
Hari yang dinanti tiba. Ramalan Sam benar adanya, banyak pemburu datang, mereka membawa senapan api, bukan lagi senapan bius. Ada sekitar seratus orang berkumpul. Mereka seperti berdiskusi. Roger berdiri sebagai ketua regu.
"Tolong dengarkan dulu arahanku!" ujarnya dengan suara keras.
Namun keributan terus terjadi bahkan ada beberapa di antaranya tertawa entah apa yang mereka bicarakan. Roger yang kesal karena tidak ada yang mendengarkan apa perkataannya. Ia mencabut pistol dan menembakkannya di udara hingga membuat semuanya diam.
"Aku bilang dengarkan aku!" sentaknya.
"Sebelumnya sudah ku informasikan jika hantu hutan ini sangat cerdas dan kuat. Ia bisa jadi akan membalas dendam pada kita, jadi berhati-hatilah!" titahnya.
"Kita bagi beberapa regu!"
"Diamlah kau Roger ... ingat kau bukan siapa-siapa, jadi jangan mencampuri bagaimana kami berburu!" teriak salah satu warga.
Banyak warga yang menjadi pemburu setuju. Mereka tak suka diatur, hewan binatang yang sangat lemah. Sebagai predator tertinggi, manusia menganggap remeh pada makhluk yang tak memiliki akal itu.
Semua bergerak semau mereka. Menembaki asal dan melepas anjing-anjing mereka. Para anjing mengendus keberadaan kelinci. Bintang kecil itu melompat kencang ketika dikejar anjing para pemburu.
"Ayo Hetero! Bunuh binatang itu!' seru pria pada hewan peliharaannya.
Anjing itu terus mengejar kelinci seperti ingin mengoyaknya. Gonggongan terus terdengar dari anjing-anjing yang sengaja dilepas oleh para pemburu agar hewan berlarian keluar. Hingga ....
Kaing! Kaing! Kaing! suara anjing mengaing karena terlempar ke atas. Seekor babirusa betina yang tengah mengandung menyeruduk hewan-hewan penggonggong itu karena mengusik sarangnya.
"Itu babi! Tembak-tembak!" teriak salah satu pria.
Babi itu menerjang anjing-anjing yang mengurungnya. Babi itu memiliki taring cukup panjang hingga membuat beberapa anjing terluka.
Salah satu anjing mengigit kaki babi.
"Nguik grook!"
Babi menghempas kakinya hingga cengkraman anjing terlepas dan binatang itu terlempar. Para pria hendak membidik peluru tetapi mereka takut malah mengenai anjing-anjing mereka.
"Hetero, Lugo, Bronx, Zero, Suez ... menyingkir kalian dari sana!" teriak Roger.
Pria itu membidik senjatanya. Lalu ia menarik pelatuk dan terdengarlah bunyi letusan senjatanya. Babi itu roboh dengan luka tembak di bagian kakinya. Babi langsung berlari ke semak-semak, para pria mengejarnya lalu menghujami babi itu tanpa belas kasihan. Bangkai babi diseret dari semak-semak. Perut babi yang koyak sampai mengeluarkan anak babi yang ada di dalamnya.
"Kita membunuh babi yang tengah hamil?" tanya salah satu pria merasa bersalah.
"Jangan terbawa perasaan!" sentak Roger.
"Kita baru saja membunuh hama berikut calon-calonnya!" lanjutnya kesal.
"Kita ambil taringnya saja, kita bisa menjualnya pada kolektor!" ujar salah satu memberi saran.
Dengan begitu biadabnya. Manusia-manusia itu membelah mulut babi dan mengambil taringnya. Darah berceceran, bangkai tergeletak begitu saja. Sam menatapnya dengan air mata yang mengiringi. Para pemburu itu tak mengenal kasihan. Para hewan predator saja memilih mangsanya. Sam mengirim foto-foto pembantaian babi itu pada ayahnya.
Stefanus kini tengah berdiri di depan podium sebuah lembaga yang baru saja rapat untuk membuat keputusan menjadikan suaka alam hutan di wilayah bagian selatan.
"Kalian terlalu lama dapat dan mengambil keputusan!" bentak pria itu.
"Tuan kami harus banyak berunding masalahnya para pemburu itu tetap berburu di hutan yang dilindungi!"
