THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
REVENGE 4



Juan benar-benar menjalankan rencananya. Pria itu sudah memasukan lima jirigen berisi bahan bakar. Pria itu akan membakar hutan bagian barat yang katanya pintu masuk para pemburu waktu itu. Ia juga membawa senjata api jika manusia kanibal tak berhasil ia bakar nanti.


Bella melihat kegiatan ayahnya. Ia memberi pesan singkat pada Kiev. Pria itu langsung datang dan ingin ikut.


"Percayalah tuan, anda tak bisa melakukannya sendiri!' bujuknya.


Akhirnya, Juan luluh dan membawa Kiev bersamanya ketika menjelang malam.


"Kita akan berangkat malam hari!"


Kiev hanya mengikuti saja, ia ingin tau sejauh mana Juan bisa masuk ke dalam hutan. Keduanya naik mobil hari mulai gelap.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai tepi hutan sebelah barat. Mereka memarkir mobil jauh masuk ke dalam hutan. Juan ingin tau sampai mana mobilnya bisa masuk ke dalam.


"Tuan gelap sekali!' ujar Kiev.


Juan menyalakan lampu sorot. Pria itu sudah tak bisa memasukan lagi kendaraannya lebih dalam lagi.


"Hanya sampai sini?" tanya Kiev.


Keduanya keluar. Juan menyalakan lampu sorot dari mobilnya. Hanya sekitar tiga meter saja. Pria itu lupa membawa senter.


"Gunakan ponselmu untuk menerangi jalan Kiev!" titah pria itu.


Kiev mengambil ponsel dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Juan. Lolongan serigala terdengar, lalu bunyi suara-suara binatang lainnya.


"Tuan!" panggil Kiev lagi.


"Diam kau Kiev. Jika kau takut kau bisa pulang!" sentak pria itu.


Kiev bungkam. Ia melangkah lebih cepat masuk ke dalam gua. Ia menatap hamparan rumput yang menghitam karena gelap. Bulan bersinar penuh, tapi tak mampu menembus lebatnya daun.


Kiev mendapati aliran sungai dangkal. Pria itu mengingat sesuatu, ia berdiri tegak di sana. Juan berlari mendekatinya. Pria itu nampak marah karena Kiev meninggalkannya tadi.


"Kenapa kau cepat sekali!" bentaknya.


"Shhh!" Kiev menempelkan telunjuknya di bibir, menandakan agar Juan diam.


"Apa?" tanya pria itu.


"Ada yang mengintai kita, Tuan!" bisik Kiev.


Juan menodongkan senjata ke segala arah. Kiev menahan keinginan pria itu.


"Kau hanya menembak target kosong tuan!"peringatnya.


Tapi pelatuk terlanjur ditarik. Pria itu menekan pelatuknya dan menembakkan peluru ke sembarang tempat.


Aaaauuuuu! Lolongan serigala malah makin besar dan kuat.


Gerrr! Sebuah suara menggeram dari balik semak-semak. Juan hendak membidik lagi, tapi sebelum pria itu menarik pelatuk. Kiev langsung menepis bidikan Juan hingga senjata itu jatuh ke tanah.


"Bisakah kau tidak menembak dulu sebelum benar-benar tepat?" peringatnya gusar.


Juan berdecak. Ia mengambil jirigen yang ia bawa tadi. Lalu menuangkannya di semak-semak yang ada di sisi jalur setapak.


Grrrr!! Guk! Guk! Guk!


Juan diserang oleh tiga serigala. pria itu lari dan mendorong Kiev ke arah hewan-hewan itu.


Kiev yang terdorong langsung membalikkan tubuh dan melindungi bagian vitalnya. Serigala itu berhasil mencakar punggung Kiev.


Juan mengambil senjata hendak menembak. Tapi serangan serigala lebih cepat.


"Balikkan tubuhmu Tuan!" pekik Kiev.


Juan berhasil menendang salah satu binatang itu hingga terkaing-kaing. Juan berhasil membalikkan tubuhnya sebelum digigit oleh serigala.


Kiev mengusirnya dengan teriakan kencang. Para serigala mundur, Kiev merangkak dan mendekati Juan yang tengkurap.


"Tuan anda tak apa-apa?" tanyanya.


"Minggir!' usir Juan pada Kiev.


"Kau tidak berguna!" makinya.


Kiev memilih mundur. Ia akan melihat lagi bagaimana pria itu menghadapi para serigala.


"Manusia kanibal!" teriaknya.


"Aku akan membakar hutanmu!" lanjutnya dengan seringai sadis.


