THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
RESPONSIBILT 2



Lowongan kerja besar-besaran terjadi. Sam, merekrut setidaknya lima ratus ribu pekerja untuk menjaga lima ratus pos yang mengelilingi hutan.


Perekrutan itu membuat banyak peminat, seperti para tuna wisma dan juga pengangguran. Pencarian besar itu menguntungkan negara dan menaikan stabilitas ekonomi.


Sam juga membeli beberapa luas tanah dan mendirikan rumah sederhana bagi keluarga pekerja dengan sistem potong gaji. Jadi selama lima belas tahun mereka akan mencicil rumah sendiri dengan potongan yang disetujui.


"Jika ada yang berhenti. Maka gaji penuh didapatkan, tetapi harus meninggalkan rumah sekarang juga kecuali, setelah lima belas tahun bekerja!" sahut kepala Humas.


Sam mendirikan perusahaan yang bertujuan mengembalikan habitat hutan. Banyak para ahli yang akan mengembalikan beberapa hutan rusak akibat digunduli oleh para penebang. Kiev menjadi CEO dari perusahaan milik Sam. Pria itu juga sudah belajar tentang lingkungan hidup.


"Anda luar biasa, Tuan Riches," puji salah satu wartawan.


"Saya? Perusahaan ini bukan milik saya! Di sini saya hanya menjadi penanggung jawab utama!" sahutnya mulai kesal.


"Lalu siapa pemilik utama dari perusahaan ini Tuan muda Riches?"


"Lockhart!' jawab pria itu.


"Kalian lihat kan nama perusahaannya?' sahut Kiev lagi.


Para wartawan diam. Mereka memang sudah sering mendengar jika Stefanus Lockhart begitu vokal terhadap masalah hutan. Bahkan kini banyak pejabat tak dapat berkutik setelah hutan diambil alih oleh perusahaan Lockhart Company.


"Kalian itu terkadang abai dengan pahlawan yang sebenarnya!" ketus Kiev kesal.


Tiga bulan berlalu, para pekerja sudah memenuhi kuota. Kekayaan Keluarga Lockhart makin melejit akibat konsep perumahan sederhana yang bisa dicicil selama lima belas tahun. Ekonomi negara benar-benar terbantu akibat pergerakan masalah warga miskin dan tuna wisma.


Kini enam bulan berjalan, Sam sudah tak lagi menemukan laporan akan adanya usaha perburuan liar dan juga penebangan secara liar. Penjaga pos benar-benar menjalankan pekerjaannya dengan baik.


"Akhirnya, aku bisa menyelamatkan hutan," ujar Sam lega.


"Apa kau akan kembali ke hutan dan mengembalikan Zeus ke habitat aslinya?' tanya Kiev.


"Tentu saja, besok aku akan ke sana!" ujar Sam.


"Apa kau mau ikut?" ajaknya.


"Aku tak memiliki kepentingan," sahut Kiev membuang muka.


"Ikut saja, yuk!' ajak Sam.


Pria itu menatap pemuda tampan yang lebih tinggi darinya. Sam, memang sangat tampan, rambut keemasan dan mata abu-abu yang begitu misterius. Kiev bisa tahu kenapa Zimba, sang penguasa hutan memilih Sam yang menjadi junjungan mereka.


"Kini aku tau alasannya, kenapa Zimba memilihmu," ujarnya.


"Apa?" tanya Sam ingin tahu.


"Karena kau tulus, Sam,"


"Kau juga tulus," Kiev menggeleng.


"Aku terpilih karena Zoor yang ingin diakui oleh semua kawanan serigala, aku ikut karena keserakahan menguasai hutan!" jawab pria itu.


"Jika aku tulus, tentu aku tidak ...."


"Sudah lah, lupakan itu. Kau sudah memperbaikinya," ujar Sam memotong pembicaraan Kiev.


"Jadi aku harus ikut denganmu?" tanya Kiev.


"Aku tak memaksa, tapi pasti kau ingin bertemu dengan sang penguasa rimba bukan?" Kiev mengangguk.


"Aku juga merindukan Zoor," sahutnya.


Mereka pun pulang. Kiev mengendarai mobilnya. Perusahaan hutan milik Sam memang ada di tengah kota. Di sana ia memiliki billboard sendiri untuk mengampanyekan perlindungan hutan.


Dalam perjalanan, mobil yang dikendarai Kiev berhenti ketika lampu merah. Pria itu tengah memandang pinggir jalan yang berdiri pertokoan. Di sana ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenali.


"Bella?"