"Kalian yang lemah dalam menjalani hukum. Di bagian lain di negara ini sudah menerapkan hukuman berat bagi para pemburu dan pembalakan liar!" teriak Stefanus.
Sedang di tempat lain. Kiev mendekati wilayah di mana ia dulu diambil oleh Zoor. Pemuda itu kembali membawa senjata miliknya yang ia tidak tau sudah kosong.
Hari masih terlalu pagi untuk serigala muncul. Kiev juga tak berani jika ia mendatangi malam hari. Perlahan ia berjalan lebih dalam lagi masuk ke hutan. Ia memang sudah lupa jalan menuju masuk hutan ini, semua berubah.
"Aku yakin aku lewat jalan ini tiga tahun lalu!" monolognya yakin.
Hingga tak terasa jalan yang ia lalui makin sulit. Kiev makin takut masuk ke dalam dan lupa arah pulang. Pemuda itu memutuskan berhenti dan mundur mengikuti jalan setapak tadi.
Sepanjang perjalanan kembali ke mobilnya, ia berkali-kali menoleh ke belakang berharap Zoor muncul dan menyambutnya seperti dulu.
"Zoor aku masih The Lord!" teriaknya.
Tak ada sahutan, hanya bunyi angin lewat. Pemuda itu menghela napas. Ia terlupakan oleh hutan yang dulu melatihnya. Kiev lupa jika pernah menghancurkan kawanan serigala.
Kiev pun pergi menaiki mobilnya lagi. Sepasang mata merah menatap kepergian mobil laki-laki yang dulu pernah mereka latih.
"Zoor?"
"Ia tak akan kembali lagi Look. Aku yakin, dia tidak akan kembali lagi!" ujar Zoor.
Kiev sampai rumah dengan langkah lesu. Hari ini hari libur, ayah dan ibunya tengah pergi ke luar kota untuk sebuah bisnis. Kiev tak ikut karena memang ia malas dan Gerard tak ingin memaksa putranya.
Kiev menyalakan televisi. Sebuah acara penangkapan besar-besaran terjadi di sebuah hutan bagian wilayah Utara. Seratus pria tertangkap berikut anjing-anjing mereka. Banyak di antaranya masih di bawah umur.
"Pemirsa, terjadi penangkapan besar dilakukan dinas kepolisian hutan. Seratus orang terduga bersalah karena telah merusak populasi hutan ... semua ini diduga belum rampungnya hutan ini menjadi hutan lindung. Kiev mematikan televisinya. Pemuda itu langsung memiliki ide brilian.
"Baiklah, aku masuk komunitas pelindung hutan," ujarnya dengan senyum penuh arti.
Sedang di hutan di mana penangkapan itu terjadi. Sam menatap dari kejauhan orang-orang yang ditangkap berikut barang bukti. Dua bangkai kelinci yang dikoyak oleh anjing-anjing pemburu, satu rusa jantan, dua taring babi yang langka dan satu landak.
Sam menangis dengan binatang-binatang yang menjadi korban kebrutalan para pemburu. Ia sudah berusaha membawa mereka menjauh tetapi sepertinya binatang-binatang itu lebih takut dan keluar dari persembunyiannya mereka.
"My Lord!" panggil Zeus.
Sam turun dan langsung memeluk leher besar binatang itu. Ia menangis dan meminta maaf.
"Maafkan aku Zeus ... aku tak bisa menghindari korban," ujarnya kecewa.
"Kau sudah melakukan yang terbaik My Lord. Mereka memang sengaja keluar untuk mengorbankan diri mereka," jelas Zeus.
"Zeus ...," isak remaja itu.
Hutan akan tenang selamanya. Para pemburu akan dijerat hukum sementara yang masih di bawah umur diberi ganjaran berat yang membuat mereka kapok.
Pagi menjelang. Sam harus kembali ke rumahnya, ia sudah menyelesaikan sebagian tugasnya. Tinggal pembalakan liar yang belum bisa ia atasi.
"Aku pasti kembali lagi Zeus, tenanglah," ujarnya ketika pergi.
"Aku menunggumu My Lord!" ujar Zeus.
Mereka sudah sampai di mana motor Sam berada. Tak ada yang rusak atau hilang. Sam melambai pada hewan besar berkaki empat itu. Motor melaju dengan kecepatan sedang.
"Satu langkah lagi My Lord ... satu langkah lagi!'
bersambung.
next?