
Aku menghitung hari yang berlalu. Empat musim kulewati berkali-kali. Tubuh ini makin lama makin besar dan tinggi. Hanya satu sesson saja pemburu-pemburu itu tak datang. Namun, kembali lagi di musim semi tahun setelahnya.
Aku nyaris tertangkap ketika hendak memindahkan jebakan. Walau akhirnya berhasil akibat mengingat hantu hutan. Aku memakai handuk menutupi semua kepala dan menakuti mereka.
Ajaib, mereka lari ketakutan bersama anjing-anjing mereka dan meninggalkan semua peralatan kemah, baju, senjata, peluru, dan paling penting adalah makanan. Bahkan aku dengan berani membawa mobil caravan mereka hingga sampai pada gua tempat ku tinggal, walau pada hari itu juga Zeus memintaku untuk mengembalikannya.
"Jangan pancing mereka makin masuk dengan melihat jejak benda itu ke sini!" ujar binatang itu marah.
Aku pun mengembalikan mobil itu begitu saja.
Aku bisa menyetir? Tentu saja, dengan ingatanku, aku seperti pernah membawa satu mobil kotak mengitari lapangan hijau yang sangat luas. Dengan satu lubang di titik tertentu.
"My Lord!"
Lamunanku buyar seketika mendengar panggilan Zeus. Aku sudah berusia tiga belas tahun dan makin mahir dengan segala keterampilan yang diberikan oleh ketua serigala itu.
"Kita harus ke suatu tempat!" ajak binatang itu.
Seperti biasa, aku menunggangi Zeus, binatang itu masih lebih besar dari tubuhku. Entah berapa jauh aku berjalan. Hingga di suatu tempat. Aku mendengar suara bising yang sangat aneh. Seperti suara mesin. Lalu terdengar suara bunyi benda jatuh dengan begitu kerasnya.
"Apa itu Zeus?" tanyaku penasaran.
Aku melompat dari punggung Zeus. Segera aku mendekati asal suara. Ketika sampai. Aku membelalak tak percaya dengan apa yang kulihat.
Delapan pria memegang satu alat dan menggergaji pohon. Sudah ada sepuluh pohon berhasil dipangkas oleh orang-orang itu. Bahkan sebagian telah dipotong-potong dengan ukuran yang sama dan ditumpuk di beberapa tempat.
"Ini pohon terakhir!" seru salah satu pria.
Semua bertepuk tangan dengan hasil mereka.
"Kita akan dapat bayaran besar jika berhasil menggunduli hutan ini!" seru salah satu pria lalu tertawa keras diikuti yang lainnya.
Aku mengepal tanganku kuat-kuat. Sebuah pembalakan liar tengah terjadi di hutan ini. Orang-orang serakah di luar sana menginginkan kayu-kayu terbaik dalam hutan tanpa mau bersusah payah menanam sendiri pohon yang mereka inginkan.
Semua pergi menaiki motor trail. Rupanya mereka sengaja masuk lebih dalam ke hutan ini agar tak ketahuan oleh petugas setempat.
Aku menunggu hingga hari mulai beranjak gelap. Kudekati area yang telah ditebas secara sadis dan membuat pohon akan lama bertunas.
"My Lord!" panggil Zeus tampak gelisah.
Aku menatap mesin yang digunakan oleh pria-pria tadi. Kucari batu besar lalu kurusak benda itu hingga hancur. Ada empat mesin dan semua kuhancurkan sampai benar-benar rusak.
"My Lord!'
"Kita akan tidur di sini Zeus. Aku mau lihat reaksi mereka jika melihat alat perusak ini sudah hancur!' tekanku.
Zeus pun berlalu dari sana. Aku memanjat pohon besar dekat situ dan tidur di dahan yang lebih lebar.
Pagi hari menjelang. Ada keributan di bawah sana terdengar. Mereka saling menyalahkan satu dengan lainnya.
"Kenapa bisa rusak?!" teriak salah satunya.
Aku hanya menonton pertengkaran mereka dari atas pohon. Dua orang saling pukul setelah saling tuduh. Yang lain berusaha memisahkan, walau akhirnya semua berkelahi dan pergi dari lokasi itu masing-masing.
Aku bernapas lega. Berpikir mereka tak akan datang. Hingga tiba-tiba aku melihat sebuah mobil besar bergerak masuk ke lokasi penebangan. Kembali aku menunggu mereka dan urung pergi.
"Dasar kalian tak berguna!" bentak yang kuduga adalah boss mereka.
"Kenapa bisa rusak seperti ini?"
"Aku yakin salah satu dari kalian berkhianat!" tuduh Boss itu.
