THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
PREMIER FILM



Film dengan judul My Forest, menceritakan seorang anak yang dibuang ke hutan oleh kedua orang tuanya. Cerita yang menguras emosi itu menarik penonton dewasa, karena untuk pertama kalinya ada film kartun khusus dewasa. Film dengan durasi seratus dua puluh menit itu dan biaya mencapai ratusan juta dolar. Terbayar, perusahaan Lockhart naik daun dengan film penuh sarat akan pesan menjaga kelestarian hutan.


Beberapa pengamat mengatakan film ini sangat luar biasa. Aksi dan cerita yang sangat berbobot. Ada pertarungan senjata terjadi dan gelimangan darah dari hewan-hewan yang mati akibat pemburu liar. Hutan-hutan gundul hingga memaksa satwa menyerang pemukiman warga karena sarangnya dirusak oleh manusia.


Beberapa penonton keluar dengan air mata berderai bahkan ada yang mengumpat aksi kejam para pemburu, ada juga yang menanggapi biasa juga ada yang kecewa.


"Kukira film seperti apa," keluh salah satu penonton.


Namun munculnya film itu malah membuat antrian panjang di gerbang tiket yang ingin menonton. Semua antusias.


"Sam, kita balik modal bahkan kini sudah mendapat untung!" seru salah satu tim.


Sam bertepuk tangan dengan keberhasilan mereka. Tim bersorak. Hasil kerja keras mereka selama dua tahun ini terbayar dengan penayangan yang sangat memuaskan.


"Selamat Nak!" ujar Stefanus pada putranya bangga.


Kini filmnya masuk box office dengan peringat ke satu selama dua minggu berturut-turut. Bahkan theme song nya menembus tangga lagu nomor satu yang paling banyak di dengar di radio-radio.


Video klip di sebuah studio rekaman, penyanyi baru masih muda. Renata Hills memukau kancah musik dengan suara khas anak-anak begitu murni dan polos.


"Uang ini akan aku berikan sebagian untuk pemulihan hutan dan hewan-hewan yang ditangkar," ujarnya ketika diwawancara.


Kini semua menuntut pada pemerintah untuk mengubah kawasan seluruh hutan terutama wilayah barat dan utara, di mana masih banyak hewan liar hidup di sana.


Pemerintah hanya mengeluarkan status sementara hutan.


Sam sangat berang. Ia kembali ke hutan, di mana ia pernah dibesarkan.


"Zeus!" pekiknya.


Binatang itu datang dengan mata memerah. Sam sangat mengerti dengan apa yang akan dilaporkan oleh binatang berkaki empat itu.


"Apa pembalakan liar kembali terjadi Zeus?" tanyanya.


"Bukan My Lord," jawab hewan itu..


"Kini pemburu tak datang di siang hari tetapi malam hari dan tak kenal musim!' jelas Zeus.


Sam mengepal tangan erat. Ternyata perburuan masih terjadi dan kini malah di malam hari.


"Mereka tak lagi memakai perangkap My Lord. Tapi tembak langsung," lanjut binatang itu.


Sam langsung mengambil senjatanya. Rupanya hantu hutan harus kembali beraksi.


"Apa malam ini mereka kembali?"


"Ya My Lord!"


Sam lalu berjalan menuju selatan, di mana banyak tanda di sana. Rupanya foto-foto di mana tali-tali perangkap tak menggugah petinggi negara. Remaja itu memanjat pohon besar. Tubuhnya mengayun dari dahan ke dahan menggunakan akar pohon. Zorrof dan Roof ikut serta. Satu simpanse dan satu gorila membantu sang junjungan.


"My Lord!" sapa Zorrof.


"Berhati-hatilah lah Zorrof!" pinta Sam.


"Roof ... jangan dulu berge ..."


Dor! Tubuh Roof roboh dari atas pohon. Sam geram bukan main. Di bawah sana tiga pria berteriak senang karena berhasil menembak bintang besar.


Sam menarik katapel nya, lalu melesatkan satu jarum kecil ke arah salah satu pria di sana.


Plak! Pria itu menepuk lehernya. Tiga pria menoleh.


"Kenapa?"


"Nyamuk!" jawabnya.


Ketiga pria itu mendekati gorila yang roboh akibat tembakan mereka. Salah satu mengambil kayu dan menyodok tubuh hewan besar itu.


"Apa dia sudah mati?" tanya salah satunya.


