THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
ME AND THE WOLFS: HOME



Melihat kalender yang aku ambil dari para pemburu. Tersadar jika sudah lima tahun aku berada di tempat ini bersama para serigala dan hewan lainnya. Bahkan tak jarang beberapa harimau duduk di depan mulut gua.


"Astaga harimau!" pekikku kaget setengah mati ketika membuka pintu gua.


Harimau itu langsung berdiri dan meninggalkanku bersama aumannya.


Aku mengelus dada. Sedikit takut juga, biar bagaimanapun mereka adalah hewan buas. Memilih tak menghiraukan apa yang terjadi. Aku memilih menutup pintu dan mulai berlatih dengan memanaskan tubuh dulu.


"Tak biasanya Zeus belum datang?" tanyaku bergumam sambil mengedarkan pandangan.


Namun sudah lima menit melakukan pemanasan, Zeus belum juga tiba. Aku sedikit penasaran dengan apa yang terjadi. Lalu kulihat beberapa kawanan serigala datang dan mulai menyalak. Goyangan ekor mereka menandakan jika mereka ingin bermain sebentar.


Aku pun berlari mengejar kawanan binatang itu. Mengambil ranting lalu melempar dan kami saling berkejaran mengambil tongkat.


Aku nyaris mendapatkan lebih dulu tongkat itu jika saja tubuhku tak dijegal oleh salah satu serigala.


"Hei kau curang!" seruku kesal.


Serigala itu malah kembali menyenggol tubuhku.


"Ah ... aku lelah!" sahutku dengan napas terengah-engah.


"Kalian tau di mana Zeus?" tanyaku.


"Lecra melahirkan My Lord," jawab salah satu serigala.


"Apa ... kenapa Zeus tak bilang?" tanyaku kaget.


"Bisa kalian tunjukkan di mana dia?"


Para serigala mulai berlari. Aku mengikuti mereka. Makin lama lari mereka makin kencang, aku juga mempercepat mengayun kakiku agar tak tertinggal. Pohon yang kulewati makin lebat dan rapat juga besar-besaran. Zeus membawa istrinya jauh dari kelompoknya untuk menghindari kawanan yang iri dan akan membunuh keturunannya.


"Kau hanya tinggal lurus saja ke dalam My Lord!" ujar salah satu serigala. "Kami menunggu di sini!"


Aku berjalan sesuai petunjuk dari hewan berkaki empat itu. Semakin lama jalanan yang kulalui semakin sempit. Hingga menemukan suara kecil yang tampak ramai.


Zeus di sana bersama pasangannya. Ada lima bayi serigala yang tengah menyusu pada induknya.


"Zeus!" panggilku.


"My Lord!" keduanya menyambutku.


"Aaahh ... lucu sekali!"


Melihat bayi-bayi serigala yang berwarna gelap dan tampak bundar. Aku perkirakan usianya belum satu hari.


"Mereka mirip kamu Zeus!" seruku.


"Kau boleh memegangnya My Lord!" ujar Lecra.


"Aku takut Lecra ... mereka begitu kecil," ujarku menatap lima binatang lucu yang berebutan susu.


Bahkan ada yang menggeser milik saudalanya dengan mendorong wajah saudaranya dengan kaki. Aku terkekeh melihatnya.


"Hei ... jangan rebutan. Susu ibumu banyak," ujarku.


"Baiklah Zeus. Nikmati kebersamaanmu dengan anak-anakmu yang baru lahir. Aku kembali ke tempatku," ucapku lalu berdiri.


"Terima kasih My Lord!"


Aku pun berlalu dari tempat yang Sedikit sempit itu. Sampai di luar kandang Zeus. Beberapa serigala masih setia menungguiku. Aku kembali berlari menuju gua tempat yang kutinggali selama ini.


Aku merebahkan diriku di alas yang makin empuk. Beberapa barang hasil jarahan dari para pemburu. Terletak rapi di sepanjang dinding gua. Membayangkan lagi wajah kedua orang tuaku.


"Apa yang mereka lakukan ketika melihat aku pulang?" gumamku bertanya.


"Apa mereka masih mengenaliku?"


Tak lama aku pun terlelap dalam mimpi yang panjang. Mimpi di mana api menjalar ke seluruh hutan. Aku berteriak kencang memanggil Zeus dan kawanan lain. Tak lama aku mendengar bunyi letusan senapan. Hewan-hewan berlarian keluar hutan. Seekor burung merak yang cantik jadi korbannya. Aku menjerit meminta semua hewan untuk tenang.


"Hahahaha ... kau kalah Sam ... kau tak bisa menjaga hutan!"


Aku menatap orang yang meneriakiku begitu sinis dan sadis. Mata birunya menyorot tajam. Pria itu menyeringai padaku dan menenteng satu kepala hewan. Darah menetes mengalir dari leher yang putus itu.


"Kenapa kau jahat sekali!" teriakku.


"Bukan aku yang jahat Sam!" teriaknya.


"Kau terlalu lemah!" lanjutnya.


