
Tebakan Sam benar adanya. pembalakan itu kembali terjadi dengan kekuatan sama seperti kemarin.
Sam juga tak mau kalah, para pekerja sudah berjatuhan tak sadarkan diri akibat tembakan obat biusnya. Semua langsung lemas tak bertenaga karena kembali mendapat obat bius dalam dosis sedang.
"Siapa ... kau siapa?!" tanya salah seorang pekerja.
Sam yang melumuri tubuhnya dengan lumpur tampak mendekati dan memegang tangan pria itu lalu mengendusinya.
"Jangan!" teriak pria itu ketakutan.
Sam menyeringai dengan giginya yang menghitam. Pemuda itu sengaja mengotorinya dengan arang.
"Aaahh!" pekik pria itu ketakutan dan akhirnya pingsan.
Sedang yang lainnya juga mulai ketakutan, suku kanibal yang mereka takuti ternyata benar adanya. Sam membiarkan pikiran para perambah hutan ilegal itu. Ia akan melakukan segala macam cara agar mereka kapok dan tak mau datang ke hutan lagi.
Seratus orang pingsan karena halusinasi tinggi. Mereka mengira Sam benar-benar seorang kanibal.
"Cis ... menjijikan!" umpat Sam.
Pemuda itu langsung memvideokan semua orang dengan barang buktinya yang ingin merusak hutan. Ia mengirim video itu pada ayahnya. Hingga tak lama polisi hutan datang dan menangkap mereka semua.
"Mereka tidak mengenali siapa yang menggerakkan mereka, tapi dari alat yang dipakai, kami sudah mengenali perusahaan mana yang dengan sengaja melakukan pembalakan liar!" jelas kepala polisi hutan.
Penangkapan besar ini jadi trending di media. Juan mengamuk sejadi-jadinya. Batang pohon yang diinginkan tak seusai banyak perusahaan yang langsung memutuskan untuk bekerja sama ketika mengetahui adanya penangkapan besar-besaran terhadap perambah hutan.
"Kami tidak tau menahu, kau urus sendiri Tuan Fox!" ujar salah satu kolega yang memutuskan kontrak kerjasama itu.
"Aarrrghhh!" teriak Juan melempar semua benda di mejanya.
Bella sampai takut dengan kemarahan ayahnya.
"Aku bersumpah membakar hutan itu!" teriaknya.
"Ayah ... tenang lah ... aku sudah bilang untuk jangan dulu menebang hutan!" ujar Bella mengingatkan.
"Diam kau ... kau anak tak berguna!" pekiknya memaki.
Bella terhenyak mendengar makian ayahnya. Gadis itu menunduk dan melangkah mundur perlahan. Ia tau ayahnya sedang marah. Tapi, kata-kata anak tak berguna tadi membuatnya sakit hati.
"Aku bekerja di bawah kendalimu ayah, bahkan kau tak membayarku sesuai gaji," ujarnya perlahan.
"Aku usahakan agar beberapa investor tak lari dari perusahaan ini. Mudah-mudahan usahaku tak membuatmu berkata aku bukan anak tidak berguna lagi,"
Bella pergi dengan hati yang sakit. Juan berteriak keras dan melempar semua barang di sana. Ia menyesal mengatai putrinya sendiri.
Sedang Kiev yang menonton penangkapan besar-besaran itu hanya menatap layar televisi datar.
Ponselnya bergetar, ada nama Bella di sana. Sudah tiga hari ini dia tak bertemu gadis yang memuaskan hasratnya itu.
"Halo!" ujarnya ketika ia mengangkat sambungan telepon.
"Kiev ... bisakah kau membantuku?" pinta gadis itu dengan suara yang seperti habis menangis.
"Kau kenapa?" tanyanya.
"Datang saja, aku mohon," pinta gadis itu lagi.
Kiev pun segera mengambil kunci mobilnya. Usaha kayu pres nya mulai berkembang dan banyak peminat. Ia mulai merangkak naik menuju sukses.
Butuh lima belas menit, Kiev sudah sampai di perusahaan Juan. Ia langsung diminta untuk datang ke ruangan gadis itu. Kiev mendapatkan Bella tengah duduk di kursinya sambil memandang jendela besar.
"Bella!" panggil Kiev.
Pria itu menarik kursi dan duduk di sebelah gadis itu. Bella masih setia dengan pandangan kosong. Wajahnya ada jejak basah di sana. Kiev menghadapkan kursi sang gadis ke hadapannya.
