
Sam duduk bersama ayahnya. Pria itu sudah menekan semua pejabat untuk menjadikan hutan di wilayah barat dan Utara itu dijadikan hutan lindung dan pelarangan semua bentuk kegiatan berburu dan pembalakan liar. Tetapi, semua masih berunding dan entah apa yang dirundingkan.
"Ayah sudah berusaha nak, tapi semua alot karena ternyata income dari hutan itu sangat besar bagi mereka yang maruk!" ujar pria itu geram.
Sam diam, ia juga bingung jika sudah begitu.
"Apa Sam masuk sebagai aktivis dan menekan semua artis dan tokoh masyarakat agar hutan dan habitat di dalamnya itu dilindungi secara hukum?" tanya Sam.
"Sepertinya harus begitu sayang," sahutnya.
"Ayah bukankan memiliki perusahaan film?"
"Ah ... kau benar sekali, nak. Foto dan videonya bisa kita jadikan film dokumenter!" sahut pria itu.
Sam tersenyum lebar. Akhirnya satu solusi terpecahkan. Sudah saatnya masyarakat ikut andil untuk menjaga hutan.
Sedang di tempat lain Kiev tampak mendekati beberapa pengusaha dan tengah melakukan lobi kerjasama. Beberapa perusahaan besar yang mengolah perkayuan untuk properti menjadi incarannya.
"Tuan Riches, kembangkan usaha anda di bidang properti, keuntungan cepat karena banyak orang butuh rumah dengan kredit," ujar pria itu.
"Saya lebih condong dengan mebeul dan kayu-kayu limbah," ujar Kiev.
"Untuk apa kayu-kayu limbah?" tanya salah satu kolega terkekeh.
"Tentu saja untuk menekan budget. Jika harus menanam dulu, akan lama dan butuh biaya, jadi sebaiknya yang mengolah kembali kayu-kayu yang terpakai untuk dijadikan kayu pres," jelas Kiev memancing.
"Kau tahu, Tuan Juan Fox juga mendalami bisnis kayu, coba kau tanyakan bagaimana caranya mendapatkan lahan siap jadi dan bisa langsung menghasilkan?!" saran pria itu.
"Wah ... terima kasih Tuan Hordock!" sahutnya.
Pria itu mengangguk. Kiev mendekati pria bernama Juan Fox, seorang pria tampan dan masih terbilang muda. Pria itu sangat sukses karena bisa memenuhi permintaan pasar pada kayu-kayu dalam jumlah besar.
"Tuan, perkenalkan saya Kiev Orlando Riches," ujar pemuda itu antusias.
Juan Fox adalah pria ramah dan murah senyum. Pria itu langsung menyambut tangan Kiev yang terjulur.
"Halo Tuan muda Riches. Ayahmu adalah panutanku,' ujarnya senang.
"Saya tersanjung tuan," ujar Kiev.
"Apa yang bisa aku bantu tuan?" tanya Juan ramah.
Kiev langsung menyatakan tujuannya. Ia ingin mendirikan usaha di bidang perkayuan dan mengolah limbah kayu menjadi kayu pres dan juga papan pres. Pria itu sangat senang dengan ide pemuda itu.
"Saya banyak limbah kayu yang, kau bisa mengambilnya dari sana," ujar pria itu.
"Saya juga ingin mencari lahan siap pakai dan hasilnya sudah ada tuan!' ujarnya.
Pria itu tersenyum lalu mengangguk. Netranya mengedar, Kiev sampai mengerutkan keningnya.
"Anda cari siapa tuan?" tanyanya ikut mengedarkan pandangannya.
"Ah tidak ada Tuan muda Riches," ujarnya gugup.
Kiev mengangguk. Perubahan wajahnya yang kecewa membuat Juan akhirnya luluh.
"Jika anda ingin tau lahan siap pakai dan hasilnya tersedia secara melimpah, aku punya beberapa tempat tuan," ujarnya sedikit pelan.
"Ini kartu namaku, kau bisa datang kapan saja kau mau," ujar Juan.
Tak lama sosok gadis cantik datang dengan balutan formal. Ia membungkuk hormat pada Juan.
"Tuan, sebentar lagi kita akan ada meeting!' ujarnya memberitahu.
Kiev menatapnya lekat. Juan langsung memperkenalkannya.
"Oh, Tuan muda Riches perkenalkan ini adalah putriku, ia bekerja padaku sebagai sekretaris," ujarnya memperkenalkan diri.
