THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
FLASHBACK 3



Edward duduk di kursi menatap laporan yang baru saja ia terima. Jasad kemarin adalah pria yang sidik jarinya ada di tempat mansion Stefanus.


"Luka sayatan memang bukan dari pisau atau sejenisnya, komandan!" lapor petugas lab.


"Jadi benar-benar hasil koyak dari cakaran dan taring binatang buas?" tanya pria itu.


"Benar tuan!" sahut petugas.


Edward mengangguk tanda mengerti. Kasus ini begitu rumit. Pria itu tak bisa menemukan benang merah antar semuanya.


"Jejak yang ditinggalkan adalah jejak serigala palsu bahkan tak mungkin binatang itu menyerang satu keluarga yang tak mengganggu hunian mereka.


"Serigala bukan makhluk pendendam seperti gajah, unta atau singa!" ujar pria itu gusar.


"Lagi pula, penciuman serigala tak sebaik anjing, dan begitu detil dalam menghabisi semua orang!" lanjutnya frustasi.


"Tuan, kami menemukan benda dalam kantung jenazah!" seru petugas ketika merogoh saku mayat pria mengenaskan itu.


"Sebuah liontin inisial KR?"


Edward menatap benda berukuran kecil itu. Ia membolak-balik benda itu berharap ada tanda yang bisa mengarah pada pelaku.


"Aku yakin gerigi ini adalah bar code suatu keluarga terpandang!" ujarnya ketika meraba benda itu.


"Selidiki!" titahnya lalu memberikan benda itu.


Para petugas langsung melakukan pemeriksaan melalui data. Liontin itu terbuat dari emas asli. Ada deretan angka bar code yang tertera dalam waktu cepat. Layar komputer langsung menunjukkan siapa pemilik dari liontin itu.


"Komandan. Liontin ini milik dari putra tunggal Tuan Gerard Riches, Tuan muda Kiev Orlando Riches!" lapor petugas.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Edward makin bingung.


"Bisnis keduanya tak ada kerja sama bahkan tempat tinggal mereka sangat jauh. Jika Tuan Riches ada dekat pinggir hutan bagian selatan. Sedang Keluarga Lockhart berada di Utara dekat kota!"


Edward benar-benar buntu.


"Mungkin pria itu mencurinya?" ujar petugas.


Edward mengangguk. Ia yakin jika pria yang sudah kaku dan busuk itu mencuri milik dari keluarga kaya raya itu.


"Tapi, pengamanan keluarga Riches sangat ketat. Mana mungkin ada yang bisa mencurinya?" tanyanya ragu.


"Keluarga Tuan Lockhart juga ketat, buktinya bisa dibantai?' sahut petugas.


"Kau benar. Tapi apa salahnya jika aku datang dan membawa benda ini ke hadapan Tuan Gerard Riches?" ujar Edward sambil tersenyum penuh arti.


"Siapa tau, aku mendapat ikan yang bagus bukan?"


Edward lalu mengambil liontin yang kisaran harga mencapai seratus juta dolar itu. Memang benda itu kecil tapi tanda dan kepemilikan menjadikan benda itu sangat mahal. Pria itu mengambil plastik dan menaruhnya di dalam.


"Besok aku akan berkunjung ke perusahaan pria itu," ujarnya lalu keluar dari lab. Para wartawan masih menunggu berita yang sedang dinantikan semua pemburu berita.


"Tuan Snowden, siapakah yang anda temukan?" tanya para wartawan.


"Saya menemukan mayat salah satu pelaku," jawab pria itu.


"Lalu bagaimana, apa semua menunjukan jika rekan bisnis dari Tuan Lockhart yang menjadi dalang semua ini?" tanya wartawan lagi.


"Kami belum bisa menyimpulkan itu. Tewasnya salah satu pelaku juga membuat kami bertambah bingung, karena mereka seperti dikoyak oleh binatang buas," ujarnya lagi.


"Apa mungkin untuk menutup bukti, orang-orang yang melakukan itu ditaruh di hutan dan dijadikan santapan singa atau harimau?" tanya wartawan lagi.


"Kami juga belum bisa menyimpulkan. Untuk sementara hanya itu yang bisa saya beritahu!" ujar Edward lalu meninggalkan lab.


Pria itu memilih pulang dan menenangkan diri. Ia akan ke rumah kekasih yang telah dipacarinya selama delapan tahun.


"Sayang, aku datang," ujar pria itu membuka pintu.


Rheina langsung berlari memeluk kekasihnya. Mereka pun berciuman.