"Ada apa?" tanyanya gusar.
Bella memilih memeluk pria itu. Ia hanya butuh pelukan saja. Kiev membalas pelukannya.
"Ayah mengataiku anak tak berguna Kiev," adu sang gadis.
Kiev mengurai pelukannya. Ia menatap lekat netra coklat tua di depannya. Menghapus jejak basah di pipi gadis itu. Ia mencium bibir Bella dan gadis itu membalasnya dengan ciuman panas.
Sementara di tempat lain. Juan benar-benar ingin balas dendam. Beberapa investor ternyata masih ingin bekerja sama dengannya, sesuai janji Bella, putrinya.
"Aku akan berhadapan dengan manusia kanibal itu!' ujarnya geram.
Pria itu mengambil senjata jenis revolver. Ia lalu menelepon petinggi yang selama ini menikmati hasil suapnya.
"Aku akan menyeretmu bersamaku di neraka Tuan Henri!" ujar Juan ketika mengakhiri sambungan teleponnya.
Pria itu mengambil beberapa berkas dan bukti transfer dengan rekening atas nama salah satu oknum petinggi pemerintahan.
"Baiklah, untuk sekarang. Ada waktu tenang dulu!' gumamnya bermonolog.
Pria itu menaruh kembali pistolnya yang telah terisi penuh peluru. Ia benar-benar ingin menghabisi manusia kanibal yang dibicarakan pekerjanya itu.
Sementara di pemerintahan. Percakapan alot masih terjadi antara para pendukung perusahaan yang masih memakai hutan sebagai lahan mereka untuk merambah.
"Rancangan hutan lindung ini sudah berlangsung selama tiga tahun tapi tak menemukan hasil yang memuaskan!" seru ketua rapat majelis.
"Saya perintahkan agar para perusahaan yang masih aktif memakai lahan hutan sebagai lahan penambang mereka untuk membangun sendiri lahannya!" titah ketua rapat.
"Tapi pasti kami butuh waktu lama!"
"Jangan cari alasan dengan ijin legal kalian. Jika memang ingin lahan produktif. Mestinya kalian memiliki wacana untuk membangun lahan sendiri!" sahut pejabat lingkungan hidup.
"Ketua pimpinan, bagaimana jika semua ijin perusahaan direvisi dan harus segera diubah agar hutan kembali pada habitatnya!" usul salah satu peserta rapat.
"Kita akan pikirkan, masalah perijinan itu sepenuhnya kekuasaan Menteri bagian pekerja dan perusahaan!" sahut ketua rapat majelis.
Tiga jam adu debat tak menghasilkan apapun. Stefanus yang ikut sebagai aliansi lingkungan hidup begitu geram. Alat bukti lengkap, entah apa yang membuat keputusan ketua majelis masih saja mundur dan tak jelas.
"Benar-benar menghabiskan anggaran negara, hanya untuk sebuah keputusan!" gerutu pria itu kesal.
Stefanus pulang bersamaan dengan putranya yang juga baru pulang dari hutan. Tubuh pemuda itu berkilat akibat sengatan matahari.
"Bersihkan badanmu nak!" perintahnya dengan pandangan gusar.
"Bagaimana?" tanya Stefanus setelah mereka selesai makan malam.
"Aku sudah menakuti mereka. Semua mengira aku suku kanibal yang hidup di hutan," jawab Sam.
"Apa kau yakin, pembalak-pembalak liar itu kapok?" tanya Stefanus masih kurang percaya.
"Kemungkinan untuk beberapa hari ke depan. Kita aman sementara waktu Yah," jawab Sam.
Pria itu mengangguk tanda mengerti. Jika semuanya alot dan tidak menghasilkan apapun. Pria itu akan melakukan langkah terakhir.
"Aku akan mendukungmu penuh nak!'" janji pria itu.
"Thanks Yah!' ujar Sam.
Becky hanya mengikuti apa mau putranya. Ia yakin jika semua demi kebaikan manusia. Perempuan itu juga akan mendukung penuh perjuangan suami dan juga putranya.
Sementara itu Juan membeli lima jirigen minyak tanah. Ia benar-benar akan membakar hutan. Matanya berkilat penuh dendam ketika melihat semua tempat berisi bahan bakar itu.
"Ini untuk apa Tuan?" tanya Kiev.
"Kita akan memanggang manusia kanibal itu Kiev!' jawab Juan dengan kilatan mata sadis.
bersambung.
wah.
next?