Bunyi klakson mengagetkannya, lampu sudah hijau. Pria itu harus menjalankan mobilnya. Kiev menggerakkan mobil dan mencari jalan agar bisa mendekati Bella.


"Sudah berapa lama aku tak bertemu dengannya? Tujuh bulan?' gumamnya.


Pria itu memarkirkan kendaraannya di sebuah halaman swalayan. Jarak antara dia melihat Bella sedikit jauh. Pria itu berlari mencari keberadaan wanita itu.


"Bella!" teriaknya di keramaian.


Orang-orang hilir mudik di sepanjang jalan kecil itu. Ia berkali-kali memanggil nama wanita yang sudah lama tak ia temui.


"Bella!" teriaknya.


Sedang wanita yang punya nama menoleh, jarak keduanya ada sekitar seratus meter. Kiev melihat keberadaan Bella, ia segera menghampiri.


"Bella," Kiev terengah.


"Kiev!" sahut wanita itu.


Kini keduanya ada di sebuah restauran. Bella memesan menu sehat untuk dirinya. Ia makan dengan lahap.


"Delapan bulan," jawab Bella santai.


Makanan habis, wanita itu mengelus perutnya yang besar. Tampak, terlalu berat.


"Terima kasih atas traktirannya Kiev!" ujarnya sambil terus mengelus perutnya.


Mukanya sedikit menahan rasa sakit akibat dua janin diperutnya bergerak.


"Kau tidak apa-apa?" Bella menggeleng sambil mengatur napasnya.


Kiev tiba-tiba mengelus perut buncit Bella. Wanita itu sontak mengerang kesakitan.


"Aarrrgghh!"


"Bella!" teriak Kiev panik luar biasa.


"Tolong ... tolong bawa aku ke rumah sakit," pinta Bella terbata-bata.


Beberapa orang menolong Kiev. Pria itu meletakan Bella di samping kemudi. Ia menyetir dan langsung menjalankan mobil itu ke rumah sakit.


Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai. Kiev langsung berteriak keras.


"Kiev, ambil tas di bagasi, semua keperluan ku ada di sana,' ujar Bella dengan muka pucat.


Brangkar langsung bergerak ke ruang persalinan. Kandungan Bella ternyata sudah mau menginjak sembilan bulan. Selama empat jam Kiev menunggu di luar ruangan.


Ponsel Kiev berdering. Ia mengangkatnya. Anamaria meneleponnya.


"Kau di mana Nak?" tanyanya.


"Aku di rumah sakit Mom,"


"Apa ... apa yang terjadi padamu?" tanya Anamaria di seberang telepon.


"Bukan aku ... tapi Bella Mom!"


"Bella?"


"Ya Mom, dia akan melahirkan anakku," jawab Kiev.


"Apa?!"


Sambungan telepon sudah terputus dari tadi. Belum ada tanda-tanda, jika janin itu akan lahir. Masih terdengar erang kesakitan dari mulut Bella.


"Nak!"


Anamaria dan Gerard datang, keduanya memasang muka marah dan akan memaksa putranya pulang.


"Ayo pulang!'


"Tidak, anakku ada di dalam sana dan belum lahir," tolak Kiev.


"Kau pikir dia hamil anakmu? Bagaimana jika ia tidur dengan pria lain?" tukas Anamaria membenci Bella.


"Mom, aku yang pertama baginya, dia masih perawan!' Anamaria terdiam.


Lalu terdengar bunyi tangisan bayi begitu keras dan kuat, lalu lima menit kemudian lahir lagi yang kedua. Kiev terkejut dengan dua suara bayi. Dokter keluar.


"Keluarga Fox!"


"Saya ayah dari bayi itu!' seru Kiev langsung.


"Bayi anda kembar sepasang, lahir normal dua bayi sehat, ibunya juga!" ujar dokter menjelaskan.


"Apa boleh saya lihat?"


"Nanti, ya kalau di ruang perawatan," saran dokter.


Setengah jam berlalu. Kiev kini melihat dua bayi yang sangat mirip dengannya, mata biru dan rambut pirang.


"Mom, ini adalah anakku," ujar Kiev.


Anamaria terpesona melihat dua cucunya, begitu juga Gerard, pria itu yakin jika dua bayi kembar itu adalah keturunannya.


"Ehem!" Bella berdehem.


"Bella ... Bella, itu anak kita ...," sahut Kiev terharu.


Bella hanya mengangguk, wanita itu memang tak bisa menghilangkan Kiev.


"Kalian harus menikah secepatnya!" tukas Gerard tegas.


bersambung.


next?