Aku ingat. Setiap beberapa minggu, patroli hutan akan mengitari kawasan hutan ini dengan helikopter. Aku tahu, karena aku berlatih dan suka mendengar suara itu. Zeus memberitahuku tentang patroli hutan yang kadang datang tak tentu.
"Semoga patroli datang. Aku akan memberi tanda jika di sini ada pembalakan liar!" gumamku lagi begitu antusias.
Aku mengambil ketapel dan mengambil serbuk batu Penebangan yang sedikit ini tentu tak kelihatan dari atas karena rimbunnya pohon-pohon besar. Aku tarik ketapel kuat-kuat, kini benda ini aku dapatkan dari pemburu yang tertinggal barangnya.
"Semoga serbuk ini pecah ketika di udara," pintaku berharap.
Aku melontarkan batu itu ke udara. Tidak terlihat warna yang buyar ketika di atas. Cukup lama aku menunggu.
Aku mencoba menarik kuat karet ketapelku dan mengarah ke atas. Belum kulepas tiba-tiba ....
"Aduh!" seru seorang pria di bawah sana kesakitan.
"Hei siapa yang melemparku?!" teriaknya.
"Boss ... kepalamu memerah!" ujar bawahannya.
Aku melihat jika batu yang kulontarkan tadi ternyata tak sampai dan malah berbalik mengenai kepala pria berperut buncit itu.
"Eh, kenapa serbuk?" tanyanya melihat tangannya yang memerah akibat serbuk yang kulempar tadi.
Semua saling pandang satu dengan yang lainnya. Pria itu menatap ke atas pohon. Tentu ia tak akan melihatku, aku berada di dahan paling besar dan paling rimbun. Hanya aku yang bisa melihat mereka.
"Boss?" panggil anak buahnya mulai ketakutan.
"Sepertinya kita ada yang mengawasi?!' lanjutnya sambil matanya mengedar.
Aku bisa melihat dan mendengar dengan jelas perkataan pria itu. Aku sudah terlatih dengan baik.
"Sebaiknya kita pergi setelah mengambil apa yang telah kita kerjakan!"
"Hei ... yang Boss itu aku atau kau!' sentak pria berkemeja kotak-kotak pada bawahannya.
Aku menyeringai. Ku jatuhkan lagi batu tapi dengan sedikit melemparnya ke arah lain.
"Boss!" seru delapan pria ketika mendengar suara benda jatuh.
"Sepertinya tempat ini diawasi. Kita harus mengangkut cepat kayu-kayu itu, agar lelah kita dibayar!" titah pria itu.
Mereka saling membantu mengangkat kayu-kayu itu.
"Ck ... sepertinya seru jika mereka pergi tanpa hasil," ide cemerlang terlintas.
"Wuk ... wuk ... wuk ... aaakkk ... aaakkkk!!" aku menirukan suara kera hitam.
Tak lama suara-suara sama saling bersahutan satu dengan lainnya. Bunyi dahan saling bersentuhan terdengar. Pria-pria itu makin panik, batang-batang kayu belum terangkut semua. Lima orang sudah lari tunggang-langgang. Yang lain menolak dan ikutan lari karena suara gajah terdengar keras dan makin dekat. Boss itu naik truk pengangkut dan memutar balik kendaraan besar itu meninggalkan batang pohon yang belum terangkat, bahkan ada beberapa batang yang diangkut menggelinding keluar bak truk.
Aku tersenyum puas. Hari ini, satu pembalakan bisa kuhentikan. Zeus mendekatiku ketika sudah turun dari atas dahan.
"My Lord,"
"Lihat Zeus, aku berhasil kan?" ucapku bangga.
"Kalau begitu ikut aku, My Lord!' ajak binatang itu.
Kami berjalan sedikit jauh ke Utara paling dalam hutan. Di sana hilir mudik orang-orang lalu lalang. Nyaris separuh area hutan sudah ditebang. Batang-batang kayu bertumpuk. Tak ada sistem pengganti pohon yang aku ketahui di buku pelajaran jika ingin mengambil kayu dalam hutan. Manusia harus menanam terlebih dahulu untuk mengganti pohon yang mereka tebang.
"Besar sekali!" gumamku tak percaya.
"Bagaimana aku mengalahkan mereka Zeus?" tanyaku.
Aku menatap binatang itu.
"Aku butuh kekuatan lebih besar untuk menghentikan mereka Zeus!" ujarku.
"Bagaimana My Lord?" tanya hewan besar itu.
"Aku harus kembali ke orang tuaku, Mereka orang kaya kan?" ujarku.
"Sudah saatnya orang-orang yang memiliki kekayaan mempergunakan kekayaan mereka untuk melestarikan lingkungan," ujarku.
bersambung.
wah ... setuju nggak ya Zeus?
next?