
Semua pria lari tunggang langgang. Mesin pemotong terus bergerak berputar. Tak ada yang berani mendekat karena takut kena pisau pemotong yang sangat tajam. Juan berteriak kencang.
"Hentikan mesin itu!"
Ada yang melempar batu malah batu itu mental nyaris mengenai mereka. Semua berhamburan menyelamatkan diri. Kiev juga berdiri jauh, ia mengamati sekitar, lalu ia melihat kelebatan bayangan dari kejauhan. Pria itu yakin jika itu adalah Sam. Ia menyeringai.
"Kau datang juga ternyata!" gumamnya.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Bella yang berdiri di sebelahnya.
"Tidak," jawab Kiev.
Semua menunggu mesin berhenti karena habis bahan bakar. Tiga jam mereka menunggu, tak ada yang berani memegang mesin lain karena takut pada mesin potong yang tadi terlempar dari tangan mereka.
"Selama dua belas tahun, aku merambah hutan ini. Baru sekali ini aku mengalami kejadian ini!" ujar Juan tak percaya.
"Tadi kenapa bisa seperti itu?" tanyanya gusar.
"Tadi tanganku seperti ada yang menyengat, aku tak tahu apa!' jawab salah satu pekerja.
"Lalu pegangan itu terlepas begitu saja," lanjutnya.
"Hanya kau saja yang kena?" tanyanya.
"Saya juga Tuan!" sahut tiga lainnya.
Tangan ketiganya kini menimbulkan ruam. Juan mengedarkan pandangannya. Di atas pohon itu ada sarang tawon yang sangat besar.
"Ah ... ada sarangnya di atas sana!" ujar pria itu menunjuk.
Semua menengadah. Beberapa pria memilih menyalakan obor untuk memusnahkan kawanan tawon yang menyengat mereka. Sam membidik lagi pria yang kini berusaha naik ke atas.
"Ah!" teriak pria di atas pegangannya nyaris terlepas jika ia tak menjatuhkan obor yang ia bawa.
"Tuan menyingkir!" teriak Kiev yang melihat obor yang jatuh.
Semua pekerja menarik Juan dari tempat ia berdiri. Tepat ketika, ia jatuh ke arah lain bertepatan dengan obor yang jatuh ke tanah.
"Berengsek!" teriak Juan marah. "Kau ingin membunuhku!"
Pria di atas pohon mulai oleng. Ia turun ke bawah, belum sampai tanah pegangannya terlepas dan tubuh pria itu meluncur dengan keras ke tanah.
Bugh! Semua berlarian mendekati. Berteriak memanggil namanya. Juan juga langsung mendekati.
"Pingsan ... Harley pingsan!" teriak pekerja.
"Kita harus membawanya ke klinik!" teriak mandor.
Semua menatap Juan. Pria itu harus membawa pekerja yang pingsan itu ke klinik jika misinya ingin berhasil.
"Kiev, bawa Bella juga bersamamu mengantar mereka!" titahnya.
"Baik tuan!" sahut pria itu.
Mereka menaiki mobil Jeep yang dibawa oleh Juan ketika ke sini. Jalur setapak telah dibuat oleh para pekerja untuk memudahkan kerja mereka. Sementara Sam yang masih mengamati pergerakan manusia. Memilih menunggu.
"My Lord?!" panggil Zeus.
"Untuk sementara penebangan berhenti Zeus!' ujar Sam.
Zeus merebahkan dirinya di bawah pohon di mana junjungannya berada. Pemuda itu duduk di dahan yang besar dan menyandarkan dirinya. Perlahan matanya memejam. Ia memperkirakan jika penebangan akan terjadi di malam hari. Sam memilih beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenaganya yang sudah terforsir untuk datang ke tempat ini.
Waktu bergerak. Juan bersama anak buahnya masih memeriksa semua alat-alat. Juan membawa makanan dari mansionnya untuk dirinya. Sedang para pekerja ingin berburu kelinci. Sam ada di bawah dekat para pekerja. Ia memposisikan diri sebagai hantu hutan. Salah seorang pria membunyikan peluit khusus. Sam dapat melihat ada tiga kelinci keluar akibat suara itu. Para pekerja mengumpan mereka dengan wortel dan umbi-umbian lainnya. Sam lalu kembali membidik salah satu yang berdiri tak jauh dari kawannya.
Sleb! Satu bangkai hewan melesat tepat ke kepala pria yang ada di belakang.
"Aduh!" pria itu mengaduh.
Kelinci berlari menghindari tangkapan dua pria karena terkejut adanya suara.
