THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
BIG PLAN



Kiev menatap layar televisi. Sebuah penangkapan besar dari sirkus yang ternyata melakukan perdagangan hewan ilegal. Pemuda berusia dua puluh tahun itu mengepal tangannya.


"Dia masih hidup!"


Kiev tau siapa remaja yang tadi ponselnya hendak dirampas oleh petugas keamanan sirkus. Bahkan sempat masuk dalam sel.


"Lockhart masih hidup!" teriaknya lalu melempar asbak ke arah layar televisi.


"Aarrrghhh!" teriaknya marah.


"Son!"


Gerard terkejut mendengar teriakan putranya. Mereka ada di ruang kerja Gerard. Kiev membantunya dan baru saja mereka melakukan konversi pers memperkenalkan putranya untuk meneruskan kepemimpinannya.


"Nak, ada apa?" tanyanya gusar. Pria itu memeluk putranya.


Kiev berteriak di pelukan sang ayah. Ia tak menyangka, bukan hanya gagal membunuh sang junjungan yang terpilih, kedua orang tua dari Samuel Lockhart selamat.


"Mereka hidup dad ... mereka hidup!" isak pemuda itu.


"Siapa nak?"


"Lockhart masih hidup ... hiks!"


Gerard mematung, lima tahun sudah berlalu. Pria itu hanya menghentikan kasus pembantaian untuk melindungi putranya. Ia menjual tiga anak perusahaan dan juga pesawat jet pribadi miliknya. Ia juga harus mengerjakan menenangkan beberapa proyek untuk menutupi semua utangnya. Kasus lima tahun lalu nyaris membuatnya bangkrut.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang Kiev?" tanya Gerard.


"Aku akan memulai semua dari awal dad," ujarnya.


Gerard menggeleng. Ia sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk melindungi putranya itu.


"Nak, aku tak memiliki apa-apa lagi untuk melindungimu. Semua pejabat tak lagi bisa kulobi," pria itu mengingatkan putranya.


"Serahkan semuanya padaku dad, aku pasti bisa melakukannya," ujar Kiev menenangkan.


Gerard sangat takut jika ramalan sang penguasa rimba terjadi. Ia tak mau kehilangan putra satu-satunya itu.


"Kembangkan saja perusahaan ini sayang. Daddy tak akan sanggup kehilangan dirimu, please!" pintanya memohon.


Kiev menatap ayahnya. Ada harapan besar di sana. Perusahaan ini adalah penyambung hidup mereka. Ada banyak manusia yang bergantung hidup di sini. Kiev harus melakukan terobosan agar perusahaan ini tak benar-benar mati.


"Tolong jangan lagi kau berurusan dengan serigala-serigala itu," Kiev mengangguk.


"Berjanjilah atas nama ibumu!" tekan Gerard meminta putranya bersumpah.


"Aku bersumpah demi mommyku dad!" tekan Kiev.


Gerard tersenyum. Ia memeluk putranya. Kiev menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Maaf dad," gumamnya dalam hati.


Sedang di hutan Sam mendatangi kumpulan simpanse, matanya merah dan tubuh yang bergetar. Seekor simpanse besar mendatanginya, ia hendak marah tetapi Zeus membela Sam.


"Maafkan aku Zorrof ... maafkan aku," Sam menunduk.


Zorrof adalah ayah dari Lelilo, sedang ibunya tewas di tangan pemburu karena hendak menyelamatkan putranya.


"Uuuuk ... aaaak!" simpanse mulai saling berteriak.


Zorrof memberi tinju kecil di bahu Sam. Lalu pergi meninggalkan remaja itu dan juga Zeus. Air mata Sam tak kunjung berhenti.


Zeus mendekatkan wajahnya pada Sam.


"My Lord!"


"Zeus ... maafkan aku ... maafkan aku,"


"Ayo, My Lord,"


Zeus menyurukkan kepalanya. Sam kini sudah berada di atas punggungnya.


"Zeus aku sudah berat!" teriak remaja itu.


"Tidak bagi ku My Lord!" sahut binatang besar itu.


Zeus mulai berlari. Sam kembali teringat ketika awal naik punggung Zeus. Remaja itu memeluk leher besar hewan itu. Zeus melompat tinggi. Sam melepas tangannya sebelah merasakan angin yang berhembus. Lalu ia kembali memeluk erat leher binatang berkaki empat itu dan merasakan kupu-kupu yang menggelitik perutnya ketika tubuh Zeus menukik ke bawah.


