THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
FLASHBACK 7



Wali itu terdiam begitu juga Edna. Edward, menutup laptopnya dan memajang foto jas yang tergeletak di sebuah rawa di tengah. hutan. Para walau murid ribut mempertanyakan kredibilitas sekolah. Mereka menolak keras dengan adanya kegiatan yang tak sesuai list dan membahayakan ahli waris mereka.


"Kami tidak mau kejadian ini terulang, maka kami memutuskan untuk mendemo penutupan sekolah ini!" seru salah satu memprovokasi yang lain.


"Benar itu. Bagaimana jika itu terjadi dengan salah satu putra kita!" seru salah satu perempuan yang memakai dress mahal.


Semua menuntut pertanggungjawaban. Bahkan mereka menentang kebenaran wali dari pihak Kiev.


"Silahkan putranya sekolah sendiri!" teriak salah satu wali tak terima.


Edna tak mampu menangani keributan yang terjadi. Semua orang tau ingin memindahkan putra dan putri mereka dari sekolah elite itu.


"Kami ingin keselamatan putra dan putri kami!" ujar beberapa wali murid kompak.


Sedang Edward menyetir mobilnya dengan santai. Pria itu tersenyum melihat kegugupan Edna ketika menghadapi para wali murid yang mengamuk.


"Kau memang menggodaku, kemarin Edna. Tapi, jika mengira memasuki dirimu semua beres!" ujar Edward penuh rencana.


"Kau juga player, kita akan bercinta lagi lebih seru dan saat itu kau yang akan memohon memenuhimu," ujarnya.


Pria itu memilih pulang ke rumah kekasihnya. Pria itu sangat merindukan Rheina. Butuh waktu satu jam ia baru sampai.


Rheina langsung memeluk dan menempatkan dirinya ala koala. Keduanya melakukan ciuman panas. Mereka bercinta di sofa, meja makan dan terakhir di ranjang.


"Aaahhh!" lenguh keduanya ketika mendapat pelepasan mereka bersamaan.


Edward ambruk di sisi sang kekasih. Ia memeluk tubuh Rheina dengan napas menderu.


Keduanya pun tertidur tanpa busana dan tak melepas penyatuan mereka.


Edward merasakan pergerakan di sisinya. Rheina melepas penyatuannya. Ada lenguhan manja keluar dari mulut wanita itu ketika melepas benda yang menyatu di bawah sana. Ia menggigit bibirnya.


"Kenapa dilepas sayang?" tanya Edward menarik tubuh kekasihnya dalam pelukan.


"Matahari sudah tinggi sayang. Aku juga sedikit lapar," jawab wanita itu manja.


Bunyi perut membuat keduanya terkekeh. Akhirnya Edward membiarkan kekasihnya.


"Sayang ... bangunlah, kita sarapan!" teriak wanita itu di dapur.


Dengan malas, Edward bangkit dan memakai jubah di tubuhnya yang telanjang. Ia mendekati sang kekasih yang berkutat di dapur.


Rheina memakai lingerie yang sudah tak ada bentuknya lagi. Hal itu membuatnya bertambah seksi.


Edward memukul bokong wanitanya dengan gemas. Rheina terpekik.


"Sayang!" tegurnya manja.


"Makan sarapanmu," titah sang wanita.


Edward meminum susunya dan memakan omlet buatan sang kekasih.


"Enak sayang," pujinya.


Rheina duduk dipangkuan Edward dan mengecupnya. Ia memberikan satu benda pipih dengan dua garis.


"Apa ini?" tanya pria itu.


Rheina memberikan benda itu. Edward menatapnya dan memandang kekasihnya bergantian.


"Kau ... hamil?" Rheina mengangguk dengan senyum lebar.


Edward sedikit terdiam. Hal ini tak disukai wanita itu. Ia pun bangkit dari pangkuan sang kekasih.


"Kau tak suka?" tanyanya sedih.


"Bukan begitu ... hei ...!" Edward memeluk Rheina dari belakang.


Ia mengecup tengkuk sang kekasih dengan meninggalkan jejak cintanya di sana.


"Aku belum bisa menikahimu dalam waktu dekat sayang," ujarnya meminta pengertian.


"Aku hanya mengatakan jika ada anak di dalam sini sayang, dan ini anakmu," ujarnya membalik tubuh dan mengalungkan lengannya di leher sang kekasih.


Wajah keduanya saling menempel satu dan lainnya. Edward menggendong Rheina ala koala dan langsung memasukinya tanpa pemanasan.


Hal itu membuat sang kekasih melenguh dan membuka mulutnya dengan seksi.


