
Sam memulai kuliahnya. Remaja itu mengambil tiga fakultas berbeda dan ketiganya lulus dengan nilai sangat baik. Ia mengatur jam kuliahnya agar tak berbenturan. Untuk kuliah hukum ia mengambil jam pagi, untuk lingkungan hidup dan sumber daya alam ia mengambil kuliah siang, sedang perfilman, sam mengambil jam malam.
Remaja itu mengambil satu tahun perkuliahan untuk lingkungan hidup begitu juga perfilman. Namun untuk hukum. Sam memilih kuliah full agar bisa menggunakan gelarnya membela hewan-hewan yang memang harus dibela haknya.
Hari pertama dapat ia jalani dengan baik hingga satu minggu ia kuliah. Begitu seriusnya dia menjalani perkuliahan, hingga sirkulasi pertemanannya sangat minim, atau bisa dibilang minus.
“Sam!” panggil dosen hukumnya.
“Saya?” sahutnya.
“Aku lihat kau begitu serius sekali kuliah?” tanya pria paru baya itu.
“Apa itu salah, pak?” tanyanya dengan dahi berkerut.
“Tidak, tidak salah. Tapi pertemanan itu penting bagi pemuka hukum. Gunanya banyak sekali, selain sharing dan diskusi. Mungkin kau bisa membentuk satu firma yang sejalan dengan misi mu,” ujar dosennya memberi saran.
Samuel tersenyum. Remaja itu mengucap terima kasih walau ia ragu jika ada teman yang seperjuangan dengannya ketika tau jika ia membela mahkluk hidup yang tak akan membayarnya. Sam memilih ke perpustakaan dan banyak membaca apa saja.
“Buku adalah jendela dunia,” ujarnya.
Sam mulai membuat sebuah skenario untuk film dokumenternya. Bagaimana hutan juga butuh tangan-tangan dingin yang melindunginya. Minat baca seseorang memang sangat kurang. Mereka lebih suka melihat visual dibanding membaca.
Maka ia merubah mata kuliah menjadi animasi. Sam mencoba menggambar. Ia nyaris terbahak melihat lukisannya. Beberapa orang menatapnya tajam. Ia langsung menutup mulut dengan tangannya dan meminta maaf melalui anggukan kepala.
“Ck ... aku tak bisa gambar!” decaknya kesal.
Kali ini benar apa kata dosennya. Ia membutuhkan tim untuk menunjang misinya. Beruntung sang ayah memiliki perusahan perfilman yang jarang sekali membuat film. Sam akan memanfaatkan itu. Ia hanya tinggal memerlukan seorang animator dan juga segala pengisi suara dan efek.
“Ah aku tak kepikiran ke sana. Menjadi sutradara dan manager produksi perfilman,” monolognya dalam hati dengan sangat antusias.
Sam mulai membuat skenario secara bertahap. Sebagian perjalanan hidupnya selama tinggal di gua bersama para serigala ia tuang ke sana. Sam pulang ke rumah pukul 21.00. malam. Remaja itu begitu lelah ketika sampai. Rebecca sampai memarahi putranya itu.
“Apa kau tak memiliki rasa lapar?’ tanya wanita itu gusar.
‘Nak. Kau tak akan bisa apa-apa jika kau sakit, terlebih jika kau mati!” ketus Stefanus pada putranya.
Rebecca sampai marah mendengar perkataan suaminya. Stefanus memang kesal pada Sam, putranya itu seakan tak peduli dirinya sendiri. Samuel meminta maaf, ia memang terlalu serius dan ingin semua masalah cepat selesai.
“Aku hanya ingin semuanya cepat selesai ayah,” ujarnya lelah.
“Tidak semudah itu nak. Masalah yang kau hadapi bukan masalah kecil,” ujar sang ayah mengingatkan putranya.
“Pembalakan dan perburuan liar tidak akan berhenti begitu saja setelah apa yang kau perjuangkan. Kau harus benar-benar memiliki kekuatan penuh untuk semuanya!” lanjutnya. “Dan juga harus berkomitmen, untuk penjagaan selanjutnya.”
Sam terdiam. Perkataan sang ayah benar adanya. Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Untuk menumbangkan musuh besar, terlebih jika oknum pemerintah yang meloloskan hal ini, membuat perundingan tentang penetapan status hutan masih berlangsung alot hingga sekarang.
Sementara di tempat lain. Kiev membuat janji temu dengan Juan Fox. Pria itu dengan senang hati membantu pemuda itu. Juan sangat senang dengan jiwa bisnis yang didalami oleh Kiev. Pria itu mengundangnya untuk makan siang.
“Jadi kau kini sedang ingin menjalin kerjasama engan Tuan Fox?” tanya Gerard dengan pandangan kagum.
