
Musim dingin ternyata sedikit lama berakhir. Mesin penghangat milik Sam sudah mulai habis. Remaja itu mematikannya mesin. Ia mesti menghemat, remaja itu keluar dari gua. Salju menumpuk di mulut gua, ia hampir tertimbun salju jika tak segera melompat menghindar.
"Wow banyaknya!' serunya ketika tumpukan salju yang masuk.
Sam mengambil benda yang menyerupai skop. Remaja itu mendorong keluar tumpukan salju, agar dia bisa keluar dan membersihkan tumpukan es serbuk itu.
"Pagi hutan!" teriaknya.
Ayam jantan milik Sam berkokok lemah. Remaja itu tertawa mendengarnya. Ia membersihkan salju-salju itu hingga membentuk jalan. Kandang hewan ternak Sam tentu tak seperti waktu itu. Kini terbuat dari tenda kecil milik pemburu yang ia jarah. Di dalam tenda tersusun beberapa sedang ayam bertelur dan si jantan yang bertengger. Sam juga menyalakan tiga lampu di dalam, agar tak membuat hewan ternak mati kedinginan.
"Masih terlalu dingin untuk keluar Rooster!" ujarnya yang disambut suara berisik ayam itu.
Sam kembali terkekeh. Kadang ia merasa lucu sendiri berbicara dengan para binatang-binatang. Bahkan ia merasa masih bermimpi beberapa hewan malah menyahutinya seperti Zeus.
Matahari mulai nampak. Walau belum begitu panas, tetapi salju mulai meleleh. Sam hanya tinggal menunggu waktu, para pemburu datang. Ia sudah menyiapkan semuanya.
"My Lord!"
Zeus datang menghampiri. Sam masih bersantai. Beberapa alat telah disiapkan oleh pemuda itu.
"Ada tiga babi hutan yang masuk perangkap My Lord," lapor hewan berkaki empat itu.
"Tidak apa-apa Zeus. Itu memang sengaja, agar mengira semua jebakannya berhasil," sahut Sam.
Zeus diam. Ia menidurkan dirinya di sisi remaja itu, lalu meletakkan kepalanya di perut Sam, remaja itu mengelusnya.
"Zeus," panggilnya lirih.
"Ya My Lord,"
"Apa pembalakan itu masih terjadi?" tanya Sam.
"Selama ini pembalakan tidak ada My Lord," jawab Zeus.
Sam tidak yakin, jika benar-benar pembalakan itu berhenti. Remaja itu akan memastikannya lagi nanti.
Tak terasa musim semi dimulai. Binatang-binatang keluar dari kandang untuk kembali berburu. Banyak juga melakukan perkawinan di antara mereka.
Sam mencoreng semua tubuhnya dengan warna hijau ia juga memakai rompi anti peluru. Memakai alas kaki dari kulit agar tak terlalu berat dan melindungi telapaknya dari semak berduri.
"Zeus, kau sudah siap?" tanya Sam.
Ia telah menutup pintu dan berjalan menuju Utara di mana jebakan itu berada. Sam menaiki pohon besar, beberapa burung yang bertengger berterbangan. Lalu ia mengambil satu akar yang menjulur dan mulai mengayunkan tubuhnya. Beberapa pohon di lalui. Satu pohon besar di tengah memudahkan Sam mengawasi para pemburu yang tengah membangun tenda. Anjing-anjing dirantai tampak menyalak dan menggoyangkan ekor. Anjing sejenis serigala German shepherds atau biasa disebut anjing gembala Jerman.
"Zeus ... jangan terlalu dekat, anjing-anjing itu dari bangsamu!" bisik Sam.
Zeus tak jadi mengikuti junjungannya. Binatang itu mencari cara agar para anjing tak mencium keberadaannya. Zeus lalu pergi ke sebuah kolam lumpur di sebelah selatan, hewan berkaki empat itu menggulingkan tubuhnya di sana baru ia mengikuti Sam.
"Andai aku bisa memanjat," keluhnya.
"Uuuk ... aaak!"
"Zorrof!" panggilnya pada binatang itu.
"Yang mulia!" sahut hewan primata itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zeus.
"Membantu My Lord ... membalaskan kematian putraku!'
Zeus lalu berlari mengikuti gerakan simpanse besar itu. Zorrof melihat Sam yang asik mengamati para pemburu. Hewan berbulu hitam pekat itu lalu bersuara.