Juan mengambil pemantik api. Ia menyalakannya. Lalu melemparkan benda itu ke tanah. Api langsung menyambar cepat. Juan terbahak melihatnya.


Para serigala keluar dari persembunyiannya. Kiev melihat salah satu binatang yang ada luka di mata kirinya.


"Zoor!' panggilnya pelan.


"Kau manusia kanibal itu?" tanya Juan dengan mata berkilat.


"Bukan!" jawab Sam tegas.


"Astaga ternyata hanya seorang anak kecil!" desis Juan tak percaya.


Di belakang Sam berdiri serigala-serigala yang siap menerkam siapapun. Kiev dapat merasakan beberapa tahun lalu, ketika pertama kali ia ikut Zoor ke hutan.


"Jadi selama ini kau yang merusak semua alat-alatku??" tanyanya dengan suara tinggi.


Zoor menyalak keras pada Juan dan seperti hendak memangsa pria itu.


"Zoor!" panggil Kiev lirih.


"Pergilah Tuan, sebelum ada yang dirugikan di sini!" pinta Sam tegas.


Juan terbahak mendengar perintah dari mulut pria yang jauh lebih besar darinya, bahkan dari Kiev sekalipun. Ia mengatasi rasa takutnya dengan tertawa-tawa seperti itu.


"Lihatlah Kiev, anak muda ini meminta kita pergi," ujarnya dengan bibir bergetar.


"Tuan ... aku takut!" sahut Kiev yang mengejutkan semuanya termasuk Zoor.


"Kiev," panggil binatang itu.


Juan yang kini terkejut bukan main. Pria itu mundur hingga jatuh ke tanah.


"Dia ... dia bisa bicara!" pekiknya menunjuk Zoor.


"Kau terlalu berhalusinasi Tuan!" sahut Sam.


Tak lama terdengar suara sirene dari kejauhan. Para polisi berdatangan. Juan panik, ia langsung mengambil senjata dari tanah. Kiev hendak merampas senjata itu. Terjadi perebutan, Kiev yang kalah tenaga karena ia tak lagi melatih tubuhnya jatuh ke tanah. Juan membidik dan menembakkan pelurunya ke arah Sam.


Dor! Satu letusan terdengar, disertai jatuhnya Zoor.


"Zoor!' pekik Sam dan Kiev bersamaan.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Kiev murka.


Pria itu menghajar Juan berkali-kali hingga tersungkur. Perut Zoor tertembus peluru, Sam menutup luka itu.


"Bertahanlah Zoor!" ujarnya.


Zoor hanya menatap perkelahian Kiev dan Juan. Sam langsung menyambangi dan menarik Kiev dari sana. Para polisi tiba dan menangkap Juan.


"Tangkap dia!" teriak Juan menunjuk Kiev. "Dia ikut bersamaku!"


"Maaf Tuan, justru Tuan Kiev lah yang melaporkan anda pada kami!' ujar petugas itu.


Juan memberontak ia memaki panjang pendek. Sam menatap Kiev, kini ia paham, ternyata pria yang ada di depannya itu dari awal telah memberitahukannya. Ia sengaja berdiri di pinggir tebing agar para serigala melihatnya.


Bau tubuh Kiev sama dengan Sam. Pria itu mengandalkan angin agar para binatang yang dulu pernah mengajarinya itu mencium keberadaan manusia.


"Kau melakukan ini Kiev?" tanya Sam.


"Sudah seharusnya bukan?" sahut pria itu dengan seringai menyebalkan.


Kiev menatap Zoor. Petugas penyelamat hewan akan segera datang dan menolong binatang itu. Sam ikut memandangnya. Ia mengajak Kiev mendekati.


"Belailah dia Kiev!' pinta pemuda itu.


Kiev pun membelainya. Zoor langsung menyorongkan kepalanya di tangan pria itu.


"Kiev," panggilnya lemah.


"Bertahanlah Zoor," pinta Kiev dengan suara serak.


"Tuan awas, Juan lepas!" peringat petugas.


"Mati kau Sam!' pekik pria itu lalu melesatkan peluru ke arah Sam.


Dor! Kiev ambruk dengan perut yang tertembus peluru. Pria itu menghadang peluru yang diarahkan pada Sam.


"Kiev!" teriak Sam.


Juan hendak kembali menembak, tapi langsung ditembak oleh kepala polisi hutan. Pria itu tubuh dengan kaki berlumuran darah.


'Zoor!"


"Kiev!"


bersambung.


ah ... Kiev ternyata?


next?