
Kiev pulang ketika bulan menampakan diri dengan bulat penuh. Mansion Gerard sudah dijual lama. Pria itu membeli hunian yang lebih kecil tapi tetap mewah, Anamaria yang memang dari dulu bisa mengurus rumah, tak terkejut ketika ia kini hanya memiliki dua maid yang membantunya. Kiev masuk, Gerard sudah duduk di kursi makan menatapnya gusar.
"Dari mana kau?"
"Aku sedikit jalan-jalan dad," jawab Kiev.
"Sayang, jangan mencurigai putramu seperti itu," pinta Anamaria tak suka cara suaminya.
"Sayang, aku begini karena takut kehilangan dia," sahut Gerard.
"Kita percaya padanya sayang, aku yakin putraku tak lagi menghubungi serigala-serigala itu kan?"
Wanita itu menatap putranya penuh harap. Kiev adalah satu-satunya pewaris, para kolega masih bergantung karena keturunannya itu. Jika Kiev benar-benar tewas seperti ramalan penguasa hutan itu. Mereka akan benar-benar jatuh.
"Sayang?" panggil Anamaria dengan mata menggenang dan suara serak.
"Iya mom," sahut Kiev menenangkan kedua orang tuanya.
"Aku mau membersihkan diri dulu," pamitnya.
Anamaria menatap punggung putranya. Kunci mobil tergeletak di sana. Gerard mengambil diam-diam dan langsung menuju mobilnya. Ia mencari apa saja yang mencurigakan.
"Sayang?"
Anamaria menemukan satu boks panahan berisi obat bius.
"Ambil dan buang jauh!" titah pria itu.
Anamaria mengangguk. Wanita itu mengambil dan membuangnya di tempat sampah depan rumahnya. Kiev tak mungkin membongkar tempat sampah. Lalu mereka cepat-cepat kembali ke dalam rumah. Kiev lama jika mandi jadi mereka bisa tenang.
Sementara di hutan. Sam mengerjakan semua jebakannya sendirian. Ia mengajak semua hewan melihat di mana saja jebakan itu terletak. Remaja itu belajar tentang warna yang bisa dilihat semua binatang kecuali babi hutan. Maka ia akan menandai dengan jarak ratusan meter agar para binatang tak masuk area perangkap. Semua dataran dan pohon mulai ditutupi salju. Sam berulang kali menepuk pipi agar tak kedinginan. Ini hari kedua Sam memasang jebakan. Hari makin malam udara makin menusuk, remaja itu memasang jebakan terakhir. Zeus selalu berada di sisinya. Terkadang binatang itu mendekati manusia yang akan membawa mereka kembali ke dalam hutan.
"My Lord!" Zeus mulai khawatir.
Udara makin dingin, Sam nyaris membeku jika saja Zeus tak mendekatinya dan menaruh kepalanya di punggung manusia itu.
"Dingin Zeus ... brrrr ... dingin!" sahut Sam dengan suara bergetar karena dingin yang menusuk.
"Sudahlah, My Lord ayo kita masuk!" ajak binatang itu.
Zeus langsung menghadap pada Sam dan menyurukkan kepalanya ke perut Sam dan remaja itu kini berada di punggungnya. Binatang itu mulai berlari kencang, asap tipis keluar dari mulut hewan berkaki empat itu. Sam memeluk erat leher besar Zeus, ia merasakan kehangatan, hingga ia tak lagi merasa membeku. Tak lama mereka sampai di gua. Sam turun dan langsung memasak. Ia memberikan daging asap babi ke Zeus.
"Bawa ini dan berikan pada anak-anakmu Zeus!' ujar remaja itu.
Zeus mengambil paha babi besar itu dan membawanya pulang ke kandang. Anak-anaknya sudah besar dan sudah bisa berburu. Hanya saja para serigala itu baru tiga tahun jadi masih terlalu kecil dan masih suka bermain.
Sam menutup pintu. Awal badai sudah ia rasakan. Sam sudah bisa memprediksi akan ada badai salju yang pasti membuat semua orang akan malas keluar rumah. Ia memastikan semua jebakannya aman hingga musim semi tiba. Ia juga bisa menebak jika disitanya beberapa senapan para pemburu tak menggoyahkan niat mereka berburu.
