
Dua hari Edward tidak melakukan apa-apa. Kasusnya menggantung di udara. Kepolisian mulai bertanya kasus pembantaian maid dari keluarga Lockhart sudah sampai mana.
Edward tiba-tiba berdiri dan membawa jas milik salah satu siswa murid si sekolah elite itu. Pria itu juga membawa laptop dan disk.
"Berikan semua data murid sekolah elite kemarin!" titahnya.
Petugas memberikan satu bundel berkas pada pria bermata coklat terang itu. Edward segera ke mobilnya. Para wartawan tak bisa menanyainya. Hanya butuh tiga puluh menit ia sampai di sekolah itu lagi-lagi pengancaman pada penjaga sekolah.
Sesuai yang ia tau hari ini adalah hari berkumpulnya para wali murid orang-orang kaya itu. Semua mobil mewah berderet hanya dia saja yang mobilnya sederhana, mobil buatan dari Jepang.
Para orang tua mengernyit melihat kedatangan polisi di sekolah itu. Hal tersebut membuat Edna juga sangat terkejut. Pria itu duduk di depan sambil menyilang kakinya.
"Eh ... ada apa ini?" bisik-bisik para wali murid mulai riuh.
Edna memakai setelan formal biasa ala kepala sekolah.
"Tuan Snowden ... a—apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya gugup.
"Silahkan buka acaranya Nona Lewis," ujarnya santai.
Edna menelan saliva kasar. Ia tentu ingat apa yang terjadi dua hari lalu. Sebuah percintaan panas mereka lakukan tanpa paksaan. Edna mengira dengan itu Snowden akan mundur teratur.
"Selamat pagi tuan dan nyonya sekalian. Saya selaku kepala sekolah akan memberikan salut terlebih dahulu pada semua anak-anak kita. Berbanggalah, kemarin beberapa anak-anak didik terbaik mampu mempertahankan piala bergilir sebagai murid paling disiplin dan sekolah kita ditangguhkan sebagai sekolah anty-bullying!"
Semua bertepuk tangan, tidak meriah mereka masih sibuk berbisik dengan kehadiran sosok pria yang memakai lecana polisi di sana.
"Baik lah sebelum acara ini dimulai ...."
"Saya akan ambil alih acara ini!" potong Edward tiba-tiba dan hal itu membuat Edna kalang kabut.
Semua orang tua murid diam. Mereka menonton slide video yang diambil oleh Snowden. Pria itu memperlihatkan temuannya. Jas anak sekolah elite.
"Itu jas salah satu anak kita?" para orang tua murid mulai ribut dan gelisah.
"Bisa tenang sebentar!" teriak Edward yang membuat suasana diam seketika.
"Tuan, kita bisa bicarakan ini di kantor," bisik Edna memohon.
"Sebelum saya jelas kan apa yang anda lihat, silakan dengarkan percakapan saya dengan kepala sekolah kita.
Edna diam. Edward memutar percakapan mereka kemarin. Hanya sekitar baju sekolah yang ditemukan dan permasalahannya piknik yang tidak ada di list program sekolah dengan alasan demi keamanan anak-anak.
"Tahukah anda di mana saya menemukan jas ini?"
Edward membuka plastik dan membentangkan jas yang kotor dan ada noda darah di sana. Semua terkejut dan ada teriakan histeris.
"Apa itu. Apa yang terjadi dengan anak yang memakai itu!?" teriak salah satu wali murid.
Pria itu berjalan dan mendekati salah satu wali murid.
"Peganglah apa ini benar atau saya buat-buat?" pintanya.
"Ini benar darah dan basah juga kotor tanah!" sahut pria itu.
Semua menatap kepala sekolah meminta penjelasan. Mereka tak terima jika anak-anak mereka dipaksa ikut sesuatu kegiatan yang berbahaya.
"Anda tau di mana saya mendapatkan jas ini?"
Semua menanti jawaban Snowden. Mereka menatap pria itu dengan rasa penasaran besar. Edna hanya diam membisu, ia tak bisa melakukan apapun.
"Di pinggir hutan sebelah Selatan!"
Semua terkejut ada nada kemarahan dari orang tua pada Edna.
"Apa-apa ini ... kenapa bisa terjadi?!' teriak salah satu wali murid mulai emosi.
