
Sam usai menelepon ayahnya. Ia baru saja mendengar jawaban ayahnya, ia sedikit ragu jika tim dari sirkus ini mau menjual semua hewan yang memberi mereka uang. Ia pun beralih dari Lelilo yang menatapnya sedih.
"Aku berkeliling dulu ya," ujarnya sebelum meninggalkan simpanse itu.
Sam tertarik dengan sang penguasa hutan yang sepertinya tertunduk malu. Hewan itu memalingkan muka ketika remaja itu mendekatinya..
"Kau sang penguasa, kenapa kau bisa di sini?" tanya Sam lirih.
"Apa mereka menangkapmu dari kecil?"
Ggraauuum! Singa itu mengaum kuat pada Sam. Remaja itu sedih bukan main, si penguasa seperti kehilangan gigi di dalam kandang besi itu.
Sam beralih ke kandang yang lain. Para macan dan harimau masih sangat menakutkan ketimbang sang raja rimba. Mereka akan mengaum dan segera mengeluarkan cakarnya jika ada yang mendekat.
"Kalian adalah panglima di hutan," ucapnya lagi pada dua hewan yang hilir mudik di kandang.
Sam pun kembali berjalan hingga menemukan satu keledai yang nyaris tewas akibat dipecut secara brutal oleh pelatihnya.
"Hei kenapa kau menyiksanya!' teriakan Sam menjadi pusat perhatian.
Semua melihat bagaimana keledai itu seperti merintih dengan banyak luka. Semua pun mulai mengecam. Sam berpikir cepat.
"Satu-satunya cara mengambil semua hewan ini adalah memanggil semua pecinta hewan!' gumamnya dalam hati.
Sam melakukan live streaming. Remaja itu langsung melaporkan kejadian di lokasi. Bahkan ia melihat betapa kurus dan tak terawatnya hewan-hewan. Sam mengundang aktivis pecinta hewan ikut bergerak dan langsung memberikan kecaman agar sirkus dibubarkan dan hewan-hewan diselamatkan.
"Hentikan dia!" salah satu pria berperawakan besar tinggi menunjuk pada Sam.
"Guys ... aku mau ditangkap cepat ambil tindakan!" sahut Sam sebelum perebutan ponsel terjadi.
Semua pengunjung membela Sam. Mereka memukuli para penjaga yang hendak merebut dan merusak ponsel remaja itu.
Hingga tak lama polisi datang. Mereka menarik Sam dan memenjarakannya atas dasar perbuatan tak menyenangkan dan juga membuat keributan. Juga pengambilan gambar tanpa ijin.
Sam masuk dalam dinginnya sel. Ketika dia ditangkap ia melihat pergerakan para hewan di kandang mereka.
Tak lama berita keributan tersebut langsung menyebar seluruh pelosok. Para pengunjung membela Sam yang hendak melaporkan jika adanya kegiatan penyiksaan hewan. Beberapa wartawan datang meliput kota kecil yang berpenduduk lima ratus ribu jiwa itu. Kota kecil yang jauh dari peradaban kota besar sesungguhnya. Sebagian penduduk asli yang berprofesi sebagai petani gandum dan pekerja buruh di kota. Terungkap jika pemburu terbesar ada di kota ini. Kepala polisi seluruh daerah mendatangi tempat bersama Stefanus Lockhart.
Kekayaan dan kekuasaan memang sangat berpengaruh. Terbukti dengan ikutnya Tuan besar Lockhart memimpin dan menyegel sirkus menjadi buah bibir masyarakat.
Ada pro dan kontra di sana. Para pekerja sirkus langsung kehilangan pekerjaan, para badut, orang-orang penyandang disabilitas, mereka kehilangan pendapatan akibat ditutupnya sirkus tersebut. Banyak protes dari warga sekitar.
"Kami tak memiliki hiburan, kedatangan sirkus membuat kami senang!' teriak mereka.
"Sirkus tetap berjalan menampilkan aktraksi!" terang kepala polisi.
"Tapi tanpa hewan dan orang-orang yang mestinya diberi keterampilan fisik!" lanjutnya.
"Mereka cacat, lebih baik mereka beratraksi dari pada mengemis!" teriak salah satu warga.
"Dengan memperundung mereka apa itu disebut atraksi?!" sentak kepala polisi membuat semua bungkam.
"Seperti tuan ini. Tuan ini menderita kifosis, tapi dia harus masuk ke meriam dan dilempar jauh!"
"Tapi keamanannya terjamin!"
"Siapa yang menjamin?!" teriak kepala polisi itu berang.
"Hanya helm seadanya dan matras sepuluh lapis?!" tanyanya gusar.