"Sudah waktunya hantu hutan kembali!" gumam Sam dengan senyum penuh arti.
"Lelilo ... kau pasti senang jika kematianmu terbalas dengan teriakan ketakutan mereka!" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Angin mulai meniup kencang. Bunyi gaduh antara dahan dan ranting yang saling bertabrakan seperti adu pedang. Suara petir dan udara makin dingin. Tetapi Sam tidur dengan nyenyak, di sana ada mesin penghangat yang dinyalakan dengan solar, begitu juga penerangan dalam gua yang tak lagi dengan api. Sam bisa menyalakan lampu menggunakan energi matahari dan angin. Ia menciptakan sendiri alat-alatnya. Walau sederhana, tetapi sangat berguna.
Sedang di mansion Lockhart. Rebecca menatap jendela di mana salju mulai turun dengan lebat. Angin ribut sampai terdengar di dalam mansionnya yang hangat. Huniannya itu sangat kokoh karena memang di design secara khusus anti badai.
"Sayang," panggil sang suami.
"Sayang, apa putra kita baik-baik saja?" tanya wanita itu lirih.
Becky merangkul lengan besar suaminya. Ia merebahkan dirinya di dada Stefanus yang bidang. Semenjak ada putranya, wanita itu mau therapy berjalan. Walau tak sesempurna berjalan normal, tapi Stefanus bersyukur istrinya sudah bisa berjalan.
"Dia baik-baik saja sayang. Dia adalah lelaki tangguh, kau tak perlu meragukan itu," jawabnya menenangkan istrinya.
"Tapi ini badai sayang! Di mana ia tidur? Apakah hangat? Bagaimana dengan makanannya?" cecar wanita itu begitu mengkhawatirkan putranya itu.
"Kemarin ketika melepaskan para binatang di sirkus, dia sudah mengatakan baik-baik saja, ada mesin penghangat dan lainnya," jawab pria itu.
"Dia masih terlalu kecil mengemban tugas sebesar itu sayang!" sahut Becky masih khawatir.
"Sayang lihat aku!"
Stefanus membalikkan tubuh istrinya. Netra cantik wanita itu sudah berair, ada kekhawatiran besar di sana.
"Percayalah pada putra kita sayang, kau tak tau bagaimana ia menyelesaikan masalah sirkus itu sendirian?" Becky mengangguk suaminya telah menceritakan itu.
"Tapi ...."
Stefanus membungkam mulut istrinya dengan mulutnya. Keduanya berciuman cukup lama, hingga ketik pasokan oksigen mulai menipis, keduanya melepas tautan bibir mereka.
Napas keduanya menderu, kening mereka menempel begitu juga hidung. Netra abu-abu milik Becky mengerjap, genangan itu masih ada tapi sudah tak lagi khawatir.
"Percayalah sayang. Putra kita adalah putra pilihan dari alam," terang pria itu menenangkan istrinya.
Stefanus membimbing istrinya ke ranjang yang hangat. Ia menutup jendela dengan tirai melalui remote yang ada di sana. Pria itu menghangatkan ruangannya lalu merebahkan diri di sisi istrinya.
"Sayang," panggil Becky.
"Kemari lah,"
Stefanus merentangkan tangannya, Becky merapatkan diri dan tenggelam dalam pelukan sang suami.
"Aku mencintaimu," ujar wanita itu tulus.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang!" sahut Stefanus lebih tulus.
"Terima kasih telah percaya dan mendukung putraku dalam melakukan tugasnya melindungi hutan," ujar wanita itu.
"Dia juga putraku sayang, jangan membuatku merasa bersalah karena sebelumnya tak sepenuhnya mendukung," ujar pria itu dengan nada menyesal.
"Oh ... maafkan aku ... maafkan aku," ujar Becky cepat.
"Sudahlah sayang, ayo kita tidur, jangan membangunkan yang lain," ajak pria itu sambil mengeluh.
"Aku juga mau yang bangun itu," bisik Becky dengan nada seksi.
Stefanus menatap dalam netra sang istri yang sayu, wanita itu menginginkan dirinya. Tak lama ranjang suami istri itu berderit, keduanya terlibat aksi panas dalam mengarungi gelora cinta mereka.
bersambung.
next?