"Sebelumnya, saya akan memanggil satu persatu murid yang hadir di sini. Aku harap para murid jujur pada saya!" tekan pria itu menyeringai pada Edna yang sudah pucat wajahnya.
Pria itu duduk dan meletakkan kembali jas pada plastik dan menaruhnya di dalam tasnya. Ia membuka berkas, lalu memanggil satu persatu anak yang hadir orang tuanya.
"Julio Sanches?!"
"Hadir!"
"Kiev Orlando Riches!"
Tak ada yang menyahut. Semua saling toleh, Snowden memanggil lagi nama itu. Hingga.
"Tuan muda Kiev sedang sakit, tuan jadi dia tak hadir,' sela Edna.
"Benarkah Edna?" tanyanya dengan nada penuh ancaman.
Edna sampai meremang. Wanita itu begitu ketakutan. Ia yakin nyawanya tidak akan selamat. Ia tak tau aksi nekat Edward secerdas ini.
"Mestinya jika Kiev sakit, ada wakilnya datang ke sini ...."
"Saya wakilnya!" teriak salah seorang yang entah dari mana tiba-tiba ada di sana dan tidak duduk.
"Maaf saya datang terlambat, jadi saya ...."
"Apa anda ingin mempermainkan hukum!" teriak Edward emosi.
"Taukah anda jika berdusta anda dapat dikenakan pasal berlapis, terlebih jika anda melindungi terduga tersangka di sini!" lanjutnya geram bukan main.
Pria yang baru datang tiba-tiba itu diam. Ia tak menyangka Edward dapat cepat menangkap kedatangannya padahal ia berjalan menyelinap.
"Jika anda wakilnya, anda tau ini pertemuan apa?" tanya Edward lagi.
"Pertemuan rutin ...."
"Salah!" teriak Edward menggelegar.
"Kau tau kelas berapa Kiev?"
"Kelas lima ...."
"Salah!" teriak Edward lagi.
"Tapi Kiev memang kelas lima!" sela Edna membela pria yang mengaku wali dari Kiev.
"Nona Lewis, apa anda lupa dengan murid anda sendiri?" tekan Edward sinis.
"Kau lupa jika Kiev melakukan sekolah akselerasi?!"
Edna diam. Ia melupakan hal itu. Kiev tidak tercantum di kelas manapun. Bocah genius itu menempati kelas khusus.
"Tuan, Kiev sudah tak pernah masuk selama tiga tahun!" lapor salah satu murid.
"Shhh ... shut up Adam. do not interfere!" ( shhh ... diam Adam. Jangan ikut campur!) peringat salah seorang pria di sana.
Edward menepuk tangan. Ia mengambil lencana dengan tulisan chip dan menghampiri bocah laki-laki bertubuh gemuk itu.
"Kau hebat nak. Keberanianmu patut diberi penghargaan!" puji Edward lalu menyematkan pin itu di dada sang bocah.
Edward memberi hormat pada anak itu dan dibalas dengan sikap sempurna.
"Good boy!" puji Edward lagi.
Semua murid yang dulu membully anak itu menghampiri dan memuji Adam.
"Kau hebat. Aku akan mencalonkanmu sebagai ketua pengamanan sekolah!' aju salah seorang temannya.
"Lihatlah bagaimana hukum berlaku. Anak itu akan jadi seorang yang hebat, karena ia berani mengungkap kebenaran!" ujar Edward bangga.
"Wali dari Kiev Riches!'
Pria itu terkejut ketika disebut. Semua menoleh padanya dan juga pada Edward.
"Jika Kiev sakit, apa orang tuanya tak keberatan jika putranya dibawa ke pinggir hutan ke arah selatan?"
"Orang tua Kiev mempercayakan penuh keselamatan putra mereka pada sekolah ini. Jadi kami yakin tak akan ada apa-apa, buktinya ia kembali dengan selamat!"
Edward bertepuk tangan. Ia salut dengan kebohongan pria itu yang konsisten.
"Wali Kiev!"
"Kau seharusnya tak datang, karena Kiev mestinya sudah lulus dari sekolah ini, karena kelas akselerasi sudah habis satu tahun lalu!"
Deg!
bersambung.
bongkar terus Edward!
next?