
Lima tahun sebelumnya. Berita gempar terdengar menimpa keluarga Lockhart. Stefanus Adrian Lockhart nyaris tewas bersama istrinya. Sedang seluruh maid dan pekerja semuanya tewas dengan tubuh tercabik-cabik.
Petugas kepolisian nyaris putus asa ketika mencari barang bukti. Hingga ditemukan sebuah benda mencurigakan di pojok ruang.
"Cakar binatang?" Edward Snowden menatap benda terbuat dari besi itu.
"Bawa ke forensik. Periksa secara detil!" titahnya.
Perwira itu memberi hormat dan langsung membawa benda itu untuk diperiksa.
Stewart menatap anak buahnya. Kasus ini masih misteri karena banyak musuh mengincar Stefanus karena betapa tangguh dan berkuasanya pria itu dalam bisnis.
"Kita akan periksa lagi secara teliti!" titahnya.
"Kenapa menculik putranya jika dia membunuh ayah dan ibunya?" tanya Stewart bingung.
"Tidak, ia tidak diculik. Tapi dia dilarikan!" jawab Edward menatap kamar anak laki-laki itu.
"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Stewart lagi.
Edward menatap jendela yang terbuka lebar. Tak ada kain menjulur untuk memanjat kamar yang ada di lantai dua mansion mewah itu.
Ia kembali ke ranjang putra dari pebisnis ternama dan merabanya.
"Bulu?" ujarnya sambil menggenggam bulu dengan jemarinya.
"Apa itu bulu yang sama ditemukan di bawah?' Edward menggeleng.
"Ini bulu asli, antara bulu anjing atau sejenisnya," jawab Edward.
Pria itu mengambil plastik dari sakunya dan meletakan bulu itu di dalam dan memberinya tanda.
"Sepertinya, anak itu dilarikan bertepatan ketika pembantai terjadi," ujar pria itu lagi.
Stewart hanya diam dan membiarkan anak buahnya berasumsi. Edward Snowden adalah polisi sekaligus detektif terbaik yang pernah kepolisian miliki. Ia akan menyerahkan semua penyelidikan pada anak buahnya itu.
Sementara di tempat lain. Kiev datang dengan tubuh penuh dengan darah milik satuannya. Remaja berusia tiga belas tahun itu juga terluka. Anamaria menjerit histeris ketika melihat tubuh putranya bersimbah darah.
"Sayang ... putramu terluka!" teriaknya pada sang suami.
Gerard juga tak kalah terkejutnya ketika melihat sang putra. Kiev jatuh tak sadarkan diri. Semua panik, Gerard langsung membawa putranya ke rumah sakit pribadi miliknya.
Tak butuh waktu lama. Kiev sudah ditangani dengan baik. Remaja itu tinggal pemulihan saja.
"Tuan muda tidak apa-apa. Hanya kelelahan dan badannya semua memar akibat benda tumpul atau sepertinya tuan muda berkelahi," jelas dokter pribadi keluarga Riches.
"Tak ada luka yang serius selain luka di dahinya. Darahnya juga tak banyak yang keluar," jelas dokter lagi.
Gerard bernapas lega. Ia belum tau kejadian sesungguhnya. Anamaria ingin melapor pada polisi tapi langsung dicegah oleh suaminya.
"Kenapa?" tanyanya dengan air mata berlinang.
"Aku ingin siapa yang menyakiti putraku tertangkap dan dihukum mati!" lanjutnya emosi.
"Tenanglah dulu sayang!" seru sang suami juga emosi.
"Aku juga ingin hal yang sama. Tapi kau ingat, bukankah putra kita memiliki seratus pasukan?" Anamaria terdiam.
"Kemana mereka?" tanyanya baru tersadar.
"Maka itu, kita tunggu putra kita sadar. Aku takut terjadi sesuatu yang belum kita ketahui," lanjutnya pria itu dengan nada khawatir.
Anamaria menurut. Wanita itu memeluk suaminya. Keduanya menatap sang putra yang terbaring lemah.
Sudah dua hari Kiev terbaring di ruang rawat yang super mewah. Perlahan ia pun terbangun dan memanggil ayah dan ibunya.
"Sayang, kau sudah sadar?!" tanya Anamaria bahagia.
Gerard memencet bel, lalu para dokter dan suster datang memeriksa keadaan tuan muda kaya raya itu.
"Bagaimana dok?" tanya Gerard masih dilanda kecemasan tinggi.
