
Aku senang dengan semua bahan makanan yang tertinggal. Tapi, tidak Zeus. Binatang itu mengingatkan diriku agar tak terlalu banyak makan dan membuatku malas berlatih. Seperti pagi ini hewan berbulu dan berkaki empat itu memaksaku berlatih kembali. Dengan rasa terpaksa, aku menuruti binatang itu.
"Kau menutup mulut gua dengan pintu, My Lord?"
"Ya, biar tak ada hewan masuk ke dalam. Di dalam ada banyak makanan," ujarku.
Zeus sangat mengerti jika aku perlu perjuangan membawa semua harta karun itu ke dalam gua.
"Ayo lari, My Lord!"
Aku pun berlari pelan. Sudah dua minggu tak berlatih, membuat tubuhku kembali sakit jika digerakkan. Aku mulai malas-malasan. Zeus sangat tidak menyukainya.
"Apa perlu kupanggil kera untuk mengambil semua makananmu, My Lord?" ancam Zeus.
Aku berdecak kesal. Akhirnya, mulai serius karena takut ancaman binatang itu jadi kenyataan. Kini Zeus mulai mengejarku dan menyalak keras. Para kumpulan serigala mulai muncul dan ikut mengejar. Aku terus mengerahkan kekuatan dan berlari menghindari kejaran. Kini aku mulai mudah melihat situasi alam. Aku mengambil akar yang menjuntai dan mulai tiba-tiba aku naiki dan mengayun dari akar satu ke akar yang lainnya.
"My Lord, berbalik arah ... kau terlalu jauh!" teriak Zeus.
Aku mulai sadar jika pohon-pohon yang ku naiki berubah. Aku mulai melihat sekeliling. Udara makin lembab dan cahaya matahari minim kudapat. Pohon-pohon besar menjulang dan sangat rimbun. Suara-suara hewan terdengar dari kejauhan.
"Gajah!" teriakku senang ketika mendengar lengkingannya.
"My Lord, kembali!' peringat Zeus.
"Kita nyaris masuk ke tengah hutan!"
"Baiklah!" teriakku.
Aku mengambil akar pohon yang menjuntai, lalu mengayunkan tubuhku dan berbalik arah menuju tempat Zeus. Aku mendaratkan tubuh dan kepalaku masih menoleh hutan paling dalam.
"My Lord ... belum waktunya kau ke sana," ujar Zeus.
Binatang itu menyurukkan kepalanya ke bawah, kini aku ada di atas punggungnya. Perlahan, binatang itu berjalan cepat, lalu berlari. Makin lama makin cepat, aku harus memeluk Zeus, selain takut terjatuh, hewan itu juga memperingatkanku.
"Pegangan yang erat, My Lord!"
Hewan itu mulai berlari dan lalu melompati dahan-dahan. Aku memeluk leher Zeus seperti biasanya.
Untuk kali ini aku melewati semua perjalanan pulang bersama Zeus. Entah berapa lama. Tiba-tiba Zeus berhenti dan membuatku sedikit kaget.
Ketika menegakkan tubuh, pemandangan lain kudapatkan.
"My Lord ... apa kau ingin lihat Zimba dan Goor?" tanya Zeus.
"Mau!" jawabku antusias sambil mengangguk kuat.
"Kita hanya bisa melihatnya dari jauh My Lord," ujarnya.
Bulu kudukku tiba-tiba meremang. Suasana cerah dan begitu banyak suara-suara hewan bersahutan mendadak sepi. Angin pun bertiup sepoi-sepoi.
"Lihat di atas tebing sana My Lord!" bisik Zeus.
Aku menatap atas tebing. suasana begitu teras khidmat dan sunyi.
Di atas sana, aku melihat satu ekor singa berukuran besar berjalan begitu gagahnya. Surainya lebat, aku tak begitu jelas melihatnya, tapi aku langsung terpaku ketika melihat betapa cantiknya hewan penguasa hutan itu.
Binatang bersurai itu duduk dan matanya seakan melihatku. Tiba-tiba Zimba mengaung begitu keras. Aku nyaris terjatuh dari punggung Zeus ketika mendengar auman sang raja rimba, Zimba.
Di belakang hewan berkaki empat itu berjalan hewan sama seperti yang di depan. Tubuhnya seperti kekar dan berotot. Hewan itu tak kalah gagahnya dengan binatang di depannya yang memimpin.
