THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
BACK TO HABITAT



Pagi hari, Sam sudah bersiap. Kini ia bisa masuk hutan melalui jalur paling dekat dan tak takut untuk diikuti pemburu atau penebang liar. Beberapa minggu terakhir, pria itu mendapat laporan jika ada tiga orang berusaha masuk ke hutan secara sembunyi-sembunyi. Tapi, semua bisa ditangkap dan langsung masuk penjara tanpa ampun.


Sam menelepon Kiev, apakah pria itu bersedia ikut dengannya.


"Halo Kiev!" ujarnya langsung ketika sambungan telepon diangkat.


"Halo, apa kau jadi ke hutan hari ini?" tanya Kiev di seberang telepon.


"Ya, aku baru saja mau berangkat. Apa kau mau ikut, biar kujemput kau!"


"Aku sebenarnya ada di rumah sakit," sahut Kiev.


Pria itu menatap wanita yang baru saja melahirkan dua bayi kembarnya. Bella baru bisa pulang besok. Gerard dan Anamaria tengah dalam perjalanan, sebentar lagi mereka tiba dengan membawa banyak baju bayi yang lucu.


"Kau kenapa?" tanya Sam di seberang telepon.


"Aku tidak apa-apa. hanya saja baru menjadi ayah dari kembar sepasang," jawab Kiev dengan nada bangga.


"Kau apa?" tanya Sam tak percaya.


"Aku baru menjadi ayah Sam!' jawab Kiev lagi.


"Kapan kau menikah?" tanya gusar di seberang telepon.


"Aku belum menikah tapi aku sudah punya dua anak langsung," jawab Kiev santai.


Sam hanya menghela napas panjang. Pemuda itu kini berusia dua puluh tiga tahun.


"Baiklah, kau harus bersama ibu dan bayimu dulu. Biar kusampaikan salammu pada Zoor," ujar Sam.


"Tunggu sebentar!" pekik Kiev.


"Halo Sam?!" panggil Kiev di sambungan telepon.


"Ya aku masih di sini!" sahut pemuda itu.


"Aku ikut, istriku sudah mengijinkan aku!" ujarnya.


"Memangnya kau bilang apa?" tanya Sam gusar.


"Tenang Sam. Kan kita harus mengecek hutan secara rutin bukan?" sahut Kiev lagi dari seberang telepon.


Sam mengerti, jika Kiev berbohong pada wanita yang baru saja memberinya dua anak kembar. Sam menutup sambungan teleponnya.


"Kau akan berangkat nak?" tanya Stefanus ketika melihat putranya sudah bersiap.


"Iya Ayah, aku berangkat dan menjemput Kiev," jawab Sam.


Becky memeluk putranya. Ia selalu bangga dengan apa yang dilakukan oleh Sam.


"Hati-hati sayang, kau bawa perbekalan banyak kan?" Sam mengangguk.


"Aku berangkat Ma, Ayah!' pamit pemuda itu.


"Hati-hati sayang!" sahut keduanya melambaikan tangan.


Mobil Sam bergerak meninggalkan halaman mansion. Stefanus memeluk bahu istrinya dan mengecup pelipis Rebecca.


"Kita masuk, angin makin kencang," ajaknya.


Keduanya pun masuk ke mansion mereka. Sementara Sam menuju rumah sakit di mana tadi Kiev berada. Ia akan menjenguk ibu yang melahirkan itu sebentar.


Sam yang diikuti beberapa mobil bodyguard tentu sigap kemanapun ia berhenti. Pemuda itu turun, banyak orang berteriak histeris memanggilnya.


"Produser ... produser, lihat aku ... aku juga berbakat jadi artis loh!" sahut salah satu wanita yang ada di sana.


Sam masuk sebuah butik baju bayi. Ia membeli baju sepasang untuk baptis. Setelah dibungkus cantik, pemuda itu membayarnya lalu kembali ke mobilnya.


Semua berteriak, Sam melambaikan tangannya. Tak ada waktu, ia harus bergerak cepat, pemuda itu langsung masuk mobil dan bergerak menuju rumah sakit.


Tak lama pemuda itu sudah berada di ruang rawat. Gerard dan Anamaria memeluknya dan meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu.


"Sudah lah Tuan Riches. Kiev sudah membayarnya kemarin," ujar Sam bijak.


"Ini untuk dua Riches," ujarnya memberikan satu kado cantik.


"Terima kasih!" sahut Bella senang.


"Kami jalan dulu," pamit Sam.