"Berengsek kau!" pekik temannya yang kesal.
"Aku digigitnya apa ini?!" ujarnya melihat binatang bersayap.
"Tawon lagi?" ketiganya cukup aneh.
"Mungkin dia ini hanya nyasar, kau tau kan kadang ada hewan ingin pulang ke sarangnya tapi salah jalan," ujar salah satu temannya.
"Bisa jadi," dua pria mengangguk setuju.
Kini semua akhirnya makan buah yang di bawa oleh mereka.
"Tuan, mestinya kau membawa makanan untuk kami!" sahut salah satu pekerja.
"Iya mestinya begitu!" sahut lainnya.
"Hei ... bukankah selama ini kalian hanya bekerja saja, aku sudah membayar kalian di muka. Jangan kurang ajar!" sahut Juan kesal.
Semua akhirnya diam dan tak banyak bicara. Selama bekerja bersama Juan. Tentu mereka tau kesepakatanya. Pembayaran dimuka dan tak ada fasilitas apa pun.
"Mestinya sebelum ke hutan kalian membawa perbekalan jadi tak kesusahan seperti ini!" saran Juan lagi.
"Tak biasanya juga kami seperti ini Tuan, kau tau sendiri, semestinya kami sudah menebang setidaknya delapan pohon," ujar pekerja itu.
"Sudah jangan banyak protes!" sahut Juan kesal.
"Simpan tenaga kalian. Malam ini kita kembali menebang!" lanjutnya.
Akhirnya lima menit kemudian. Mereka kembali beraksi. Bukan lagi memakai mesin besar. Mereka memakai mesin sedikit lebih kecil. Hanya dua orang yang memeganginya. Lima pohon jadi sasaran. Bunyi mesin memekakan telinga.
"Ck ... mereka berkelompok!" ujar Sam gusar.
Sam membidik. Lima bangkai hewan serupa akan ia lontarkan.
Plak! satu pekerja terkena dan dua lainnya. Sedang dua lain meleset. Akhirnya dua pohon tumbang.
'Kau kenapa lagi!' teriak Juan.
"Aku tersengat lagi Tuan!" teriak empat orang yang gagal.
Sam membidik Juan. Kali ini ia memakai jarum yang halus dan dilumuri obat bius.
Plak! Juan memukul lehernya sendiri. Pria itu menggaruknya, ada rasa gatal. Hingga lambat laun ia menguap.
Beberapa pekerja kembali ingin memotong pohon. Sam berteriak menyuarakan kera hitam. Hewan sejenis ikut bersuara. Semua pekerja mulai diam.
"Hei ... huuaaah ... kalian kenapa berhenti?" tanyanya sambil menguap lebar.
"Hanya memastikan saja tuan!" jawab salah satu pekerja.
Hingga tiba-tiba. Dua gorila datang mengamuk dan membuat semua pekerja lari tunggang-langgang. Juan ikut lari bersembunyi. Para gorila naik ke pohon dan pergi dari sana.
"A—apa tadi?" tanya salah satunya mulai takut.
"Tadi—tadi gorila!" jawab yang lainnya.
"Ke—kenapa bisa ada binatang itu sampai sini?" tanya yang lain.
"Sepertinya ... mereka berkelahi hingga tak sadar ke mari!' jawab salah satunya.
Semua masih bermuka pucat. Takut hewan itu kembali lagi dan mengacau terlebih kekuatan binatang itu tak ada yang bisa menandingi.
"Ayo kita lanjutkan!" teriak Juan lalu menguap.
Sepuluh pria membentuk lima kelompok satu kelompok dua orang. Kini, Sam mengayun antara dahan ke dahan. Semua berhenti bergerak.
Bunyi daun yang bersinggungan satu dan lainnya membuat bulu kuduk semuanya meremang. Sam yang melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur. Tiba-tiba ke tengah-tengah manusia itu lalu menyerang salah satunya. Semua berteriak ketakutan. Sam kemudian melompat ke atas pohon dan menghilang.
Pria yang diserang jatuh pingsan dengan celana basah. Semua pucat, rumor hantu hutan benar adanya. Tapi, hantu itu malah kini menyerang mereka.
"Apa ... apa itu tadi hantu hutan yang selama ini kita dengar?" cicit salah satu dari mereka ketakutan.
"Apa ... apa ... jangan-jangan tadi adalah salah satu suku kanibal yang hidup di hutan ini!?" sahut salah satunya malah membuat yang lain takut.
Juan tak tahan akan rasa ngantuk yang menyerang. Pria itu jatuh dan langsung mendengkur.
Bersambung.
next?