-kenapa!" sahut binatang itu masih mengintai Kiev.


Sam masih setia menunggu pergerakan Kiev yang tak berani menyebrang aliran sungai dangkal itu. Pemuda itu memakai pakaian formal lengkap dengan senjata bius di tangannya. Kiev membidik, Sam panik, ia tak membawa apapun untuk menggagalkan bidikan Kiev.


"Ah ... sial!" umpatnya dalam hati.


Sam bergerak turun perlahan. Para kawanan serigala mulai memasang aksi untuk menyerang Kiev jika berani melukai junjungan mereka.


"Apa yang kau lakukan di sini ... Kiev?"


Pemuda itu menoleh. Sosok lelaki yang jauh lebih tegap dan lebih tinggi. Sorot mata abunya yang begitu dalam dan sangat misterius. Kiev bergetar menatap sosok di depannya. Ia langsung ingat dengan ciri-ciri yang pernah disebutkan sang raja rimba perihal sang junjungan yang sebenarnya.


"Siapa kamu?" tanya Kiev pura-pura.


"Aku adalah aktivis lingkungan hidup. Apa yang kau lakukan di sini dengan senjatamu?" tanya Sam.


Kiev terdiam. Perbedaan mencolok diperlihatkan Sam. Remaja itu begitu tenang dengan aura kepemimpinan tegas. Kiev melihat betapa tulusnya Sam mengatakan jika dia adalah aktivis.


'Kenapa dia tak mengakui jika dia adalah The Lord?' tanya Kiev dalam hati.


"Aku tak percaya jika kau adalah aktivis?!" sahut Kiev.


Sam menunjukkan kartu identitasnya. Ia juga memegang handy talky yang berhubungan dengan pusat kepolisian hutan. Di sana Kiev baru percaya.


"Keluarlah dengan tenang saudara. Jangan membuat gaduh seluruh seluruh isi hutan dengan suara tembakamu!" ujar Sam meminta pengertian Kiev.


"Bagaimana jika aku tak mau?" tanya Kiev lalu mengarahkan senjatanya ke arah Sam.


"Break satu bisa dikopi sedang apa di sana apa perlu bantuan?"


Tiba-tiba deru suara helikopter terdengar di atas. Kiev terkekeh Terlebih ia melihat pergerakan serigala yang datang. Pemuda itu menurunkan senjatanya. Ia melewati Sam begitu saja.


"Nanti akan ada pembalakan besar-besaran terjadi, kau tak akan bisa menuntaskannya sendiri ...," Kiev menghentikan perkataannya.


"Samuel Patrick Lockhart!' lanjutnya berbisik.


Pemuda itu pergi dengan langkah ringan. Sam mengepal kan tangan erat. Filmnya dua minggu lagi tayang perdana.


Sam pun kembali ke kendaraannya. Kuda besi ia tunggangi hingga ke studio yang selama ini menjadi tempat tinggal sementara. Selama film belum rilis. Remaja itu masih terus menyempurnakan proyek pertamanya itu.


Tampilan Sam tak dikenali wartawan. Ia pun tidak masuk via gerbang utama, remaja itu masuk gerbang tersembunyi.


Sedang Kiev kini melaju ke perusahaan miliknya. Ia masih mengolah limbah kayu. Dirinya belum bisa melobi para dewan pemerintah untuk mengijinkan dia memiliki akses merambah hutan.


Bella ada di sana, ia baru saja mengantar limbah dari pabrik perusahaan ayahnya. Gadis itu harus mendapat tanda tangan dari Kiev.


"Bella?"


"Kiev!'


"Kau sudah lama?" tanya pemuda itu lalu duduk di kursi kebesarannya.


Kiev sedikit memejamkan mata. Bella menatap pemuda tampan itu. Ia sudah jatuh cinta pada Kiev semenjak bertemu.


"Apa kau lelah, mau kubuatkan kopi?" tawar Bella.


"Ke marilah!" pinta pemuda itu.


Bella berdiri dan mendekat. Kiev menarik langsung tangan gadis itu hingga terduduk di pangkuannya.


"Kiev!" elak sang gadis.


"Sebentar sayang," pinta Kiev menahan tubuh gadis itu.


Di sana miliknya menegang karena pergesekan bokong sang gadis. Kiev menggeram dan memeluk erat Bella.


"Jangan ... seperti ini ... aku mohon," pinta gadis itu.


"Aku ingin Bella ... kau membuatku terangsang," bisik Kiev lalu menjulurkan lidah dan mengenai indera pendengar gadis itu.


"Uuhhh!" lenguh Bella kegelian.


Gadis itu, akhirnya pasrah ketika lidah pemuda itu menjalar ke leher jenjangnya. Bahkan tangan Kiev bergerilya ke gundukan besar itu.


Pemuda itu mengira jika dua anggota tubuh wanita ini diselipi silikon, ia pun meremasnya.


"Ah ... asli!" bisiknya sangat bergairah.


Bella melenguh ketika dadanya dipermainkan oleh Kiev. Bongkahan padat dan asli itu dikuasai oleh pemuda yang sudah masuk dalam mimpi liarnya. Kiev tak tahan.


"Kita pindah baby," ajaknya dengan suara serak dan mata berselimut kabut gairah.


Bella menatapnya sayu. Ia juga menginginkan hal ini ia mengangguk setuju. Lalu Kiev menggandeng tangan gadis itu ke sebuah ruang rahasia miliknya. Di sana keduanya bersatu. Kiev cukup terkejut ketika mendapat darah dari bawah sana. Bella masih perawan.


"Oh ... baby ... kau sempit sekali!" geramnya mulai memasuki secara brutal tubuh gadis itu.


Bella pasrah. Ia tak akan menyesal bercinta dengan pria yang ia sukai. Benih Kiev tumpah di dalam rahim gadis itu.


Tubuh pemuda itu ambruk. Kiev memang baru pertama bercinta dengan seorang wanita. Ia sungguh tak percaya jika masih ada seorang perawan di tengah majunya jaman. Usia Bella terpaut dua tahun di atasnya.


Keduanya terengah dengan peluh membanjiri tubuh mereka. Kiev belum melepas penyatuannya, ia kembali mengayun tubuhnya, milik Bella menjepit hingga kembali membuat miliknya berkedut dan menegang.


"Kau benar-benar membuatku mabuk kepayang Bella!" ujarnya.


Suara lenguhan dan ******* dari mulut keduanya, menggema di kamar mewah itu. Kiev benar-benar menghujam miliknya lebih dalam hingga kembali membuahi rahim Bella. Ini sudah ketiga kalinya ia bercinta.


"Kau benar-benar nikmat sayang!' puji Kiev melepas penyatuannya.


Kini keduanya tertidur dalam pelukan hangat. Kiev bermimpi dengan tangannya yang berlumuran darah, ia pun tertawa puas dengan apa yang ia hasilkan itu.


bersambung.


next?