Sementara di tempat lain. Gerard menggebrak meja dengan kencang sekali. Keributan di sekolah membuatnya geram dan harus turun tangan.


Akhirnya para wali murid memegang janji pria paling kaya di antara mereka. Gerard adalah pendonor nomor satu di sekolah itu.


"Kau lupa siapa Edward Snowden, Nona Lewis," ujar pria itu lalu duduk dengan lemah di sofa.


Edna menatap pria yang ia sangat cintai dari dulu. Ia juga tak keberatan jika Gerard hanya memuaskan nafsu padanya.


Edna mendekatinya, ia membelai paha besar pria itu. Mengecup dada sang pria yang masih terbungkus kemeja.


Perlakuan Edna membuat Gerard berdesis. Secara perlahan wanita itu melepas satu persatu kancing kemeja pria itu. Gerard menahannya.


"Tuan," pinta Edna lirih dengan mata diselimuti gairah.


"Aku tak suka dengan bekas orang lain!" tekan pria itu menghina.


Gerard berdiri, ia membuka pintu ruangannya lebar-lebar. Satu titik bening menetes dari pelupuk mata wanita itu. Ia mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu dengan menahan tangisnya.


Sampai di mobil, Edna menangis keras. Ia tersedu di kendali mobil dengan menakup dua tangannya.


"Kau jahat Gerard ... sangat jahat!" cicitnya lirih.


Wanita itu menjalankan mobilnya. Sedang di ruangannya Gerard menatap kaca besarnya dan memandang mobil yang bergerak meninggalkan perusahaannya.


"Selamat tinggal Edna. Terima kasih dengan kenikmatan yang kau berikan selama ini," ujarnya lirih.


Gerard mengambil ponselnya.


"Datang ke mari dan bawa berkas milik Steward Highs dan Jonan White!" titahnya.


"Jika aku tak mampu membungkam Edward Snowden dengan Edna. Maka aku membungkam atasannya dengan skandal yang ada di tanganku," ujarnya dengan seringai licik.


Tak lama terdengar ketukan pintu. Gerard meminta mereka masuk.


Delapan pria berpakaian hitam membungkuk hormat. Salah satunya menyerahkan dua file berisi foto-foto.


"Kita pergi!" titah pria itu.


Gerard melangkah dengan tegap dan sangat arogan. Pria itu akan menyelesaikan sendiri masalah ini.


"Demi putraku. Tak ada satu pun yang bisa menyentuhnya!"


"Kita harus lekukan cepat sebelum Lockhart sadar akan semuanya!' titah pria itu dan duduk di mobilnya yang mewah.


Kendaraan itu pun bergerak meninggalkan halaman parkir.


Hanya butuh dua puluh menit. Gerard sudah berada di sebuah rumah cukup besar milik kepala polisi. bagian Utara.


Stewart terkejut melihat kedatangan Gerard ke rumahnya. Beberapa pria langsung menariknya ke dalam. Gerard duduk di hadapan Steward yang hanya memakai singlet.


Ia memberi kode. Para bodyguard melempar file berisi foto-foto mesum Stewart.


"Hentikan kasus yang tengah di tangani Edward Snowden atau semua foto itu tersebar di seluruh surat kabar!" ancam pria itu.


Gerard berdiri. Ia kembali memberi kode pada salah satu bodyguardnya.


Pria itu melempar tiga gepok uang dengan nilai perlembar seratus dolar.


"Minta anak buah mu menghancurkan bukti yang didapat oleh Snowden!" titahnya.


"Tapi bagaimana dengan Jonan?!" seru Stewart mengingatkan.


"Jangan khawatir. Biar aku urus!" ujar pria itu.


Gerard pergi dengan santai. Stewart langsung mengambil uang pemberian Gerard. Ia bisa mengambil sebagian dan memberikan pada wanita simpanannya.


Sedang Gerard mulai mendatangi Jonan dan langsung memberikan perintah pada pria itu dengan bayaran mahal.


"Pindahkan Snowden kemanapun!" titahnya.


"Jika aku menolak?" sahut Jonan berani.


"Maka film porno putrimu akan kusebar ke semua media televisi," ancam pria itu.


Lima tumpukan uang berada di meja berikut kopian film porno yang dibintangi oleh putri tunggal kepala komisaris seluruh kepolisian. Jonan tak bisa berkutik. Itu bukan film porno tetapi memang video dengan durasi dua puluh menit yang menampilkan putrinya berlaku ganban (bercinta dengan banyak pria secara kasar).


bersambung.


uang berkuasa ... apa pun bisa.


next?