"Aku merindukanmu," ujar sang wanita menatap pujaan hatinya dengan penuh kerinduan.


"Aku juga, tapi biarkan aku membersihkan tubuhku dulu," ujar pria itu.


"Mau kubantu sayang?" tawarnya menggoda.


Edward mengangguk lalu memagut bibir yang membuat ia candu. Keduanya bertelanjang bulat di kamar mandi dan melakukan ritual romantis di dalam sana.


Sedang Gerard tengah menatap layar televisi. Pria itu setia menonton berita tentang kasus yang menimpa Lockhart.


"Mereka menemukan mayat salah satu anak buah putraku," gumamnya pelan.


"Tapi, katanya jika mayat itu seperti dicabik oleh binatang buas," ujarnya lagi.


Pria itu tampak berpikir lama. Ia menerka-nerka sendiri kejadian sesungguhnya.


"Bisa jadi karena gagal, Zoor marah dan membantai semua orang, lalu putraku berhasil lolos,"


"Binatang itu tentu menginginkan tahta tertinggi. Jika pemimpin asli benar-benar datang dan tidak berada di tangannya. Tentu, binatang itu tak akan tinggal diam!"


Gerard memastikan asumsinya sendiri. Pria itu merasa lega karena yakin kasus ini tak akan bisa dipecahkan oleh siapapun.


Pagi hari menjelang. Edward bangun ketika matahari masuk jendela kamar kekasihnya.


"Uugghh!" pria itu menggeliat dengan merenggangkan ototnya.


"Morning, hon!" sapa wanita cantik berbalut lingerie.


"Morning sweety, give me a kiss please," pinta pria itu.


Rheina mengecup bibir kekasihnya. Edward begitu rakus memagut benda kenyal itu. Keduanya terlibat ciuman panas.


"Hmmppphhh!" lenguh wanita itu ketika Edward meremas gundukan kenyal di sana.


"I want you!" ujar pria itu dengan nada berat.


Edward membalik tubuh kekasihnya dan kini berada di bawah kukungannya. Mereka kembali bersatu dalam gelora cinta yang dahsyat. Rheina benar-benar pasrah ketika milik Edward menusuknya begitu dalam dan menyemprotkan benihnya di sana.


Edward ambruk di sisi sang kekasih pujaan dengan napas terengah-engah dan peluh bercucuran. Bibir mereka tak berhenti memagut, memilin dan berdecap.


"Oh ... andai kasus ini tak ada, aku mau tak melepaskan milikku di dalam sini, sayang," ujar pria itu begitu seksi.


Edward melepas penyatuannya. Ia segera bangkit dari ranjang menuju kamar mandi dalam keadaan telanjang. Pria itu hanya sekedar membersihkan diri. Usai mengenakan pakaian dinasnya. Ia mengecup kekasihnya yang masih setia berbaring di ranjang.


"Tunggu aku sayang, aku akan kembali," ujar pria itu sambil mengigit leher dan memberi tanda di sana.


"Aku menunggumu sayang!" teriak Rheina.


"Makan sarapanmu!" teriaknya lagi.


Edward meminum. Susu hangat yang telah disiapkan kekasih pujaannya. Ia juga mencomot sandwich dan memakannya di mobil. Pria itu bergerak menuju kota yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya.


Satu jam perjalanan dibutuhkan untuk sampai pada sebuah gedung mewah pencakar langit. Perusahaan Riches Corp. adalah perusahaan besar yang menyakup properti dan bahan bakar bumi. Maka tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan Lockhart yang bergerak di bidang logistik dan juga Pertanian.


Gerard cukup terkejut dengan kedatangan Edward Snowden. Pria itu sangat yakin jika tak mungkin pria dengan pangkat komisaris polisi itu mengetahui campur tangannya dalam kasus pembantaian ini.


"Selamat siang Tuan Riches, perkenalkan saya adalah kepala polisi satuan utara Komisaris Polisi Edward Snowden!" ujar pria itu menjulurkan tangan.


"Oke," ujar Gerard membalas jabatan tangan Snowden.


"Silahkan duduk, ada perlu apa anda kemari?" tanya pria itu bingung.


Edward menatap wajah pria yang begitu tenang di depannya. Ia ingin sekali menangkap sesuatu yang disembunyikan oleh pria itu.


"Saya menemukan ini di saku celana pelaku yang membantai keluarga Lockhart!" ujarnya lalu menaruh benda di atas meja.


Deg!


bersambung.


nah ...


next?