
Waktu berlalu begitu cepat. Empat tahun sudah terlewat, Sam benar-benar memenuhi janjinya, memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat. Sang ayah percaya pada kemampuan putranya. Remaja berusia tujuh belas tahun itu mengumpulkan semua perusahaan yang menentang pembalakan liar dan menekan pemerintah untuk menjadikan hutan yang ada di wilayah Utara kota menjadi hutan lindung.
Sam juga memberikan alokasi dana besar bagi penangkaran hewan-hewan liar yang ditangkap manusia dan dikembalikan ke hutan. Pemuda itu juga masuk dunia mafia yang marak akan penjualan hewan-hewan liar yang akan dibunuh dan diambil kulitnya.
"Tuan Stefanus, putra anda sangat aktif dalam masalah hewan dan habitatnya, apa anda tak keberatan?" tanya para wartawan.
"Saya tak keberatan selama itu benar!" ujar Stefanus mendukung putranya.
Karena merasa sudah memiliki banyak dukungan untuk perlindungan hutan. Sam memutuskan kembali ke hutan dan melanjutkan misinya dari dalam.
"Apa kenapa harus pergi ke sana?!" tanya sang ibu gusar.
"Mam, selama lima tahun aku dibesarkan dan dirawat mereka. Memang sekarang hutan sudah dilindungi, tapi aku lihat pemerintah belum serius melindungi habitat yang pernah menjagaku!" jelas Sam panjang lebar.
"Tapi nak, itu kan berbahaya!" peringat Becky cemas.
"Ma, percayalah. Aku pasti kembali setelah tugasku selesai!" ujar Sam meyakinkan.
Becky tak bisa menolak keinginan putranya. Ia pun melepas sang putra pergi sendiri ke hutan. Bahkan Stefanus dilarang mengantarnya.
"Sam!" panggilnya.
"Dad," sahutnya.
Stefanus menatap putranya dengan pandangan bangga dan rasa percaya.
"Kembali lah dengan selamat. Jika kau kesulitan, aku akan mendukungmu penuh!" ucapnya memberikan kekuatan pada putranya itu.
Sam mengangguk. Ia akan memberikan yang terbaik dan akan mengembalikan habitat serigala pada zona mereka. Sam memilih menaiki sepeda motor untuk sampai pada sebuah tempat. Ia yakin jika Zeus menunggunya di sana dan akan menunjuk jalan bagi pemuda itu.
Sam memacu kuda besinya hingga puluhan kilometer. Ia mengambil jalur setapak hutan yang masih ia ingat jika ia pernah melewatinya. Hari sudah beranjak malam. Pemuda itu berhenti dan mendirikan tenda di bawah pohon besar dan rindang. Ia menyalakan api unggun dan memasak makanan kaleng. Tentu tubuhnya yang kini tinggi 180cm berat 85kg. Tubuhnya berotot dan kekar, Sam melatih tubuh di gym dan ketangkasannya di sasana bela diri. Usai makan, ia duduk sebentar melihat suasana hutan.
"Masih jauh untuk masuk lebih dalam lagi," gumamnya.
Remaja itu akhirnya masuk dan memilih tidur di dalam kantung tidurnya. Pagi menjelang, ia pun bangkit dan kembali menaiki motornya setelah membereskan tenda. Ia kembali memacu kuda besi, melewatinya sungai dangkal. Hingga tak mampu melewatinya lagi.
"Sepertinya aku harus berhenti di sini," gumamnya.
Sam memilih jalur lain agar tak diikuti siapa pun. Lagi pula letak dan jarak hutan dan huniannya sangat jauh. Jadi ia tak mungkin pergi ke bagian Utara hutan di mana pintu masuk utama tempat itu.
"Aaauuu!" lolongnya ketika naik ke atas bukit. Tak ada sahutan, bertanda tempat kawanan itu masih jauh.
Sam melangkahkan kaki. Tak terasa sudah tiga hari ia berjalan. Ia mulai lelah dan sepertinya tanda-tanda kumpulan serigala itu belum nampak.
"Apa aku salah masuk hutan ya?" tanyanya pelan.
"Sedikit lagi My Lord!"
Sebuah suara membuat Sam terkekeh. Ia memejamkan mata, mengira ini hanya halusinasi saja.
"Apa aku terlalu merindukanmu Zeus, hingga suaramu masuk telingaku?" sahut Sam.
