
Edward menatap lekat pria yang masih duduk dengan tenang, ia hanya sedikit terkejut, lalu perlahan mendekati benda yang ditaruh oleh polisi itu di atas meja.
"Liontin putraku?"
Sesungguhnya detak jantung Gerard menggila. namun sebisa mungkin ia menenangkan diri, dan ia berhasil.
"Kenapa liontin ini bisa ada di kantung pria itu. Benda ini hilang beberapa minggu lalu," ujar pria itu tenang.
'Sial, berarti benda itu benar dicuri pria yang membantai keluarga Lockhart!' gumam Edward dalam hati.
"Apa kau hanya ingin mengembalikan liontin ini?" tanya Gerard ingin tahu.
"Ya, saya hanya ingin mengembalikan benda itu. Saya pikir itu sangat berharga," ujar Edward akhirnya.
Gerard mengangguk. Edward sudah salah tingkah ia benar-benar buntu dengan semuanya. Ia pun berdiri dan pergi meninggalkan ruangan mewah itu.
Sepeninggal Edward. Gerard menggenggam erat liontin milik putranya. Ia mengambil ponsel dan menekan satu nomor penting.
"Awasi Snowden!" titahnya.
"Baik tuan!" sahut suara di seberang telepon.
Pria itu menutup sambungan teleponnya. Gerard memejamkan mata. Ia masih belum bisa bernapas lega. Kasus ini sudah banyak menyita perhatian publik. Jika saja Edward membuka suara tentang penemuan liontin milik keluarganya. Pasti ia akan banyak disorot dan bukti akan cepat ditemukan.
"Aku harus bergerak cepat!" monolognya.
Sedang Snowden memukul setir mobilnya dengan kesal. Ia langsung patah ketika tak melihat reaksi Gerard yang hanya sedikit terkejut melihat benda kecil itu.
"Ia mengatakan jika pun aku tak mengembalikan benda itu, dia tak masalah sama sekali!" dumalnya.
"Aku harus pergi ke mansion Lockhart!" ujarnya lalu menekan pedal gas dan meluncur ke ara Utara.
Sesampainya di mansion mewah itu. Garis polisi masih membentang di seluruh bangunan itu. Pria itu berjalan menuruti instingnya sebagai seorang detektif. Begitu bersih dan rapi, tak ada jejak. Para penjahat menggunakan tapak kaki palsu hingga tak bisa mengira berapa besar ukuran pria yang masuk.
"Semua penjaga Lockhart adalah pria-pria terpilih dan terlatih. Tidak mungkin mereka mati sia-sia kecuali memang ada pengkhianat di sini!" gumamnya.
Pria itu terus mencari-cari hingga ke bangunan belakang rumah yang sepi. Semua mayat maid yang bergelimpangan telah diangkut dan juga dikebumikan. Pria itu menggeleng tak percaya jika ini semua adalah perbuatan binatang buas.
Setelah sekian lama mencari akhirnya. Snowden menemukan baju badut dengan karakter hewan di semak-semak depan mansion. Pria itu juga mendapat noda darah yang ada di sana. Pria itu langsung menyimpannya sebagai barang bukti. Lalu tak jauh dari sana, ia menemukan sepatu anak lelaki sekitaran usia tiga belas tahun.
"Ini memang punya anak lelaki atau memang pria itu bertubuh kecil?" gumamnya bertanya sendiri.
"Melihat dari design sepatu dan juga branded. Sepertinya ini terbuat dari kulit lembu dan di jahit tangan khusus. Sepatu mahal dan hanya ada delapan pasang di dunia!"
Snowden mengambil sepatu itu juga sebagai barang bukti. Setelah sekian lama mencari, pria itu menyudahi kegiatannya. Ia kembali ke lab untuk memeriksa semua barang bukti yang ia bawa.
Di sana para wartawan masih menunggu.
"Tuan, apa yang anda bawa. Apa itu bukti baru?" tanya salah satu di antara mereka.
"Ya ini adalah bukti baru," jawabnya.
"Lalu bagaimana perkembangan kasus ini, sudah sampai mana?" tanya wartawan lagi.
"Belum ada perkembangan. Kasus ini sangat rumit dan perlu kehati-hatian agar tak salah!" jawabnya lalu bergegas masuk padahal wartawan masih ingin menanyainya.
