
Sam merancang sendiri jebakan yang akan berbalik pada para pemburu, remaja itu akan membuat manusia merasakan sendiri jebakan yang mereka buat.
"Kalian kira jika kaki terjerat tali atau terjerat besi itu tak sakit?" geramnya marah.
"Bisa patah dan melukai hewan itu!" serunya dengan begitu kesal.
Air matanya menetes karena ulah manusia yang begitu jahat hanya untuk kesenangan semata. Entah apa yang dicari manusia dengan berburu.
"Jika rumahmu diganggu, bukan salah para binatang, karena kalian yang lebih dulu mengganggu mereka!" teriaknya lalu mengusap air mata kasar.
"My Lord!" Sam menoleh.
"Leen masuk perangkap, ternyata manusia juga memakai lubang untuk menangkap hewan!" lanjutnya melapor.
Sam langsung bergegas ke arah jebakan. Remaja itu berlari menuju tempat di mana binatang bernama Leen itu terjebak. Butuh sekitar satu jam untuk berlari ke lokasi. Napas Sam terengah-engah. Di sana kawanan gajah berkumpul, binatang cerdas itu memutari lubang di mana salah satu kawan mereka terperosok. Bahkan ada yang mengambil kayu untuk menolong kawannya.
"Boleh aku menolong!' teriak Sam.
Semua gajah menatap seorang manusia. Mereka melengkingkan suara keras dan berusaha mengusir Sam.
"Percaya lah, aku hanya menolong!" teriak Sam lagi.
Zeus tak berani mendekat, kawanan gajah itu sama dengan singa yang berkumpul, mereka setia kawan dan sangat cerdas. Sam melihat lokasi jebakan. Lubang sedalam satu meter setengah menjebak Leen anak gajah. Sam melihat tanah yang lebih rendah atau berbentuk miring.
"Di sini Leen!" teriak Sam.
Seekor gajah besar datang menghampiri. Sam baru tau Leen ternyata induk dari anak gajah. Ternyata Leen paham ada tanah yang sedikit miring, untuk memudahkan manusia memindahkan hewan yang terperangkap. Anak gajah itu berhasil keluar. Sam langsung mencari bebatuan besar untuk menutup lubang, para gajah yang melihat langsung paham, hewan cerdas itu mengangkat batu yang jauh lebih besar hingga lubang itu tertutup. Sam kini menyadari jika manusia menebar jebakan sampai sejauh ini.
"Sebaiknya hantu hutan harus ada lagi!" geramnya.
Kawanan gajah pun pergi, Leen menatap Sam, remaja itu melambaikan tangan, hewan besar itu pun pergi bersama anaknya. Para serigala pun muncul.
"My Lord!"
"Kita akan persiapkan jebakan untuk manusia Zeus!" ujar Sam dengan mata berkilat.
"Musim dingin sebentar lagi tiba My Lord!" sahut Zeus.
"Ya, aku akan membuat mereka lari ketakutan sebelum melakukan sesuatu. Sebaiknya aku cari tahu di mana Lelilo berada," ujarnya.
"My Lord apa ingin pergi ke perumahan yang ada di barat daya hutan ini?" Sam mengangguk.
"Ya, aku akan ke sana dengan sepeda gunung yang kuambil beberapa tahun lalu. Aku juga akan berbelanja sambil mencari informasi Lelilo," jawab Sam.
Zeus hanya memandang remaja itu. Baru kali ini ia mendapatkan manusia yang mengabdikan dirinya untuk habitat para hewan.
Sam kembali ke gua, besok pagi ia akan pergi ke perumahan atau perkotaan kecil di sana. Ia akan membeli kendaraan roda dua atau sejenis gerobak yang bisa menarik belanjaannya. Remaja itu merakit sepedanya lalu menempeli beberapa stiker untuk menutupi warna sepeda hingga tak ada lagi yang mengenali. Kejadian memang tiga tahun berlalu.
"Siapa tau dia ingat kalau ini adalah sepedanya yang tertinggal di hutan," gumam Sam.
Lalu ia berbaring dan tidur untuk mempersiapkan hari esok. Esok hari, Sam memanaskan ototnya. Ia membawa perbekalan, ia yakin jarak yang ditempuh pasti jauh. Ia akan melihat situasi kota kecil itu dan jika ayahnya bisa ke sana membantunya, ia akan senang sekali.
