
Kini baju Sam sesuai. Tentu Rebecca membeli baju putranya kembali. Remaja itu kini memakai baju berkelas, wajahnya yang kusam dan sedikit berdebu kembali cerah dan kini makin mirip dengan Stefanus.
Keberadaan Sam menjadi sorotan banyak media, terutama wajah Samuel yang mirip dengan Stefanus.
"Nyonya, apa ini putra anda?" tanya salah satu wartawan.
"Ya, dia adalah putraku yang menghilang lima tahun lalu," jawabnya bangga.
Dua puluh bodyguard menghalangi para wartawan untuk mendekat. Sam sendiri yang mendorong kursi rodanya dibantu kepala maid. Rebecca atau biasa dipanggil Becky memilih banyak baju formal ketimbang baju biasa. Hal itu membuat Sam mengembalikan sebagian baju-baju pilihan ibunya dan mengganti dengan kaos dan jeans. Becky tak mempermasalahkan itu. Usai membeli baju Sam menatap sebuah toko yang ditutupi banyak poster tentang pembalakan dan juga pemburuan liar. Ia berdiri menatap kaca besar yang tertutup poster-poster itu. Sam memilih masuk ke dalamnya untuk sekedar bertanya.
"Halo selamat siang!" sapanya.
Ia cukup terkejut mendapati sepasang manusia berciuman. Becky ikut masuk bersama kepala maidnya.
"Eh ... ah!"
Keduanya tampak kikuk dan malu karena tertangkap basah tengah berciuman. Sam tak mempermasalahkan itu, ia hanya ingin tau apa saja program dua orang ini memasang poster tentang pembalakan dan perburuan liar.
"Silahkan duduk dik ...."
Sam duduk. Becky hanya mengikuti apa yang ingin putranya lakukan. Sam duduk dan langsung bertanya tentang poster yang ditempel di kaca.
"Oh kami memang menyuarakan tentang hutan lindung dan habitatnya," jawab pria itu lalu menjelaskan programnya.
"Kenapa bertele-tele sekali?!" tanya Sam bingung.
"Kenapa tidak langsung menyasar pada perusahaan yang melakukan pembalakan dan menyerukan hutan lindung pada pemerintah?" tanyanya.
"Kenapa banyak sekali program yang tak tepat sasaran. Apa itu program mencintai hutan dengan berkemah? Mana program membersihkan sampah di hutan, atau reboisasi pada hutan gundul dan juga penangkaran hewan-hewan yang ditangkap oleh pemburu dan dilepas ke hutan kembali?"
"Ini apa ini, meminta donatur untuk kegiatan kemping dan perlengkapan kemah, makan, obat-obatan dan akomodasi?" Sam bingung.
"Kamu kan nggak tau apa-apa. Kami juga butuh asupan untuk menjaga hutan!" sahut sang gadis tak terima.
Sam tertawa datar. Ia menggeleng tak percaya. Bahkan tak ada usaha untuk mencegah penyelundupan hewan liar dan tak ada tempat penangkaran. Sam memilih berdiri dan mengajak ibunya pergi dari sana.
"Kenapa kau begitu kecewa nak?" tanya Becky melihat putranya.
"Bagaimana tak kecewa ma, tak ada satupun progam yang benar-benar melindungi hutan," keluhnya.
"Tadi mama ada baca soal green the zoo," sahut Becky.
"Hanya slogan ma, tapi pointnya tak ada yang menyasar pada penghijauan hutan itu sendiri," jelasnya.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan sayang?" tanya perempuan itu.
Mereka ada di mobil menuju mansion mereka. Sam masih diam dan belum ingin mengatakan alasannya kenapa ia kembali. Melihat putranya tak menjawab, Becky memilih diam dan membiarkan waktu yang akan menjawab semua pertanyaan wanita itu.
Sedang di tempat lain. Stefanus memimpin sendiri penelitian tentang DNA anak laki-laki yang mengaku sebagai putranya itu. Baru juga satu malam Sam tinggal, pria itu sudah tak sabar untuk mengungkap jika anak laki-laki itu bukan putranya.