Semua diam.
"Apa kalian tau betapa pria ini menderita sesak karena penyakitnya?" semua menunduk.
Pria dengan tulang punggung yang terlalu membengkok ke depan itu hanya diam.
"50 dolar per tiga kali show selama perjalanan karnaval. Jika di total selama satu bulan saya dibayar sekitar 500 dolar," jawab Lou.
"Itu besar!" teriak para warga.
"Dengan taruhan nyawa. Seribu dolar pun tak sebanding dengan apa yang dia kerjakan!"
"Aku juga mau jika dibayar sebesar itu!' teriak pria itu.
"Kalau begitu mulai besok anda menggantikannya!" sentak Stefanus.
Pria itu langsung terdiam. Sam berdiri di sisi ayahnya. Ia berbisik ingin mengambil hewan untuk diserahkan pada penangkaran setempat. Pria itu mengangguk. Sam pergi ke tempat sirkus itu. Di sana para aktifis pecinta hewan datang dan mengambil hewan-hewan malang itu. Pemilik sirkus ditangkap, ternyata pria itu juga terlibat dengan jual beli hewan liar dan ditemukan bukti kulit binatang asli di kantornya. Beberapa orang kate atau bertubuh kerdil juga dibekuk. Sebagian tertangkap jika mereka ikut mencuri barang-barang milik penonton.
Para dokter hewan memeriksa. Semua mengatakan jika binatang-binatang itu kurang gizi dan memiliki beberapa penyakit. Singa yang ditemui Sam tadi memiliki kudis di bulunya dan juga jamur. Hewan yang mestinya jadi penguasa hutan itu ternyata diberi obat agar jinak juga memiliki penyakit lambung kronis.
"Dari semua hewan yang ada nyaris tak ada satupun yang sehat kecuali satu anjing pemilik dari sirkus ini," jelas dokter hewan itu.
"Bahkan beberapa yang sakit dengan terpaksa kami menyuntik mati!" lanjutnya penuh sesal.
Banyak wartawan meliput. Semua hewan yang bisa disembuhkan akan ditangkar di sebuah penangkaran dekat hutan bagian barat. Kebanyakan penangkaran memang ada di sebelah sana.
"Uuuu .. aaaak ..!" teriak para simpanse.
Sam langsung mengingat tujuannya datang.
"Lelilo?!" panggilnya.
Seekor simpanse berteriak, binatang itu masih dikandang. Sam hendak memeluknya tapi langsung dicegah oleh dokter hewan.
"Jangan, hewan itu rabies!' peringatnya. "Dia juga memiliki virus herpes!"
"Kami juga harus terpaksa menyuntik mati dirinya," lanjut dokter itu lirih dengan nada penyesalan yang dalam.
Sam menangis mendengarnya. Ia tersedu pilu hingga membuat semua orang menitikkan air mata mendengar tangisannya. Lelilo menjulurkan tangannya dan mengacungkan telunjuknya. Sam melakukan hal sama. Telunjuk keduanya saling bersentuhan.
"I'm so sorry Lelilo hiks ... hiks ... i'm so sorry ... huuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"
Stefanus ada di sana melihat betapa sedih putranya melihat salah satu binatang tak akan selamat hidupnya. Pria itu terenyuh, selama ini ia hanya setengah hati mendukung putranya untuk melindungi hewan-hewan. Menurutnya binatang itu tak ada gunanya. Tapi melihat bagaimana Sam memperjuangkan kehidupan para binatang membuat ia sadar untuk mendukung penuh putranya.
"Son!' panggilnya lirih.
Sam langsung memeluk ayahnya. Remaja berusia tujuh belas tahun itu menangis pilu di dada sang ayah. Stefanus membelai punggung sang putra.
"Aku ikut andil membunuh Lelilo dad ... huuuu ... andai aku tak melatihnya menjadi hantu hutan ... hiks ... hiks!" Sam menyalahkan dirinya.
Lelilo dipisahkan oleh kawanan simpanse yang lain. Beberapa hewan harus ditembak mati karena memang penyakitnya terlalu berbahaya bagi manusia dan juga akan menular pada hewan lainnya.
Si singa pun juga harus mati dengan suntikan karena ternyata ada cacing pita dalam ususnya. Terlebih jamur kulit yang ternyata sudah merusak pendengaran si raja rimba itu dan akan menyiksa hidupnya.
Sam menatap mayat Lelilo yang ditutup kain putih. Tangan kecil simpanse itu terkulai lemah. Binatang itu telah pergi selamanya.
"I'm sorry Zeus ... aku tak bisa menyelamatkan Lelilo,"
bersambung.
ðŸ˜ðŸ˜
next?