Kiev mengecup Bella dan kedua orang tuanya.


"Aku titip istriku dan juga dua anakku Mom, Dad!"


"Jangan khawatir sayang, pergilah ucapkan maaf pada semuanya," ujar Gerard.


Sam melangkah cepat, Kiev harus mengejar pemuda itu. Ia kalah tenaga dan juga stamina. Pria itu terengah-engah ketika masuk mobil bersama Sam.


"Berolahraga lah bro!" ledek Sam.


Kiev berdecak kesal. Akhirnya mobil itu bergerak menuju pintu hutan paling dekat. Keduanya telah berpakaian khusus. Sam menggendong ransel berisi tenda untuk mereka menginap nanti di tengah-tengah hutan. Butuh waktu lima jam untuk sampai depan hutan. Mobil masuk perlahan setelah Sam membuka kaca mobil. Semua penjaga mengenal dirinya.


"Silahkan Tuan!" ujar penjaga mempersilahkan masuk.


Mobil bergerak masuk lebih dalam. Sam sengaja mengemudikan mobilnya sedikit rapat di pinggir jalan agar tak dilihat oleh penjaga dan kemudian setelah sedikit jalan mendaki, Sam mengemudikan mobilnya pelan sekali hingga jarak seratus kilometer, barulah berhenti.


"Kita turun di sini!" ujar Sam.


Keduanya turun dan memulai perjalanan masuk lebih dalam. Kiev mengikuti langkah Sam, ia benar-benar buta arah. Ia juga tak berani menawarkan bantuan. Pendalaman cukup sulit, menyebrangi sungai dangkal dan melangkah lebar atau merangkak pada akar pohon yang menyembul keluar dari tanah.


"Sam berhenti sebentar ... aku kelelahan!" ujar Kiev tak mampu lagi berjalan.


Pria itu duduk di tanah dengan napas terengah-engah. Sam menghentikan langkahnya. Ia juga sudah cukup lelah, perjalanan masih panjang.


Sebenarnya ia bisa saja naik pohon dan mengayunkan tubuhnya melalui akar-akar pohon yang menjuntai. Itu akan lebih cepat, tapi ia tak mungkin meninggalkan Kiev sendirian.


"Berapa jauh lagi Sam?" tanya Kiev.


"Tiga hari paling cepat Kiev!"


"Kau gila!" pekik pria itu tak percaya.


"Ayo jalan lagi. Hari belum gelap!' ajak Sam.


Pemuda itu bangkit dan membenahi letak ranselnya. Kiev menarik napas dan membuang kasar sambil berteriak.


"Hah!"


Keduanya kembali berjalan, hingga malam menjelang. Sam mendirikan tenda dan membuat api unggun.


"Ini makanlah!"


Sam memberikan makanan pada Kiev yang langsung disantap begitu lahap. Pria itu belum terbiasa berjalan begitu jauh, Kiev kelelahan dan masuk kantung tidurnya yang ada di dalam tenda, tak lama ia pun terlelap. Sam masuk setelah lama mengamati jalan. Pemuda itu hafal lewat mana yang mesti ia lalui.


"Kiev ... bangun!"


Sam menggoyangkan tubuh pria itu. Kiev masih kelelahan, namun pria itu harus bangun. Sam memberinya satu sandwich untuk mereka sarapan.


Selesai sarapan dan membereskan tenda. Keduanya kembali berjalan, Kiev kembali mengikuti langkah Sam. Kali ini ia membawa kantung tidurnya. Mereka berkali-kali berhenti karena Kiev yang tak kuat lagi berjalan.


"Sam ... kau tak mengatakan perjalanannya seberat ini!" keluhnya dengan napas putus-putus.


"Ini lah yang kulalui sebelum semuanya kembali damai Kiev," jelas Sam.


"Aku pasti mati!" pekik Kiev.


"Kau tidak mati ... sebentar lagi kau akan terbiasa. Ayo jalan terus!" paksa Sam.


Kiev kembali melangkahkan kakinya dengan menyeret. Ia benar-benar kelelahan. Sam terus memaksa pria itu, ia yakin Kiev mampu melewati titik di mana lelah ia tak lagi rasakan.


Sudah malam kedua, keduanya makin masuk ke dalam hutan. Bunyi-bunyi hewan terdengar keras seakan menyambut keduanya.


"My Lord!"


"Zeus!" sahut Sam.


Brug! Kiev jatuh tak sadarkan diri. Ia kelelahan setengah mati.


bersambung.


ah ...


next?