THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
ME AND THE WOLFS: MAKE THEM LEAVE



Hari mulai merambat malam. Lolongan serigala terdengar membuat para anjing ikut melolong dan menyalak kencang. Semua anjing mulai gelisah.


Aku di sini melihat semuanya, karena aku menyuruh kawanan serigala untuk melolong terus menerus malam ini.


"Hei tenanglah, Zero!" sebuah teriakan seorang pria dari mobil caravan.


Aku bisa menghitung jumlah orang karena bayangannya terlihat dari sini. Aku mendekati mobil itu para anjing melihat langsung kuberi kode diam dengan menekan bibir dengan jari telunjuk.


"Guk! Guk! Guk!' gongongnya.


Aku membelai kepala-kepala binatang jinak itu yang begitu gembira melihatku. Terlihat dari kibasan ekor dan juluran lidahnya. Aku mencoba menguping pembicaraan para pemburu yang tengah berkumpul di dalam.


"Apa kita lanjutkan berburu besok,?" tanya salah seorang yang aku tak tau siapa.


"Kalian tau semua jebakan berpindah dari lokasi selanjutnya, aku yakin sekali jika ada yang memindahkannya!" sahut salah satunya.


Aku terus menguping pembicaraan mereka. Para anjing makan daging babi yang aku bawa, jika binatang itu kenyang, hewan berkaki empat itu pasti malas.


"Siapa yang memindahkannya?" tanya pria di dalam.


"Tidak mungkin setan hutan!" lanjutnya.


"Sejak kapan kau percaya setan!" sahut salah satunya meledek.


"Kau!"


"Cukup, kenapa kalian berkelahi!!" seru lainnya lagi menengahi.


"Jika bukan hantu, bisa jelaskan kenapa nyaris semua jebakan berpindah?" tanya pria yang berseteru tadi.


"Mungkin memang kau salah dan lupa menaruhnya di sana!"


Mereka saling sahut menyahut hingga terjadi perdebatan.


"Aku tak peduli. Jika kalian mau berburu, silahkan. Aku akan pulang bersama Zero!"


Aku mendengar langkah kaki berjalan keluar karavan. Aku bergerak cepat meninggalkan tempat mobil itu.


"Hei, Noe ... jangan begitu!?" teriak salah satu menenangkan kawannya yang tak sejalan dengan mereka.


Pintu karavan terbuka. Pria bertopi putih keluar dan memanggil anjingnya. Aku mengamati pergerakan pria itu terus dan kini ia sudah masuk mobilnya.


"Noe!" panggil pria yang berusaha mengejar dan mencoba membujuknya.


"Sepertinya pria bernama Noe marah ketika salah satu dari mereka tak percaya jika dia telah menaruh jebakan itu di tempat yang tepat?" gumamku berasumsi.


Mobil itu bergerak meninggalkan lokasi.


"Sudahlah Richard, hiraukan dia. Noe memang seperti anak kecil," ujar salah satunya.


"Bukan begitu, kita tau selama ini dia adalah yang paling rajin memasang jebakan, walau pada akhirnya yang kita temukan adalah bangkai dari hewan-hewan karena dimakan binatang buas!" terang pria itu.


"Kita selalu tau jika jebakannya tak pernah salah dan benar," lanjutnya.


"Sekarang Noe pergi, siapa yang pasang jebakannya?" tanya pria itu lagi.


"Sudah masuk saja, kita besok pulang dan mencabut semua tenda kita," ajak pria itu menarik kawannya.


Dua pria masuk kembali ke mobil caravan. Lalu tak lama musik terdengar dan mereka bernyanyi.


"Sepertinya mereka mabuk," gumamku yang sembunyi di ilalang tak jauh dari tempat mereka berada.


Aku meletakan benda bulat warna hitam dekat para anjing yang. terlelap karena kekenyangan. Lalu perlahan pergi dan naik ke atas pohon untuk mengintai apa yang terjadi besok.


Pagi menjelang, matahari sudah tinggi. Aku melihat para pria merubuhkan tenda yang kemarin lusa baru mereka bangun. Sepertinya rencana berburu memang dibatalkan hari ini juga. Aku terus mengamati pergerakan mereka. Hingga sepasang mata biru melihatku.


"Hei ada orang di atas pohon!" teriaknya menunjukku.


