
“Apa ini tidak terlalu beresiko Tuan?” tanya Kiev mulai takut dengan apa yang akan dilakukan Juan.
“Memang, tapi aku sangat puas bisa membakar manusia kanibal itu hidup-hidup Kiev!” jawabnya penuh dendam.
“Tuan, aku minta maaf dan bukan bermaksud lancang, bagaimana jika kau malah tidak menghabisinya malahan kau masuk penjara?” ujar Kiev memberi tanggapan.
“Aku tak peduli Kiev. Akan kurusak sebanyak mungkin. Jika dia hadir, maka kutembak dia hingga mati!” ujar Juan tak mau tau,
Tekad pria itu sudah bulat. Ia ingin membakar hutan seluas mungkin. Musim kemarau sebentar lagi akan tiba. Ia akan dibantu dengan cuaca panas dan embusan angin kencang akan banyak membantunya membakar hutan.
“Kapan anda memulainya Tuan?” tanya Kiev ingin tau.
“Tidak sekarang Kiev. Tapi aku pastikan sebentar lagi, hanya tinggal menunggu cuaca mendukung dan semua rencana ku akan berhasil,” jawab Juan masih penuh misteri.
Pria itu akan melihat situasi, biasanya para perusahaan akan membakar lahan gambut untuk memudahkan mereka. Inilah yang akan dilakukan Juan. Kiev mengangguk, ia seperti setuju akan rencana pria itu.
Bella tengah di kamar mandi, sudah satu minggu ini ia merasa pusing dan mual. Gadis itu sangat takut dengan apa yang merasuk pikirannya saat ini. Lalu ia menghitung hari ketika terakhir bercinta dengan Kiev.
“Jangan-jangan aku ... tidak ... aku tidak mau!” tolaknya.
Bella memilih mengabaikan pikirannya. Ia kembali bekerja seperti biasa mencoba melobi beberapa perusahaan sama dengan yang Kiev geluti yakni limbah kayu. Perusahaan pria itu sudah memenuhi kuota kubik limbah kayu hingga tak mungkin mengambil kembali limbah itu.
“Baik Tuan Suarez, saya akan mengirimkan proposalnya pada email anda!” sahut gadis itu semringah.
Bella juga mulai mencari lahan biasa untuk memenuhi kuota kayunya. Sebuah tanah dengan luas lima belas hektar ia dapatkan dengan harga lumayan karena bekas perkebunan karet yang tidak lagi berproduksi. Gadis itu mencari tau apakah kayu pohon karet sangat bagus untuk perindustrian. Setelah tau, ia memilih membuang semua kayu dan akan dibuat sebagai limbah untuk memenuhi kuotanya.
Gadis itu terus mencari peluang agar perusahaan ayahnya ini tidak bangkrut. Ia akan melepas semua pada peradilan jika nanti kejahatan ayahnya terbukti. Bella mulai memisahkan semua benda berharga sebelum Juan melakukan praktek ilegal loging-nya.
Juan tak peduli dengan perusahaannya. Ia masih mencari hari di mana para pengusaha nakal mulai membakar lahan gambutnya. Pria itu belum tau jika pemerintah mulai melarang para pengusaha membakar lahan gambut yang bisa merusak udara dan juga lingkungan itu.
Malam datang, Kiev ada di kamarnya tengah melamun. Dari kejauhan ia mendengar lolongan serigala. Dulu mansionnya dekat dengan hutan, maka lolongan itu sangat dekat dengan pendengaran pria itu.
“Zoor, apa kabarmu?” tanyanya bergumam.
“Apa yang kau katakan Kiev?” tanya Gerard ketika masuk dalam kamar putranya.
“Tidak ada Dad,” jawab pria itu.
Gerard menatap gusar putranya. Pria itu benar-benar tak ingin sang putra kembali mengingat saat ia bersama para serigala yang membohongi mereka.
“Kau tau nak, apa yang paling kusesali selama ini?” Kiev menggeleng.
“Menyerahkan mu pada serigala sialan itu!” jawab Gerard dengan nada marah.
“Dad, sudahlah, kita tak bisa mengulang masa yang telah lalu,” ujar Kiev menenangkan ayahnya.