"Tidak My Lord!" sahut Zeus.
Sam membuka matanya dan menatap lekat sosok hewan yang sudah empat tahun tak bertemu.
"Kau Zeus?"
"My Lord!" sahut binatang itu.
Sam langsung memeluknya erat. Kini tubuh remaja itu sama tingginya dengan ketua serigala itu jika duduk.
"Ah gua ku!" pekiknya senang.
Ia langsung masuk, tak ada yang berubah. Suasana hangat dan lembab. Sam begitu lelah dan langsung naik alas tidur tebal yang nyaman. Zeus menatap junjungannya lama. Binatang itu mengamati dari jauh pekerjaan tuannya.
"Kau membuktikannya My Lord, hanya tinggal sedikit lagi ..." gumamnya lirih.
Entah berapa lama Sam tertidur. Ia pun bangun dan merenggangkan semua ototnya. Tubuhnya terasa lengket.
Remaja itu keluar gua, hari sudah sedikit siang. Ia pun memutuskan untuk pergi ke sungai di mana biasa ia mandi. Kini ia tak lagi mandi telanjang. Ia sudah merasa malu ketimbang delapan tahun lalu ketika dirinya masih kecil.
Beberapa ekor binatang ikut masuk dan berenang. Sam membawa jala ikan tadi maka dengan mudah ia menangkap tiga ekor ikan untuk bekal makan malam.
"My Lord!" sapa Zeus.
"Zeus!" sahut Sam.
Ia itu pun mulai membuat perapian. Menyisik ikan membersihkannya lalu dibakar.
"Apa beritanya Zeus?" tanya Sam usai menghabiskan tiga ekor ikan.
"Semenjak kepergianmu, para pemburu makin banyak yang datang dan memindah perangkap," lapor Zeus.
Sam langsung tegak. Ia menatap binatang berkaki empat itu dengan pandangan heran.
"Bukankah Lelilo sudah aku ajari menjadi hantu hutan?" tanya Sam.
"Lelilo tertangkap karena kebanyakan bermain, My Lord," jawaban Zeus mengagetkan Sam.
"Lalu bagaimana keadaan Lelilo sekarang?" tanyanya cemas.
"Semenjak tertangkap hingga sekarang, simpanse itu tak pernah kelihatan," jawab Zeus.
"Sudah berapa lama?"
"Sebulan setelah My Lord pergi,"
Sam duduk lemas. Memikirkan nasib simpanse malang itu. Apa dia dijual pada kebun binatang atau sirkus. Sam akan mencari tahu sendiri nanti.
"Semenjak itu pula, pemburuan tetap terjadi selama awal musim semi. Hingga sampai makin masuk aliran sungai," jelas Zeus lagi.
"Berapa banyak hewan yang tertangkap Zeus?"
"Banyaknya babi hutan dan tiga rusa. Tadinya Lecra nyaris tertangkap salah satu jebakan. Tapi berhasil lari sebelum jebakan itu benar-benar mengurung dirinya," jelas Zeus lagi.
Sam mengangguk tanda mengerti. Pemuda itu bangkit dari duduknya di tanah. Ia pergi ke tempat di mana banyak tanda di sana. Jarak dari gua ke tempat itu sekitar dua kilometer. Sam memilih menaiki pohon dan mengayunkan tubuh melalui akar-akar yang menjuntai. Hingga sampai pada satu pohon besar. Di sana banyak tali jebakan. Dengan pisau yang ia bawa, pemuda itu memotong semua tali dan membuat perangkap tak bekerja.
Semua serigala mulai berdatangan. Kawanan Zeus kini makin banyak. Semua bergantung pada sosok yang kini membongkar semua perangkap. Sebelumnya ia pun akan memfoto semua tali dan alat perangkap untuk bukti dalam forum.
"Hutan ini paling banyak binatangnya, aku tak mau nasib hutan ini sama dengan nasib hutan yang lain," gumamnya.
Setelah memutus tali-tali penjerat. Kini Sam memakai kayu untuk mencari penjerat kaki atau kerangkeng. Hingga malam tiba, semua jebakan sudah diberantas oleh pemuda itu. Sam membawa semua perangkap ke gua. Ia akan melakukan sesuatu.
"Hantu hutan sudah kembali!" monolognya.
bersambung.
next?