"Aku yakin jika dia hanya ingin melakukan sesuatu," tuduhnya tanpa alasan.
'Sayang, bagaimana kalau mama panggilkan guru untuk datang dan mengajarimu?" tawar Becky.
Sam berpikir, untuk memiliki kekuasaan ia harus pintar dan cerdas. Selama ini ia merasa cukup cerdas bahkan di sekolah dulu ia masuk dalam murid berprestasi.
"Apakah itu home schooling?" tanya Sam.
"Iya sayang, home schooling. Apa kau mau?" Sam mengangguk.
Becky tersenyum. Ia sangat yakin jika putranya memiliki suatu kelebihan yang tak dimiliki pria lain, bahkan suaminya juga tak memiliki karima seperti dipunyai oleh Sam.
"Aku yakin kau akan jadi pembesar yang paling disegani oleh semua orang," gumam wanita itu pelan.
Dua hari kemudian. Becky memanggil guru khusus sekolah dasar. Selama dua hari juga Stefanus tak pulang ke rumah. Pria itu masih setia menunggu hasil lab dan juga menyelesaikan begitu banyak pekerjaan. Becky tak pernah peduli dengan kelakuan suaminya itu. Ia percaya jika bocah laki-laki yang ada di mansionnya ini adalah putranya.
Sam belajar dengan cepat. Guru tampak terpukau dengan kegeniusan anak laki-laki itu. Sam bahkan lulus test untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Becky senang mendengarnya.
Satu minggu Samuel mampu menyelesaikan sekolah dasarnya dengan nilai sangat memuaskan.
"Nilainya tinggi sekali. Bahkan lebih tinggi dibanding mereka yang sekolah biasa," puji sang guru ketika memberikan kertas ujiannya.
Angka delapan koma sembilan puluh menjadi nilai rata-rata keseluruhan test. Kecerdasan Sam langsung viral dan terdengar di telinga Stefanus.
Pria itu melihat satu artikel kolom nomor dua di majalah bisnisnya. "The genius of the prodigal son " (Kegeniusan anak yang hilang). Di sana ada nama Stefanus Adrian Lockhart sebagai ayah dan Rebecca Jhonson dicatat sebagai nama orang tua dari Samuel Patrick Lockhart.
Foto Sam terpampang di satu kertas tersendiri dengan memegang buku tentang hutan. Remaja usia tiga belas tahun itu begitu tampan dan banyak pengamat mengatakan itu adalah Stefanus muda.
Setelah mendapat hasil tes DNA. Ia langsung pulang. Awalnya ia sangat yakin jika anak laki-laki yang berada di rumahnya yang mewah itu adalah putranya. Tetapi setelah melihat wajah Sam tercetak di majalah bisnis membuatnya takut jika Sam benar-benar bukan putra kandungannya.
"Kenapa aku tak terima jika ia bukan putraku?" gumamnya.
Ia melihat jalan yang seakan lama mengantarkannya ke rumah. Pria itu sampai menghardik sang supir yang berjalan lambat.
"Apa kau keong atau siput yang lambat berjalan!"
Sang supir terkejut bukan main. Pria itu sampai menekan dalam pedal gasnya. Hingga tak butuh waktu lama mereka sudah sampai dalam hunian mewah itu.
Stefanus langsung keluar dan memaki panjang pendek supir pribadi yang sudah melayaninya selama lima tahun ini. Supir terdahulunya ikut tewas dibantai ketika kejadian itu.
"Kau baru pulang?" sebuah tanya sekaligus teguran yang dilontarkan oleh sosok wanita yang sangat pria itu cintai.
Stefanus menunduk malu. Kertas di tangan pria itu membuat Becky menjadi benar-benar marah.
"Apa kau sudah lihat hasilnya?" tanya wanita itu lagi datar.
"Lihat ini. Putraku ada di majalah bisnis!" ujarnya bangga sambil memperlihatkan foto Sam di sana.
Stefanus yang memang penasaran dengan anak laki-laki itu. Membuka kertas hasil lab. Tercetak jelas dan sangat meyakinkan jika bocah itu adalah putra kandungnya, Samuel Patrick Lockhart