Aku bergegas naik ke atas di mana daunnya paling rimbun dan bersembunyi di sana.


"Kau tidak tidur bersama kekasihmu, makanya kau berhalusinasi!" sindir salah seorang pria.


"Tapi aku bersumpah jika ada orang di atas pohon itu!" teriak pria itu yakin.


"Ah sudahlah ayo ce ...."


Kaing! Kaing! Kaing!


Aku melihat kumpulan anjing yang mulai gelisah karena dikerubuti tawon. Para pemburu itu menyelamatkan hewan peliharaan mereka. Mereka melempar begitu saja tenda yang belum dilipat ke dalam mobil caravan mereka. Mengusir lebah yang makin lama makin mengganggu. Lalu tak butuh waktu lama, aku melihat delapan mobil keluar dari pinggir hutan.


"Tugas selesai!" ujarku dengan senyum lebar.


Aku segera turun dan memastikan jika tempat itu benar-benar kosong. Hanya tinggal bara api yang padam. Aku berkacak pinggang melihat ada satu tas tertinggal.


"Apa isinya?"


Penasaran kubuka, dan di dalamnya ternyata berisi keju, roti, mentega, garam, gula, kopi dan banyak makanan lainnya. Aku terpekik kegirangan dan mulai menarik ransel besar itu dengan sekuat tenaga.


"Ah ... berat!' keluhku yang hanya bisa menggeser tas itu tak lebih dari sepuluh kali. Aku berkeliling mencari apa lagi yang tertinggal.


"Papan seluncur roda?"


Lagi-lagi aku melompat kegirangan. Dengan sedemikian rupa, tas itu sudah ada di papan seluncur beroda. Aku tinggal mendorongnya saja sekaligus naik di atasnya. Jalan menuju gua seperti jalan lurus tanpa bebatuan hanya daun-daun berguguran. Jadi aku tak kesulitan membawa tas besar itu dari tempat itu.


Makin lama, papan seluncur sudah tak bisa bergerak karena sudah berbatu. Aku mengikatnya dengan akar dan menarik papan. Cukup jauh jarak antara pinggir hutan hingga ke tempatku, sekitar 6 kilometer. Selama ini seperti dekat karena Zeus menggendongku.


"Hosh ... hosh ... hosh!!" aku terengah, sudah cukup jauh aku berjalan dan menarik benda ini. Gua tempatku tinggal mungkin sekitar beberapa ratus meter lagi.


"Aku harus bisa!" teriakku memberi semangat pada diri sendiri.


Aku kembali menarik papan seluncur itu terus hingga tak sadar, gua tempat tinggalku makin dekat. Jalanan sudah mulai mulus lagi.


"Akhirnya ... hhhh ... hhh ... hhh ... akuh ... sam ... paih ... hhh ... hhh!!!"


Aku benar-benar kelelahan. Tenagaku terkuras habis. Aku langsung merebahkan diri ke alas tebal dan tak peduli dengan apapun lagi.


Mataku mengerjap, aku langsung bangkit dan mencari keberadaan tas yang kutarik susah payah.


"Ah ... masih ada, kukira tadi hanya mimpi," ujarku lega.


Aku mengeluarkan semua isi tas. Mataku berbinar melihat isi-isinya.


"Garam! Gula! Madu! Telur! Susu! Coklat!" pekikku kesenangan.


Aku menyusunnya di atas kepalaku. Dinding gua dingin jadi aku memilih menyimpan semua makanan di satu sisi gua yang agak menonjol berbentuk datar.


"Sudah lama aku tak makan coklat," ujarku senang.


Aku memakannya dengan suka cita, bahkan di tas itu ada juga sereal coklat untuk sarapan dan beberapa makanan instan juga makanan kaleng.


"My Lord!" aku mendongak.


"Zeus!" pekikku langsung berdiri dan memeluknya.


"Kau tau Zeus aku ... bla ... bla ... bla ....!"


Aku bercerita dengan antusias pada binatang yang selama ini bersamaku. Zeus tampak hanya diam dan mendengarkan kisahku.


"Lihat apa yang kudapat Zeus ..."


Aku memperlihatkan makanan yang kudapat dari tas yang tertinggal.


"Jika pemburu itu kembali dan tak menemukan tasnya, mereka pasti berpikir jika hantu hutan itu benar-benar ada," ujarku sambil terkekeh.


bersambung.


next?