THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
A RESPONSIBILITY



Kiev sudah bisa pulang. Anamaria dan Gerard menjemputnya. Beberapa pengawal langsung melindungi mereka atas perintah dari Lockhart. Gerard tersentuh, begitu juga Kiev.


"Sayang, apa mereka tidak tau jika putra kita dulu ...."


"Sudah lah sayang, jangan kau ingat lagi. Nanti kita ucapkan maaf dan terima kasih pada keluarga kaya itu," potong Gerard.


Anamaria pun bungkam. Kiev duduk di kursi roda yang didorong oleh Gerard. Beberapa wartawan hendak memburu mereka. Para pengawal sigap membuat barikade agar tak ada yang menyentuh keluarga Riches.


"Tuan Riches ... bagaimana keadaan tuan muda?" tanya salah satu wartawan.


"Puji Tuhan, putra saya baik-baik saja!" jawab Gerard.


"Tuan Muda Kiev, anda memiliki keberanian luar biasa. Selama ini anda mendekati Tuan Fox memang untuk menangkapnya?!' sahut salah satu wartawan.


"Saya hanya memiliki rasa tanggung jawab untuk melindungi hutan," jawab Kiev sederhana.


"Tuan, apa benar jika serigala itu bisa bicara? Tuan Fox mengatakan demikian?!" tanya wartawan lagi.


"Apa ada seperti itu?" tanya Kiev lagi.


"Jadi apa benar Tuan Fox berhalusinasi?"


"Waktu itu kemungkinan, Tuan Fox berhalusinasi karena usahanya digagalkan dan ditangkap. Jadi dia mengamuk dan kemungkinan ia seperti mendengar serigala berbicara," jelas Kiev.


Sam telah mendatangi Kiev ketika dua hari setelah kejadian itu.


"Aku ingin melakukan kerjasama denganmu Kiev!' sahutnya langsung.


"Kerjasama?" tanya Kiev tak mengerti.


"Ya, kerjasama agar semua tetap tersembunyi seperti sedia kala dan kau lah pahlawannya!" jelas Sam.


Kiev tersenyum miring ia meledek Sam dan masih menganggap remeh pemuda di hadapannya.


"Jika aku menolak?" tantangnya.


"Maka kupastikan kau dipenjara dan mendapat hukuman mati akibat kasus pembantaian keluarga Lockhart!" ancam Sam tak main-main.


'Kau tak memiliki bukti itu!' tukas Kiev membuang muka.


"Jangan kira Kiev, kau tau Zeus yang mengumpulkan bukti, bahkan Zoor juga mau bersaksi melawanmu!' tekan Sam.


"Tak ada yang percaya perkataan binatang!" sahut Kiev masih keras kepala.


"Jangan anggap remeh Kiev, kau tau aku adalah pengusaha terkaya di kota ini?" sahut Sam angkuh.


"Aku bisa menghancurkan perusahaan ayahmu,' ancam Sam lagi.


Kiev diam. Ia masih memalingkan muka. Sam menghela napas panjang. Ia yakin, pria yang masih terbaring lemah ini adalah orang baik.


"Kiev, ayo lah. Dengan mengakui semuanya, kau akan kembali terkenal dan mengangkat usahamu ke kancah yang lebih tinggi lagi!" bujuk Sam lembut.


Kiev menoleh pada pemuda yang begitu tampan dan gagah. Ia pun mengangguk. Memang dulu ia sempat salah dan mementingkan nafsunya.


Tetapi, ketika ia melihat sendiri bagaimana Sam yang berjuang mati-matian melindungi satwa yang disiksa di sebuah sirkus. Kiev mulai sadar, jika ia salah.


"Baiklah Sam. Memang apa yang harus kulakukan?" tanyanya.


Sam pun menjelaskan rencananya. Kiev mendengarkan dengan seksama. Perlahan ia memuji kegeniusan pemuda yang duduk di depannya. Sang ayah belum datang, jadi ia sendirian di rumah sakit.


"Apa kau mengerti?" Kiev mengangguk.


"Ini demi hutan Kiev. Agar tak ada lagi yang datang dan mencari tau, apa benar serigala yang berbicara itu," lanjutnya mengakhiri penjelasannya.


Kini Kiev menjadi pahlawan bagi semua orang. Stefanus mendukung apa pun yang Sam putuskan begitu juga istrinya.