"Tuan muda Riches sudah lebih baik. Beliau boleh pulang setelah infusnya habis," jelas dokter melegakan pasangan suami istri itu.
Dokter pun keluar. Anamaria memeluk dan mencium putranya.
"Mom ... aku dan pasukanku baru saja membantai orang," aku Kiev jujur.
"Apa?!" seru keduanya tak percaya. "Bagaimana bisa?!"
Kiev menceritakan semuanya. Tentang seorang pemimpin yang ternyata bukan dirinya.
"Aku hanya dijadikan pion yang berada dibarisan depan, mom ... dad!" serunya tak terima.
Gerard dan Anamaria juga tak terima jika putra mereka hanya dijadikan pion saja. Itu sama saja budak yang rela mati untuk kelangsungan hidup hutan.
"Kurang ajar sekali Zoor membohongiku!" sentak Gerard tak terima.
"Iya, makanya aku minta uang dan pria-pria terbaik untuk menghabisi junjungan pilihan itu!" sahut Kiev.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya sayang?" tanya Anamaria.
"Apa misimu berhasil?" lanjutnya.
Anamaria adalah wanita sadis. Ia pasti mendukung aksi biadab putranya itu.
"Aku salah strategi mom. Kami ketahuan hingga banyak anggotaku ikut tewas!" bohongnya.
"Zoor ikut terluka akibat itu mom," lanjutnya masih berbohong.
"Ah, ternyata binatang itu juga ikut andil," sahut Gerard.
"Mom ... dad aku takut ketahuan," cicit Kiev mulai takut.
"Tenang sayang. Selama ada Daddy bersamamu, tak ada yang perlu kau takutkan!" ujar Gerard meyakinkan putranya—Kiev.
"Mommy juga akan melindungimu, sayang!" sahut Anamaria.
Kiev bisa bernapas lega. Ia berharap jika semua bukti yang ia sebar akan membuat semua orang percaya jika yang melakukannya adalah serigala. Kiev tersenyum licik mengingat semua aksinya.
"Mereka pria-pria bodoh. Dibayar mahal tapi tak bisa melakukan hal dengan benar!" kecamnya dalam hati.
"Aku bersyukur Zoor dan kawanannya membantai pria-pria bodoh itu!" gumamnya lega lagi-lagi dalam hati.
Infus habis. Kiev langsung dibawa pulang oleh kedua orang tuanya. Remaja itu kembali dimanjakan oleh ayah ibu mereka.
Gerard mengawasi areanya. Menambah pengawal yang menjaga ketat mansion mewahnya. Ia juga mencari tau keluarga siapa yang terbantai dengan ciri-ciri yang disebut putranya.
"Keluarga Lockhart menjadi korban pembantai di malam buta!"
Sebuah berita Gerard tonton di layar televisi kantornya. Ia mendengar kan semua ulasan berita menghebohkan itu.
"Pebisnis nomor satu nyaris tewas. Belum ada berita selanjutnya. Namun menurut informasi yang kami dengar jika keluarga Lockhart dibantai oleh binatang buas!"
Gerard masih setia memandang layar televisi. Hingga tampak seorang perwira diwawancarai.
"Kombes Stewart, tolong jelaskan apa yang terjadi. Apa benar ini ulah musuh bisnis dari Tuan Lockhart?" tanya salah satu wartawan.
"Bisa jadi. Tapi kasus ini masih dalam pengembangan. Kami tak mau gegabah memberi informasi!" terang kepala polisi itu.
"Tapi bisa jelaskan bagaimana rincian sebenarnya!' paksa wartawan itu lagi.
"Saya hanya bisa berkata jika kasus ini pembantaian dan ada juga penculikan. Kami masih mendalaminya!" jelas Stewart lalu pergi meninggalkan para wartawan yang terus mencecar pertanyaan.
"Siapa yang diculik?" tanya Gerard pada diri sendiri.
Lalu keluar lagi seorang polisi. Para wartawan langsung mengerubutinya dan mencecar dengan banyak pertanyaan. Tapi, pria itu hanya diam dan melirik layar yang menangkapnya.
Lirikan itu seakan-akan menembus layar dan menatap langsung Gerard.
"Aku akan mencari tahu siapa dalang dalam pembantaian ini!" tekan pria itu dengan kilatan mata penuh intimidasi.
Gerard hanya menelan saliva kasar. Pria itu menenangkan dirinya..
"Dia tidak akan tau ... tidak akan!"
bersambung.
next?