Napas berat dan terengah yang keluar dari mulut Zeus terdengar, degup jantungnya terdengar keras di telinga Sam.


Perlahan lari bintang itu mulai pelan. Sam menegakkan tubuhnya dan menikmati angin yang menerpa wajahnya. Sebuah tanah lapang yang dilapisi rumput hijau. Bunga-bunga kecil warna kuning dan putih menyebar seluas tanah. Zeus menghentikan larinya dan berjalan pelan. Sam turun dari punggungnya.


"Indah sekali Zeus!" puji Sam melihat pemandangan ini.


Remaja itu memfoto tempat itu. Menurutnya keindahan ini harus diungkap ke dunia luar. Keduanya turun bukit menuju aliran sungai kecil di ujung sana batas sungai patah ke bawah dan air akan jatuh di sana. Mereka berjalan menginjak bebatuan sedikit datar agar mereka tak terpeleset ke air dan membawa mereka ke dasar sungai di bawah sana.


"Wow ... wow!" Sam nyaris kurang keseimbangan.


"My Lord!" Zeus sudah ada di pinggir sungai di seberang sana.


"Tidak masalah Zeus!" teriak Sam.


Remaja itu akhirnya bisa sampai ke pinggir sungai dan menyusul Zeus. Perjalanan sampai di depan gua dengan menempuh waktu dua jam. Napas Sam terengah-engah. Ia langsung tidur di alas kasur yang empuk.


Zeus duduk di sisi remaja itu dan meletakkan kepalanya di perut Sam.


"Aku tidak pernah mendapat manusia yang begitu lembut selembut hatimu My Lord," ungkapnya jujur.


"Biasanya mereka sedih jika peliharaan mereka yang mati," lanjutnya. "Bukan kepada hewan liar seperti kami."


"Entah lah Zeus. Aku memang sedih melihat Lelilo harus di suntik mati. Hatiku seperti hancur melihat tangan kecilnya yang terkulai seperti itu," ujar Sam sambil memejamkan mata.


"Sebentar lagi musim dingin tiba My Lord. Apa masih ingin menyebar jebakan pada pemburu?"


"Tentu Zeus. Penangkapan kemarin pasti akan membuat sebagian warga marah dan berusaha untuk menghancurkan hutan. Mereka pasti akan berbondong-bondong datang dan melepas anjing-anjing mereka!" sahut Sam.


"Akan kubalas kematian Lelilo, Zeus ... aku bersumpah akan membalas kematian Lelilo dengan teriakan ketakutan mereka!" lanjutnya lalu membuka mata dan tersenyum penuh rencana.


Sementara itu Kiev mendekati hutan. Ia pernah masuk dari sana dan keluar juga dari sana. Ia membawa senjata laras panjang berisi peluru obat bius.


"Aku akan menangkapmu Zoor!" ujarnya menyeringai sadis.


Kiev membidik senjatanya. Pemuda itu bukanlah pemburu ulung. Bahkan berkali-kali ia tersandung bebatuan dan akar yang keluar dari tanah.


Srek! Srek! Srek! Dor! Kiev menembakan senapannya. Tak ada pergerakan. Ia pun menuju arah yang ia tembak. Selongsong peluru obat bius menancap di pepohonan.


"Ini masih terlalu jauh ke dalam. Aku akan kemalaman jika melanjutkan perjalanan," gumamnya.


"Daddy pasti marah jika aku masih ke sini dan membohonginya," lanjutnya..


Pemuda-pemuda itu akhirnya kembali ke jalan utama. Ia memang masih jauh. Beberapa pasang mata merah menatapnya dengan seringai dan taring. Mereka siap menerjang Kiev jika nekat masuk lagi ke dalam. Pemuda itu sudah pergi dengan mobilnya.


Semua serigala keluar dari persembunyiannya. Mereka memang di sana berjaga di barisan paling depan. Semua menatap binatang paling besar dan bulu paling hitam di antara mereka.


"Zoor, dia kembali?!"


"Kita awasi saja dia Leego ... kita awasi saja!" ujar Zoor dengan mata berkilat.


bersambung.


next?