"Uuuk ... aaak ... aaak!"
Sam menoleh para pemburu tampak kegirangan. Anjing-anjing menyalak. Zorrof mendekati Sam.
"Zorrof apa yang kau lakukan?" tanya Sam berbisik.
"Menjadi hantu hutan My Lord!"
Sam berkaca-kaca. Ia memeluk hewan primata itu dan mengucap terima kasih.
"Tapi, jangan sampai membahayakanmu Zorrof," pinta remaja itu.
"Tenanglah My Lord,"
"Para pemburu biasanya mengamati terlebih dahulu suasana jebakan mereka. Aku sudah memalsukannya. Tiga babi hutan meyakinkan mereka jika jebakan itu berhasil," bisik Sam.
Benar saja. Beberapa pemburu yang memeriksa berteriak senang dengan tiga babi yang terjerat. Para anjing juga menyalak keras seakan menakuti babi-babi itu.
"Ayo lepaskan mereka bodoh," bisik Sam geram.
"My Lord!" tegur Zorrof.
Sam hanya nyengir kuda. Zorrof hanya menggeleng dan menepuk keningnya. Binatang primata itu memang kelakuannya mirip manusia.
"Hei ... jebakan Roger kena!" teriak para pemburu dengan napas terengah.
Pria bernama Roger tersenyum sombong. Ayahnya dulu juga seorang pemasang jebakan handal, kebisaan itu menurun padanya.
"Kalau begitu beberapa di antara kalian menunggu tenda. Sebagian kita ambil babi itu," titahnya.
Semua mengangguk setuju. Delapan anjing mereka bawa dengan kekang mereka. Beberapa pria menunggu tenda.
"Ck ... pintar juga ya," gerutu Sam sebal.
"Mereka tentu belajar Sam," sahut Zorrof malas.
"Ah ... lihat itu Zorrof!' bisik Sam lalu menunjuk di mana manusia mendekati babi yang terjebak.
"Kita harus menembak bius mereka agar tak berontak!" seru satu pria memberi saran.
Salah satu membidik jebakan besi. Sam mengambil katapel dan langsung melesatkan batu kecil ke tangan pemegang senapan.
"Aaah!"
Dor! Nguik! Nguik! Nguik! Kaing! Suara letusan senapan dan babi yang menguik juga anjing yang mengaing.
Babi tak roboh karena peluru itu tak kena justru mengenai salah satu anjing mereka.
"Bodoh!" teriak salah satu pemburu.
Pria itu langsung menggendong hewannya yang sudah lemas karena peluru obat bius. Yang lainnya bimbang antara ikut dengan rekannya yang menolong anjing atau dengan rekan yang sepertinya tangannya mulai membengkak.
"Kenapa tanganmu?" tanyanya.
"Entahlah, seperti lebah yang menyengat," ujarnya.
"Sudah kita pukuli saja hewan itu hingga pingsan," ujar salah satu memberi saran.
Mereka memukuli binatang dalam jebakan besi itu. Merasa cukup. Kelima pria membuka jebakan dan terlihat babi yang tergeletak.
"Hahaha ... ayo angkat dua lagi menyusul!" teriak pria itu kesenangan.
Hal itu membuat babi sadar dan bangun dari pingsannya. Semua pria berteriak dan melepas anjing-anjing yang mulai menyalak menakuti babi.
Babi itu malah mengejar anjing-anjing dan mulai ketakutan. Para pemburu juga mulai kocar-kacir. Sam nyaris terbahak ketika salah satu pria hendak diseruduk babi.
Hingga terdengar letusan senjata babi itu roboh dan mati. Roger di sana dan nampak berwajah geram. Ia juga menembaki dua babi yang kena jerat. Baru tiga babi diangkut oleh para pria ke tenda bersama para anjing. Sam diam, Zorrof juga.
Nampak Roger menatap sekeliling.
"Siapapun kau ... aku pasti menangkapmu!" teriaknya.
"Uuuk ... aaak ... aak!" teriak Zorrof hingga Sam menutup telinganya.
Beberapa simpanse ikut berbunyi. Pria itu menatap pohon di mana ada Sam dan Zorrof berada. Ia mengangkat senjata Sam melepas ketapel tepat menyumbat lubang senjata.
Blur! Senjata itu meledak tepat di tangan pria itu.
"Sialan!' makinya.
bersambung.
next?