"Itu Goor!" ujar Zeus memberitahu..
Aku melihat kedua binatang itu begitu terpukau. Dua makhluk itu pun masuk delam hutan. Kami kembali berjalan kali ini, Zeus berlari sangat cepat, hingga aku kembali berpegangan erat pada leher besar binatang itu.
Entah berapa lama kami berlari. Ketika sampai gua hari sudah beranjak petang. Matahari sudah berada di ufuk barat dan sebentar lagi benar-benar menghilang dan menerangi belahan bumi lainnya. Aku turun dan pergi ke arah sungai. Membersihkan diri dan segera masuk ke gua karena matahari sudah benar-benar tenggelam.
"Zeus!"
Binatang itu masih setia menemaniku. Aku memeluk hewan itu.
"My Lord," sahut Zeus tenang.
Kini aku sudah. berbaring di alas tidur peninggalan Ben. Tubuhku cukup lelah hari ini hingga tak bernapsu untuk memakan sesuatu.
"Kau tak makan My Lord?" aku menggeleng.
Lalu perlahan mataku mulai berat dan langsung terlelap.
Pagi hari menjelang. Aku terbangun, ketika merasakan suhu ruangan lebih hangat dari sebelumnya.
"Bangunlah My Lord!"
Sebuah suara mengagetkan diriku. Kubuka mata Zeus ada di sini. Tubuhnya merenggang seakan melemaskan semua ototnya.
"Zeus, kau tidur di sini?"
Binatang itu tak menjawab dan langsung keluar dari gua. Aku pun merenggangkan ototku. Aku mengambil beberapa bahan makanan, perut sudah berbunyi bertanda lapar.
Aku keluar gua, membuat perapian dan mulai memasak. Beberapa bahan bumbu ku taman di samping gua. Ayam hutan sudah bertelur dan kini tengah mengerami telurnya.
"Ciap ... ciap ... ciap!" aku menoleh.
Delapan anak ayam berlarian bersama induknya. Aku terkejut melihatnya.
"Wah, semua telurmu sudah menetas Chiki!" seruku senang.
Chiki, unggas yang dibawa Zeus, sudah lama aku memeliharanya. Tak kusangka semua telurnya sudah menjadi anak ayam.
"Di mana Choko?" tanyaku.
Lalu terdengarlah suara kokok ayam jantan. Aku tertawa mendengarnya. Lalu kembali memasak.
Usai memakan masakanku sembari melihat ayam-ayam memakan serpihan dan bekas-bekas remahan. Perlahan aku bangkit dan menatap semua hasil kebun. Tersenyum puas setelah melihat putik-putik daun mulai tumbuh di sana.
"My Lord!"
"Baiklah Zues!" seruku menyahuti panggilan binatang itu.
Aku kembali berlatih. Kali ini tak ada lagi hewan-hewan yang tertangkap oleh jerat perangkap binatang kudengar.
"Rupanya pria itu benar-benar marah pada teman-temannya. Jadi dia menolak memasang perangkap di sana!" gumamku.
Aku kembali berlatih kali ini tempatnya di area manusia-manusia berkemah kemarin.
"Siapa tau ada barang lain tertinggal," gumamku mencari peruntungan.
Entah berapa lama aku berlatih menguatkan otot dan juga semua jari dan indera tubuhku. Aku mulai lelah, hari juga beranjak sore.
"Eh ... mereka lupa membuka satu tenda lagi?" tiba-tiba aku menemukan tenda yang masih berdiri. Kucoba masuk dengan membuka resleting tenda.
"Hahahaha!"
"My Lord!"
"Zeus ... ini harta Karun!" seruku bahagia dan masuk dalam tenda.
Di sana bersusun handuk, baju, sabun, odol, sikat gigi, shampo juga deterjen sabun cuci. Aku mengambil semua barang-barang itu di sana juga ada tas ransel yang tertinggal. Aku memasukkan semuanya. Kali ini tas itu lebih ringan karena isinya tak begitu banyak. Aku kembali mencari apa masih ada yang tertinggal.
"Ah, masih ada dua kotak susu coklat!" seruku girang.
Setelah mengambil semua barang aku meninggalkan tenda diikuti Zeus. Aku benar-benar tertawa puas.
"Aku akan wangi dan bajuku akan bersih kali ini!"
bersambung.
next?