Aku menatap kilatan kebenciannya padaku. Aku bisa melihat dendamnya.


"Kiev!" teriakku.


Aku terbangun dengan keringat menetes di sekujur tubuh. Napasku terengah-engah.


"Hossh ... hossh ... hosssh!"


Sadar aku baru saja mengalami mimpi buruk. Perkataan Kiev dalam mimpi membuatku jadi berpikir.


"Benar juga, aku memang bisa melindungi sebagian kecil saja. Tanpa kekuasaan, aku tak bisa apa-apa," monologku.


Kembali berbaring di alas tidur yang empuk, menarik selimut. Angin begitu keras meniup di luar sana, musim gugur akan segera tiba. Aku menghela napas panjang.


"Apa aku harus kembali ke rumah?" tanyaku pada diri sendiri.


Melihat pembalakan liar yang sangat besar beberapa hari lalu. Aku sudah mengatakan pada Zeus keinginanku untuk kembali pada keluargaku. Zeus tak menjawab apapun. Lelah dengan semuanya, aku kembali tidur. Hari masih terlalu malam untuk berkegiatan.


Dua hari sudah Zeus tak datang melatihku. Aku hanya berlatih bagaimana memanah dan menembak. Beberapa senjata yang ditinggalkan oleh para pemburu, membuatku makin asik menjadi hantu hutan yang banyak ditakuti para pemburu.


"Usahaku menangkap babi hutan dan melepaskannya kemarin sukses membuat pemburu dan anjing peliharaannya sangat antusias mengejar dan meninggalkan tenda mereka," monologku lagi. "Aku tak mungkin melakukan hal sama, mereka pasti berjaga-jaga."


"My Lord!"


"Zeus?"


Binatang itu datang dengan langkah ringan. Aku memeluknya erat. Napas besar binatang itu begitu hangat.


"Zeus kau datang?"


"Benar My Lord!" sahutnya.


"Zeus ... para pemburu makin lama makin banyak, mereka bukan mau menangkap binatang tapi ingin menangkap ku," ujarku melepas pelukan.


Zeus menatapku dengan manik ambernya yang dalam. Binatang itu menangkap maksud lain yang kusembunyikan.


"Apa yang ingin kau ucapkan Nya Lord?" tanyanya menyelidik.


"Zeus, aku tak bisa mengusir mereka dengan menakuti para pemburu lagi, bahkan alat-alat yang kurusak makin besar dan makin banyak!" jelasku lagi.


"Aku harus memiliki kekuasaan yang lebih kuat dari pada hanya sekedar menakut-nakuti mereka Zeus!"


Zeus terdiam. Binatang itu masih setia menatap dan menanti apa kelanjutan pembicaraanku.


"Seperti perkataanku kemarin. Aku harus kembali ke orang tuaku dan meminta bantuan mereka!" ucapku pada akhirnya.


Zeus tampak diam. Binatang itu seperti berpikir lama. Lalu akhirnya dia masuk dalam gua, aku pun mengikutinya.


"Ambil perbekalan, kita akan pergi ke tempat di mana orang tuamu tinggal!"


Aku tersenyum mendengarnya. Lalu kuambil kantung tidur dan tenda. Lalu perbekalan makanan juga satu senjata.


"Tutup pintunya. Perjalanan kita akan sangat lama!" ucap Zeus lagi.


Semua binatang menggiringku pergi. Mereka menatap dan seakan berat aku pergi meninggalkan mereka.


Aku pasti kembali!" seruku berjanji.


Seluruh kawanan Zeus ikut menggiringku pergi. Melewati banyak tebing dan dataran tinggi. Akar-akar besar yang mencuat ke permukaan tanah. Entah sudah berapa jauh ku melangkah, aku terus berjalan dan mengikuti Zeus.


Ketika malam tiba, kudirikan tenda dan beristirahat di kantung tidur yang kubawa. Ketika pagi menjelang, aku membereskan tenda dan kembali berjalan mengikuti Zeus.


Sudah tiga malam aku lalui, kini aku makin dekat pada sebuah jalan besar.


"My Lord mintalah tumpangan pada mobil yang lewat!" titah Zeus dari balik pepohonan.


Aku melihat arah jalan. Satu dua mobil lewat ketika aku meminta tumpangan hingga satu mobil dengan bak terbuka. Pengemudi mobil mengijinkan aku ikut dan duduk di bak terbuka. Mobil perlahan berjalan. Zeus mengikuti mobil yang berjalan dan melompat ke atas bersamaan dengan mobil yang melewati bebatuan, jadi pergerakan Zeus naik tak terasa. Di dalam bak itu banyak tumpukan kain berwarna hitam Zeus merebahkan diri agar tak terlihat dari spion belakang. Hingga beberapa jarak terlewat mobil itu berhenti. Aku dan Zeus turun.


"Thanks!" seruku dan ditanggapi dengan bunyi klakson.


Ada sebuah jalan beraspal. Dari jalan ini aku melihat bangunan megah berdiri jauh di ujung jalan sana.


"Itu rumahmu My Lord!" ujar Zeus memberitahu.


bersambung