“Benar, dad. Aku diundang makan siang besok,” jawab Kiev dengan nada bangga.
Anamaria sangat bahagia mendengar putranya diundang langsung oleh pria yang memiliki kendali penuh tentang industri perkayuan. Pria itu sangat kaya hingga bisa mengirim jutaan ton kubik kayu ke berbagai negara.
“Kalau begitu, berpakaian lah yang bagus, agar dia langsung setuju dan menandatangani kerjasama ini!” ujar Gerard semangat.
“Sayang, kau bisa menolongnya besok untuk berpenampilan terbaik kan?” Anamaria mengangguk antusias.
“Thanks dad, mom,”
Siang menjelang. Kiev memakai setelan formal terbaiknya. Bahan dari katun dan sutra terbaik. Pemuda itu sangat tampan dengan mata biru yang lembut dan rambutnya yang pirang. Semua gadis menatapnya dan berbisik.
“Ah ... tampan sekali!” puji salah satu gadis.
“Iya dia sangat tampan dan masih muda. Dari setelannya, dia pasti orang kaya,” celetuk salah satu gadis yang menatap Kiev terpana.
Kiev duduk di tempat di mana Juan sudah memesannya. Hanya menunggu kurang dari sepuluh menit. Pria yang ditunggu datang dengan balutan mewahnya, anak perempuannya juga ikut dengan balutan formal ketat hingga membuat dadanya seperti ingin meledak.
“Ah, kau sudah datang Tuan muda Riches!” sambut Juan dengan senyum lebar.
“Saya baru saja datang Tuan,” sahut Kiev ramah dan menyalami keduanya.
Mereka pun duduk. Beberapa pelayan langsung menghidangkan makanan. Ternyata Juan sudah memesannya. Ketiganya langsung makan, karena Juan kelaparan. Usai makan pria itu mengajak sang pemuda ke kantornya sambil berbincang ringan.
“Jadi, ini lah perusahaan ku, Kiev,” ujar Juan.
“Besar tuan,” ujar Kiev lugu.
Juan terkekeh. Mereka bertiga memakai baju pelindung dan keselamatan lengkap. Beberapa kayu tengah di olah. Sam cukup takjub dengan jumlah kayu yang ada di tempat penyimpanan. Beberapa truk bermuatan penuh kayu gelondongan datang dan langsung diangkut oleh para pekerja.
“Tuan. Limbahnya anda buang ke mana?” tanya Kiev sedikit keras.
Bunyi mesin pemotong begitu memekakkan mereka. Ketiganya memakai penutup telinga. Juan hanya mengkodekan Kiev dengan tangannya. Mereka akhirnya ke ruang kerja pria itu. Baju keselamatan dan juga segala perlengkapannya telah dilepas.
“Jadi apa kamu masih berkeinginan memiliki lahan jadi agar bisa mendapat kayu berkualitas?” tanya pria itu.
Ketiganya duduk di sofa. Kiev mengangguk antusias. Juan dengan santai menyilangkan kaki dan menyalakan cerutunya,
“Ada lahan bebas yang bisa kau ambil asal kau berani main kucing-kucingan dengan penjaga,” jelas pria itu.
Kiev mengerutkan keningnya. Ia belum paham arah pembicaraan Juan. Pria itu menegakkan tubuh dan mengembuskan asap cerutu dari bibirnya.
“Hutan Kiev ... dari hutan,” lanjutnya.
“Maksud Tuan, kita beli lahan hutan?” tanya Kiev benar-benar polos.
Juan terkekeh mendengar pertanyaan pemuda itu. Ia sangat senang dengan kepolosan Kiev menanggapi perkataanya.
“Kita menebang hutan secara ilegal Kiev,” sahut pria itu.
Kiev terkejut bukan main namun sebisa mungkin ia menormalkan diri dan pura-pura merasa bodoh. Senyum penuh arti dilayangkan pemuda itu.
“Jika kau lebih leluasa menebang hutan, kau bisa melobi salah satu anggota dewan kehormatan di pemerintah,” ujar pria itu lagi memberi saran.
“Ah, siapa dia tuan. Kenapa aku jadi sangat antusias!” sahut Kiev senang.
Kiev pulang diantar oleh Bella. Kiev yang tampan mempesona gadis itu. Sedang Kiev sendiri begitu tertarik pada sang gadis berdada besar itu. Kiev mengecup bibir Bella ketika pulang. Gadis itu langsung membalasnya dengan ciuman panas.
“Kau ingin ikut?” ajak Kiev. “Ke tempat yang lebih privacy?’
Bella mundur dan meninggalkan Kiev. Pemuda itu menyesal berkata vulgar pada sang gadis. Ia pun pulang dengan menyimpan sejuta rencana di kepalanya.
bersambung
next?