"Tidak apa-apa, selama hutan aman, biar orang lain yang jadi pahlawannya!' ujar Sam memenangkan kedua orang tuanya.


Kiev didorong ke mobil dengan kursi rodanya. Para wartawan mengambil gambar pria itu. Kiev adalah pria berparas tampan. Hanya saja tubuhnya terlalu kurus dengan tubuh tinggi 180cm dan berat 60kg.


"Tuan ... apa ada nasihat bagi para manusia yang masih ingin berburu dan menebang pohon?"


"Hentikan, ketika alam mengamuk. Kalian tak akan bisa melawannya!"


"Apa seribu penjaga untuk mengisi lima ratus pos itu cukup nak?" tanya Stefanus.


"Kemungkinan kurang Yah, aku akan menambah menjadi lima ratus ribu penjaga. Setiap pos ada lima orang yang berjaga dengan alat lengkap!" jawab Sam.


Stefanus mengangguk. Orang sebegitu banyak untuk menjaga keamanan tentu akan kesulitan. Terutama, mereka yang benar-benar ingin berdedikasi menjaga kelestarian hutan.


"Kita akan kesulitan mencari orangnya," ujar Stefanus mengingatkan.


"Aku akan mencari di negara luar, Yah. Pasti banyak terlebih aku juga menggaji mereka tinggi," sahut Sam.


Stefanus menepuk bahu putranya. Kini rumah produksinya tengah membuat film animasi lagi. Sam melayangkan ide untuk melindungi laut. Pemuda itu akan menjadikan sosok paus biru sebagai tokoh utama dan seorang anak perempuan.


"Bagaimana dengan produksimu, apa sudah mulai?' tanya Stefanus.


'Sudah garis besarnya Yah,"


"Kau luar biasa menyuarakan kegalauan alam, Nak!"


"Itu karena tanggung jawab ku sebagai manusia, Ayah!' sahut Sam.


"Melindungi alam demi kelanggengan manusia," lanjutnya.


Stefanus tersenyum bangga. Ia bersyukur segera sadar dan mendukung penuh putranya itu.


Kini pria itu berdiri menatap halamannya yang luas. Malam telah datang, musim panas sebentar lagi akan berakhir dan berganti musim gugur.


"Sayang, kenapa kau di luar?" Becky datang dan menyampirkan selimut ke bahu suaminya.


"Udara makin dingin, sayang!' peringatnya.


Stefanus merengkuh tubuh istrinya menjadi satu selimut. Pria itu memeluk wanita itu erat, lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening sang istri.


"Sayang, putra kita makin dewasa,' ujarnya.


Becky tersenyum. Ia sudah yakin dari awal ketika menatap putranya.


"Apa sekarang kau percaya dia putramu?" tanya Becky setengah menyindir.


"Sayang, maafkan aku," ujar pria itu memohon.


"Aku memang salah dari dulu, tak menganggap putra kita. Padahal darahku mengalir di tubuhnya," sahut Stefanus menyesal.


"Aku bangga dengan putraku sekarang dan selamanya!' lanjutnya tegas.


Becky mencium bibir suaminya. Sebuah pagutan mesra pun terjadi. Pria itu benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti Becky. Karena dari rahim perempuan itu, lahir anak laki-laki tangguh, putranya, Samuel Patrick Lockhart.


Sedang di tempat lain. Bella menidurkan dirinya. Kehamilannya ini membuatnya kepayahan. Jika semua wanita hamil mabuk di pagi hari, tapi ia kebalikannya. Mabuk ketika malam hari.


"Nyonya ... apa butuh sesuatu lagi?' tanya Maid.


"Tidak Rea," jawabnya lemah.


"Bagaimana jika minum teh madu?" tawar Rea.


Bella menggeleng, ia memejamkan matanya dan coba untuk tidur. Perlahan ia mengelus dan mengajak bicara janinnya.


"Sayang ... Kita tidur ya Nak,"


Perlahan, Bella pun terlelap. Di sisinya Rea juga tidur. Wanita berkulit hitam itu sudah mengikuti Bella ketika sang ibu meninggal dunia.


Sementara di kamar Kiev. Pria itu duduk termenung, ingatannya tertuju pada Bella.


"Besok aku akan menemuinya, untuk bertanggungjawab atas kehamilannya," gumamnya bermonolog.


Bersambung.


nah gitu Kiev!


next?