Barang bawaan Edward langsung diperiksa. Hanya butuh beberapa menit saja, hasilnya keluar.
"Darah yang ada di pakaian berupa hewan itu sama dengan milik mayat yang kemarin ditemukan. Sedang sepatu itu tidak menunjukkan apa-apa," lapor salah satu petugas.
"Lalu apa bisa tau siapa pemiliknya?" petugas itu menggeleng.
"Sepatu ini sudah pernah di perbaiki, berarti telah dibuang oleh pemiliknya dan diambil oleh orang lain," jelas petugas itu.
"Dari mana kau tau?" tanya Edward.
"Ini, benang jahit yang digunakan berbeda dengan benang jahit aslinya," jawab petugas itu. "Memang terlihat mirip tapi kualitas dan kerapihannya berbeda."
Edward langsung lemas. Semua buntu, ia tak menemukan apapun. Tapi, ia begitu penasaran dengan kumpulan serigala yang ada di pinggir hutan.
"Ada yang tersembunyi di balik ini semua," ujarnya.
Sedang di perusahaan Gerard, Anamaria datang sendirian. Ia meninggalkan putranya di Milan bersama para maid.
"Sayang!' panggil wanita itu.
Gerard yang tengah berdiri menghadap kaca langsung berbalik. Ia memeluk wanita yang sangat ia cintai.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya sang wanita mengusap wajah tampan yang begitu stress dan lelah.
"Ayo kita duduk," ajaknya kemudian.
Mereka duduk di sofa. Anamaria memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Sayang, apa putra kita baik-baik saja?" tanya Gerard sambil membelai wajah istrinya.
Sesekali bibir mereka saling mengecup satu sama lain.
"Dia baik-baik saja, sayang. Kini dirinya sedang sibuk dengan proyek yang ia ciptakan sendiri. Dia sangat hebat seperti dirimu sayang," ujar wanita itu.
"Dia pasti lebih hebat dari aku, sayang," ucap Gerard bangga.
Keduanya saling berciuman. Lambat laun, Gerard memperdalam ciumannya. Anamaria membalasnya dengan panas.
Lalu keduanya melepas ciumannya ketika kehabisan pasokan oksigen.
"Aku mencintaimu Anamaria!"
"Aku juga Gerard," sahut wanita itu dengan napas satu-satu.
Sementara di tempat lain. Edward menatap gusar hutan yang begitu sunyi. Hanya ada suara burung-burung bernyanyi dan melompat dari dahan yang satu ke dahan lainnya.
Ia menatap air yang mengalir di sana. Bersih dan jernih. Pria itu nekat datang di siang hari yang panas, agar pencariannya sempurna. Menyusuri sungai dangkal dan menyibak air memungut sesuatu yang tampak berkilau, begitu ia angkat hanya yang logam senilai dua puluh lima sen. Ia berdecak.
Kakinya menendang hingga air muncrat kemana-mana. Ia berteriak kesal.
"Aarrghh!"
Edward duduk di pinggir sungai dengan memijat kepala. Pikirannya buntu. Semua bukti yang ia dapat tak bisa membantunya untuk menaikkan kasus. Hingga ketika ia menoleh ke sebuah arah. Pria itu melihat ada sesuatu yang ganjal. Ia pun berdiri dan berjalan mendekati.
"Jas seragam sekolah elit?" keningnya berkerut.
Pria itu terus mencari bukti lain dari jas yang baru ia temukan itu. Ada sedikit noda darah.
"Ini punya siapa?" gumamnya.
"Mata uang dolar?" keningnya tambah berkerut dengan sulaman benang emas dengan simbol mata uang dolar.
"Akan kubawa ke lab!" pria itu lalu melayangkan pandangannya ke arah lain.
"Ah ... sepatu sebelahnya?" ia berlari dan mengambil sepatu itu.
"Sepatu yang sama!" pekiknya senang.
Pria itu kembali mencari, tetapi hasilnya nihil.
"Ini sudah cukup. Aku akan tau siapa pemilik dari jas sekolah ini!" gumamnya lalu pria itu pun pergi meninggalkan hutan.
bersambung.
wah...
next?
Bersambung.
weh ...
next?