"Hati-hati My Lord!" ujar Zeus ketika Sam hendak pergi.
"Thanks Zeus!"
Sam mengayuh sepedanya, hingga ketika menemukan batuan besar, Sam mengangkat sepedanya dan melewati bebatuan-bebatuan itu. Ia kembali mengayuh sepedanya ketika jalanan mulai mudah dilalui, walau Sam harus berhati-hati dengan buaya yang ada di muara. Sebisa mungkin, Sam tak mengganggu hewan melata itu.
"Ternyata, jauh juga jika melalui darat ketimbang pohon ala Tarzan," gumamnya mengeluh.
Hingga malam tiba, Sam memutuskan untuk istirahat di atas pohon. Pemuda itu memilih mengerek tasnya ke atas dan menyimpan sepedanya di semak-semak. Setelah itu ia mengambil kantung tidur lalu di dahan besar, ia menutup matanya.
Lima jam kemudian remaja itu sampai di perkotaan kecil, di sana cukup ramai. Ia memilih sebuah losmen kecil untuk sekedar beristirahat dan membersihkan diri.
Remaja itu mendapat kamarnya, sedang sepedanya ia lipat dan ia bawa ke kamar sesuai anjuran petugas losmen.
Sore hari Sam memilih makan di sebuah restauran kecil yang ramai pengunjung. Ia akan mencuri dengar apa saja yang terjadi termasuk mencari tahu keberadaan Lelilo.
"Kenapa para binatang sekarang makin pintar ya?" ujar salah satu berbicara lalu menenggak botol bir yang ia pegang.
"Iya selama ini kita dikelabui oleh simpanse yang memakai selimut warna putih!" semua tergelak mendengarnya.
"Tapi kenapa simpanse itu bisa mengambil semua barang-barang yang tertinggal ya?" tanya salah satu pria bingung.
"Hei ... kau lupa jika primata itu hewan yang IQ nya sama dengan manusia," sahut satunya lagi.
"Beruntung kita bisa mengecoh binatang itu dengan mainan dan menangkapnya!"
Lagi-lagi semua tergelak membicarakannya.
"Akhirnya dia kini berada di sirkus Lazador dengan harga cukup tinggi," sahut pria itu lagi.
"Ah bukankah, sirkus itu akan datang lagi ke kota ini lusa?"
"Tidak, acaranya yang lusa. Sirkus itu sudah ada dan tengah mendirikan tenda di Utara kota," jelas salah satunya.
Sam mendengar saja, ia selesai memakan makanannya, ketika membayar. lalu salah satu pria menariknya.
"Hei kau anak mana?" tanyanya.
"Saya pendatang tuan," jawab Sam tenang.
"Hei ... dia anak kecil, jangan menakutinya!" peringat salah satunya tengah mabuk.
Pria itu melepaskan cekalannya di kerah Sam. Remaja itu pun merapikan bajunya dan pergi dari sana. Ia akan ke Utara kota ini dan melihat persiapan sirkusnya.
Sesuai papan petunjuk, Sam sudah ada di Utara kota. Sebuah lapangan besar. Banyak orang-orang yang mondar-mandir. Banyak juga yang menonton dengan membayar tiket sekitar 20 dolar. Sam membayar tiket dan melihat semua binatang yang dikerangkeng. Semua adalah hewan setengah jinak. Sam berpikir akan sulit jika melepaskan mereka dan mengarahkan semua binatang ke hutan. Satu-satunya jalan adalah ia harus menemukan Lelilo terlebih dahulu.
"Uuu aaaa aaakk!" suara simpanse terdengar riuh.
Sam mendatangi satu kandang besar, di sana banyak simpanse dengan kondisi mengenaskan. Sam sedih bukan main.
"Lelilo!" panggilnya.
"Lelilo!"
Semua binatang berisik dan mulai menyadari keberadaan dirinya yang berbeda. Tak ada yang curiga karena memang banyak pengunjung yang datang.
"Lelilo!" seekor simpanse datang dan mendekati remaja itu.
"Lelilo apa itu kau?!" bisiknya.
Netra binatang itu seperti memohon padanya. Sam tersenyum penuh arti dan dibalas cengiran binatang itu.
Remaja itu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo ayah ... apa kau bisa membeli satu pleton binatang sirkus?"
bersambung.