"Putri anda?"
"Saya Bella Fox, Tuan muda Riches," ujar sang gadis memperkenalkan diri.
"Kiev Orlando Riches," sahut sang pemuda.
Pemuda itu mengangguk tanda mengerti. Keduanya pamit undur diri, Kiev menatap gadis terutama bokong sang gadis yang begitu bulat penuh. Terutama bagian dada yang seperti mau meledak itu.
"Seksi sekali!' pekiknya dalam hati.
Kiev menggeleng. Misinya belum terlaksana ia harus menjalankan misi agar semua berjalan sempurna.
Sam mulai kuliah ia mengambil hukum dan lingkungan hidup juga perfilman. Tiga universitas berbeda ia tekuni untuk melindungi hutan. Remaja itu penuh dengan ide kreatif dalam menjalankan misinya.
Samuel Patrick Lockhart mendalami hukum terutama masalah lingkungan.
"Apa motivasi anda mendalami hukum tentang lingkungan hidup?" tanya dekan ketika mewawancarai dirinya.
"Saya ingin pemerintah benar-benar memperhatikan keseimbangan alam dan ekosistem yang ada. Keberadaan hutan tentu sangat dibutuhkan terutama untuk paru-paru dunia!' jawab Sam lugas dan tegas.
Remaja itu juga memberikan review-nya selama di hutan beberapa hari lalu. Tentu ia tak mengatakan awal kisah ia bisa tau soal seluk beluk hutan. Sam tak menceritakannya secara gamblang.
"Review anda menarik sekali. Kita bisa bawa ini di dewan forum lingkungan hidup yang biasa kita tayangkan secara live dan diperdebatkan,' ujar Dekan yang terkesan mendengarnya.
Remaja itu tersenyum. Awal ia mulai menyuarakan suara Zeus dan penghuni seluruh hutan. Sebuah usaha untuk membuat Zimba sang penguasa rimba percaya, jika manusia tak selamanya jahat.
Sam memulai kuliahnya Senin mendatang. Ia sudah menyusun semua programnya.
"Sayang, kau boleh serius, tapi ingat kesehatanmu!" teriak Rebecca sang ibu.
"Ayo turun makan!" titahnya.
"Iya mam!' sahut remaja itu.
Sam harus segera turun sebelum ibunya yang naik dan merobek semua rencana yang ia tulis. Samuel semakin tampan, Becky begitu senang dengan wajah putranya itu.
"Akhirnya kau turun juga," ujarnya lalu merengkuh bahu putranya.
Sam manja dan mengecup pipi ibunya. Becky juga melayangkan ciumannya di kening sang putra. Kini mereka duduk di meja makan bersama Stefanus.
Usai makan, pria dewasa itu mengajak putranya untuk berbicara. Becky duduk di sebelah sang suami ikut mendengarkan.
"Kenapa kau serakah sekali mengikuti kuliah sayang?" tanya Stefanus bingung ketika melihat tiga perkuliahan diambil putranya.
"Agar aku lebih mendalami ilmunya ayah, toh kuliah perfilman hanya sebentar, yang lama kuliah hukum dan lingkungan hidup," jawab remaja itu.
Stefanus mengangguk tanda mengerti. Pria itu hanya menasehati putranya.
"Jangan terlalu memaksakan diri sayang, kau hanya manusia biasa,"
"Iya yah,"
Becky memeluk putranya. Ia sudah merasa bangga.
"Mama bangga dengan semua pencapaianmu nanti sayang, mama akan mendukungmu penuh!'
"Thanks mom!' sahut remaja itu.
Kini Sam berada di kamarnya. Jendela kamarnya masih terbuka, remaja itu menatap luar jendela mengamati. Ia percaya Zeus juga menatapnya di kejauhan.
"Zeus," bisiknya lirih.
Zeus memandang rumah sang junjungan Ia bersama salah satu anaknya yang jantan.
"My Lord!'
"Ayah ... apa My Lord akan kembali lagi ke hutan?" tanya Aron, putranya.
"Ya, nak ... My Lord pasti kembali dan mengajak kita ke habitat asli kita di dalam hutan,"
Zeus yakin itu. Ketua serigala dan semua kawanannya bergantung pada Samuel Patrick Lockhart, remaja yang menjadi pilihan sesuai dengan petunjuk sang penguasa hutan.
"Kami bergantung padamu, My Lord!"
bersambung.
next?