"Aku tak tau!" bisik rekannya menjawab.


Pria yang ditembak jarum dengan dilumuri obat bius mulai bereaksi, tubuhnya oleng.


"Hei kau ... kenapa?" tanya salah satu.


Sam kembali melontarkan jarum yang dilumuri obat bius dosis tinggi.


"Hei ... kenapa banyak nyamuk begini?" ujar salah satu dari mereka memukul kepalanya.


Pria yang pertama dilempar jarum bius langsung roboh tak sadarkan diri. Semua panik. Dua rekannya langsung membopong tubuh rekannya itu dan menaiki mobil mereka.


Sam langsung turun dan memeriksa Roof. Gorila itu bangkit dan terdapat luka tembak di kakinya. Sam meringis melihatnya.


"Ayo kita ke klinik dekat selatan. Kita gunakan motorku!" ajak Sam.


Remaja itu mengambil motornya dan langsung membawa Roof di boncengannya.


Di bagian utara banyak penangkaran hewan. Di sana ada klinik untuk pemulihan hewan. Sam menggedor pintunya.


"Ada apa?"


"Tolong, gorila ini tertembak oleh pemburu!" ujarnya.


Roof langsung ditangani. Hewan yang mestinya buas itu sangat tenang dan mau diajak kerjasama.


"Lukanya cukup parah dan nyaris membuat tulang kakinya retak. Binatang ini harus dirawat!" jelas dokter hewan.


"Namanya Roof!" sahut Sam.


"Apa?"


"Namanya Roof!" ulang Sam.


"Ah, Roof. Tahukah kamu jika dia betina?" Sam mengangguk tanda mengetahui.


"Roof juga tengah hamil," sahutnya.


"Kau aktivis hewan itu kah?" tanya sang dokter dengan tatapannya takjub.


"Bukan, saya hanya anggotanya," jawab Sam berbohong.


"Berapa biayanya?" tanya Sam lagi.


"Ini gratis, nak!" sahut Dokter hewan itu dengan senyum lebar.


Sam membelai lengan gorila itu. Roof mengangguk, menandakan ia baik-baik saja.


"Baik lah Roof, aku pergi. Jaga dirimu," ujar Sam pamit.


Remaja itu menaiki motornya kembali menyusuri hutan yang sepi. Ia tak perlu takut akan hewan-hewan buas. Nyaris seluruh hewan sudah mengenalinya.


Sam sampai pada gua tempat ia tinggal. Di sana ada Zorrof dan Zeus yang menunggu.


"Roof baik-baik saja," jelas Sam seakan tau apa yang ingin ditanyakan oleh dua hewan itu.


Keduanya kini pergi meninggalkan remaja itu. Sam merebahkan diri di alas tidur yang hangat. Masalah film ia serahkan pada ayahnya. Sam tak menyukai dirinya diumbar ke publik. Perlahan ia menutup mata.


Di tempat lain, beberapa petugas polisi menangani satu kecelakaan tunggal yang ditumpangi tiga orang laki-laki. Polisi menemukan beberapa bangkai hewan liar dalam bagasinya. Sebagian sudah membusuk.


"Sepertinya mereka memakai mariyuana atau semacamnya!' ujar polisi ketika memeriksa ketiganya.


Mereka tidak tewas tapi kritis. Mengira mengkonsumsi obat terlarang.


"Komandan, kami menemukan satu linting ganja!" lapor salah satu perwira ketika menyisiri isi mobil.


"Bawa ke lab. Periksa korban dan bawa juga semua bangkai hewan malang ini!" titah komandan.


Melihat usia tiga pria yang masih sangat muda membuat pria itu menghela napas kecewa.


"Begini jadinya anak-anak tanpa pengarahan orang tua!" gumamnya.


Tiga pria dibawa ke rumah sakit dan langsung ditangani. Beberapa bukti langsung disita termasuk senjata yang dipakai untuk memburu para hewan.


Pemunculan primier film My Forest menjadi viral. Mereka mencari penulis skenario dan juga sutradara film tersebut. Film animasi itu masuk nominasi film terbaik dan penulis cerita asli terbaik.


"Tuan Stefanus Lockhart, tentu anda tau kan siapa penulis dan sutradara film yang ada produseri?" tanya para wartawan.


"Apa benar dia adalah putra anda?" tanya salah satu wartawan.


"Benar ... dia putra saya Samuel Patrick Lockhart!"


bersambung.


next?