“Aku sungguh-sungguh Kiev, aku menyesal mempercayai ramalan serigala pembohong itu!” tekan Gerard masih dengan nada tak suka.
Kiev hanya diam dan memeluk ayahnya. Sedang di mansion Stefanus Lockhart, Sam menatap bintang berserak di langit gelap. Pemuda itu bisa mengetahui jika sebentar lagi musim panas tiba. Banyak binatang berburu ke area utara hutan karena di sana banyak air yang mencukupi kehidupan mereka.
Sam yang telah lama hidup di hutan, bagaimana Zeus sang ketua kumpulan para serigala mengajarinya banyak hal. Dari mencirikan perubahan alam. Kapan akan ada badai, hujan dan semua pergantian musim.
Terdengar bunyi ketukan dari pintu. Sam berdiri lalu membuka pintu. Ayahnya ada di sana. Pria itu minta ijin untuk masuk, tentu Sam mempersilahkan ayahnya masuk. Stefanus menatap kamar putranya yang banyak berubah.
“Film mu masuk nominasi peraih Golden Muvie Award, nak!” ujar pria itu menyerahkan sebuah surat pada putranya.
Sam tersenyum. Delapan nominasi berhasil ia duduki di kancah perfilman internasional. Ia senang, walau bukan itu tujuannya,
“Pesan mu sampai nak. Permasalahan hutan memang sangat riskan pada seluruh dunia, terlebih banyaknya hewan-hewan liar yang diperjual belikan secara bebas di luar sana. Kita harus menembus kemenangan ini salah satunya agar pesan itu sampai!” ujar Stefanus panjang lebar.
“Iya Ayah, jika pun gagal, aku akan mencalonkan diri sebagai menteri lingkungan hidup untuk memberantas semuanya!” ujar Sam tak gentar.
“Aku mendukungmu penuh nak, jangan khawatirkan itu,” ujar Stefanus menenangkan putranya.
Sam memeluk ayahnya erat. Pemuda itu sangat bersyukur karena didukung penuh oleh orang tuanya.
Hari berlalu. Juan selalu berpergian mencari celah agar bisa membakar hutan. Ia sudah mensurvey di mana ia akan mulai menuangkan bahan bakarnya.
"Jika hanya lahan gambut, tentu tak akan membakar manusia kanibal sialan itu!" gerutunya penuh rencana.
"Berarti aku harus masuk lebih dalam ke hutan dan menemukan sarang dari manusia itu," lanjutnya bermonolog..
Pria itu berputar melihat suasana pinggir hutan. Nyaris setiap jalan masuk ada mobil patroli lewat.
"Ck menyusahkan saja kalian!" gerutunya lagi.
"Baiklah ... akan kulihat bagaimana mereka akan bergantian berjaga," lanjutnya lagi masih bermonolog.
Pria itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan biasa. Di sana ternyata ada beberapa petugas tengah makan siang bersama. Juan memilih menu makanan dan memakannya perlahan sambil mencuri dengar percakapan para petugas.
"Tugas ini membosankan sekali!" dumal salah satu petugas.
"Ssttt ... pelankan suaramu. Kau tau pecinta lingkungan tersebar di manapun. Kita akan kehilangan pekerjaan jika membicarakan ini?!" peringat salah satu rekan pria itu.
"Aku memang bosan Steve. Berkeliling di pinggir hutan. Lalu menanyai orang yang sedang melakukan kesenangan mereka!" keluhnya.
"Apa salahnya berburu? Toh hewan-hewan itu tetap akan mati dimangsa hewan yang lebih besar darinya!" keluh pria itu lagi.
"Jangan sembarang bicara. Bukankah rantai makanan memang berjalan seperti itu jika di hutan?" sahut salah satu rekannya lagi.
"Satu jam lagi kita akan berpatroli," ujar rekannya memberitahu.
Juan yang mendengarkan langsung senang. Satu jam cukup untuk dia masuk ke dalam hutan dan menyembunyikan mobilnya. Pria itu sedikit tau jalan setapak yang pernah dibuat oleh beberapa pelintas hutan dan juga para pemburu liar seperti yang dikatakan petugas itu barusan..
'Sebentar lagi manusia kanibal ... sebentar lagi kau akan mati terpanggang!' gumamnya dalam hati.
bersambung.
next?